Santri Famiglia

Santri Famiglia
Pembuktian


__ADS_3

"Kami memiliki hubungan sangat erat. Saking eratnya, pemimpinnya bahkan akan langsung terbang ke mari bila kuminta. Aku bisa membuktikannya."


Sanubari asal mengatakannya. Jika Aeneas tidak mau, dia akan memaksanya bagaimanapun caranya. Dia terlanjur mengucapkan, tidak lagi bisa menarik kata-kata yang keluar.


Di sisi lain, Fanon tidak ingin lebih banyak orang datang ke tempatnya. Ini adalah tempat amannya. Ada pula sesuatu yang harus dijaga kerahasiaannya. Dia tidak ingin lebih banyak orang menemukan tempat ini.


Tepat saat itu, Fukai kembali duduk ke tempatnya. Dia berkata, "Ada kabar bagus. Biaya produksinya sepuluh kali atau lebih, ah, pokoknya lebih rendah. Sayangnya, mereka tidak membuatnya lagi. Mereka hanya membuat khhusus untuk Sanu waktu itu. Tapi, aku mendapatkan resepnya. Kau bisa meminta perusahaan farmasi untuk memproduksinya secara masal bila memang banyak pasien yang membutuhkan."


Kabar itu membuat mata Fanon berbinar. Percakapan sejenak teralihkan. Prospek bisnis potensial terbuka lebar di depannya. Jika biaya bisa dipangkas sebanyak itu, dia pun juga bisa mendapatkan keuntungan dengan memanfaatkan kondisi.


Tentu, dia akan memberikan harga yang lebih manusiawi daripada serum resmi keluarn pemerintah dan persatuan dokter. Dia hanya perlu melakukannya secara tersembunyi agar tidak menjadi incaran pihak tak diinginkan.


"Bagaimana bahan-bahannya?" tanya Fanon.


"Jangan khawatir! Semuanya bahan alami yang tidak sulit ditemukan. Tapi, mereka juga bersedia membuatkan bila kau kesulitan."


"Aku akan mencoba meminta seseorang membuatnya di sini. Mungkin itu bisa mengurangi biaya impor."


"Ada buku untuk mencatat atau mungkin email untuk mengirimkan datanya?"


Fukai meneruskan hasil penelitian pada Fanon setelah mendapatkan email. Sanubari menunggu sejenak, lalu mengingatkan, "Bagaimana bisnis kita tadi, Pak Kora?"


Fanon berpikir sejenak sebelum menjawab, "Kau cukup meneleponnya. Tidak perlu menyuruhnya datang. Jika terbukti dia mengenalmu, aku akan bergabung denganmu."


Fanon membantu Sanubari menyambungkan ponsel ke jaringan internet. Kemudian, Sanubari menghubungi Aeneas. Tanpa menunggu lama, telepon langsung diangkat.


"Halo, Sanu! Tumben menelepon. Ada apa?"


Aeneas tampak tersenyum dalam video. Sanubari mengarahkan layar ponsel pada Fanon. Semua orang bungkam.

__ADS_1


Keheningan itu membuat roman Aeneas mendadak berubah. Mukanya jadi terlihat muram, menyiratkan kepanikan.


"Sanu! Katakan apa yang terjadi! Kenapa kameramu tidak menyala? Sanu! Jawab, Sanu!"


Kamera memang sengaja Sanubari matikan supaya Aeneas tidak tahu sedang bersama siapa dia. Kemudian, panggilan diputuskan sepihak tanpa sepatah kata.


"Astaga anak ini! Apa dia tidak sadar kalau kelakuannya itu bisa menimbulkan asumsi yang tidak-tidak?" batin Abrizar.


Pikirannya menerawang jauh, pada Aeneas yang mungkin saja dilanda kecemasan kronis gara-gara ulah Sanubari. Padahal, kemungkinan Aeneas sangat bahaagia bisa menerima telepon dari Sanubari yang tidak pernah menghubunginya setelah semua peristiwa tidak mengenakkan.


Akan tetapi, kemudian, Sanubari mendiamkannya begitu panggilan tersambung. Lelaki itu mungkin kalang kabut setelah sambungan terputus. Sementara Sanubari di sini tampak tidak memikirkan dampak dari tindakannya sama sekali.


Untuk itu, Abrizar lekas meminta, "Paman Fukai, kirim pesan pada Gafrillo kalau Sanu baik-baik saja bersama kita, tapi jangan ceritakan semua tentang perjalanan ke hutan ini! Aku khawatir dia akan salah paham karena panggilan Sanu tadi,"


Mereka tampak sangat dekat dengan Gafrillo. Hal itu menumbuhkan rasa penasaran dalam benak Fanon. Dia menatap Sanubari.


"Aku baru sadar kalau kau sangat mirip Gafrillo, Sanu. Apa kalian bersaudara? Atau jangan-jangan kau operasi plastik?"


Sanubari mencubit pipi sendiri, menarik-narik, membuktikan bahwa kulitnya tidak bisa semelar karet. Tidak pula berbunyi seperti plastik.


Abrizar yang peka langsung menyela, "L'eterna Volonta adalah pendukung kami. Karena itu, dia sangat baik pada kami. Aku tidak tahu seperti apa wajah Sanu, tapi aku percaya ada banyak orang di dunia ini yang memiliki wajah mirip. Sekalipun tidak memiliki hubungan kekerabatan."


Fanon belum menyatakan bersedia bergabung. Jadi, Abrizar berpikir merupakan tindakan bijak tidak mengungkap identitas Sanubari. Pasti ada alasan mengapa Aeneas tidak memasukkan data Sanubari ke catatan sipil yang berkaitan dengannya langsung. Abrizar percaya itu.


Sampai Fanon benar-benar setuju, identitas Sanubari harus dirahasiakan darinya. Abrizar berharap Sanubari tidak akan mengatakan hal yang tidak perlu lagi.


"Jadi, bagaimana, Pak Kora? Ah, kurasa Pak Kora wajib setuju karena aku berhasil membuktikannya. Ya, ya, seharusnya memang begitu."


Sanubari mengangguk-angguk. Dia lega. Semua berjalan lancar. Ini bahkan lebih mudah daripada merekrut Eiji. Namun, jalan berat waktu itu membawa bonus. Sanubari memperoleh tambahan dua anggota suka rela.

__ADS_1


Melirik pada Fukai, Sanubari berpikir anggota suka relanya mungkin akan bertambah satu lagi, dan mereka semua adalah bibit unggul dengan spesialis berbeda-beda. Sanubari tertawa dalam hati.


"Tinggal sebentar lagi, misi pembersihan akan segera bisa dimulai," pikirnya tersenyum lebar.


"Baiklah, aku akan mencoba. Tapi, aku akan keluar bila organisasi kalian ternyata tidak berguna," kata Fanon pada akhirnya.


Andai Aeneas tidak muncul, Fanon mungkin akan teguh dengan pendiriannya. Namun, rasa hormatnya pada Aeneas mengalahkan segalanya. Suatu keuntungan bila dia bisa menjalin hubungan baik dengan Aeneas meski harus menggunakan Sanubari sebagai batu loncatan.


"Itu terdengar cukup adil. Tapi, kami juga memiliki peraturan. Tidak boleh merokok, membunuh, mempermainkan perempuan. Selebihnya, bebas," jelas Sanubari.


Malam itu diakhiri dengan diskusi singkat tentang apa saja yang akan mereka kerjakan di waktu dekat. Pagi harinya, ketika sedang menikmati lembayung pagi sambil duduk di bangku kayu, Sanubari dikejutkan dengan bayangan gelap yang mendekat.


Bayangan itu memanggul dua binatang besar. Seekor singa di pundak kiri dan bongo di pundak kanan. Bayangan itu terus bergerak ke arah mereka.


"Orang? Ada orang lain yang tinggal di sekitar sini?"


Sanubari menoleh pada Fanon. Pagi ini, tidak ada yang mereka lakukan. Kata Fanon, mereka hanya akan menunggu seseorang untuk menunjukkan jalan keluar yang lebih aman serta mengawal untuk menjamin kepastian keselamatan mereka.


"Tidak di tengah hutan seperti ini, tapi lebih ke pinggir, meski tidak pinggir-pinggir amat," jawab Fanon.


Berjarak beberapa meter, orang itu berlari, lalu berhenti di depan mereka. Dua binatang dibanting ke tanah, menciptakan bunyi berdebum. Sanubari sontak meninggalkan bangku. Jantungnya berdebar-debar.


"Fanon, aku membawakan daging untukmu seperti biasa. Cepat ambilkan wadah! Ambilkan! Oh, jangan lupa gelas juga. Mumpung masih hangat. Cepat!"


Dari suara dan postur tubuhnya, orang yang baru datang merupakan pria. Kulitnya sangat gelap.


"Iya, iya, akan kuambilkan. Tapi, sambut pulalah tamu-tamuku dengan hangat! Jangan sampai kau membuat mereka takut!"


Fanon bangkit meninggalkan mereka. Sementara Sanubari tertegun menatap singa tergeletak di tanah. Fukai sama tertegunnya. Di sebelah singa, ada binatang yang menyeruduk Sanubari. Kedua binatang itu terluka di bagian leher dan tidak berkutik.

__ADS_1


Pria itu menoleh pada Sanubari, Fukai, dan Abrizar. Matanya bergerak naik turun, memperhatikan mereka yang memakai baju seperti seragam. Semua serba hijau.


"Wah, tidak pernah kulihat Fanon menerima tamu baru, kecuali mereka. Kenalkan, aku Tendei!"


__ADS_2