Santri Famiglia

Santri Famiglia
Rencana Selanjutnya


__ADS_3

"Assalamualaikum!" ucap Dana dan Aljunaedi.


Keduanya baru saja jalan-jalan di sekitar rumah. Dana ingin mengenal lingkungan sekitar dan siapa tahu bisa mendapatkan pekerjaan sementara karena belum tahu sampai kapan akan tinggal di Italia.


Tidak dinyana, dia bertemu seseorang tak terduga di sini. Dia dam Aljunaedi memperhatikan tamu Abrizar.


"Wah, Sanu, tumben main ke sini," sapa Aljunaedi.


Sanubari langsung berdiri. Dia langsung menyalami, mencium punggung lelaki itu.


"Aku ada perlu sama Kak Abri, Bi. Kebetulan Kak Abrinya ada di sini."


Sanubari terkekeh. Selesai menyalami Aljunaedi, Sanubari beralih menyalami Dana. Sanubari mendapat respons tidak terduga dari pria itu. Dana menepuk bahu Sanubari.


"Kamu anak penjual pecel dari Blitar, kan? Cepat sekali besarnya. Tahu-tahu sudah melebihiku saja tinggimu."


"Eh?"


Sanubari mengangkat kepala. Dia menatap bingung pada Dana yang sok akrab.


"Ayah kenal Sanu?" tanya Abrizar yang tampaknya ikut heran.


"Dibilang kenal, tidak sih. Tapi, matanya ini unik. Apalagi, di Indonesia. Langka. Jadi, mudah diingat. Kamu mungkin lupa sama aku, tapi aku masih ingat kamu."


Dana tersenyum ramah pada Sanubari. Namun, anubari tidak bisa mengingatnya.


"Wajar sih bila kamu tidak ingat. Kita hanya bertemu sekali. Ngomong-ngomong, bagaimana kabar ibumu?"

__ADS_1


"Mamak sudah meninggal."


Sanubari tertunduk lesu. Dia belum bisa sepenuhnya mengurangi rasa kehilangan yang bersemayam dalam hati. Ditambah lagi, dia tidak bisa bersama sang ibu di saat-saat terakhirnya.


"Innalilahi wa innailaihi Raji'un. Maaf, aku tidak tahu. Apa gara-gara preman kampung waktu itu?" tanya Dana turut sedih.


Sanubari menggeleng. Dia cukup terkejut mendengar Dana yang seperti tahu banyak tentangnya. Hal itu membuat Sanubari bertanya-tanya.


"Paman kok tahu Mamak pernah juga didanggu?"


"Pertemuan kita 'kan memang seperti itu. Ingat, enggak sama dua pria yang kamu ajak makan ke warung ibumu? Kalian dipalak preman waktu jualan di acara tujuh belas Agustusan. Kepalamu itu dulu sampai bocor gara-gara dibanting sama mereka, tapi syukurlah tidak meninggalkan bekas. Ikut senang bisa melihat kamu bisa tumbuh sebesar ini. Dunia memang sempit."


Penjelasan Dana itu membuka kenangan lama. Samar-samar, Sanubari merasa pernah mengalami itu semua.


"Maaf, gara-gara peristiwa waktu itu Paman jadi dipecat. Aku dengar dari berita di televisi."


Sanubari menggeleng. Kesempatan menempuh pendidikan selalu saja terganggu peristiwa demi peristiwa yang bertubi-tubi menimpanya. Dia tidak pernah merasakan benar-benar bersekolah. Kendati demikian, Sanubari tetap belajar pada Kelana, meski saat ini pembelajaran dihentikan karena musibah yang baru menghantamnya.


Selalu saja seperti itu. Padahal, dia sama sekali tidak kekurangan uang seperti dahulu. Hanya saja, Sanubari masih suka mengalami kesialan setiap kembali ke Indonesia.


Meskipun begitu, Sanubari tidak kapok. Dia malah ingin membeli beberapa tanah lagi. Mendengar itu, Dana pun menceritakan tentang beberapa area strategis yang ingin dijual pemiliknya gara-gara pandemi. Dana bersedia menjadi mediatornya bila Sanubari berminat.


Lelaki itu kagum dengan perkembangan anak kecil yang pernah ditolongnya. Anak yang dahulu tidak punya apa-apa, kini sudah seperti juragan. Dana masih ingat bagaimana reyotnya tempat tinggal Sanubari waktu itu.


Perbincangan melebar. Abrizar mengajak Sanubari jalan-jalan ke luar.


"Maaf, ayahku memang suka bicara."

__ADS_1


"Ayah Kak Abri menyenangkan. Beda sekali dengan papa. Papa itu sangat pendiam. Bicara hanya seperlunya."


"Karakter orang mana bisa kau samakan, Sanu!"


Abrizar tertawa. Abrizar sendiri cukup heran melihat Sanubari dan Aeneas. Keduanya memiliki kepribadian yang bertolak belakang. Sifat tenang Aeneas sama sekali tidak menurun pada Sanubari.


"Aku tahu itu."


"Ngomong-ngomong, jika kau benar-benar sudah siap, kita akan melakukan perjalanan ke Afrika."


"Afrika?"


Sanubari menoleh pada Abrizar. Lelaki di sebelahnya itu mengangguk. Sanubari pikir mereka akan kembali ke Indonesia.


Indonesia saja belum jadi dibersihkan. Akan tetapi, Abrizar malah mengajak ke negara lain.


"Menjemput anggota baru."


Pernyataan itu membuat Sanubari antusias. Mendengar kata anggota baru selalu membuatnya senang.


"Keren! Jadi, Kak Abri sudah memperoleh anggota lain yang ingin bergabung dengan kita? Luar biasa! FAMIGLIA kita pasti akan tumbuh besar."


"Tidak, Sanu. Kau sendiri yang harus merekrutnya. Aku akan mendampingimu."


"Yah ...."


Sanubari mendadak lesu kembali. Dia benar-benar berharap ada jalan pintas yang bisa ditempuh. Namun, sepertinya, dia harus menyiapkan mental lagi andai harus masuk ke organisasi seperti Onyoudan kembali.

__ADS_1


__ADS_2