Santri Famiglia

Santri Famiglia
Rencana ke Luar


__ADS_3

Eiji beranjak dari tempatnya semula. Dia menarik kursi ke sebelah adiknya, lalu duduk di sana. Lelaki itu memegang kedua bahu Anki, menghadapkan tubuh gadis itu padanya.


"Ini bukan salahmu."


Eiji menatap lekat gadis di depannya. Namun, Anki tetap menunduk. Dia menggigit bibir bawahnya. Sementara kedua tangan beralih memainkan ujung pakaian.


"Kau adikku. Apa pun yang terjadi, aku akan melindungimu."


Perkataan Eiji terdengar sangat tegas. Pria itu memegang dagu Anki, mendongakkan wajah gadis itu. Air menggenang di pelupuk mata sang gadis. Ditatap seperti itu oleh sang kakak, cairan dari mata kiri pun meluncur tanpa bisa dibendung.


Eiji mengusap jejak air mata itu dengan jempolnya, mengecup lembut kening Anki, lalu menjatuhkan gadis itu dalam rengkuhannya. Tangan kanannya mengusap naik turun punggung Anki penuh kasih sayang. Sementara tangan kirinya memegang kepala Anki.


"Kakak selalu menyayangimu. Tidak pernah sekali pun kau menjadi beban dalam hidupku."


Suara Eiji itu sangat pelan, lebih seperti bisikan. Namun, masih bisa didengar oleh Abrizar, Sai, dan Renji. Ketiga pria itu membiarkan momen kakak beradik tersebut berlangsung tanpa gangguan.


"Tidak salah aku meminta Sanu menarik Eiji sebagai rekan. Dia sangat penyayang. Dia bahkan rela berkorban demi adiknya," batin Abrizar tersenyum.


Meski hanya bisa mendengar interaksi mereka, tetapi Abrizar tersentuh. Jiwa-jiwa seperti Eijilah yang Sanubari butuhkan untuk membangun organisasi impiannya menurutnya.


Setelah berhasil mengambil hati Eiji nanti, Abrizar pun sudah menentukan langkah berikutnya. Namun, kondisi Sanubari saat ini belum memungkinkan untuk menjalankan rencana selanjutnya. Eiji pun belum mengikrarkan diri bergabung dengan keduanya.


Kini, mereka harus memikirkan cara terlepas dari belenggu Onyoudan terlebih dahulu. Khususnya memulihkan kesehatan Sanubari. Mereka tidak akan bebas bergerak bila Sanubari masih seperti itu.


"Adik sahabatku, adikku juga. Kami melakukan ini dengan suka rela." Renji terkekeh, "Ah, tapi akan lebih baik lagi bila kau menjadi istriku, Anki."


Selorohan Renji itu mendapat balasan tatapan tajam dari Eiji. Tatapan itu seolah mengatakan dia tidak akan pernah sudi memberikan restunya.


"Jangan terlalu kaku seperti itu, Calon Kakak Ipar!" Renji tersenyum.


"Aku juga memiliki adik perempuan. Melihatmu, mengingatkanku pada adikku sendiri. Tubuhku bergerak dengan sendirinya saat mengetahui kau dalam bahaya, Anki." Abrizar ikut berbicara.


"Tunggu dulu! Tunggu dulu! Melihat? Jadi, kau pura-pura buta hanya untuk mencuri perhatian Anki? Licik sekali!" sindir Renji. Dia langsung menoleh pada Abrizar, mengamati sepasang mata beriris biru yang tampak normal.

__ADS_1


"Melihat versiku tentu berbeda dengan melihat versimu," Abrizar menanggapinya dengan tenang.


Renji mendebatnya, "Di mana-mana, yang namanya melihat itu Sama saja. Sama-sama memakai mata."


Ruangan itu menjadi ramai. Entah mengapa, percakapan keduanya membuat Anki tertawa. Meski tidak ada yang lucu. Anki merasa sangat berharga. Hatinya berbunga-bunga mengetahui ada orang-orang yang mencurahkan perhatian padanya di sekelilingnya.


"Terima kasih, Kak Ren, Kak ABRI, Kak Sai!" Anki melepaskan diri dari pelukan kakaknya. Dia memutar kursi, menghadap pada tiga pria tersebut.


"Hei-hei! Kau juga berterima kasih pada pria ini?" lagi-lagi Renji memprotes sambil menunjuk Sai di sebelah kirinya, "Padahal, dia hanya diam saja."


"Kak Sai juga menolongku." Anki mengambil tisu. Dia membersihkan bekas air mmata dan ingus.


Sai hanya tersenyum. Dia merasa tidak perlu mengatakan apa yang telah terwakilkan dari bibir rekannya.


"Terima kasih, kalian sudah membantu menjaga adikku. Kalian tidak perlu repot-repot terlibat dalam masalah ini lagi setelah ini." Eiji mengacak puncak kepala Anki.


Sai menggeleng. "Aku akan tetap bersama Eiji senpai."


"Sudah terlanjur basah. Tekad kami sudah bulat. Jika kau keluar, maka kami juga. Tim Eiji tidak akan pernah ada tanpa Eiji," tutur Renji mantap, diikuti anggukan dari Sai.


"Kalian ...." Eiji membelalakkan mata. Dia memandang Sai dan Renji secara bergantian.


Dia tidak menyangka mereka berdua akan mengikutinya tanpa diminta. Itu kejutan baginya.


"Satu-satunya jalan keluar yang bisa kita akses mungkin hanya ke luar negeri," ungkap Sai. Berdasarkan perkiraannya pasca pemblokiran di Hokkaido, kemungkinan transportasi yang dibekukan hanyalah mobilitas dalam negeri.


"Jika ke luar, aku tahu tempat yang aman," celetuk Abrizar.


Semua orang memandang lelaki tuna netra itu. Roman mukanya tampak tenang, meskipun ada lebam di kepalanya.


"Ke mana?" tanya Eiji penasaran.


"Italia."

__ADS_1


"Kau yakin Onyoudan tidak akan mengejar sampai ke sana?" Kali ini, pertanyaan datang dari mulut Renji.


"Di sana, ada kelompok mafia yang diakui sebagai raja dunia. Dia pemegang kekuasaan mutlak. Siapa pun yang berani memantik kekacauan akan dieksekusi di tempat. Pendatang baru dan turis pun dalam pengawasan mereka," jelas Abrizar.


"Ah, palingan mereka sama saja dengan Onyoudan." Renji memutar mata tidak percaya.


"Berbeda. Aku tinggal di sana. Baru-baru ini, mereka juga menekan kekuatan Famiglia lain yang cukup meresahkan di Italia. Meskipun mereka juga melaksanakan transaksi terlarang, tetapi tujuan mereka berbeda dengan mafia kebanyakan. Mereka sangat menghargai kemanusiaan. Khususnya, dalam Italia sendiri," jelas Abrizar lagi.


Meskipun Abrizar tidak menyukai keburukan yang dilakukan organisasi itu, tetapi dia mengakui kehebatannya dalam menjaga perdamaian di Italia. Andaikan mereka menghentikan kegiatan buruknya, maka dapat dipastikan mereka bisa menjadi Mafioso aliran putih terparipurna.


Selama dia tinggal di Italia pun tidak pernah mendapat masalah. Hanya saja, mengapa mereka mengejar Sanubari itu menjadi pertanyaan besar baginya. Dia belum melanjutkan penyelidikannya tentang kasus Sanubari.


"Aku akan membawa Anki ke Italia." Eiji seperti mendapat pencerahan dari perkataan Abrizar.


"Apa kau tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan?" tanya Renji mengernyit.


"Shima takut pada Bos Besar Gafrillo. Bila aku berhasil mendahuluinya berkomunikasi dengan Bos Besar, Anki akan aman di sana."


"Kau kenal Gafrillo?" tanya Abrizar yang mendengar Eiji seolah mengenal lelaki itu.


"Profesi menuntutku untuk mengetahui orang besar seperti beliau, meski belum pernah sekali pun bertemu." Eiji tersenyum.


Jalan keluar terbuka lebar di pelupuk mata. Dia berniat bekerja di BGA setelah benar-benar pergi nanti. Eiji sangat percaya diri dengan kemampuannya. Dia yakin bisa diterima bila melamar ke perusahan raksasa dalam naungan Sang Raja Dunia tersebut.


"Gafrillo ... maksud kalian, penguasa tertinggi dari enam benua?" Renji bersedekap, tampak berpikir dan mengingat-ingat.


Eiji dan Abrizar menjawab bersamaan, "Iya."


Anki menyimak dalam diam. Dia tidak tahu apa yang dibicarakan para pria.


"Kita bisa mengajukan visa sambil menunggu Sanu sadar, tetapi aku khawatir Onyoudan akan memata-matai selama kita mengurus visa dan mungkin paspor untuk Anki." Sai memandang Anki. Dia tidak yakin gadis rumahan itu memiliki paspor.


Paspor milik Eiji pun ada di rumah, dan dia tidak bisa pulang. Di sekitar sana, mungkin ada anggota Onyoudan yang mengintai. Membuatkan paspor secara legal untuk Anki dengan status mereka saat ini pun akan sulit. Eiji memutar otak, mencari solusi atas masalah sandungannya.

__ADS_1


__ADS_2