
"Tapi, Kakak sudah berjanji."
Sanubari benar. Sejatinya, Abrizar pun tidak ingin ingkar. Akan tetapi, ada satu hal yang membuatnya enggan melanjutkan ini, membuatnya ingin membatalkan kesepakatan yang telah ada.
"Untuk apa lagi kauingin melakukan itu?"
"Tentu saja untuk mengubah haluan mafia yang ada sekarang, menjadikan mafia sebagai organisasi terbersih, legal untuk menjaga perdamaian dunia."
Keyakinan Sanubari tidak goyah. Kalimat itu terucap semantap kali pertama dia mengajak Abrizar. Dia sangat ingin menciptakan dunia di mana semua orang bisa hidup damai tanpa saling menyakiti.
Abrizar menghela napas. Ambisi Sanubari itu memang terlalu besar, dan Abrizar memiliki visi misi yang sejalan.
"Ayahmu seorang penguasa. Tanpa meneruskan rencana kekanakan ini pun Kaubisa mewujudkan angan-anganmu itu. Cukup bilang pada ayahmu, dan seluruh dunia akan takluk padanya."
Sanubari terkesiap. Dia memang ingat bahwa Abrizar tahu siapa itu Aeneas. Namun, lelaki itu tidak tahu bahwa Aeneas ayah Sanubari selaama ini. Karena tidak bisa melihat, Abrizar tidak menyadari kemiripan Sanubari dengan ayahnya saat membuka profil Aeneas.
Seharusnya, Abrizar tetap tidak mengetahui kenyataan itu. Seingatnya, dia selalu bungkam, sengaja tidak pernah memberi tahu siapa ayahnya pada Abrizar setelah tanpa sengaja mengetahui identitas Aeneas dari laptop pria tuna netra itu.
"Ka—kakak tahu siapa ayahku? Bagaimana bisa?"
"Tentu saja aku tahu. Setiap hari, setiap akhir pekan aku ke rumahmu bersama yang lain. Dia selalu menyambut kedatangan kami. Bagaimana mungkin aku tidak tahu dia?"
"Tapi Kakak tidak bisa melihat."
"Kaulupa telingaku bisa menjadi mata? Dari suaranya, aku tahu dia Gafrillo, bos besar L'eterna Volonta. Tidak kusangka, waktu itu, kaukabur dari ayahmu sendiri."
Mereka saling terdiam setelahnya. Selama delapan bulan ini, Abrizar berada di sekitar Aeneas secara langsung. Meski tidak bisa melihat, tetapi Abrizar bisa memahami pribadi Aeneas yang pendiam.
__ADS_1
AEneas tidak pernah jauh dari sisi Sanubari selama remaja di hadapannya ini sakit. Dia bahkan menyiapkan penjaga dan perkebunan singkong untuk Sanubari. Dilihat dari mana pun, Aeneas bukan tipikal ayah yang akan menyiksa anaknya.
Abrizar tidak tahu apa masalah Aeneas dan Sanubari sampai dia ingin kabur dari kejaran sang ayah kala itu. Abrizar tidak ingin menyinggung maupun menanyakannya.
Bagaimanapun juga, Sanubari baru saja sembuh. Kondisi mentalnya mungkin masih rawan. Membahas sesuatu di masa lalu secara asal mungkin akan memicu hal yang tidak diinginkan. Abrizar tidak ingin melakukan kesalahan itu.
Jadi, dia hanya bicara seperlunya. Sekarang pun masih ada yang membuat Abrizar cemas. Meski sudah berhati-hati, Abrizar tidak tahu apa saja yang bisa memicu kemunduran pada Sanubari.
Sanubari tertunduk. Dia tidak menyangkal fakta yang diungkapkan Abrizar. Dia tidak ingat mengapa ingin menjauh dari Aeneas waktu itu. Sedalam apa pun dia menggali ingatan, Sanubari tidak bisa menemukan penyebab kebenciannya.
Sepotong memori telah hilang. Sanubari hanya bisa berasumsi, mungkin waktu itu dirinya hanya sedang kecewa. Kecewa karena Aeneas tidak memberi tahunya tentang kematian Sanum.
Sanum jatuh dari tangga saat hamil besar. Dia sempat dirawat beberapa hari sebelum akhirnya meninggal. Hanya bayi kembarnya yang selamat. Ketika itu terjadi, Sanubari sedang berlibur ke rumah Canda. Karenanya, dia tidak bisa melihat sang ibu untuk terakhir kalinya. Itu hanya ingatan baru yang ditanamkan untuk mengunci kenangan tidak diharapkan.
Namun, Sanubari meyakini kebenarannya. Hanya ketulusan Aeneas yang akhir-akhir ini sering dipertanyakannya.
Dia tidak tahu apa-apa tentang ayahnya. Kalau bukan karena Abrizar, dia tidak akan pernah tahu sang ayah memiliki pengaruh sebesar itu di dunia.
"Perdamaian dunia itu bukan sesuatu yang bisa dijaga satu atau dua orang, Sanu."
Abrizar tersenyum miring. Pemikiran Sanubari masih saja naif. Namun, itu tidak salah. Jauh di lubuk hati terdalam, Abrizar pun menginginkan hal serupa.
Meskipun begitu, Abrizar lebih realistis. Dia hanya bertindak sesuai batas.
"Kita bisa melakukannya bersama."
Sanubari belum menyerah. Dia sangat yakin semua itu bisa diwujudkan selama terus berusaha.
__ADS_1
"Jika kaubegitu ingin menciptakan perdamaian, kenapa tidak menjadi abdi negara saja? Menjadi tentara."
Saran itu ditolak Sanubari. Dia teringat dengan dua tentara yang dipecat secara tidak terhormat gara-gara menolong Sanum.
"Aku tidak ingin bekerja di bawah siapa pun. Apalagi dengan pemerintah. Itu akan membuatku tidak bisa bergerak bebas. Dunia yang kuinginkan tidak akan tercipta dengan cara seperti itu."
Jawaban Sanubari itu lagi-lagi membuat Abrizar menghela napas. Sulit sekali membelokkan tekadnya. Padahal, hampir setahun berlalu semenjak perjanjian pertama. Abrizar pikir, Sanubari akan berubah pikiran setelah semua yang terjadi.
"Dasar keras kepala! Kautahu? Membangun sebuah organisasi itu membutuhkan dana yang tidak sedikit. Sebagai perintis, kaumungkin harus menjadi sumber dana satu-satunya bila tidak memiliki sponsor. Tetapi dengan menjadi tentara, kauakan digaji, mendapat jaminan pensiun, kaujuga bisa menjaga perdamaian dunia."
Dengan iming-iming itu, Abrizar berharap Sanubari akan mengubah pikirannya. Sejak pertemuannya dengan Aeneas waktu itu, keraguan muncul di hati Abrizar. Dia memang sungguh-sungguh ingin berkolaborasi dengan Sanubari sebelumnya, tetapi tidak lagi sekarang. Abrizar lebih baik kembali ke rutinitas semulanya, bergerak sendirian di balik layar tanpa rekan.
Kondisinya sendiri tidak sedang baik-baik saja sekarang. Aljunaedi pernah melapor padanya tentang adanya orang yang masuk ke rumahnya selama dia tinggal ke Jepang. Itu cukup menjadi peringatan baginya. Salah sedikit saja melangkah, entah apa yang akan terjadi padanya esok.
Namun, jalan pikiran Sanubari tetap tidak bisa digiring ke pengalihan yang dibuat Abrizar. Pengalaman masa lampau turut andil dalam pengambilan keputusannya.
"Kita bisa membangun usaha untuk membiayai semuanya. Aku juga mempunyai tabungan. Kita juga sudah membawa kak Eiji ke sini. Jadi, Kakak harus menepati janji."
Balasan Sanubari itu memberi inspirasi pada Abrizar. Dia pun berkata, "Dia memang menjadi teman kita sekarang. Tapi, apa dia sudah bilang setuju untuk bergabung?"
Sanubari terdiam sejenak. Dia pernah mengajak Eiji membuat keluarga. Namun, lelaki itu tidak memberi jawaban pasti.
Jadi, Sanubari hanya bisa menjawab, "Belum sih."
"Itu artinya, kaubelum memenuhi syarat kedua," ucap Abrizar.
"Oke. Kakak harus benar-benar berjanji kali ini! Jika kak Eiji setuju, maka Kakak tidak boleh menolak lagi!" tandas Sanubari.
__ADS_1
Dia sangat antusias menjalankan misi ini. Sanubari meninggalkan Abrizar begitu saja, lalu bertanya di mana Eiji kerja pada Anki. Hari itu juga, dengan diantar Reste dan Bio, Sanubari menuju pusat penelitian BGA.
Asal aku