Santri Famiglia

Santri Famiglia
Rencana Pelepasan


__ADS_3

"Jantung Anda masih pada tempatnya," kata Patrick dengan penuh pengertian. "Jika tidak, mana mungkin Anda bisa duduk di sini dan berkeluh kesah panjang lebar?" dia menambahkan, mencoba membuat si lansia merasa lebih tenang.


Namun, si lansia hanya mengernyit, ekspresinya mengindikasikan ketidakpuasan terhadap jawaban yang diberikan oleh dokter. Menurutnya, jawaban Patrick tidak relevan dengan keluhannya.


Tetapi, dugaan Patrick terbukti benar dengan tanggapan si lansia. Bukan dirinya yang salah menjawab, melainkan si lansia yang mengalami masalah dengan pendengarannya.


"Payung lipat? Saya kemari untuk operasi pengembalian jantung, bukan meminta payung lipat," kata si lansia dengan nada ketus, merasa bahwa pembicaraan mereka tidak berjalan sesuai dengan yang diinginkannya.


Dari kepala turun ke dada, Patrick melihat kekurangan itu, sebuah alat bantu pendengaran terhimpit di antara kain yang bersarang di sana. Dengan sopan, Patrick mengucapkan permisi, lalu mengambil benda itu dari persembunyiannya.


"Dipakai dulu alat bantu dengarnya, ya!" Patrick dengan lembut memasangkannya pada telinga si lansia, memberikan kemudahan agar komunikasi di antara mereka berdua bisa berjalan dengan lancar.


Dengan cermat, Patrick menempatkan ujung stetoskop di dada si lansia, mencari detak jantung yang membuktikan kehidupan masih ada di dalam tubuhnya. Sementara ujung lain dipasangkan ke telinga si lansia supaya dia bisa mendengarnya sendiri. Suara detak jantung yang teratur mengalir melalui stetoskop, mengungkapkan keberadaan kehidupan di balik kulit dan tulang.


Dalam ketenangan ruangan yang hanya dipecah oleh suara detak jantung melalui stetoskop, si lansia mendengarkan dengan khidmat. Dia merasa detak jantungnya, getaran yang menunjukkan bahwa kehidupan masih mengalir dengan mantap di dalam dirinya. Sambil mendengarkan, si lansia memejamkan mata, mencoba merasakan keberadaan jantungnya yang terus berdetak dengan kekuatan yang tak terelakkan.


Meskipun begitu, ragu masih tetap menghantui pikiran si lansia. Dia meragukan keberadaan jantungnya sendiri, seperti mencari keyakinan yang sulit ditemukan. Patrick, sang dokter, dengan penuh kesabaran, berusaha meyakinkannya.


"Tenang, Kek. Jantung Anda masih sehat dan berdetak dengan kuat," ujar Patrick dengan suara lembut, mencoba membawa ketenangan pada hati si lansia.


Namun, keraguan si lansia tidak mudah diatasi. Patrick dengan susah payah meyakinkannya. "Jika Anda masih merasa ragu, kita bisa melakukan ronsen dan kardiograf untuk memastikan keberadaan jantung Anda," tawar Patrick, menunjukkan keseriusannya untuk membantu si lansia memahami keadaan kesehatannya.


Di luar ruangan, Fang amat kebosanan. Dia tampak mondar-mandir, lelah terlalu lama duduk tanpa berbuat apa-apa, sampai-sampai dia memutuskan untuk melakukan beberapa gerakan senam kecil guna menghilangkan kelelahan dari duduk berpuluh-puluh menit.


"Nona, apa kau tidak lelah hanya duduk seharian?" tanyanya dengan nada penasaran, sambil berdiri dengan satu kaki, mencoba menyemangati perempuan yang bekerja sebagai petugas kesehatan di sampingnya.


"Mau bagaimana lagi?" jawab si perempuan dengan senyum tipis. "Beginilah pekerjaan saya ketika pekerjaan lain sudah beres. Tidak ada petugas medis selain saya dan Dokter Patrick di sini. Saya tidak bisa seenaknya meninggalkan klinik meski terkadang ingin jalan-jalan mengusir penat."


Fang mengangguk mengerti, merasa simpati terhadap kondisi kerja yang melelahkan itu. "Kalau begitu, marilah berolahraga bersama supaya sehat! Alangkah baiknya bila petugas kesehatan juga sehat sepanjang waktu, bukan?"


Si perempuan pun bangkit menemani si kakek. Fang menyuruhnya berhitung dengan semangat. Duet senam itu terhenti manakala si lansia keluar bersama Patrick.


Patrick heran mendapati perawat magangnya melompat-lompat sambil merentang tutupkan tangan bersama Fang. Fang senang penantiannya berakhir.


Si lansia pun menemukan ketertarikan baru manakala melihat Fang. Dia lekas menyapa dengan antusias.


"Ah, Fang, di mana Cucu Singkongmu? Dia harus menggoreng kan singkong untukku. Dia pasti lupa. Padahal, aku sudah pesan dari kemarin-kemarin, tapi belum di antar sampai hari ini," kata si Lansia.


Sejak Sanubari mulai berjualan singkong, si Lansia tidak pernah absen mengunjungi rumah Fang. Jadwal latihan Sanubari pun hampir teerganggu di setiap waktu. Di saat seperti itu, Fang mencari-cari alasan untuk menghindarkannya dari Sanubari. Namun, Fang sesekali membiarkan mereka ketika tidak mengagendakan apa pun untuk Sanubari.


"Dia ada di rumah. Datang saja kalau ingin bertemu dengannya! Kau bisa tanya pada Alfred atau Sumi kalau tidak tahu dia di mana."


"Bagus sekali! Aku bisa menungguinya menggoreng singkong supaya tidak lupa lagi. Sampai jumpa!" Si lansia melenggang, melupakan sepenuhnya urusan dengan Patrick. Kini, ingatannya hanya dipenuhi singkong dan Sanubari.


Patrick mengembuskan napas lega. Kepergian si lansia merupakan anugerah baginya. Jika tidak segera pergi, Patrick mungkin masih harus melanjutkan obrolan tentang jantung dan itu bisa berlangsung selama berjam-jam. Patrick beralih pada Fang.


"Kakek Fang, tumben kemari. Mau periksa kesehatan juga?" tanya Patrick.

__ADS_1


"Hanya ingin berbincang-bincang ringan. Mari lakukan sambil jalan-jalan!" Fang tersenyum.


Patrick meninggalkan klinik setelah berpesan pada sang perawat. Mereka berjalan mengelilingi desa.


"Waktunya mengakhiri sandiwara." Fang mengawali pembicaraan ketika mereka mencapai kaki gunung.


"Sandiwara?" Patrick mengikuti Fang yang terus naik. Tonggeret bersuara nyaring, seolah membantu menyamarkan pembicaraan dari siapa pun yang mencuri dengar.


"Aku sudah mengajarkan segala yang kubisa pada Sanu. Tidak perlu lagi berlama-lama menahannya di sini," kata Fang.


Patrick mengerti arah pembicaraan Fang. Fang memiliki cara sendiri untuk melepaskan Sanubari. Patrick juga akan memikirkan cara lebih alami untuk membungkus perpisahan yang berawal dengan pertemuan penuh kedustaan.


"Kau juga boleh ikut dengannya jika mau. Kau tahu identitas Sanu, kan? Masa depanmu mungkin akan lebih baik bila ikut keluar dari desa bersamanya daripada mengabdikan diri di desa penuh lansia ini."


Patrick terdiam mendengar penuturan Fang. Mereka berhenti di puncak. Rumah-rumah kecil terlihat sangat renggang, bisa dihitung dengan jari. Begitupun yang bisa dilakukan Patrick sebagai dokter, hampir-hampir tidak ada.


Dua hari kemudian, Fang melempar kunci mobil pada Sanubari. Sanubari kegirangan bukan main. Dia diizinkan menyetir ke luar kota.


Pelajaran menyetir tentu pernah menjadi salah satu tantangannya. Dia diwajibkan membawa mobil penuh telur dengan kecepatan tinggi, tapi dilarang memecahkan satu pun. Mengantar tahu dan botol-botol susu pun pernah. Mengendarai mobil berisi penumpang bukanlah apa-apa dibandingkan semua pengalaman menyetir di masa lampaunya.


Fang cukup puas dengan kemampuan menyetir Sanubari. Meski yang dipakai hanya mobil tua murahan, yang lazimnya menimbulkan banyak guncangan, Sanubari mampu meminimalisirnya sampai nyaris tiada sama sekali. Gaya berkendaranya sangat halus.


Mereka berkendara empat jam penuh. Monitor-monitor digital mengiklankan moto GP yang akan segera digelar. Mereka menginap di hotel. Keesokan harinya, perjalanan 15 menit dilanjutkan. Sanubari hanya menyetir mengikuti navigasi. Dia hanya berhenti ketika navigator mengatakan bahwa mereka telah sampai tujuan.


"Kakek Fang!" Milo melambaikan tangan, berlari kecil menghampiri Fang dan Sanubari yang baru keluar dari mobil. Dia tersenyum sumringah.


"Dasar cucu kurang perhatian! Beraninya kau tidak mengunjungiku selama empat tahun ini." Fang menepuk-nepukkan kedua telapak tangan seperti menyingkirkan debu.


Sanubari merasa aneh dengan interaksi mereka. Itu terlihat tidak biasa untuk pertemuan keluarga yang lama berpisah. Seharusnya, mereka saling berpelukan, berjabat tangan, atau berbasa-basi klise tentang kabar. Setidaknya, itu yang ada dalam pikiran Sanubari.


Bahkan, Sanubari membayangkan reuni hangat bersama Eiji, Abrizar, Renji, Sai, Fanon, dan Anki. Sebentar lagi, dia bisa pulang. Kemudian, teman-temannya akan menyambutnya dengan tawa, makan hidangan lezat.


Sanubari masih belum tahu kabar Sai sejak berpisah. Tapi, dia sangat berharap Sai sudah kembali bersama yang lain dengan selamat. Sanubari tidak ingin membayangkan yang buruk-buruk. Namun, kenyataan di hadapan memperlihatkan reuni tidak selalu seindah angannya.


"Semoga mereka tidak menghadiahiku dengan pukulan jika pulang nanti!" pikir Sanubari. Dia lebih senang bila disambut dengan singkong keju.


"Aku sibuk, Kek."


"Bayi pun juga dibuka, tapi selalu ingat kembali pada orang tuanya ketika jenuh di antara kesibukannya bermain."


"Jangan samakan aku dengan bayi! Aku ini sudah dewasa dan mandiri."


"Mandiri tidak bisa kau jadikan alasan untuk melupakan keluarga."


"Iya-iya, maaf! Mulai sekarang, aku akan selalu menyempatkan diri untuk berkunjung. Lagian, siapa pula yang lupa keluarga?" Milo mengalihkan perhatian pada Sanubari yang sedari tadi diam. "Ini pasti Sanu yang Kakek ceritakan, kan?"


"Salam kenal!" Sanubari mengulurkan tangan.

__ADS_1


"Kalian seumuran. Kurasa kalian bisa memahami dengan mudah."


"Milo. Cukup mengejutkan mendengar ada yang menantang Sang Juara, yang 10 kali berturut-turut tak terkalahkan. Aku bersyukur bisa memiliki kesempatan menjadi bagian dari tim suksesnya. Kau akan menjadi pemecah rekor bila berhasil mengalahkannya." Milo menjabat tangan Sanubari. Suaranya penuh kebanggaan.


"Aku tidak peduli memecahkan apa pun itu. Pokoknya, aku harus menang. Akan kukerahkan seluruh tenaga untuk mewujudkannya dalam sekali coba."


"Ngomong-ngomong, di mana motormu?" Milo mengedarkan pandangan. Tidak ada lagi kendaraan memasuki pelataran parkir setelah mobil Fang berdiam di tempatnya.


"Dia akan menantang pembalapmu dengan berlari."


Kata-kata Fang membuat Milo terpingkal. "Aku akan memberikanmu tiket berlibur ke Italia bila kau sungguh bisa melakukannya, Sanu!"


"Benarkah?" Antusiasme Sanubari meningkat drastis. Keberuntungan sedang berpihak padanya. Dengan ini, waktu pulangnya akan semakin dekat.


"Ya." Milo menanggapi tanpa berhenti tertawa. Percakapan itu tidak lebih dari lelucon baginya.


Lain soal dengan Sanubari yang menganggapnya serius. "Kakek Fang, kau saksi atas perjanjian ini. Bantu aku menagih bila dia mencoba ingkar!"


"Senang berkenalan dengan orang luwes sepertimu. Tidak masalah tidak membawa motor sendiri. Masih ada motor cadangan yang bisa kau pakai. Ayo! Sang Juara sudah menunggu."


Milo membimbing jalan. Mereka menapaki papan kayu. Di sisi kanan, hutan terhampar, menghalangi pemandangan.


"Sebenarnya, ada jalan lain untuk menuju sirkuit. Tapi, kurasa ini yang paling bagus pemandangannya, cocok untuk cuci mata, mengusir ketegangan sebelum turun ke Medan pertempuran," papar Milo.


Seperti yang dikatakan Milo, Sanubari cukup menikmati perjalanan. Udara sangat menyegarkan. Aroma kayu dan dedaunan lembut menyapa penciuman, seperti aroma terapi. Jalan semakin menanjak dan berkelok-kelok. Pemandangan pun berubah.


"Sanu ke sini untuk berkompetisi, bukan berpariwisata."


"Sanu pasti jenuh setelah tinggal lama di desa bersama para orang tua. Pemandangan alam bagus untuk meremajakan pikirannya yang barang kali sudah mengakek."


"Apa itu mengakek? Tidak ada kata mengakek. Mungkin pikiranmulah yang membayi sampai-sampai tidak bisa melafalkan kata dengan benar."


Selagi Fang saling bertukar ejekan dengan Milo, Sanubari menyibukkan diri dengan panorama sekitar. Bunga warna-warni tampak terhampar di kejauhan, membentuk kalimat 'The Biggest Grand Prix Ever in History'. Kubah-kubah melengkung di tanah layaknya setengah bola yang menyembul dari tanah, tersebar di beberapa tempat. Tidak ada yang akan menduga bahwa bangunan itu merupakan stadion serba guna bila tidak mendekatinya.


Sanubari pun bertanya-tanya. Mereka terlihat sangat kecil, memancarkan kemilau berbagai warna di bawah terpaan sinar matahari. Sebagian merefleksikan pemandangan langit dan sekitar. Di sisi lain, sirkuit mengular. Tikungan tajam di sana-sini. Jalan yang mereka lewati menurun. Hutan mulai habis, berganti lagi dengan pemandangan lain.


Ketiganya memasuki elevator transparan. Kotak kaca itu bergerak turun. Ketika keluar, Sanubari hanya melihat lantai keramik yang tersambung dengan rerumputan, pasir, lalu aspal sangat lebar. Milo terus mengajak mereka berjalan hingga mencapai tempat yang seperti bengkel.


Seseorang tengah menunggu dengan pakaian lindung lengkap, siap melakukan balapan saat itu juga. Milo memperkenalkan mereka.


Sang Juara terkejut ketika mendengar Sanubari akan menantangnya dengan berlari, hanya mengandalkan kaki, tanpa bantuan alat, kecuali sepatu olahraga biasa yang dikenakannya. Namun, beginilah kenyataan. Kini, Sang Juara bersanding di garis awal bersama Sanubari.


Milo berdiri di depan mereka, membawa bendera. Dia sungguh tidak mengira Fang serius dengan perkataannya. Dia meragukan kenyataan di hadapan.


Mesin menderum halus, seolah mengatakan siap dipacu kapan pun. Sanubari berjongkok dalam pose siaga layaknya atlet maraton profesional. Demi menghindari kecurangan, kamera kecil diikatkan pada keningnya. Pemuda itu menatap lurus, selurus kamera menempel di tengah kening yang seperti mata ketiga.


Begitu bendera diangkat, motor melaju. Sanubari sengaja membelakangi. Dia tidak ingin kemenangannya kelak dianggap tidak sah gara-gara tanpa sengaja mendahului. Terlebih lagi, dia harus melakukan lima putaran. Sungguh kerugian besar bila dia terdiskualifikasi hanya karena masalah sepele.

__ADS_1


Saat motor sudah benar-benar terlihat di depan mata, Sanubari menggenjot otot-otot kakinya. Angin menerpa Milo ketika Sanubari lewat. Dia memandang punggung pemuda yang mencoba mengejar ketertinggalan.


__ADS_2