Santri Famiglia

Santri Famiglia
Demam Psikogenik


__ADS_3

Aeneas menatap tajam Anki dan Eiji. Lelaki pirang itu memang sempat bertemu dengan Anki sebelu ini, tetapi dia tidak mengenalinya sekarang. Apalagi, dengan Eiji yang baru pertama kali ini dilihatnya. Fokusnya semalam hanya pada sang putra.


Kelana pun tidak terlalu memperhatikan siapa saja yang datang bersama Sanubari. Ketika dia mendapat kabar bahwa Sanubari akan segera tiba bersama delapan orang yang mungkin membutuhkan perawatan cepat, Kelana lekas menghubungi rumah sakit terbesar di Verona. Dia menyuruh beberapa dokter untuk siaga. Dia juga meminta perawatan terpisah untuk Sanubari yang katanya kritis.


Saat dia dan Aeneas tiba di rumah sakit, Eiji dan Hanan sudah dibawa dokter untuk diobati. Sementara ambulans yang membawa Sanubari tiba belakangan, hampir bersamaan dengan Kelana selesai memarkir mobil.


Dia dan Aeneas langsung berlari. Mereka mengikuti perawat yang mendorong brangkar Sanubari. Kelana mencoba mengingat-ngingat kejadian waktu itu.


"Ah, kau gadis yang semalam ingin ikut ke mari?"


Anki tersenyum. Dia mengangguk pasti, senang Kelana bisa mengenalinya.


"Kami teman Sanubari. Kami ingin menjenguknya."


Setelah itu, mereka terdiam. Aeneas hanya membisu, sedangkan Kelana dilanda kebimbangan. Karena keberadaan Sanubari dirahasiakan, dia tidak bisa mengatakannya. Meskipun mereka mengaku sebagai kenalan Sanubari, tetapi Kelana tidak yakin bahwa banyak yang mengetahui keberadaannya itu baik.


Namun, fakta bahwa muda-mudi ini sampai ke lantai ini membuatnya merasa sia-sia menyembunyikannya. Tanpa diberitahu pun, mereka mungkin akan kembali ke sini untuk mencari sendiri Sanubari nanti.


"Tuan Muda! Seruan itu terdengar setelah bunyi dobrakan.


Begitu gaduh. Debuman menyusul kemudian, diikuti teriakan parau, "Pergi!"


"Itu sepertinya suara Sanu," batin Anki.


Aeneas terperanjat mendengar suara itu. Dia berbalik badan tanpa kata. Baru saja Aeneas mulai berlari, tetapi Sanubari muncul dari tikungan.


Remaja itu menghantam dinding di depannya dengan keras karena hanya berlari lurus, sampai-sampai terpental mundur dan terjatuh terlentang. Dua pria berjas hitam muncul sesaat kemudian.


Kelana, Anki, dan Eiji ikut berlari mendekat. Dua pria berjas hitam membantu Sanubari bangun. Namun, Sanubari memberontak. Dia meronta-ronta.


"Tidak mau! Tolong!" Sanubari terus mengulang racauan tidak jelasnya.


"Sanu, ada apa?" Anki duduk di sebelah Sanubari.

__ADS_1


Tatapannya menyorotkan keprihatinan. Seorang teman yang telah menyelamatkannya, yang tampak baik-baik saja sebelumnya, kini menjadi seperti ini.


"Tidak mau!" Hanya itu yang keluar dari mulut Sanubari. Tatapannya kosong. Diajak berbicara pun tidak menyambung.


"Cepat bawa kembali ke kamarnya!" Perintah Kelana itu langsung dipatuhi dua pria yang mengapit Sanubari.


Kemudian, dia menghalangi Anki dan Eiji yang hendak menyusul. "Kalian lihat sendiri, bukan? Sanubari dalam keadaan tidak bisa dijenguk. Sebaiknya, kalian kembali turun sekarang!"


Aeneas meninggalkan mereka. Anki hanya bisa melihat kepergian pria pirang bersama dua pria lain yang membawa Sanubari. Kelana benar-benar tidak membiarkannya lewat. Dia merentangkan tangan ketika Anki mencoba maju.


"Ayo!" Eiji menarik tangan Anki.


"Tapi, Kak ...." Anki masih memandang arah kepergian Sanubari.


"Nanti saja!" bujuk Eiji seraya menarik Anki ke elevator.


Kelana menelepon dokter sembari memperhatikan dua pemuda yang menjauh. Tidak lama kemudian, dokter dan dua perawat pria datang.


Mereka berlari tergopoh menuju kamar Sanubari. Setelah melihat kondisi Sanubari, dokter menyuruh salah satu perawat untuk mengambil perlengkapan medis.


Dahi sang dokter sampai berkerut-kerut. Seharusnya, jarum infus tidak akan menimbulkan luka seperti itu bila tanpa sengaja tercabut atau dicabut paksa secara normal.


Dokter mengelap luka itu dengan kapas yang sudah dibasahi dengan antiseptik. Dia juga mengusap darah yang mengalir, lalu menutup luka dengan plester medis.


Seorang perawat dan dua anak buah Aeneas membantu Sanubari yang meronta. Dokter berusaha mengajak Sanubari berbicara. Namun, remaja itu hanya menggeram, berteriak, meracau, atau mengatakan hal-hal tidak berhubungan sebagai respons. Sanubari sama sekali tidak bisa diajak komunikasi.


Ditanya nama sendiri pun tidak menjawab. Dia hanya menatap Ling lung ke sekitar dengan sorot mata kosong.


Beberapa menit kemudian, perawat datang dengan mendorong troli berisi sesuatu yang dibutuhkan. Dokter mengambil suntik dan sebuah botol cairan. Dia menyuntikkannya ke tubuh Sanubari setelah memindahkan isinya ke tabung suntikan.


Sanubari berangsur-angsur menjadi tenang. Dia beberapa kali mengerjap lemah sebelum akhirnya tertidur.


Perawat memasang pengikat pada tubuh Sanubari. Itu untuk antisipasi supaya Sanubari tidak melukai dirinya sendiri bila sewaktu-waktu terjaga dan menjadi liar.

__ADS_1


"Mari ikut ke ruangan saya! Akan saya jelaskan bagaimana kondisi putra Anda!"


Dokter beranjak dari duduknya. Dia berjalan keluar. Aeneas dan Kelana mengikuti. Ketiganya menuju ke lantai bawah.


Di ruangan dokter, Aeneas dan Kelana duduk di depan meja. Dokter mencari map dalam tumpukan dokumen sebelum berbicara.


"Demam tinggi yang diderita tuan muda tidak disebabkan virus sama sekali. Hasil labnya pun tidak mendeteksi adanya indikasi itu. Bisa Anda periksa sendiri." Dokter menyerahkan salinan dokumennya pada Aeneas.


"Sampai saat ini pun tidak ada penurunan berarti," lanjutnya.


"Lalu, kenapa dia bisa seperti itu? Dokter tidak akan bilang jika tuan muda ditenung atau guna-guna, kan?" tanya Kelana sambil melihat tulisan-tulisan di kertas. Ada sebaris angka yang menerangkan suhu tubuh Sanubari sebelumnya empat puluh dua koma lima derajat Celcius, kini menjadi empat puluh dua derajat Celcius.


"Tidak seperti itu. Obat-obatan biasa hampir sama sekali tidak bekerja. Kemungkinan tuan muda mengalami demam psikogenik."


"Demam psikogenik?" Kelana mengangkat kepalanya.


Aeneas masih menunduk. Dia membaca baris demi baris.


"Iya. Demam yang dipicu tingkat stres yang cukup tinggi. Biasanya, orang yang mengalami demam ini akan mengalami demam tingkat rendah, tetapi kasus tuan muda ini sebaliknya. Saya juga sudah mendengar dari Damiyan. Sebelum dibawa ke mari tuan muda sudah dirawat oleh seorang dokter. Jika upaya medis kami tetap tidak berhasil, sepertinya kita harus mengubah metode."


"Lakukan apa pun untuk menyembuhkan putraku."


"Akan saya usahakan, tetapi saya tidak yakin."


"Kau adalah dokter. Seharusnya kau bisa, kan?" Aeneas seakan memaksa. Dia tidak mau tahu. Bagaimanapun caranya, Sanubari harus sembuh.


"Saya memang dokter, tetapi bukan dewa. Demam tuan muda memicu terjadinya penurunan kesadaran. Dia saat ini berada dalam fase delirium. Bisa dibilang, raganya memang terbangun, tetapi jiwanya terkunci di bawah alam bawah sadarnya sendiri."


"Apa maksudnya itu?" Baru kali ini, Aeneas mendengar raga bisa terbangun, meskipun jiwanya tidur. Jiwa bisa mengunci kesadarannya sendiri—keterangan itu terdengar tidak masuk akal di telinganya.


"Kalian sendiri menyaksikannya, bukan? Dia sama sekali tidak bisa diajak komunikasi. Matanya memang terbuka, tetapi bisa jadi apa yang dia lihat tidak sama dengan yang kita lihat."


"Semacam halusinasi?" Kelana hendak menyebut gila. Namun, pikirannya dengan cepat mengubah kata itu supaya tidak lolos dari mulutnya. Dia merasa bahwa satu kata itu terkesan sangat merendahkan. Aeneas mungkin akan mencincangnya bila dia sampai keceplosan.

__ADS_1


"Benar. Jikw kesadarannya terus menurun, obat-obatan medis pun tidak akan berguna. Tapi, tuan muda sepertinya masih ada harapan. Otak dan organ lainnya baik. Tidak ada kerusakan yang biasanya ditemukan pada pasien yang mengalami penurunan kesadaran. Kita lihat saja sampai besok bagaimana perkembangannya."


__ADS_2