Santri Famiglia

Santri Famiglia
Eksekusi


__ADS_3

"Sodium diopental," kata Fukai.


Petahana menyerahkan suntikan yang telah diisi cairan anestesi pada Fukai. Lima ribu miligram cairan tersebut masuk ke tubuh Muktar melalui infuz intravena yang terpasang. Itu tiga puluh sampai lima puluh kali lipat lebih dosis yang biasanya dipakai dalam operasi.


Maka, tidak berselang lima belas menit, Muktar tidak bisa merasakan apa-apa, kecuali kantuk yang mustahil ditolak. Matanya terpejam seketika. Napasnya teratur. Detak jantung pun berjalan normal.


Fukai memberi jeda sebelum menyuntikkan cairan berikutnya. Garis zig-zag pada elektro kardiograf (EKG) terpantau olehnya. Meski itu tidak penting baginya, tetapi Fukai perlu berhati-hati. Hidup dan mati terpidana ada di tangannya. Bila rencana tidak berjalan dengan semestinya, Muktar akan benar-benar meninggal.


"Pancuronium bromide!" pinta Fukai.


Petahana mengambil botol bertuliskan nama obat yang disebutkan dengan cekatan. Setelah memindahkan isi ke suntikan, dia memberikannya pada Fukai. Meskipun tulisannya seperti itu, isinya bukan benar-benar pavulon.


Sebagai dokter, tugasnya seharusnya adalah menyelamatkan nyawa pasien. Tidak pernah terpikir olehnya untuk menjadi dokter yang berprofesi sebagai penghilang nyawa orang lain. Sekalipun itu legal di mata hukum, pekerjaan itu tak ubahnya pembunuh di mata Fukai. Tidak bisa dipungkiri, Fukai tegang. Pengalaman bertahun-tahun kurang dari cukup untuk membinasakan rasa itu.


Tiga menit berselang, monitor pasien menunjukkan tanda-tanda obat bereaksi. Napas Muktar melemah. Namun, pada kenyataannya, diafragma dan paru-paru Muktar tidak benar-benar melemah.


Itu adalah batasan tipuan yang telah dimulai. Pancuronium merupakan kode bagi Abrizar yang bekerja dibalik layar. Dia membuat tampilan pada monitor supaya terlihat ada perubahan pada tubuh tersangka.


Petahana memakai anting dengan penyadap. Keluaran suaranya sangat jernih meski terhalang jilbab. Dengan alat itu, Abrizar bisa mendengar jelas percakapan di ruang eksekusi.


Fukai teringat obrolannya dengan Petamana. Hari sebelumnya, beberapa botol obat dijajarkan di atas meja. Fukai tahu untuk apa semua obat-obatan itu.


Namun, Petamana berkata, "Ini bukan obat pelumpuh saraf sungguhan. Ini hanya cairan untuk menetralkan efek samping bius yang disuntikkan dengan dosis terlalu tinggi, tapi tidak akan membangunkannya. Tunggu tiga sampai lima menit! Reaksi kedua akan bekerja setelah cairan terakhir dimasukkan ke tubuh."


Jarum jam terus berdetak. Fukai melihat ke jam dinding, lalu arloji sendiri untuk memastikan waktunya tepat.


"Potassium chloride!" pinta Fukai kemudian.


Petahana was-was dengan suntikan terakhir yang diserahkannya. Dia sudah banyak mendengar tentang Petamana yang sering melakukan penelitian ilegal berbahaya. Selama di Tanzania, mereka selalu bertentangan. Setelah sekian lama, ini kali pertama mereka bekerja sama lagi. Setitik keraguan hadir dari percakapan satu hari yang lalu.

__ADS_1


"Sudah kubilang, jangan lagi bermain-main dengan tubuh manusia!"


"Ini aman dan teruji. Lagipula, bukan kemauanku kembali melakukan eksperimen, tapi kita memerlukannya untuk menyelamatkan seseorang, kan?" dalih Petamana.


Petahana mengernyit. Dia tidak habis pikir, bisa-bisanya Petamana bersikap seperti itu setelah semua yang telah terjadi. Seolah tidak pernah menyesali perbuatan, Petamana mengatakan itu dengan ringan.


"Dari mana kau yakin semua ini aman? Hampir seluruh manusia yang menjadi objek eksperimenmu berakhir meninggal," Ujar Petahana.


Eksperimen Petamana terlalu mengerikan untuk dibayangkan. Perempuan itu terlalu liar dalam bermain-main dengan sains. Penemuan manticore waktu itu membuat Petahana merinding.


Selagi dia bersama saudaranya itu, Petahana tidak akan pernah mengizinkan Petamana melakukan percobaan aneh kembali. Dia akan selalu mengawasinya.


Akan tetapi, Petamana selalu memiliki alasan untuk membenarkan tindakannya. Dia tidak mau berhenti begitu saja.


"Buktinya, Sanu masih hidup. Jadi, sudah jelas, bukan? Percobaan ku tidak selalu gagal."


"Tapi, kau membuat sel-sel tubuh Sanu menjadi abnormal," balas Petahana.


"Kau ini! Jangan bilang kalau kau berpikir meningkatkan kekebalan manusia untuk menciptakan kekuatan super pada manusia!"


"Tidak. Tentu tidak. Ini berbeda dari serum yang kugunakan pada Sanu. Andaikan terjadi mutasi pasca pemakaian, mari maklumi saja! Bukankah dalam kedokteran itu terkadang terjadi? Misalnya saja, terapi laser yang bisa saja memicu risiko kanker atau komplikasi lain." Petamana menyeringai.


Petahana hendak menentang lagi, tetapi Fukai menyela, "Hana, mari kita beri kesempatan pada Mana. Kurasa, setiap orang berhak mendapatkan kesempatan lain."


"Nah, Dokter Fukai ini benar. Biarkan aku menjelaskan fungsi cairan berikutnya! .pertemuan cairan terakhir dengan kedua akan menurunkan detak jantung sampai titik terlemah. Tidak akan terdeteksi dengan sentuhan maupun stetoskop. Ini akan memberi kesan seolah seseorang telah meninggal, tapi kardiograf masih bisa mendeteksinya."


Fukai memahami yang disampaikan Petamana, lalu berkata, "Masalah pemalsuan tampilan monitor, itu akan diurus Abri. Jadi, tidak masalah."


Petamana melanjutkan, "Bagus. Bila ada pengecekan dari pihak lain, usahakan dilakukan tidak lebih dari dua menit setelah disuntikkan! Setelah tiga menit, cairan kedua akan kembali bereaksi lebih dominan, menetralkan efek cairan ketiga sepenuhnya. Yang artinya, jantung akan berdetak normal kembali.

__ADS_1


Fukai menyampaikan semua hasil diskusi pada Abrizar. Dia membimbing lelaki itu tentang bagaimana lambang-lambang di monitor harus terlihat serta detik ke berapa itu harus dilakukan. Dia mengarahkan, Abrizar harus mengubahnya beberapa saat setelah kata tertentu diucapkan.


Abrizar cepat mengerti. Kemampuannya memperkirakan waktu pun akurat. Dia selalu berhasil mengubah tampilan monitor setelah Fukai menyuntikkan cairan sehingga proses terlihat natural.


Garis bergerigi berubah menjadi datar. Bunyi pip panjang berbunyi nyaring di ruangan. Itu indikasi bahwa jantung tersangka telah berhenti.


"Pak Polisi, silakan diperiksa!" ucap Fukai menoleh pada polisi.


Dua polisi maju bergantian. Mereka meletakkan jari ke bawah lubang hidung Muktar, menekankan jari ke lehernya, lalu mendengarkan detak jantung. Jurnalis yang hadir juga diberi kesempatan memastikan. Termasuk Jin yang hanya hadir sebagai saksi. Betapa terkejutnya ia saat melakukan pemeriksaan.


"Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Apa dia benar-benar mati?"


Itu hanya bisa Jin katakan dalam hati. Dia tidak bisa menebak arah dari misi ini.


"Bukankah sia-sia semua ini dilakukan bila orang ini sungguh meninggal?" pikir Jin.


Namun, Jin tetap bersikap tenang, lalu menyatakan secara lisan, "Orang ini sudah meninggal."


Pernyataan serupa dinyatakan si jurnalis. Mereka pun keluar ruangan. Jurnalis meminta waktu pada dokter dan polisi untuk melakukan wawancara.


Saat itu juga, siaran langsung dimulai. Kamera fotografer terhubung dengan sebuah saluran televisi.


"Tersangka pelecehan seksual terhadap sepuluh santri di ponpes telah menjalani eksekusi vonis mati hari ini. Ustaz berinisial M dinyatakan meninggal sekitar pukul sepuluh lewat sepuluh pagi." begitu yang diungkapkan polisi.


Selanjutnya, giliran Fukai menjawab beberapa pertanyaan. Dia tetap memakai masker karena harus menyembunyikan wajah dari media.


Sementara itu, Petahana menutup tubuh Muktar dengan selimut. Dia mendorongnya ke ruangan lain untuk diserahkan pada Eiji.


Dalam ruangan, Eiji bersama Sai. Mereka mengganti pakaian Muktar, lalu memindahkan ke peti mati yang diberi ventilasi.

__ADS_1


"Polisi di depan ruang otopsi."


Eiji bisa mendengar suara Petahana dari alat komunikasi yang tersemat di telinga. Sai mendengarkan hal yang sama. Mereka saling pandang.


__ADS_2