
Kamar naratama di sebuah rumah sakit Verona kembali penuh. Lebih dari sepuluh orang mengelilingi Sanubari, entah duduk, atau berdiri. Di antara mereka, berdiri pria yang sudah masuk usia kepala delapan, tetapi masih tampak bugar dan lebih muda dari usianya.
"Sanu! Astaga, Sanu! Ada apa denganmu? Apa kamu tidak bisa melihat lagi?" Gadis ceriwis itu seenaknya menjejalkan diri menerobos orang-orang, lalu naik ke ranjang Sanubari.
Dia menatap sorot mata Sanubari yang tampak kosong. Mata hijau itu sangat hampa, seolah tidak ada jiwa di sana.
"Lihatlah, aku datang! Jika kamu tidak bisa melihat dengan matamu, maka jangan lupa untuk menggunakan ta—" gadis itu menurunkan pandangan, hendak memegang tangan Sanubari, "oh, astaga! Tanganmu diikat."
Semua orang tampak kebingungan dengan kehadiran dua orang asing ini, kecuali Kelana dan Aeneas. Kakek yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga.
Lelaki tua itu terbang kd Italia bersama cucunya seminggu setelah mendapat panggilan dari Aeneas. Mereka beristirahat di hotel yang telah disiapkan Kelana sebelum akhirnya mengunjungi rumah sakit keesokan paginya. Mereka adalah Canda dan Zunta.
"Lepaskan ikatannya!" perintah Canda. Dia tidak suka melihat seseorang diikat seperti itu.
"Apa tidak masalah?" Kelana sedikit khawatir.
Yang lain pun tidak ada yang menggerakkan tangannya. Hanya Zunta yang patuh tanpa bertanya. Gadis itu mencari-cari ujung pengikat yang bisa diurai.
"Kenapa harus diikat?" tanya Canda datar.
"Itu, anu, tuan muda Sanu pernah mengamuk dan melukai dirinya sendiri. Takutnya, hal seperti itu akan terulang." Kelana sedikit canggung menjelaskannya. Mengikat seseorang memang tidak manusiawi, tetapi keadaan memaksa untuk melakukan hal tersebut.
"Selama kalian menjaganya dengan baik, hal semacam itu tidak akan terjadi. Bagaimana bila sewaktu-waktu Sanu sadar, tetapi ikatan itu malah memicu trauma atau mungkin stres yang malah memundurkan kondisinya lagi?"
Semua orang memikirkan perkataan Canda itu. Kelana merasa amat bersalah. Dahulu, dia pernah mengikat Sanubari juga karena anak itu tidak mau diam.
Waktu itu, Kelana hanya tidak ingin Sanubari menjadi anak yang kabur-kaburan. Dia butuh anak itu diam dalam masa pemulihan dan mendengarkan penjelasannya.
Kelana tahu bagaimana kecewanya Sanubari kala itu karena peristiwa yang baru saja terjadi. Namun, lebih dari itu, Kelana tidak bisa menyelami perasaan Sanubari lebih dalam. Dirinya mungkin turut andil dalam membuat kondisi Sanubari seperti ini melalui kesalahan yang tanpa disadarinya.
__ADS_1
"Bagaimanapun kondisinya, tidak bijak mengikat orang seperti itu. Kurasa, kondisi Sanu pun tidak sampai mengharuskan perlakuan semacam itu. Cepat lepas semua ikatannya!" Canda masih terus mengamati Sanubari.
Sai, Eiji, dan Renji membantu membuka ikatan di tangan dan kaki. Mereka meletakkan tali-tali tersebut ke atas meja.
"Bisakah kalian semua keluar? Aku ingin bicara berdua dengan Sanu."
"Aku di sini saja sama Kakek dan Sanu!" Zunta menggenggam tangan Sanubari. Dia ingin melihat bagaimana kakeknya seperti sebelum-sebelumnya. Sorot matanya penuh harap.
Namun, harapan tersebut ditampik Canda. "Kaujuga keluar, Zunta! Nanti akan kuberi tahu kapan kalian boleh masuk lagi. Sekarang, berikan ruang dan waktu untuk kami berdua!"
Canda tersenyum pada semua orang. Mereka satu per satu meninggalkan ruangan. Zunta melompat dengan cemberut. Dia melangkah cepat menyusul yang lain.
Dengan seenaknya, gadis kecil itu duduk di kursi kosong. Rambutnya sampai tanpa sengaja menyentuh pipi Abrizar. Angin yang dibawa gadis kecil itu menebarkan aroma melon min, menyegarkan hidung Abrizar.
"Padahal, dulu kakek membiarkanku melihatnya. Kenapa sekarang pakai acara rahasia-rahasiaan sih? Ah, kakek menyebalkan!" Zunta bersandar, melipat tangan di dada sambil mengayun-ayunkan kaki.
Setiap kali gadis itu bergerak, embusan aroma melon min selalu tercium jelas. Berada di sebelahnya, Abrizar merasa seperti berada di alam terbuka. Di sekelilingnya, seakan-akan terhampar tanaman min dan melon yang dibelah.
Rambut pirang gadis kecil itu bergoyang. Dikarenakan tubuhnya yang masih mungil, dia pun sedikit mendongak untuk melihat Abrizar. Tingginya saat duduk hanya sebahu Abrizar. Saat sama-sama berdiri, pastilah lebih pendek lagi.
"Iya, aku Zunta." Gadis itu mengulurkan tangan, menelengkan kepala untuk melihat lebih jelas wajah Abrizar.
Dia memandang lekat mata Abrizar. Mata Lazuardi yang serupa dengan miliknya itu memandang lurus, entah apa yang dilihatnya.
"Abrizar." Dia ikut memperkenalkan diri.
Mata Zunta bergerak ke bawah. Bibirnya manyun ketika menjumpai tangannya masih menjabat udara. "Kamu ini sama sombongnya dengan Sanu, ya! Sama-sama tidak mau salaman waktu diajak kenalan. Ah, tidak-tidak! Waktu itu dia tidak bisa melihat. Jadi, dia tidak sepenuhnya sombong sih."
Zunta memegang tangan kanan Abrizar yang bertumpu pada tongkat. Dia melepaskan tangan itu dari sana, lalu menyalamkan pada tangannya sendiri. Abrizar membiarkan gadis kecil itu berbuat sesuka hatinya.
__ADS_1
"Begini lebih baik!" Zunta tersenyum, mengayunkan tangan mereka berdua ke atas dan bawah.
"Anu, kak Abri ini memang tidak bisa melihat."
Zunta mengangkat kepala. Dia menatap Anki yang menoleh padanya sebelum akhirnya melihat kembali pada Abrizar.
Zunta sekonyong-konyong berdiri di depan Abrizar. Empat mata biru itu bertemu pandang tanpa berkedip.
"Ada apa gadis kecil? Apa kau tertarik pada ABRI?" goda Renji yang menyaksikan Zunta mendekatkan wajahnya pada Abrizar. Pria itu mencondongkan tubuh supaya bisa melihat pemandangan tersebut dengan jelas.
Lagi-lagi, Zunta menolehkan kepalanya dengan cepat, membuat rambutnya seolah menampar wajah Abrizar. Sontak, Abrizar memejamkan mata dan mengusap wajah. Helaian rambut Zunta yang menyentuh korneanya membuat mata Abrizar perih.
"Gadis Melon Min ini benar-benar ...," batin Abrizar yang merasa sengsara gara-gara sikap grusak-grusuk Zunta. Dia suka aroma segar yang keluar dari tubuh Zunta, tetapi empasan rambutnya membuatnya menahan sakit. Berulang kali Abrizar mengerjap, menghilangkan rasa pedas yang menjalar di matanya, sampai berair.
Abrizar berpikir, keputusannya memakai kacamata selama ini sudah tepat. Sayangnya, dia belum membeli kacamata baru setelah yang lama patah di Nagoya.
"Aku sedang mengamati mata kakak ini." Zunta menunjuk Abrizar sambil menghadap ke arah Renji.
Aeneas dan Kelana ikut menoleh, menyaksikan interaksi yang makin riuh. Semua orang ikut saling menimpali dan berkenalan.
"Jadi teringat tuan muda waktu masih kecil." Kelana bernostalgia.
Lantai khusus itu benar-benar ramai. Hanya tiga orang yang tidak terlibat percakapan di sana. Dua pria yang biasanya menjaga Sanubari dan pria bertudung yang memakai masker, kacamata hitam, serta kupluk. Ketiganya berdiri pada jarak tertentu, mengawasi dari jauh.
Sementara itu, Canda di dalam duduk di kursi sebelah ranjang Sanubari. Canda sedikit merasa bersalah. Sanubari seperti ini mungkin karena dirinya juga. Andaikan dia tidak terburu-buru melepas Sanubari, mungkin hal seperti ini tidak akan terjadi.
Canda diliputi penyesalan. Namun, dirinya juga tidak bisa mengekang Sanubari yang ingin bertemu dengan keluarganya. Lelaki itu menarik napas panjang.
Kemudian, dia berbisik pelan, "Kaubisa mendengarku, Sanu?"
__ADS_1
Sanubari tidak merespons. Dia hanya duduk membisu, entah apa yang dipikirkannya.
"Tidak baik tenggelam terlalu lama dalam alam mimpimu sendiri. Untuk itu, aku yang akan membantumu keluar dari sana. Aku tidak tahu, apakah kamu di sana bermimpi buruk atau indah. Karena itu, izinkan aku memasuki alam sadarmu!""