
"Sorry, ladies! Gotta go with my little brother, bye!"
(Maaf, gadis-gadis! Aku harus pergi dengan adikku, selamat tinggal!"
Jin tersenyum sambil melambaikan tangan lalu menyeret Sanubari keluar dari kerumunan. Kedatangan Sanu menyelamatkan Jin. Sebenarnya dia lapar dan ingin makan tetapi para perempuan membuatnya tertahan. Jin mengambilkan makanan untuk Sanubari dan dirinya sendiri.
Mereka berdua duduk di jajaran kursi yang disediakan sambil membawa makanan di piring sekali pakai. Keduanya memenuhi piring dengan aneka kudapan khas Italia. Sanubari menceritakan bagaimana dirinya bisa hadir dalam jamuan makan ini. Pun demikian dengan Jin.
Awalnya dia tidak tahu bahwa yang diundang hanyalah para pemenang sebelum Jin memberi tahunya. Kelana hanya memberi tahu bahwa asosiasi anggar internasional mengundang mereka untuk menghadiri pesta perayaan kecil tanpa menceritakan detailnya.
Jin menusukn ayam parmigiana yang dihidangkan dengan ukuran sesuap supaya mudah disantap sebagai camilan. Dia memasukkan sepotong ayam parmigiana itu ke dalam mulutnya lalu berkata, "Oh, jadi kau jadi juara pertama? Hebat juga kau, Bocah!"
"Kak Penculik Baik Hati lebih hebat lagi. Bisa dapat dua emas. Satu sabel tunggal putra dan satu sabel beregu putra. Keren!" Sanubari menggigit arancininya lagi.
Arancini menjadi salah satu favorit Sanubari semenjak tinggal di Italia. Dia membawa dua piring. Satu piring penuh dengan gunungan arancini. Satu lagi penuh dengan kudapan lain seperti Salami, ayam parmigiana dan sebagainya. Satu piring yang juga seperti gunungan itu dia letakkan di kursi kosong sebelahnya. Dia tidak bisa memegang dua piring penuh sekaligus saat makan.
"Sudah seharusnya aku berusaha keras untuk meraihnya karena inilah cita-citaku."
"Memangnya cita-cita Kakak apa?"
"Jalan-jalan keliling dunia gratis dengan jalan berpedang."
"Uuuuu, jadi Kakak pergi ke sini dengan naik pedang? Memangnya pedang bisa terbang, ya?"
"Ya enggak begitu juga, Bocah! Pedang bisa terbang sendiri itu hanya ada di film fantasy. Maksudku jalan-jalan gratis dengan mengikuti kompetisi berpedang seperti ini."
"Jadi kalau ikut lomba bisa jalan-jalan gratis, ya?"
"Iya. Seluruh akomodasi—maksudku biaya perjalanan, penginapan dan makanan biasanya ditanggung komite penyelenggara untuk ajang berlevel dunia seperti ini. Selain itu, kita juga akan dapat banyak uang dari pemerintah. Cita-cita yang praktis, bukan? Bisa jadi hobi menyehatkan, menyenangkan, dapat uang pula!" jelas Jin yang kemudian tertawa.
"Wiiii, keren! Aku juga mau seperti Kak Penculik Baik Hati. Tapi 'kan kata paman Kelana olimpiade tidak diadakan setiap tahun. Harus nunggu lama dong buat bisa jalan-jalan?"
"Olimpiade musim dingin dan musim panas memang hanya empat tahun sekali tetapi masih ada kompetisi lain. Bulan depan aku mau ke Jepang mengikuti turnamen Kendo Internasional. Bulan depannya lagi ke Cina untuk kompetisi uian su. Depannya lagi ada kompetisi anggar di Belanda. Banyak kok pekan olahraga yang bisa dijadikan ajang jalan-jalan."
"Semua gratis dan beruang?"
"Hu-um." Jin mengangguk sambil memakan sesuap ayam lagi.
*****
Kelana, Aeneas, Sanum dan Sanubari kembali terbang ke Indonesia untuk memenuhi undangan presiden. Pukul delapan pagi waktu Indonesia timur, para atlet peraih medali dan pelatih hadir di istana negara. Mereka diundang dalam acara apresiasi dan penyerahan bonus atas usaha keras mengharumkan nama Indonesia melalui prestasi yang cemerlang.
Acara dibuka tepat pukul delapan pagi. Ketua penyelenggara memberi sambutan disusul dengan pejabat berwenang dan presiden memasuki tempat acara. Presiden memberikan pidato singkat kemudian dilanjutkan dengan acara utama.
[Selanjutnya, penyerahan bonus kepada para atlet dan pelatih yang telah mewakili Indonesia dalam olimpiade musim dingin]
__ADS_1
[Pertama, untuk para atlet peraih medali emas pada cabang olahraga anggar.]
[Satu, Peraih medali emas dalam cabang olahraga anggar bernomor sabel tunggal putra—Jin.]
[Dua, peraih medali emas dalam cabang olahraga anggar bernomor sabel beregu putra dengan anggota Jin, Oka Oktaviano dan Syaiful Syamsu.]
[Tiga, peraih medali emas dalam cabang olahraga bernomor foil tunggal putra tingkat pemula—Sanubari.]
Kedua pembawa acara perempuan dan laki-laki saling bergantian mengatakannya. Para peanggar berjalan menaiki panggung. Mereka berbaris rapi. Presiden menyerahkan hadiah kepada mereka secara langsung.
[Masing-masing mendapatkan uang sebesar sepuluh milyar rupiah.]
Pembawa acara terus memimpin jalannya acara sampai selesai. Menteri pemuda dan olahraga serta ketua kontingen Indonesia turut memberi ucapan selamat. Usai acara apresiasi dan penyerahan hadiah, mereka makan bersama. Setelah itu, acara pun ditutup.
Keluarga Sanubari tidak langsung pulang ke Italia. Sebab, di akhir pekan masih ada acara apresiasi untuk para atlet yang diselenggarakan oleh dua hartawan. Kedua hartawan tersebut dikenal sebagai crazy ric Indonesia. Mereka juga akan memberikan hadiah kepada para atlet.
Sepulangnya dari acara di istana presiden, rasa mual Sanum kambuh sehingga dia langsung beristirahat di hotel. Aeneas dan Kelana pergi menemui seseorang untuk suatu urusan. Sedangkan Sanubari bermain bersama Jin.
Jin mengajak Sanubari ke pulau busung. Sebuah pulau yang hanya muncul ketika air surut. Letaknya ada di pantai Tanjung Jumlai, kabupaten Penajam Pasir Utara. Tidak terlalu jauh dari istana negara yang berada di ibu kota baru Indonesia. Hanya sekitar satu jam lebih dengan motor mereka bisa sampai di pantai Tanjung Jumlai. Jin sengaja menyewa motor supaya bisa memiliki waktu lebih leluasa dan tidak perlu menunggu ojek atau taxi online.
Sesampainya di area pantai, Jin memarkir motor. Mereka berjalan melewati stand-stand. Mata Sanubari berbinar memandang lautan biru bak langit yang menempel pada daratan.
"Waoh! Ini menakjubkan, keren, bagus banget!" kata Sanubari sembari mengekor di belakang Jin.
Pemandangan di hadapannya sangat luar biasa eksotis. Jajaran nyiur melambai tertiup angin laut, pasir putih membentang di bibir pantai menampakkan kejernihan air asin.
"Kita mau kemana?" tanya Sanubari.
"Pulau Gusung," jawab Jin.
"Memangnya di sana ada apa?"
"Nanti kau akan tahu. Jangan banyak tanya!"
"Oke."
Sanubari menikmati pelayarannya. Dia berpegangan pada pinggiran perahu, menerawang perairan jernih. Tidak lama kemudian mereka melakukan persiapan penyelaman. Jin, Sanubari dan seorang pemandu menceburkan diri ke laut.
Selain anggar, Kelana juga mengajarkan cara berenang kepada Sanubari. Renang merupakan salah satu keahlian yang bisa dikuasai Sanubari dengan mudah sehingga dia tidak mengalami kesulitan berarti ketika diajak menyelam oleh Jin. Meskipun ini adalah pengalaman pertama Sanubari.
Pemandangan bawah laut tidak kalah menakjubkan dibandingkan daratan. Banyaknya ikan-ikan dan terumbu karang yang beragam menambah keindahan lautan.
Sanubari sempat terkejut dan panik ketika seekor ikan raksasa yang panjangnya nyaris tiga kali lipat dari tingginya mendadak mendekat. Beruntung di sana ada Jin dan pemandu sehingga kecelakaan tidak terjadi. Pemandu mengangkat tablet elektrik yang tahan air. Di sana dia menuliskan 'Ikan besar ini namanya ikan Napoleon. Spesies langka yang dilindungi. Tenang saja! Ini aman.'
Sanubari baru tahu nama ikan berwarna biru kehijauan itu. Mereka melanjutkan berkeliling menikmati area sekitar. Sanubari menyempatkan diri berfoto bersama ikan Napoleon sebelumnya. Puas menikmati panorama bawah laut, mereka naik ke permukaan, jalan-jalan ke pulau Gusung sebentar lalu kembali ke pantai Tanjung Jumlay, menikmati peralihan senja menuju malam.
__ADS_1
Sanubari dan Jin duduk di gazeba dekat pohon nyiur ditemani air kelapa muda yang bisa langsung disedot dari buahnya. Mereka juga memesan tahu tuna bakar dan kentang goreng sebagai camilan serta ikan panggang yang kaya rasa. Sanubari menghadap ke barat sambil menggigit setusuk ikan panggang. Ikan hanya diambil dagingnya saja ketika diolah sehingga tidak ada tulangnya. Hal tersebut memudahkan ikan untuk dikonsumsi.
"Ini liburan terbaik!" celetuk Sanubari.
"Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada menikmati alam," balas Jin. Dia menyangga kepalanya dengan tangan kiri lalu menyedot air kelapa muda miliknya.
"Um. Aku juga suka melihat alam."
"Cepat habiskan makanannya, Bocah! Kita akan segera pulang."
Malam pun tiba. Suasana pantai semakin lengang. Hanya terdengar deburan ombak dan hembusan angin. Mereka berdua kembali berjalan menuju parkiran.
"Kak Penculik Baik Hati, lain kali kita main lagi ya ke tempat indah seperti ini!" Sanubari sangat berisik sepanjang jalan.
"Ya ya ya!" Jin berjalan di depan Sanubari sambil memutar-mutar kunci di telunjuk kanannya.
Mesin mobil terdengar menyala. Mendadak Jin mendengar teriakan Sanubari yang sepertinya tertahan karena bekapan diikuti bantingan pintu dan pedal gas diinjak. Sontak Jin menoleh ke belakang.
"Sanu!" teriak Jin terbelalak.
Sanubari menghilang. Mobil hitam lewat tepat di depan mata Jin. Mobil itu keluar dari area pantai.
*****
Sanum muntah-muntah di kamar mandi. Seluruh makanan yang belum sempurna tercerna dikeluarkan kembali melalui mulutnya. Tubuhnya terasa lemas seakan seluruh isi lambungnya terkuras habis.
Tiba-tiba saja terdengar pintu diketuk. Sanum segera menekan tombol penyiraman kloset lalu mencuci mulut di wastafel. Pintu masih tetap diketuk. Cepat-cepat Sanum membukakan pintu.
"Selamat sore! Saya diminta tuan Aeneas untuk mengantarkan ini," kata seorang pria berseragam hotel yang berdiri di depan pintu.
Pria itu memakai masker. Dia membawa nampan berisi kotak, sebotol air mineral dan segelas jus jambu merah lengkap dengan alat makan.
"Suami saya memesan ini?" Sanum memandang bawaan pria itu.
"Benar. Beliau berkata akan kembali agak malam. Jadi, beliau menyuruh Nyonya untuk makan terlebih dahulu tanpa menunggu beliau. Silakan diterima!"
"Terimakasih," kata Sanum menerima nampan tersebut.
"Selamat menikmati hidangan kami selagi hangat!" ucap pria itu yang kemudian pergi.
Sanum menutup pintu kamarnya. Dia membawa masuk sepaket makanan lalu meletakkannya ke atas nakas. Aroma lezat tercium dari kotak makanan.
Sanum lapar tetapi rasa mual masih belum hilang. Sanum pun memutuskan untuk meminum air mineral. Dia hanya minum seperempat botol tetapi mendadak pandangannya menggelap. Botol terjatuh, air tumpah ke lantai, tubuh Sanum pun ambruk menghantam lantai. Sanum tidak sadarkan diri dengan mulut berbusa.
———©———
__ADS_1
Catatan :
Uian su merupakan teknik menggunakan pedang dalam wu su. Kompetisi pada cabang olahraga ini biasanya dilakukan secara perorangan tanpa berduel.