Santri Famiglia

Santri Famiglia
Damiyan Memberontak


__ADS_3

"Tidak yakin kolektor sepertimu mau kehilangan benda langka begitu saja."


"Sayang memang kalau sampai hilang walau cara mendapatkannya gratis. Lebih baik dijual sebelum dicuri atau pohon ini mati."


Kedua orang tua itu terus saja berbincang. Damiyan tidak sabar lagi. Dia sedikit bergeser untuk melewati Patrick.


"Mau ke mana?"


Pertanyaan retoris dari Patrick itu diabaikan Damiyan. Patrick berusaha meraih lengan Damiyan. Namun, Damiyan menepisnya.


Robert dan Fang menoleh. Damiyan dan Patrick sedang berjalan ke arah mereka.


"Oh, kau sudah bangun rupanya, Nak." Fang tersenyum.


"Bagaimana lukamu? Masih nyeri?" tanya Robert.


Bukannya menjawab, Damiyan malah bertanya, "Di mana kakek?"


"Vlad sedang ada urusan, tapi kau tidak perlu khawatir! Dia akan kembali ke sini setelah urusannya selesai."


"Papa dan mama?" Mata biru Damiyan berkilau diterpa sorot matahari, menatap tajam pada Fang, menuntut kejujuran.


"Mereka juga sedang ada urusan."


"Urusan apa?"


"Membeli sesuatu di kota. Mereka tidak bilang mau beli apa, tapi berpesan padaku untuk menjagamu selagi mereka pergi."


"Bohong!" Damiyan tiba-tiba mengangkat pot pohon persik legendaris. "Katakan sejujurnya atau pohon ini akan ku banting dan kuinjak-injak!"


"Ja–ja–jangan! Itu aset berharga. Pembibitan ku belum tumbuh semua. Kau akan menghilangkan pohon terlangka di dunia bila merusaknya."


"Aku hanya ingin tahu dimana kakek, papa, dan mamaku. Jika perlu, antar aku pada mereka!"


"Mereka tidak mau kau menyusul. Bersabarlah sedikit! Selesai belanja, mereka pasti menjemputmu." Fang berdiri. Dia berjalan mendekati Damiyan. Akan tetapi, Damiyan berjalan mundur, seakan enggan didekati Fang.


Patrick menjaga jarak. Dia tidak ingin menjadi penyebab jatuhnya bonsai pohon persik dari tangan Damiyan. Dia menyimak pembicaraan Robert dan Fang secara keseluruhan. Dirinya tidak akan mungkin bisa membayar ganti rugi bila sampai merusakkan pohon tersebut.


"Sekali lagi, kau berbohong, aku akan benar-benar membanting pohon ini," ancam Damiyan.

__ADS_1


Fang berhenti melangkah. Dia mendengkus. "Kau ini masih kecil, tapi intuisimu tajam sekali! Sungguh cucu Vladimir."


"Cepat katakan saja di mana mereka"


"Baiklah-baiklah. Lalu, apa yang akan kau lakukan setelah aku mengatakannya?"


"Katakan saja! Jangan mengulur waktu lagi!"


"Kedua orang tuamu tidak pernah ada di sini. Semalam, setelah kau terlelap, Vladimir pergi."


Fang mengingat-ingat kembali apa yang dikatakan sahabatnya. Malam itu, hujan kembali menderas. Vladimir rupanya juga terluka. Lengannya berlubang, tertembus peluru ketika berusaha melindungi Damiyan.


"Jika Anda tidak merengkuhnya tepat waktu, peluru pasti sudah menembus jantung anak itu. Lengan Anda menghambat laju peluru dan mengurangi kekuatann. Jadi, peluru hanya berhenti tepat di tulang rusuknya. Untungnya juga, anak itu agak gemuk," kata Robert.


Kala itu, Damiyan memang sedang taruhan menggemukkan badan karena bosan. Dia mengajak taruhan salah satu guru bela dirinya. Jika Damiyan berhasil meningkatkan berat badan hingga mencapai target tertentu sampai batas waktu yang ditetapkan, Damiyan akan diajak keliling dunia. Dia juga akan diliburkan dari latihan selama satu tahun.


Untuk itu, Damiyan menjadi sering bermalas-malasan dan banyak makan. Vladimir marah saat mengetahui itu. Damiyan pun dihukum. Namun, begitu keluar dari tempat hukuman, Damiyan malah bertambah gembul setelah membuat para staf laboratorium kalang kabut karena Damiyan menghilang dari pantauan kamera pengawas. Anak itu menemukan zona aman bebas dari binatang buas untuk bermalas-malasan serta berada di titik buta kamera.


"Siapa sangka, kekonyolan anak itu bisa menyelamatkannya sekarang." Vladimir tertawa teringat kelakuan Damiyan.


Vladimir menerapkan program diet untuk Damiyan supaya tidak kelebihan berat badan. Namun, Damiyan yang bandel tidak mau menuruti begitu saja. Dia selalu berkata, "Kurang dua ratus lot lagi. Setelah itu, aku akan kembali olahraga untuk mengembalikan berat badan yang ideal."


Pada saat itu, Damiyan memang lebih pendek dari Patrick. Namun, bobotnya bisa jadi dua kali lipat dari Patrick. Pipinya tembem, seperti sedang mengemut bakso. Vladimir sangat mengkhawatirkan kesehatan Damiyan yang penampilannya seperti itu.


Namun, Vladimir menolak. Dia meminta Robert untuk melakukan perawatan pertama. Vladimir akan mencari perawatan lebih lanjut setelah urusannya selesai. Usai memperoleh perawatan kecil, Vladimir mengajak Fang berbicara empat mata.


"Jaga cucuku untuk sementara waktu! Aku harus pergi setelah ini dan tidak tahu kapan akan kembali."


"Memangnya, kau akan ke mana?"


"Anak dan menantuku disekap Labucona. Aku hanya bisa membawa pergi Damiyan tadi."


"Kau akan pergi sendiri? Kenapa tidak membawa bantuan? Meski mereka hanya sekelompok perempuan brutal, tapi tenaga mereka tidak kalah dari pria."


Vladimir menggeleng. "Bila aku melibatkan lebih banyak orang, perang besar antara Amerika dan Rusia mungkin akan terjadi. LC belum siap untuk itu. Setidaknya, proyek itu harus selesai terlebih dahulu. Dengan begitu, Rusia mungkin baru bisa mengimbangi."


"Apa Labucona menyerang kalian karena menginginkan proyek itu?"


"Benar," Vladimir mengangguk," "jika aku belum kembali sampai Damiyan bangun, kuharap kau bisa merahasiakan apa yang kulakukan dan keadaan orang tuanya. Kau boleh mengatakan apa pun, tapi jangan katakan yang sesungguhnya! Anak itu sedikit sensitif kalau menyangkut keluarga dan agak nekad."

__ADS_1


"Lalu, bagaimana kau akan pergi? Di luar masih hujan atau mungkin malah sudah menjadi badai."


"Sebenarnya, aku kemari dengan kuda, tapi kuda itu lari saat aku sampai sini dan turun gara-gara petir. Aku mungkin akan berjalan atau lari. Siapa tahu, aku bisa berjumpa dengan kuda itu lagi di tengah jalan."


"Ada mobil di garasi. Ada juga kuda bagus. Pakailah mana pun yang kau suka!"


"Terima kasih. Kau memang sahabat paling pengertian. Titip Damiyan!"


Setelah itu, Vladimir meninggalkan kediaman Fang. Semalaman, Fang memikirkan karangan untuk menghadapi Damiyan andai Vladimir sungguh tidak kembali lebih cepat. Namun, Damiyan sangat sulit dibohongi.


Begitu cerita Fang berakhir, Damiyan melempar pot batu sembarangan. Potnya tidak pecah. Akan tetapi, dahan pohon tua tersebut ada yang patah. Semua buah rontok. Tersisa satu yang masih menggantung.


Selagi Fang mengejar Damiyan yang berlari ke jalan, Robert dan Patrick mengurus bonsai pohon persik legendaris. Mereka merawat pohon itu supaya tetap hidup.


"Kau mau ke mana?" Fang memeluk Damiyan dari belakang.


Mereka beradu tenaga. Fang mati-matian menahan Damiyan yang memberontak.


"Lepaskan! Aku mau menyusul kakek!"


"Kau akan terbunuh bila gegabah. Kakekmu membawamu kemari untuk menyelamatkanmu. Apa kau akan menyia-nyiakan perjuangannya?"


"Aku bisa bela diri. Aku bisa membantu kakek untuk menyelamatkan papa dan mama."


"Kau saja nyaris terbunuh. Apa menurutmu kehadiranmu akan membantu? Lihatlah tubuhmu! Penuh lemak. Apa kau pikir bisa berlari cepat dalam keadaan genting dengan kondisi tubuh seperti ini? Kau hanya akan menyusahkan mereka," tutur Fang.


Damiyan bergeming. Rontaannya melemah. Fang benar. Sejak berat badannya bertambah, Damiyan memang merasa langkahnya sedikit lebih berat dari biasanya.


"Bersabarlah! Mereka pasti akan segera kembali. Kau juga bisa berlatih denganku untuk menyelamatkan mereka bila mereka tidak juga kembali. Aku akan mengajarimu teknik rahasia," bujuk Fang.


Damiyan pun bersedia mengikuti menu olahraga yang dipersiapkan Fang. Berlari, sit up, push up, mengampak kayu, mencangkul, dan segala jenis kegiatan dia lakoni. Tiga hari berlalu, tapi kakek dan kedua orang tuanya belum juga terlihat.


Damiyan mengemut ujung jarum, lalu menyemburkannya ke pohon sakura dengan kesal. Dia ingin kabur dari rumah Fang. Dia bisa mencuri ponsel tetangga untuk mencari lokasi penginapannya kala itu atau bertanya pada orang-orang untuk ke sana. Akan tetapi, si tukang kebun dan anjing galaknya senantiasa mengawasi. Berat badan Damiyan turun sedikit, tapi dia belum memperoleh kecepatan semulanya.


"Terlalu gemuk ternyata tidak enak!" Damiyan berjalan ke jajaran aneka bonsai yang berbuah. Dia sembarangan memetik buah dan memakannya untuk melampiaskan kekesalan.


Pada saat itu, sebuah mobil hitam memasuki pekarangan. Seorang pria berambut pirang keluar. Matanya hijau segar seperti pupus daun. Seorang pria berambut hitam menyusul keluar. Tukang kebun menyambut dua Tamu asing tersebut.


*

__ADS_1


Catatan:


1 kilogram \= 78 lot Rusia lebih sedikit


__ADS_2