Santri Famiglia

Santri Famiglia
Pemeriksaan Mata


__ADS_3

Sanubari mendadak histeris. Zunta yang menungguinya pun terkejut sampai tanpa sengaja lolipopnya terlempar dan mendarat di dahi Sanubari.


"Abuelo!"


(Kakek!)


Zunta berlari sambil berteriak-teriak. Langkah kecilnya membawa ia sampai ke dapur. Di sana, Zunta menarik kaos Canda yang sedang memasak paela.


"¡Abuelo, está despierto, abuelo! ¡Ven a ver! Está gritando."


(Kakek, dia sadar, Kek! Dia sadar! Ayo tengok, Kek! Dia menjerit-jerit.)


Mendengar itu, Canda mematikan kompornya. Dengan tergesa-gesa ia menuju kamar Sanubari bersama Zunta. Beberapa langkah kemudian, mereka pun sampai di tempat Sanubari dibaringkan.


Sanubari terjatuh, selang infusnya pun terlepas. Dia masih berteriak-teriak memanggil orang-orang terdekatnya, menangis meminta tolong. Canda memeluk Sanubari yang kini terduduk di lantai. Ia meyakinkan bocah itu bahwa saat ini dirinya sudah dalam keadaan aman.


Setelah cukup tenang, Canda menaikkan Sanubari ke tempat tidur kembali. Ia memeriksa luka Sanubari. Tidak ada yang terbuka. Luka tancapan kaca pun sudah mengering dan berwarna kecokelatan. Tinggal menunggu terkelupas dengan sendirinya saja.


"Zunta, anak ini sepertinya dari Indonesia. Ajak dia ngobrol atau bercanda dengan bahasa Indonesia! Kakek mau lanjut masak dulu," pesan Canda yang ditanggapi dengan anggukan oleh Zunta.


Canda pun meninggalkan dua anak kecil itu. Zunta naik ke ranjang. Dia duduk di sebelah Sanubari yang bersandar. Gadis kecil itu mengusap air mata Sanubari.


"Jangan menangis!" katanya.


Namun, Sanubari terdiam. Ia kalut dalam perasaannya sendiri. Kejadian-kejadian sebelumnya seperti mimpi buruk yang berubah menjadi kenyataan.


Berulang kali Sanubari mengalami peristiwa penculikan tetapi kali ini adalah yang paling parah. Traumanya kembali muncul. Dia berusaha tetap tenang dan berharap akan segera ada yang datang untuk menjemputnya. Meskipun ia tidak bisa melihat. Akan tetapi, Sanubari tetap berusaha untuk tidak merisaukan kondisinya.


Sendirian, ia mengekang ketakutan berhari-hari dalam kegelapan sejati. Rasa takutnya memuncak tatkala ia mendengar bunyi-bunyi berisik malam itu. Malam dimana tubuhnya dihantamkan ke segala arah, dijungkir balikkan lalu ditusuk-tusuk benda asing sebelum akhirnya kehilangan kesadaran. Ia sempat merasakan semua penderitaan yang luar biasa menyakitkan tubuh itu. Kejadian itu pun sampai terbawa ke alam mimpi.


Sampai saat ini pun pikiran Sanubari masih membuncah. Mentalnya terguncang. Tubuhnya pun masih bergetar karena syok.


Zunta nampak bingung bagaimana caranya memulai interaksi. Namun, ia ingat bahwa ia belum memperkenalkan diri.

__ADS_1


"Um, hai! Namaku Zunta," katanya mengulurkan tangan.


Namun, Sanubari tidak menyambutnya. Zunta sedikit kesal merasa diabaikan. Diraihnya tangan kanan Sanubari dengan tangan kiri lalu ia salamkan ke tangannya sendiri. Kemudian, ia berkata, "Kalau diajak salaman, dijabat dong! Tidak boleh jadi anak sombong!"


Dengan sedih, Sanubari menjawab, "Maaf, aku tidak bisa melihat."


"Makanya kepala ditundukkan! Jangan melihat ke tempat lain melulu! Aku di sini loh! Lihatnya ke aku aja." Tanpa sungkan Zunta memegang kepala Sanubari dan mengarahkan ke dirinya sendiri.


"Aw, aw, sakit," keluh Sanubari.


"Ups, maaf! Sepertinya aku tanpa sengaja menyentuh lukamu. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku hanya ingin kau melihatku." Zunta melepaskan tangannya.


"Aku tidak bisa melihat. Sekalipun kau duduk di depanku saat ini, aku tetap tidak bisa melihat. Pandanganku gelap."


"Oh, ya ampun, maaf! Aku tidak tahu. Mungkinkah ada benda asing yang masuk ke matamu sehingga .menghalangi penglihatanmu?" Zunta mengamati mata Sanubari.


Tidak ada yang terlihat aneh. Mata Sanubari sangat jernih dan menyegarkan. Zunta bahkan mendekatkan wajahnya sampai tidak berjarak.


"Aku tidak tahu." Sanubari menjawab dengan nada datar.


"Apakah dengan seperti ini kau tetap tidak bisa melihatku?" tanya Zunta yang menatap Sanubari tanpa berkedip.


Sanubari sama tidak berkedipnya. Sanubari menggeleng. Tanpa sengaja bibir dan hidung Sanubari menabrak sesuatu yang sangat lembut dan empuk. Lekas ia meminta maaf.


"Maaf, sepertinya aku menabrak sesuatu."


"Kau menabrak pipiku." Zunta memundurkan wajahnya lalu kembali duduk.


"Maaf."


"Tidak apa-apa. Ngomong-ngomong, mata hijaumu sangat indah. Jernih. Sempurna. Semua terlihat normal. Jangan khawatir! Kakekku adalah dokter hebat. Dia pasti bisa membuatmu melihat kembali."


"Benarkah?" Seulas senyum terbit di wajah Sanubari.

__ADS_1


Berhari-hari berteman dengan kegelapan membuatnya tertekan dan stres. Ia sempat frustasi juga. Kendati demikian, ia tidak pernah menunjukkan perasaannya dengan sikap. Ia berusaha menyembunyikan segalanya.


Sejujurnya, Sanubari merindukan indahnya warna-warni dunia. Ia tidak tahan berlama-lama dalam keterbatasan gerak. Kebutaan membuatnya tidak bisa melakukan banyak hal.


Zunta memeluk Sanubari. "Tentu saja. Jadi, jangan sedih lagi, ya!"


Zunta melepaskan pelukan lalu kembali bertanya, "Oh, iya! Kau 'kan belum memberi tahuku namamu. Kamu siapa?"


"Sanubari."


"Nama yang unik."


"Suaramu imut sekali. Berapa usiamu?"


"Hm, berapa, ya? Aku juga tidak tahu. Tapi kata kakek, aku ini berusia lima tahun. Kami baru saja merayakan hari ulang tahunku Minggu lalu. di atas kue ada lilin berbentuk angka lima," ungkap Zunta sambil menunjukkan lima jarinya. Walaupun ia sudah tahu bahwa Sanubari tidak bisa melihat tetapi hal tersebut tetap ia lakukan. Intonasi bicaranya ketika menyebut angka lima terdengar sangat lucu.


Sanubari berusaha menghitung selisih usia mereka berdua. "Wah, ternyata kau tujuh tahun lebih muda dariku, ya?"


*****


Zunta menceritakan isi percakapannya dengan Sanubari kepada Canda begitu pria itu datang. Canda pun segera melakukan pemeriksaan menyeluruh pada tubuh Sanubari. Termasuk tes darah, tekanan bola mata, sensititivitas pupil, ronsen mata dan semacamnya. Ia juga menanyai Sanubari beberapa hal.


Mereka bertiga berada di ruangan dimana Sanubari menjalani operasi sebelumnya. Di sanalah tersimpan berbagai peralatan medis. Sanubari dan Zunta bermain dengan kursi putar. Mereka berdua terbahak berputar-putar. Sesekali Zunta meluncur. Namun, Canda menegurnya.


Zunta bisa saja tanpa sengaja merusak peralatan jika terus meluncur. Akhirnya dia hanya memutar-mutar dudukan kursi saja.


Sementara itu, Canda berusaha membaca hasil tes darah dan ronsen mata. Ia mengamati dengan seksama proyeksi mata Sanubari yang diperbesar di layar monitor. Bagian tengah tetikus sesekali ia gulir, badannya ia gerak-gerakkan serta tombol yang ada ia tekan-tekan. Hasil observasi menyatakan sebuah kesimpulan.


"Neuritis Optik," gumam Canda yang kemudian memanggil dua bocah cilik yang sedang asyik bermain, "Zunta, bawa Sanubari kemari!"


"Siap, Kek!" Zunta turun dari kursinya. Ia lantas mendorong kursi Sanubari dari belakang menuju ke meja kakeknya kembali. Kemudian, Zunta menarik kursinya sendiri mendekat. Ia juga ingin mendengar diagnosa kakeknya.


Jantung Sanubari berdetak sangat cepat. Siap tidak siap ia harus bisa menerima kenyataan yang akan ia dengar. Hatinya berkata bahwa ia harus menerima segalanya dengan lapang dada apa pun itu hasilnya. Namun, lubuk hati terdalamnya tidak yakin bahwa dirinya bisa menerima jika harus mendapatkan kemungkinan terburuk.

__ADS_1


Tentu ia tidak ingin mengalami kebutaan total selamanya. Mungkin Sanubari butuh waktu untuk menerima takdirnya andaikan hal tersebut benar terjadi.


__ADS_2