Santri Famiglia

Santri Famiglia
Berteduh


__ADS_3

Malam semakin dalam memasuki kelarutan, salju semakin menumpuk di atas permukaan, bangunan-bangunan telah banyak yang mengakhirkan aktivitasnya. Di bawah temaram bohlam jalan, Sanubari melangkah, meninggalkan jejak sepatu pada lantai salju. Kaki letihnya membawa raga yang menggigil ke salah satu sisi kota yang masih menampakkan kehidupan.


Ia berhenti di depan sebuah bangunan yang masih menyala terang. Sanubari tak sanggup lagi berjalan. Persendiannya terasa kaku karena hawa yang terlalu dingin. Ditolehnya pintu kaca di sebelahnya, ia ragu hendak masuk atau tidak.


Namun, pada akhirnya ia dorong juga pintu tersebut. Seketika bau yang menyengat mengusik hidung Sanubari ketika pintu terbuka. Sesaat ia bergeming. Tubuhnya menolak bebauan itu. Akan tetapi, dia tidak bisa mundur. Tidak ada jalan untuk kembali. Bagaimanapun juga badannya butuh kehangatan.


Sanubari menahan napas. Dengan langkah berat ia putuskan untuk memasuki tempat itu. Matanya memindai ruangan, mencari tempat kosong yang bisa ia duduki. Pandangannya terhenti pada mesin pengambil minuman otomatis. Ia berjalan ke mesin tersebut, mengucurkan air hangat yang memang disediakan gratis lalu berjalan ke kursi kosong di sudut ruangan.


Alunan musik jaz terdengar sangat menenangkan. Namun, itu tidak bisa membuat Sanubari duduk nyaman di tempat yang sangat ia benci. Bagaimana tidak?


Orang-orang di belakangnya tergelak melakukan obrolan dewasa. Pengunjung di bangku sebelah kanan sedikit ke depannya bercumbu seolah tempat ini adalah milik mereka sendiri. Sanubari merasa malu sendiri mendengar kalimat tanpa sensor dan menyaksikan perilaku mereka.


Sanubari menghembuskan napas berat. Dipasangnya lagi headphone dan masker. Ia tidak tahan dengan semua ini. Akan tetapi, ia memilih bertahan demi sebuah kehangatan. Sanubari tertunduk. Segelas air hangat tidak jadi ia minum. Remaja itu hanya memegang dengan kedua tangan guna menghangatkan diri.


Seharusnya hari ini dia bisa tidur enak di kamarnya sendiri. Seharusnya ia bisa memeluk ibu dan ayahnya setelah sekian lama. Namun, bayangan keluarga hangat itu sirna seketika manakala tragedi sesaat yang lalu terulang dalam kepalanya. Potret keluarga bahagianya pecah berkeping-keping seperti kaca yang dihantam batu raksasa.


Sanubari tak lagi memiliki tempat untuk pulang. Sanubari tak memiliki keluarga yang bisa dijadikan sandaran. Kini ia terlantar di tempat asing. Ia terdampar di sebuah klub malam tanpa tahu bagaimana harus bertahan hidup esok.


Andaikan ada yang tahu berapa usianya sekarang, pastilah Sanubari sudah diusir dari sana. Kabur dari rumah adalah keputusannya sendiri. Ia harus siap dengan resiko apa pun yang akan ia hadapi. Mengingat ayahnya yang melukai sang ibu membuat Sanubari enggan untuk kembali ke rumah itu.


Tanpa ia sadari, air mata mengalir begitu saja. Di saat Sanubari tenggelam dalam pikirannya sendiri, tiba-tiba jemari lembut mengusap pipinya. Sanubari pun tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


"Non piangere!"


(Jangan menangis!)


Seorang wanita entah sejak kapan telah duduk di sebelah Sanubari. Tanpa permisi, ia menyeka cairan bening yang membasahi pipi Sanubari, membuka maskernya serta semakin mendekatkan tubuhnya seakan mereka sudah saling kenal.


"Aw, bello. Hai problemi con il tuo ragazza? Sei appena stato scaricato per essere troppo bello? È per questo che ti sei coperto la faccia? Fa male qui?"


(Aw, tampan! Apa kau sedang bermasalah dengan kekasihmu? Apakah kau baru saja diputuskan karena terlalu tampan? Karena itukah kau menutupi wajahmu? Apakah di sini sakit?)


Wanita itu terus memberondongi Sanubari dengan pertanyaan lalu menunjuk-nunjuk dada kiri Sanubari. Ia bersikap sok tahu dengan permasalahan Sanubari, juga bersikap sok dekat tanpa rasa malu.


Karena tak kunjung mendapatkan jawaban, wanita itu pun melepaskan headphone Sanubari. Sanubari semakin terbelalak. Ia terpancing untuk menoleh pada wanita yang merangkul lengannya. Wanita di sebelahnya berdandan sangat cantik. Riasan wajahnya senada dengan gaun selutut berwarna merah jambu pastel yang membalut tubuh proporsionalnya. Pipi putihnya merona merah. Sepertinya gadis di sebelahnya ini sedang mabuk berat. Tercium aroma tidak sedap dari mulutnya.


"Non va bene ignorare la persona con cui stai parlando. Perché non ordini qualcosa? Ti fa così male il cuore da non avere appetito?"


(Tidak baik mengabaikan lawan bicaramu, bukan? Kenapa tidak memesan sesuatu? Begitu sakitnya kah hatimu sampai kau tidak selera makan?)


Nada bicara gadis itu pun terdengar seperti orang mabuk. Sanubari memang sedang sakit hati. Akan tetapi, sakit hatinya berbeda dengan apa yang dipikirkan gadis bergaun merah jambu.


Sanubari tidak memesan apa pun juga bukan karena itu. Pertama, menu yang disediakan di sana kebanyakan alkohol, hanya ada sedikit menu pendamping. Ke dua, Sanubari tidak punya uang. Ingin makan pun ia tidak bisa membeli.

__ADS_1


Sanubari juga bukan peminum minuman keras. Ia ingat nasihat ibunya bahwa miras itu tidak baik untuk kesehatan. Sanubari tidak akan melanggar nasihat-nasihat kebaikan yang pernah diberikan ibunya. Sanubari sangat menghormati Sanum.


"Posso tirarti su il morale se vuoi. Che ne dici di cento euro per una notte? Un'offerta speciale per un bell'uomo come te."


(Aku bisa menghiburmu jika kau mau. Bagaimana kalau seratus euro untuk satu malam? Tawaran spesial untuk pria tampan sepertimu.)


Gadis itu masih saja mengoceh tidak jelas. Padahal Sanubari sama sekali tidak menanggapinya. Sanubari berharap gadis penggoda ini akan segera pergi meninggalkannya jika ia abaikan. Nyatanya gadis itu masih saja membisikkan hal-hal aneh.


"Hoek! Hohoek!" Tiba-tiba gadis itu muntah-muntah.


Muntahannya mengenai jaket dan celana Sanubari. Barulah kali ini mulut Sanubari terbuka untuk mengucapkan satu kata"Aiuto!"


(Tolong!)


Barista perempuan berlari mendekat. Ia melihat gadis bergaun merah muda yang tak sadarkan diri di pelukan Sanubari. Raut mukanya nampak khawatir ketika melihat wajah gadis muda itu.


Barista perempuan itu pun meminta Sanubari untuk mengangkat tubuh gadis itu. Sanubari membopongnya tanpa hambatan. Bobot gadis itu tidak lebih berat dari sekeranjang penuh kentang yang biasa ia bawa naik gunung.


Barista perempuan itu membimbing Sanubari menuju lantai dua bangunan tersebut. Ia menyuruh Sanubari membaringkan gadis itu ke sofa panjang lalu menyuruh Sanubari menunggu sejenak.


Sanubari mengamati gadis yang tak sadarkan diri. Dia terlihat masih muda. Usianya mungkin tak jauh berbeda dengan dirinya. Sanubari tidak mengerti mengapa gadis muda seperti dia berkeliaran di tempat seperti ini. Mungkinkah dia juga memiliki permasalahan yang sama seperti dirinya sehingga terpaksa berteduh di tempat tidak baik ini.

__ADS_1


__ADS_2