
Dalam enam bulan Sanubari diharapkan bisa menguasai bahasa Italia. Fokus belajarnya pun hanya bahasa tanpa mata pelajaran umum dengan bahasa Italia sebagai materi utama dan yang lainnya sebagai pelengkap.
Teori hanya disampaikan sesingkat-singkatnya tiga puluh menit termasuk tanya jawab dan paling lama tiga jam. Sebab, poin penting dalam belajar bahasa adalah praktik. Semakin sering praktik maka semakin cepat pula dikuasai. Kelana menekankan ilmu terapan itu pada gaya ajarnya. Kesalahan bisa diperbaiki sambil jalan.
Sanubari banyak mengeluh di hari-hari pertama memulai pelajaran karena banyak kosa kata yang harus dihafal. Namun, lama kelamaan dia bisa beradaptasi. Dia semakin cepat hafal karena Kelana mengajar dengan bilingual.
Tidak jarang jam belajar diperpanjang. Sebab, murid didik Kelana bertambah. Aeneas, Asia dan Sanum ikut hadir. Pada akhirnya, jam ajar pun berubah menjadi ajang rayuan bagi Aeneas. Ayah Sanubari itu selalu saja melontarkan kalimat gombalan kepada Sanum ketika diminta untuk belajar membuat kalimat sendiri.
Cukup sering kelas kecil itu menjadi gaduh karena muridnya tidak ada yang benar. Asia dan Sanubari membuat kehebohan dengan gayanya sendiri. Sanubari lebih sering membuat kalimat tidak masuk akal yang mengundang gelak tawa.
Seperti yang diucapkan Sanubari saat ini misalnya, "Bonaccia beatamente terra lonta l'onta."
(Dengan bahagia menenangkan bumi jauh dari rasa malu.)
Yang satu ini sedikit lebih normal daripada hari sebelumnya. Meskipun Aeneas dan Asia harus berusaha memahami logat Jawa medok Sanubari untuk menangkap makna ucapan bocah itu. Selain itu, Struktur kalimat Sanubari pun masih sering salah.
Aeneas menganggap putranya itu kreatif. Sanubari bahkan bisa berpikir bahwa bumi bisa memiliki rasa malu. Aeneas tersenyum mendengarnya.
Sedangkan Kelana dan Sanum menahan ekspresi aneh. Di otak mereka berdua sedang terbayang adegan kacang Mede dan sebungkus serbuk pedas berpenampilan lusuh seperti pengemis jalan-jalan lontang-lantung di jalanan.
Pada akhirnya Sanum pun terbahak. Sebab, ucapan Sanubari terdengar seperti 'bon cabe atau mente terlunta-lunta'. Kelana sudah cukup sering menegur ayah dan anak itu. Namun, keduanya sama saja. Dua-duanya masih suka membuat kalimat sesuka hatinya. Hanya Sanumlah murid paling normal di antara Sanubari sekeluarga.
"Susun kalimat yang benar, Tuan Muda! Jangan main-main!" ucap Kelana yang tidak bosan mengingatkan.
"Aku tidak main-main kok. Aku tahu makna kalimat yang kuucapkan. Bonaccia artinya sunyi senyap tenang. Beatamente artinya dengan bahagia, senang, gembira. Lonta artinya menjauh. L'onta artinya malu. Terra artinya bumi. Benar, kan?" Benar, kan?" sangkal Sanubari memberi pembelaan.
"Tapi masih banyak pengucapan yang salah. Anda harus lebih banyak berlatih!" Tutur Kelana.
"Oke-oke. Namanya juga baru belajar, Paman. Suka lupa-lupa ingat."
"Sekarang coba ucapkan selamat datang kepada nenek Anda!"
"Benvenuti, Nonna!"
"salah."
"Loh, kok bisa? Aku ingat kok benvenuti artinya selamat datang."
"Benvenuti itu untuk menyambut banyak orang. Kalau ...."
__ADS_1
"Paman pasti salah ingat nih!" tukas Sanubari yang merasa ingatannya benar, "nenek itu 'kan eyang uti. Aku yakin kalau benvenuti itu ucapan selamat datang untuk nenek."
"Jangan menyela sebelum saya selesai berbicara! Jangan pula mengaitkannya dengan bahasa Indonesia! Teori macam apa itu? Teori seperti itu belum tentu bisa diterapkan dalam bahasa yang berbeda. Benvenuti itu untuk banyak orang. Bila hanya nenek Anda seorang maka Anda harus memakai benvenuta."
"Oh."
"Sekarang, coba Tuan Muda bilang selamat datang kepada papa Anda!"
"Benvenuta, Papa!" seru Sanubari dengan riang.
"Salah!"
"Loh, kok salah lagi? Tadi katanya kalau cuma satu orang pakai benvenuta? Tapi sekarang disalahkan lagi. Wah, Paman Kelana plin-plan nih. Jadi guru kok tidak punya pendirian?" Sanubari masih saja suka berasumsi seenaknya.
"Benvenuta memang digunakan untuk menyapa satu orang. Tapi, benvenuta itu digunakan untuk menyapa perempuan. Bila yang Anda sapa seorang laki-laki, maka Anda harus memakai benvenuto."
"RIbet."
"Makanya baca keterangan pada buku modul Anda dengan baik! Poin penting yang perlu Anda ingat adalah semua berakhiran i itu untuk orang banyak, akhiran a untuk perempuan karena terdengar lebih feminim, sedangkan kata dengan akhiran o itu untuk laki-laki karena terdengar lebih maskulin. Paham?"
"Oke, paham."
"Coba belajar mengucapkan selamat pagi!
"Tidak ada yang namanya buongiorni dan buongiorna, Tuan Muda!"
"Tadi katanya varian i untuk banyak dan varian a untuk perempuan? Sekarang tidak boleh dipakai. Paman Kelana membingungkan!"
"Tidak semua kata bisa dirubah seperti itu ...."
Kelana menggunakan pendekatan selembut mungkin terhadap Sanubari. Dia membiarkan Sanubari melakukan kesalahan lalu memperbaikinya sedikit demi sedikit. Anak itu tidak bisa dikerasi. Sebab, bila Kelana yang memaksakan kehendak maka anak itu yang akan berbalik menggurui.
Beruntung Kelana tidak disuruh mengajari Sanubari ketika masih balita. Sanum benar-benar ibu yang hebat. Seorang diri Dia bisa membesarkan dan menaklukkan Sanubari sampai berusia sepuluh tahun dengan segala isi pikiran Sanubari yang di luar nalar. Bahkan orang dewasa terkadang tidak mampu mengimbangi pikiran yang nyeleneh itu. Satu per satu kosa kata baru bagi Sanubari akan diusut sampai mendasar.
Tidak jarang pertanyaan menjadi berantai. Padahal mulanya hanya satu kata. Ada pula pertanyaan yang tiada berujung sehingga Kelana harus memutar otak untuk memangkasnya. Mengajar seorang anak memang susah-susah gampang.
Minggu pertama akhirnya bisa terlalui dengan hasil yang cukup memuaskan. Sanubari berhasil menguasai semua kosa kata yang ditargetkan. Kendati demikian, dia masih kesulitan membuat struktur kalimat yang benar.
Memasuki Minggu ke dua, pelajaran bahasa bertambah. Sanubari memilih bahasa Jepang, Korea dan Arab sebagai tambahan. Mulai Minggu ini pula Kelana menambahkan pendidikan fisik dalam menu belajar Sanubari. Dia diperkenalkan pada berbagai jenis olahraga serta kegiatan pengembang bakat lainnya. Saat ini masih diperkenalkan dalam bentuk video dan artikel. Kelana menjadikan semua itu sebagai materi belajar membaca dan mendengar sekaligus memahami.
__ADS_1
Selanjutnya, Sanubari akan diberi kebebasan memilih yang paling ingin dia pelajari jika sudah praktik. Hari ini pembelajaran sedikit berbeda. Biasanya setelah kelas selesai, Kelana akan membiarkan Sanubari bermain. Namun, kali ini Kelana mengajak Sanubari naik ke lantai tiga.
"Memangnya di atas ada apa, Paman?" tanya Sanubari yang mengekor di belakang Kelana.
"Nanti saya jelaskan," jawab singkat Kelana.
"Oke."
Sanubari tidak lagi bertanya. Sesampainya di lantai tiga, Kelana membuka sebuah pintu geser. Ada sebuah ruangan cukup luas tanpa perabot. Di salah satu sisi ada rak dan pintu. Kelana berjalan menuju pintu tersebut. Sanubari mengikuti sambil memperhatikan ruangan yang lebih terlihat seperti lapangan voli.
"Aduh!" ucap Sanubari yang menabrak Kelana.
Matanya terlalu sibuk mengamati ruangan itu sampai dia tidak sadar Kelana berhenti. Tabrakan pun tidak terelakkan.
"Perhatikan jalan Anda, Tuan Muda!" kata Kelana sambil membuka pintu.
"Paman sih berhenti mendadak," balas Sanubari.
Mereka berdua memasuki ruangan itu. Di sana berjajar almari dengan rapi. Sanubari masih belum mengerti mengapa dirinya dibawa di tempat ini. Ada almari kaca di ruangan Sanubari berada. Salah satunya memajang jajaran benda yang menyerupai pedang.
Namun, benda itu berbeda dari wujud pedang yang pernah Sanubari lihat dari suatu film animasi. Bentuknya tidak seperti katana, tidak seperti pedang bermata ganda, tidak pula seperti pedang besar yang bilahnya lebar serta tebal. Sanubari tidak tahu apakah benda-benda yang berjajar rapi itu bisa disebut pedang atau tidak.
"Paman, kenapa kita kemari?"
"Kita akan berlatih anggar."
"Anggar? Apa itu anggar?"
"Salah satu olahraga berpedang."
Anggar merupakan olahraga berpedang asal Eropa. Olahraga ini sudah ada sejak dahulu. Pada zaman dahulu, olahraga ini dilakukan untuk melatih ketrampilan berpedang. Bisa dibilang juga sebagai salah satu seni bela diri menggunakan senjata.
Seiring berjalannya waktu, anggar tidak lagi digunakan sebagai sarana melatih ketrampilan beladiri untuk berkelahi saja. Melainkan juga menjadi cabang olahraga resmi yang digunakan untuk melatih ketangkasan, kelincahan, ketajaman dan kecepatan berpikir dan sebagainya.
Sampai saat ini anggar masih diminati beberapa kalangan. Mulai dari anak-anak, remaja sampai dewasa bisa mempelajari olahraga ini. Di sekolah-sekolah Eropa, anggar sudah dijadikan sebagai salah satu materi ajar atau ekstrakurikuler.
"Berpedang?" Sanubari membulatkan mata.
Otaknya mulai berimajinasi. Dia memegang pedang yang tajam lalu berhadapan dengan Kelana. Dalam bayangan Sanubari, Kelana menghunus-hunuskan pedang pada dirinya yang tidak tahu apa-apa. Tubuhnya merinding ketika membayangkan bagaimana rasanya bila pedang menggores kulitnya.
__ADS_1
"Iya," jawab Kelana.
Sanubari tersadar dari lamunannya. Dia segera menggeleng-gelengkan kepala. Dengan takut-takut Sanubari menolak, "Tidak-tidak! Aku tidak ingin mati muda tertusuk pedang atau terbelah. Tertusuk duri bayam saja sudah sakit. Apalagi tersayat pedang. Aku tidak mau!"