
Sanubari sama sekali tidak mengerti ucapan wanita di hadapannya. Jadi, Sanubari membiarkan wanita itu mengoceh tanpa menanggapinya. Namun, dia menjabat tangannya ketika wanita itu mengulurkan tangan. Kalau gestur semacam ini Sanubari tahu.
Orang Indonesia juga sering saling berjabat tangan untuk berkenalan atau sebagai salam. Sanubari berpikir jabat tangan di negara ini mungkin memiliki makna yang sama. Selanjutnya wanita itu bersalaman dengan Sanum.
Kejadian berikutnya membuat semua orang terkejut. Wanita berambut putih mendadak muncul, menjewer telinga Aeneas lalu membawa ayah Sanubari itu pergi. Ini kali pertama Sanubari melihat orang dewasa dijewer oleh orang dewasa lainnya.
Tentunya hal semacam ini menimbulkan tanda tanya besar di kepala Sanubari. Sebelumnya, Sanubari berpikir bahwa orang dewasa itu lebih bebas dan bisa menghadapi segala bentuk penindasan. Seperti Idris dan Rudy yang membantu pemakaman kakeknya, Jin yang membebaskan ibunya dari kasus salah tuduh dan menyelamatkan nyawa mereka, Kelana yang bisa mengurusi apa pun dan tentunya Aeneas sang Ayah yang banyak uang.
Terkecuali ibunya. Ibunya memang juga orang dewasa dan bisa dibilang tangguh dalam kadar yang berbeda. Ibunya memang hebat tetapi belum mampu melawan kejahatan para preman waktu itu. Sehingga Sanubari berpikir bahwa ibu adalah sosok yang harus ia lindungi kelak bila sudah besar dan kuat.
Namun, pemandangan hari ini sangatlah bertolak belakang dengan bayangannya selama ini. Sang Ayah kalah oleh seorang wanita. Ayahnya bahkan tidak bisa melawan ketika wanita itu menyeretnya pergi.
"Paman Kelana, siapa wanita yang menjewer papa tadi? Kenapa papa tidak melawan ditindas sama wanita seperti itu?" tanya Sanubari yang kebingungan.
"Beliau nenek Anda, Tuan Muda. Mana mungkin tuan Aeneas melawan ibunya sendiri. Tuan Aeneas sangat menghormati nyonya Asia sebagai ibu. Beliau pasti akan mendengarkan perkataan nyonya Asia dengan baik. Dimarahi pun tuan Aeneas pasti hanya akan diam."
Penjelasan Kelana itu mengingatkan Sanubari terhadap perkataan Jin waktu di bioskop Blitos. Sanum sendiri tidak pernah marah kepadanya sehingga Sanubari kurang paham maksud Jin kala itu. Kini Sanubari tahu sisi lain wanita yang harus ditakuti. Ayahnya saja tidak bisa melawan ibunya sendiri. Itu sudah cukup membuktikan bahwa sejatinya pada poin tertentu wanita lebih kuat dari laki-laki.
Pandangan Sanubari terhadap wanita sedikit demi sedikit mulai terbentuk. Pertama, wanita itu lembut dan perlu dijaga. Ke dua, wanita itu perlu dihormati. Terutama ibu baik hati yang telah melahirkan dirinya. Ke tiga, tidak semua wanita lemah. Mungkin saja ada di antara mereka yang perlu diwaspadai seperti perempuan licik yang memfitnah ibunya sebagai pembunuh. Sanubari mulai berpikir untuk lebih berhati-hati dengan makhluk hidup yang disebut wanita ke depannya.
Tidak lama kemudian wanita asing itu pergi ke arah di seretnya Aeneas. Tinggallah Sanubari, Sanum, Kelana serta Dantae yang masih berdiri di tempat.
"Dove devo mettere questa roba?"
(Kemana barang-barang ini harus kuletakkan?)
"Portalo in cucina! È pieno di cibo."
(Bawa saja ke dapur! Itu isinya makanan.)
Mereka sengaja membawa beberapa makanan Indonesia atas permintaan Sanubari. Kebanyakan isinya merupakan makanan. Sanubari menjadi kecanduan setelah diperkenalkan dengan beberapa camilan oleh Jin.
Keripik singkong pedas, keripik talas, keripik tempe, keripik kentang, sale pisang, usus krispi, kulit ayam krispi kacang Mede serta kacang leci—semua itu secara instan menjadi favorit Sanubari. Ia masih ingin menikmati semuanya tetapi dia sudah harus meninggalkan Indonesia. Kacang Mede dan keripik kentang mungkin masih bisa dicari di Italia. Namun, camilan lainnya bisa jadi komoditas langka atau bahkan tidak ada sama sekali di negeri piza ini.
Alhasil, Kelana pun terpaksa membelikan beberapa stok ditemani Jin sebelum hari keberangkatan. Sambal pecel, sambal gado-gado serta bahan makanan lain yang sekiranya tidak ada di Italia juga dibawa. Bocah berdarah campuran itu sepertinya sudah menjadi anak Indonesia tulen. Makanan dan bibit tanaman pun ikut dibawa pindah ke negeri seberang.
Karenanya Kelana harus mengurus perizinan supaya berkardus-kardus barang itu bisa lolos sampai Italia tanpa hambatan. Dia juga memesan tiket pesawat kelas satu supaya ada yang membantunya membawa barang bawaan yang telah beranak Pinak itu. Jadi, dia tidak kerepotan mengurusinya sendiri. Berangkat hanya membawa ransel dan koper kecil milik Aeneas. Pulangnya tambah banyak kardus dan tas jinjing.
__ADS_1
Fasilitas kabin dan bagasi dimanfaatkan secara maksimal tanpa terbuang sia-sia. Semua itu hanya demi makanan. Saat penjemputan tadi bahkan ada dua anak buah Aeneas yang dikhususkan membawa mobil lain untuk mengangkut barang bawaan. Dantae menyuruh kedua bawahan Aeneas itu untuk mengangkat semua barang ke dapur begitu mereka tiba.
Berhubung Aeneas sedang berbicara dengan ibunya, Kelana pun mengajak Sanubari dan Sanum ke lantai dua. Lantai atas juga sangat luas. Ada tiga kamar berjajar dan masih ada ruangan lainnya.
Kamar paling ujung diperuntukkan bagi Aeneas ketika ingin singgah di vila ini. Sekarang kamar bagian tengah diberikan kepada Sanum dan sebelahnya untuk Sanubari.
"Aku punya kamar sendiri?" tanya Sanubari tidak percaya.
Dulu waktu masih di Indonesia, Sanubari hanya tidur di atas gelaran tikar bersama ibunya. Tidak ada yang namanya kamar di rumah lamanya.
"Iya, Tuan Muda 'kan sudah besar, sudah waktunya punya kamar sendiri. Tuan Muda bisa masuk kamar Tuan Muda dulu bila mau. Saya akan menjelaskan beberapa hal tentang kamar nyonya Sanum terlebih dahulu."
"Aku ikut Paman saja," ucap Sanubari.
Mereka pun memasuki kamar Sanum. Kamarnya sangat luas. Bahkan seperti lebih luas dari rumah di Indonesia. Di kamar itu ada almari yang sudah penuh dengan pakaian. Semuanya untuk Sanum. Oleh karena itu Sanum hanya diminta untuk membawa surat berharga tanpa membawa yang lain. Semua keperluan sudah disediakan di Verona.
Selesai menjelaskan pemakaian benda-benda di kamar Sanum, Kelana menitipkan koper milik Aeneas kepada Sanum. Selanjutnya Sanubari berpindah ke kamar sebelah. Sementara Sanum memutuskan untuk beristirahat sejenak di kamarnya.
Kamar Sanubari juga tidak jauh berbeda dari kamar Sanum. Tumpukan pakaian sudah disediakan untuknya. Ada pula kamar mandi dalam ruangan. Yang paling disukai Sanubari adalah beranda yang mengarah ke danau Garda. Pemandangan alam terlihat sangat indah dari sana.
Satu-satunya pembeda antara kamar Sanubari dan Sanum adalah desain interiornya. Kamar Sanubari didesain khusus untuk anak laki-laki. Sehingga berkesan lebih maskulin.
"Ini sih seperti mendapatkan uang kaget. Eh, salah! Aku 'kan tidak mendapatkan uang tapi papa super kaya. Jadi, kurasa ini lebih tepat disebut papa kaget." Sanubari cekikikan berbicara dengan dirinya sendiri.
Kelana hanya memperhatikan Sanubari bereksperimen dengan kamar barunya. Bocah itu mencoba menekan tombol yang ia temukan. Kecuali yang dilarang oleh Kelana. Ada pula televisi layar lebar di kamar. Selama ini Sanubari hanya bisa mengintip untuk menonton televisi. Sekarang dia memiliki televisi pribadi di kamarnya.
Puas menjelajahi kamarnya, Sanubari pun mengajak kelana, "Paman, ayo kita menanam singkong!"
Itulah satu-satunya hl pertama yang paling ingin dilakukan Sanubari setibanya di Italia. Dia tidak sabar melihat pohonnya tumbuh lalu memanennya.
"Tuan Muda tidak istirahat dulu?"
"Nanti saja kalau sudah tanam singkong."
"Baiklah."
Mereka pun keluar kamar lalu masuk ke kamar Sanum. Sanubari dengan bersemangat berseru, "Mamak, ayo menanam singkong!"
__ADS_1
Namun, ibunya itu terlihat sedih. Sanum duduk di pinggiran ranjang sambil menangis. Sanum tergeragap mendengar teriakan Sanubari. Anak itu tiba-tiba sudah masuk kamarnya saja. Sanum pun segera menghapus bekas air matanya.
"Mamak kenapa menangis?"
"Hanya teringat kakekmu saja," ucap Sanum berbohong lalu menghampiri Sanubari, "katanya mau menanam singkong? Ayo!"
Sanubari tidak lagi bertanya. Mereka berjalan menuruni anak tangga menuju halaman belakang. Di sana ada sebuah rumah kaca.
Rumah kaca tersebut adalah bangunan dadakan yang didirikan mulai hari ketika Sanubari bilang ingin menanam singkong di Italia. Kelana segera menyampaikan hal tersebut kepada Dantae supaya rumah kaca bisa jadi saat mereka sampai Italia.
Saat ini sudah bulan Oktober. Itu artinya musim gugur akan segera berakhir dan berganti musim dingin. Singkong tidak akan tumbuh dengan baik di bawah suhu sepuluh derajat celcius. Dibutuhkan lahan buatan supaya singkong bisa tetap berkualitas tinggi dalam segala musim.
Dalam rumah kaca, sudah disediakan beberapa peralatan berkebun, pupuk, bibit tanaman yang beragam serta lain-lain. Sanubari terlihat senang dengan aktivitas berkebunnya. Dantae bahkan sampai diseret untuk berseluncur di internet guna mencari tahu cara menanam benih-benih tanaman yang ada di rumah kaca. Pohon singkong Sanubari sudah berjajar rapi berkat bantuan ibunya.
Akan tetapi, mereka tidak tahu cara tanam paket komplit lainnya yang disediakan Dantae sebagai pelengkap rumah kaca. Rasanya ada yang kurang bila rumah kaca maha luas hanya diisi dengan tiga pohon singkong. Sanubari memutuskan untuk menanam semua benih yang ada setelah bertanya ini itu.
Dari luar, tidak jauh dengan rumah kaca, tiga orang dewasa memperhatikan para petani dadakan yang terlihat ceria dan asyik dengan kegiatannya. Tiga orang dewasa itu adalah Aeneas, Asia dan Matilda. Aeneas memberi tahu ibunya bahwa anak kecil yang ada di sana adalah putranya. Sedangkan satu-satunya wanita yang ada di sana adalah istrinya.
Asia nampak senang dengan bocah yang sangat aktif. Dia mengajak Aeneas bergabung dengan kesenangan para petani dadakan itu. Dia ingin berbaur dengan mereka.
Hanya Matilda yang terlihat muram. Hatinya diselimuti awan badai hitam pekat dengan halilintar menggelegar. Dia mecucu. Cintanya kandas sebelum sempat disemai. Diam-diam dia meninggalkan vila keluarga Gafrillo yang akan menjadi rumah tetap mulai sekarang.
"Posso avere solo una moglie dici, eh? Forse dovrei farmi l'unico per te."
(Kau bilang hanya bisa memiliki satu istri, heh? Mungkin aku sendiri yang harus membuat diriku menjadi satu-satunya untukmu)
Matilda menyeringai. Dia menghela napas panjang lalu benar-benar pergi dari sana. Untuk saat ini dia butuh waktu untuk menenangkan diri.
———©———
Catatan Penulis :
Hari ini Sanubari mendapatkan pelajaran baru yang berharga dari sang Ayah. Yaitu, berbakti kepada sang Ibu. Semoga pola pikir Sanubari tidak berkembang ke arah yang salah ke depannya, ya! Anak-anak memang masih cenderung mengimitasi orang lain. Mereka belajar dari apa yang mereka baca, dengar dan lihat.
Teman-teman yang memiliki adik, saudara kecil atau anak kecil, jangan lupa dampingi mereka dan beri arahan ketika sedang membaca atau menonton sesuatu! Semoga teman-teman menyukai cerita sederhana Santri Famiglia ini.
Saya hanya ingin membuat cerita hiburan yang juga bermanfaat. Namun, tidak menutup kemungkinan masih ada cacat naskah di sini karena saya masih belajar. Kritik dan saran diterima dengan tangan terbuka. Silakan tulis di kolom komentar bila ada!
__ADS_1
Dukung terus karya ini, ya!