
"Bukankah kau sudah mengtahui semuanya?" tanya Eiji. Dia sudah mendengar banyak hal dari Abrizar. Tentu itu membuatnya heran.
"Semua yang kuketahui sudah kukatakan pada kalian. Tapi, pengetahuanku terbatas. Aku tidak bisa mencari tahu lebih detail tentang apa yang ada di lapangan."
"Seperti keberadaan agen Enguswartin di pulau Mafia?" sahut Sai.
Itu yang pernah dikatakan Abrizar. Seluruh wilayah Afrika dikuasai Enguswartin. Agennya tersebar di seluruh negara. Agen-agen tersebut dikontrol agen pusat yang berbaur dalam masyarakat di pulau Mafia. Agen pusat itu pula yang berhubungan langsung dengan markas pusat.
"Benar. Andai prediksiku salah, setidaknya kita bisa maju lebih cepat karena informasi yang kalian peroleh."
Abrizar mengangguk. Berdasarkan informasi yang diperolehnya, Markaz utama Enguswartin ada di tengah hutan, jauh dari pemukiman. Jadi, Abrizar agak meragukan hasil penyelidikannya sendiri.
Enguswartin memang sangat bertentangan dengan pemerintah. Mereka bahkan menjadi daftar buronan negara. Tidak mengherankan bila mereka menyembunyikan keberadaan sepenuhnya dari permukaan.
Akan tetapi, memiliki markas di pedalaman hutan terisolasi, itu terdengar sedikit berlebihan. Hal itu membuat mereka seperti ilmuwan yang sedang melakukan penelitian dan percobaan rahasia.
Menurut desas-desus, Enguswartin sering melakukan pembantaian. Kepala negara pun pernah mereka lenyapkan. Berita itu sangat meresahkan. Banyak orang yang takut mendengar tentang mereka..
Kendati demikian, banyak rakyat yang pro pada mereka. Terkhusus penduduk yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Enguswartin atau Malaikat dari Gurun Hitam terkenal murah hati di kalangan mereka. Dua berita kontras itu menyebar di masyarakat.
Entah berita mana yang benar, Abrizar tidak peduli. Dia punya alasan sendiri ingin menjadikan pemimpin tertinggi kelompok tersebut sebagai rekan.
Sanubari menatap ke luar jendela. Matanya berbinar. Gerimis tidak menyamarkan pemandangan kepulauan yang begitu memukau.
Lautan pirus tampak sangat jernih. Warna yang sangat indah dan menyegarkan. Bentangan pasir putih melengkapi keindahan yang tersaji.
Tidak lama kemudian, pesawat mendarat di bandara salah satu kota di pulau Mafia. Gerimis membasahi landasan pacu. Renji dengan hati-hati menurunkan roda dan mengendalikannya supaya tidak tergelincir.
__ADS_1
Mereka mengambil ransel masing-masing. Hanya Fukai yang tampak membawa koper ukuran sedang. Bawaannya bahkan lebih banyak dari yang lain.
Sementara para pemuda di bawahnya hanya membawa satu ransel dan tas pinggang atau selempang kecil untuk menyimpan uang, Fukai masih harus menambah satu tas kerja selain sama dengan mereka. Jadi, dia satu-satunya yang mempunyai empat bawaan.
Sebagian bawaannya itu berisi perlengkapan medis. Mungkin terlihat agak berlebihan, tetapi Fukai merasa itu perlu untuk jaga-jaga. Apalagi, Sanubari membutuhkan obat khusus yang tidak dijual di mana pun. Selain Eiji dan yang lain, dia juga membawa persediaan untuk Sanubari. Persediaannya bahkan lebih lengkap dari mereka.
Keluar dari garberata, petugas bandara menyambut. Mereka diarahkan ke bus antar jemput untuk menuju bagian migrasi di gerbang keluar. Usai melakukan pemeriksaan, mereka mencari agen travel yang bisa mengantar ke penginapan.
Mereka juga membeli makanan dan minuman instan sebelum meluncur. Hujan kian menderas. Mendung begitu pekat, membuat jarak pandang terbatas. Mobil melaju dengan kecepatan sedang.
"Sepertinya kita tidak akan ke mana-mana hari ini."
Eiji menopang kepala. Dia memandang rintik-rintik yang rapat.
Sanubari pun memandang ke luar jendela. Awan kelabu membuat suasana jalanan tampak suram, tetapi masih cukup indah untuk dinikmati.
"Baguslah. Sesekali bersantai juga tidak apa-apa. Menyetir pesawat itu cukup melelahkan."
Renji menggerakkan leher, meregangkan supaya lebih rileks. Sudah lama dia tidak menerbangkan pesawat. Akan tetapi, dia senang bisa merasakan sensasi itu lagi. Dia juga berharap akan memiliki kesempatan untuk melakukan manuver-manuver ekstrim. Secara, pesawat Sanubari merupakan tipe jet tempur dengan spesifikasi lumayan tinggi. Dia tidak sabar menanti hari itu tiba.
"Kita terlalu santai akhir-akhir ini. Bahkan, lebih buruk dari pengangguran terselubung," keluh Eiji.
Mereka benar-benar menjadi pengangguran sesungguhnya selama Sanubari sakit. Mereka juga tidak bisa melamar pekerjaan sembarangan karena pekerjaan tersebut harus mereka tinggalkan sewaktu-waktu.
"Ayolah, Ei! Siapa yang mau bekerja seumur hidup? Anggap saja kita sedang berlibur. Bahkan, jika bisa, aku ingin hidup santai tanpa bekerja," balaz Renji.
"Berpikir realistis saja! Santai tidak akan mengenyangkan perutmu. Hidup ini butuh uang," sanggah Eiji.
__ADS_1
"Setelah ini, kita semua tidak akan menganggur. Orang yang akan kita temui bisa mempermudah semuanya. Termasuk menghadirkan pekerjaan yang ringan untuk menghasilkan lebih banyak uang. Pekerjaan utama kita mungkin tidak akan membiarkan kita memperoleh pekerjaan yang semestinya bila sudah mulai bergerak. Karena itu, kita butuh dia—dia yang akan memecahkan persoalan ekonomi," timpal Abrizar.
Sanubari, Eiji, Sai, Renji, termasuk Abrizar sendiri memang memiliki banyak uang. Namun, uang itu pasti akan terkuras sedikit demi sedikit. Mereka akan mengalami defisit bila tidak mendapat sumber pemasukan. Sementara menjalankan tujuan organisasi rintisan mereka akan cukup berat.
Sanubari tertarik dengan topik pembahasan. Dia langsung menoleh pada Abrizar dan bertanya, "Apa dia Koki singkong jenius?"
Sanubari sangat bersemanga. Dia sering mengatakan pada yang lain bahwa dia akan mendirikan kafe singkong lain di luar kegiatan organisasi. Satu di Italia saja tidak cukup. Dia ingin membangun cabang di seluruh belahan bumi. Jadi, dia pikir Abrizar memahami itu dan mencarikan cef jenius untuknya.
Tentu, pertanyaan itu berbuah toyoran dari Abrizar. Kepala Sanubari sampai membentur jendela.
"Aw!"
"Ahli ekonomi sekaligus arsitek nomor satu. Dia yang akan membantu kita membangun kerajaan bisnis. Sementara kita menjalankan misi organisasi," jelas Abrizar.
"Kerajaan singkong? Wow, itu luar biasa! Lebih hebat dari ekspektasi ku. Kak Abri memang keren."
Sanubari bertepuk tangan. Abrizar hanya bisa geleng-geleng kepala. Ke mana pun arah pembicaraannya, Sanubari tidak pernah lupa dengan singkongnya.
Sementara itu, Eiji mengangguk mengerti. Abrizar bertindak seperti otak dalam kelompok kecil mereka. Segalanya dipikirkan matang-matang olehnya.
"Satu kepala untuk satu bidang. Itu terdengar lebih baik daripada satu kepala harus menanggung semuanya. Setidaknya, dengan begitu, beban kerja tidak akan terlalu berat," ucap Eiji setuju dengan rencana Abrizar.
Dia tersenyum, bersyukur dirinya tidak tergabung dalam kelompok orang bodoh yang hanya akan berpangku tangan. Kekagumannya pada Abrizar meningkat. Di matanya, Frosty Sky sangat luar biasa. Tanpa diragukan lagi, Abrizar adalah Frosty Sky yang asli.
Sesampainya di penginapan, Sanubari tercengang. Di hadapannya, berdiri sebuah pohon besar yang dipasangi tangga kayu melingkar pada batangnya. Pada salah satu sisi, terdapat pula elevator dengan desain alami. Pada ketinggian tertentu, rumah pohon dua lantai menempel pada batang pohon yang rindang.
Sanubari mendongak tanpa berkedip. Mulutnya sedikit menganga menyaksikan apa yang ada di atas sana.
__ADS_1