Santri Famiglia

Santri Famiglia
Mencari Kontak Canda


__ADS_3

"Selamat siang! Kelana tersenyum menyapa Eiji yang membuka pintu.


"Siang! Um, Paman ada apa ke sini? Apa kondisi Sanu sudah membaik?" Eiji tidak menduga Kelana akan datang berkunjung.


Abrizar yang mendengar percakapan di depan dari ruang tengah lebih terkejut lagi. Dia tidak menyangka Kelana bisa tahu rumahnya.


Saat itu, Anki dan Hana baru saja selesai memasak. Usai memindah makanan ke meja, Anki berjalan ke depan, mengintip siapa yang datang.


"Masih sama. Aku berharap dia segera pulih."


"Paman, kenapa hanya mengobrol di depan? Ayo masuk dulu!" ajak Anki.


"Tidak-tidak! Aku hanya sebentar di sini." Kelana menggeleng.


Namun, Anki berjalan ke sebelah kakaknya, membujuk lelaki itu untuk singgah sejenak. Kelana pun duduk di ruang tamu depan.


"Paman mau minum teh hangat atau ...." Anki menawarkan seolah ini adalah rumahnya sendiri.


Tugasnya dan Hana selama tinggal di rumah Abrizar memang memasak. Sehingga, dia sudah lumayan hafal serta terbiasa dengan dapur Abrizar. Bahan-bahan dapur menjadi tanggungan para lelaki. Tampaknya, mereka cukup kaya, masih bisa membeli ini itu meski tidak bekerja hampir dua Minggu.


"Tidak usah! Sebenarnya, tujuanku ke mari hanya untuk mengambil ponsel Sanu. Kalian menyimpannya, kan?"


"Mungkin ada. Apa Paman ingin mengambil semua barang Sanu?" tanya Anki.


"Ponsel saja. Yang lain biar tetap di sini. Aku tidak bisa melarangnya jika dia ingin tinggal di sini setelah sembuh nanti, kan? Dia memang suka pergi dari rumah seenaknya." Kelana tertawa.


"Ah, pasti menyenangkan bila Sanu bisa segera bersama kami lagi. Sebentar kucarikan!" Anki langsung pergi dari ruang tamu.


Dia langsung menuju kamar Sanubari. Kamar itu dibiarkan tidak ditempati. Semua barang Sanubari pun diletakkan di sana.


"Jadi, Paman tahu kalau selama ini Sanu tinggal bersamaku?" Abrizar bergabung di ruang tamu.


"Iya, tuan Aeneas menyuruh seseorang untuk mengikuti Sanu."


Mendengar itu, Abrizar tercekat. Bagaimana jika mereka sampai tahu identitasnya, dia sangat khawatir itu terjadi. Dia ingat pernah mengancam Aeneas dengan membawa nama Sanubari.


"Bila mereka menjadikan itu sebagai petunjuk untuk mengungkap identitas rahasiaku, mampuslah aku!" batin Abrizar gelisah.


Mengganggu Aeneas melalui media digital, menghadapi dua atau empat orang sekaligus—itu mudah bagi Abrizar. Akan tetapi, bila Aeneas sampai mengerahkan pasukan se-Italia untuk menggerebeknya, maka Abrizar tinggallah nama.


Mengingat kerugian yang disebabkannya pada perusahaan Aeneas tidaklah sedikit, Abrizar menjadi tidak tenang. Pernah sekali dia membajak mesin-mesin pembuat senjata hingga BGA gagal produksi. Pernah pula dia melaporkan miras ilegal yang diekspor, hingga barang-barang tersebut dirampas dan dimusnahkan.

__ADS_1


Dia tidak menyangka, pertemuan dengan Sanubari akan menghadirkan perasaan rumit seperti ini. Abrizar sangat tahu dengan sifat Aeneas yang tidak segan menghabisi semua kerikil. Abrizar merasa karma atas keisengannya selama ini akan segera datang. Namun, dia berharap itu tidak akan pernah terjadi.


Tidak lama kemudian, Anki datang membawa ponsel dan pengisi daya milik Sanubari. Kelana langsung pergi begitu mendapatkan ponsel Sanubari.


Rasa tidak sabar Aeneas meningkat drastis. Dia ingin Kelana segera melakukan panggilan, tetapi pria itu hanya menggulir layar ke bawah dan atas dengan persimpangan alis mengerut.


"Ada apa, Lan?" Aeneas tampak penasaran dengan gelagat Kelana.


"Tidak ada nama Canda Parra atau Parra Canda."


"Mungkin dia menyimpannya dengan nama lain. Kau yakin Sanu mengenalnya?"


"Tuan muda pernah bercerita, beliau pulang ke Italia pun diantar olehnya."


Kelana memeriksa foto profil kontak satu per satu. Tidak banyak yang disimpan Sanubari. Sehingga, hanya dalam waktu singkat, dia selesai melihat semua kontak.


"Ketemu!" Kelana tersemyum lega. Dia menyerahkan ponsel itu kepada Aeneas.


"Silakan, Tuan!"


Aeneas memperhatikan nama yang tertera. Dia mengernyit. "Zunta? Bukankah namanya Canda Parra?"


"Coba perhatikan fotonya! Aku yakin pria yang bersama gadis kecil ini adalah Canda Parra. Mungkin gadis cilik ini pula yang akan menghubungkan kita dengannya."


Panggilan pertama berdering, tetapi ditolak. Aeneas mengangkat sebelah alis dan menatap Kelana.


"Coba sekali lagi, Tuan!"


Aeneas pun menekan tombol panggil lagi. Namun, kali ini sama sekali tidak tersambung. Hanya ada bunyi Tut panjang yang terdengar.


"Mungkin masalah sinyal." Kelana masih berusaha berpikir positif.


Tombol panggil lagi dan lagi ditekan. Selalu saja bunyi Tut yang Aeneas peroleh. Sekalinya tersambung, panggilan tidak diangkat.


Aeneas berhenti melakukan percobaan. Diletakkannya ponsel ke atas meja. Mukanya kusut menatap benda pipih yang tergeletak.


"Mungkin ini terlalu pagi untuk menelepon ke sana. Kita coba lagi nanti." Kelana membuka jam global pada ponsel, memastikan jam berapa sekarang di Chilly.


"Siapkan orang untuk mencarinya saja! Aeneas menghela napas setengah putus asa. Dia ingin segalanya berjalan cepat.


Namun, sebelum Kelana menjawab, ponsel Sanubari berdering. Terpampang jelas panggilan video atas nama Zunta pada layar. Aeneas buru-buru menyambar ponsel dan mengangkatnya.

__ADS_1


"Sudah kubilang kalau mau telepon, jangan lupa tekan tombol videonya, Sanu! Aku tidak akan pernah mengangkat panggilanku jika kau menekan gagang telepon saja." Seorang gadis cilik berambut pirang tampak sedang marah-marah di layar.


Gadis itu bahkan menunjuk-nunjuk Aeneas dengan lolipop melon. Dia terus berceloteh panjang lebar.


"Oh, astaga! Kita baru beberapa bulan tidak bertemu, bagaimana mungkin kamu bisa berubah sebanyak ini? Kamu terlihat sangat dewasa dan hot. Uh, itu, kamu bahkan mewarnai rambut. Kita jadi samaan sekarang?"


Gadis itu menggoyangkan kepalanya ke kiri dan kanan, membuat rambut kuncir duanya ikuf bergerak. Dia bahkan juga menyentuh dan menunjukkan rambutnya ke kamera.


"Apa pertumbuhan orang dewasa memang secepat itu? Apa setelah lulus SD nanti, aku juga akan cepat tumbuh sepertimu, Sanu?"


Celotehan gadis itu tidak ada habisnya, seperti kereta jarak jauh. Mau bagaimana lagi, jarang-jarang Zunta mendapat telepon dari Sanubari semenjak kepulangan remaja itu ke Italia. Dia sangat senang ketika melihat nama Sanubari memanggil di ponselnya.


"Aku ayah Sanu." Aeneas terpaksa memotong Zunta. Jika dibiarkan, gadis itu mungkin akan terus menyerocos sampai satu jam.


Mendengar suara dewasa itu, Zunta kecil langsung tertegun. Mulutnya tertutup rapat dengan gagang permen menyembul. Matanya terbuka lebar. Apa yang didengarnya seolah sedang dalam proses pemuatan ke otaknya.


"Anda ayah Sanu?" begitulah tanyanya kemudian. Lagi-lagi, lolipop keluar dari mulutnya dan digunakan untuk menunjuk Aeneas.


"Iya, aku ayah Sanu." Aeneas mengangguk.


"Maaf, kupikir Paman ini Sanu. Habisnya, kalian mirip sekali." Zunta cengengesan.


"Gadis kecil, apa benar kaumengenal Canda Parra?"


"Itu kakek. Memangnya, kenapa Paman mencari kakek?"


"Aku ingin berbicara dengannya."


"Paman ingin melamar ku untuk Sanu? Tunda sampai sepuluh tahun lagi, Paman!" Zunta menunjukkan ke sepuluh jarinya. Karena salah satunya masih memegang lolipop, dia pun memasukkan permen itu ke mulutnya.


Selanjutnya, sambil mengemut permen, dia berbicara, "Aku masih sangat kecil."


Aeneas dan Kelana menahan tawa. Berinteraksi dengan anak kecil membuat mereka melupakan peliknya kehidupan dewasa sejenak.


Keduanya malu sendiri. Kelana teringat dengan putrinya sendiri yang mengejar Sanubarisedangkan Aeneas terbayang Sanubari yang selama ini bertindak spontanitas mengimitasi apa yang dilihatnya.


Aeneas menjadi sedikit khawatir dengan apa yang dilakukan putra sulungnya di luar sana. Dia hanya berharap Sanubari tidak akan melakukan hal yang tidak semestinya.


"Bisa tolong panggilkan sekarang? Aku ingin bicara dengannya sekarang," ulang Aeneas.


"Baiklah bila Paman memaksa."

__ADS_1


Gadis kecil itu melenggang pergi. Sayup-sayup terdengar suara gadis itu memanggil-manggil, "Abuelo!"


Ponsel seberang yang sepertinya memakai penyangga masih berdiri tegak, menyorot ruangan kosong. Tidak lama kemudian, gadis itu kembali, menggandeng seorang pria.


__ADS_2