
Sanubari terdiam. Dia masih kesal dengan Sai. Namun, perkataan Sai membuatnya kepikiran. Perdebatan antara penolakan dan penerimaan bergolak dalam hati Sanubari.
"Sanu, minumlah obatmu! Kau akan lemas jika kehabisan banyak darah. Jika itu terjadi, bagaimana kita akan melarikan diri? Kau harus memulihkan diri supaya bisa siap untuk rencana berikutnya!"
Sekali lagi, Sai membujuk. Dia tidak lagi mengomentari kepribadian Sanubari. Sanubari bisa sadar atau tidak, itu bukan lagi urusannya. Semua terserah pada Sanubari. Sebagai teman yang baik, Sai hanya berusaha menjaga Sanubari.
Nyamuk terbang dari kepala Sanubari. Kemudian, makhluk kecil itu melesat secepat kilat, masuk ke lubang telinga Sanubari. Sai melihat kelebatannya.
"Minumlah obatmu, Kepala Batu!"
Teguran itu membuat Sanubari tersentak. Dia sontak duduk. Kepalanya sedikit pening akibat kehilangan banyak darah. Agaknya, Sanubari mulai anemia.
"Kau akan mati bila kehabisan darah."
Suara itu begitu dekat. Namun, tidak ada seorang pun di sebelahnya, kecuali Sai. Semua orang sedang makan, sementara Sai sendiri tidak sedang bicara.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Sanubari.
"Kepada siapa kau tanyakan itu, Sanu?" Sai mengernyit.
Sanubari bertanya, tetapi matanya jelalatan tidak melihat siapa pun. Sai khawatir Sanubari akan kumat. Bila itu terjadi, mereka dalam masalah besar. Terlebih lagi, Sai tak bersenjata di sini.
Sementara itu, suara dalam telinga Sanubari berucap lagi, "Aku malaikat maut, sedang menunggumu kehabisan darah. Kalau kau mati sekarang, akan kuajak rohmu ke alam kematian. Kalau tidak jadi mati, ya, terpaksa aku pulang sendiri."
Sanubari bergeming. Bulu kuduknya meremang. Kematian masih menjadi isu yang paling ditakuti Sanubari dan Sanubari mengakui kepengecutannya itu.
"Apa aku sedang berhalusinasi?" Pikiran semacam itu sempat terbesit dalam benak Sanubari. Namun, tidak bisa dipungkiri, ketakutannya begitu nyata.
Sanubari memasukkan jari ke lubang telinga. Ujung jarinya menyentuh sesuatu, tetapi tidak bisa dikeluarkan. Dianggapnya itu sebatas kotoran telinga dan penyebab telinganya gatal. Sanubari mengabaikan itu.
Kepala Sanubari pening. Kekhawatiran berlebih meningkatkan stress dalam fisik Sanubari. Pandangannya berkunang-kunang.
__ADS_1
"Sanu?" Sai mengintip ke telinga Sanubari. Dia sangat yakin melihat sesuatu masuk ke sana tadi. Yang Sai kira, sesuatu itu adalah nyamuk.
Sekalipun hanya nyamuk itu tidak bisa diremehkan. Sai sudah pernah mendengar tentang berbagai spesies nyamuk. Di antaranya bahkan bisa menyebabkan kematian. Terlebih lagi ketika makhluk itu masuk ke rongga sensitif, seperti hidung dan telinga, Sai kian mencemaskan Sanubari.
"Kak Sai ... o ... bat ...." Suara Sanubari sangat lemah, lebih seperti orang yang kehabisan napas. Wajahnya pucat pasi.
"Ambil di sini!"
Sai meraih tangan Sanubari, menyentuhkannya ke kemeja. Tangan Sanubari sedingin es. Tangan itu juga gemetaran meraba kemeja Sai.
Karena tidak tahan melihat Sanubari, Sai mengambil silet dari sepatu. Dia bersyukur silet itu tidak disita saat pingsan tadi. Sai memotong ikatan sendiri supaya tangannya bebas bergerak.
Dengan cekatan, Sai menyimpan kembali silet, lalu memasukkan pil ke mulut Sanubari. Dia juga meminumkan air, lalu menyodorkan makanan.
Sementara itu di kabin lain, Lance berbaring. Dia mengangkat tinggi-tinggi bola mata yang sudah dicuci bersih. Bola mata itu berkilau terkena sorot lampu. Teksturnya mengeras setelah terkena air dingin. Kini, bola mata itu seperti kelereng besar. Iris hijaunya begitu jernih, sampai bisa digunakan untuk berkaca.
__ADS_1
"Apa ini mata palsu?" batinnya bertanya-tanya.