
Bau anyir semerbak di malam yang panas. Perut Anki terasa mual. Seberapa keras pun dia menahan untuk tidak muntah, tetap saja isi lambungnya melewati kerongkongan. Mulutnya terasa getir, meski tidak banyak yang keluar.
Dua pria berpakaian sama berdiri tidak jauh dari bangunan yang telah jebol di mana-mana. Mereka berjalan mendekat. Laras senapan pun diturunkan.
"Kami berada di pihak kalian?"
Salah satu dari dua pria bermasker itu mengangkat tabir yang menutupi kepalanya. Sedikit demi sedikit wajahnya pun terungkap.
"Benarkah itu? Atau jangan-jangan kalian ini penjahat yang berpu—" Yato tidak melanjutkan kalimatnya setelah melihat rupa sepenuhnya pria itu.
Dia sering melihatnya. Pria di depannya ini adalah pria yang sering mengantar Anki ke kuil setelah ke kantor Onyoudan. Pria yang sepantaran dengannya. Tidak salah lagi. Pria di hadapannya ini adalah—
"Sai."
Pemilik nama itu tersenyum sebagai tanggapan. Air mukanya tampak sangat tenang, seolah-olah dia tidak pernah melakukan pembunuhan sebelumnya. Padahal, mayat-mayat masih berserak seperti daun gugur yang tidak berguna.
"Astaga! Tidak kusangka Onyoudan selemah ini. Tahu begini, sudah dari dulu kuambil alih kekuasaannya." Pria yang satunya terkekeh. Tragedi ini bagaikan lelucon dan permainan baginya.
Dia ikut melepas penutup kepala yang membuatnya cukup gerah usai olahraga malam ini. Anki mengusap bibirnya, lalu menatap pria itu. Jika satunya Sai, maka yang satu lagi pastilah—
"Kak Ren."
"Yo, Anki! Kami datang tepat waktu, kan?" Cengiran ceria terbit di wajah Renji.
Yato menggelengkan kepala. Kalimat Renji sebelum ini terdengar sangat kontradiktif dengan tindakan mereka. Yato sulit menerimanya.
"Tunggu dulu! Tunggu dulu! Jika orang-orang ini adalah Onyoudan, bagaimana bisa kalian menghabisi mereka? Sementara kalian sendiri merupakan anggota Onyoudan."
"Kami bekerja di bawah bimbingan Eiji senpai, bukan Onyoudan."
__ADS_1
Hanya itu jawaban singkat yang diberikan Sai. Keterangan yang sama sekali tidak menjelaskan apa pun dalam pandangan Yato.
"Tunggu dulu! Eiji nii sama sendiri adalah anggota Onyoudan. Itu artinya, Eiji nii sama ada di bawah Onyoudan, lalu kalian ... ah, ini membingungkan ...." Yato mengacak rambutnya sendiri.
Dia menurunkan katananya, menegakkannya layaknya tongkat penyangga. Karena Renji dan Sai meletakkan senjata masing-masing, tiada lagi yang perlu dikhawatirkan. Renji membantu Abrizar, sementara Sai setengah berlutut di dekat Mahiru.
"Kau baik-baik saja?" tanya Renji yang asal-asalan melempar mayat.
Abrizar duduk. Kepalanya nyeri, tetapi dia tidak mengalami cedera serius. Lelaki itu mengatur napas, sedikit menghimpun tenaga supaya bisa berdiri. Dia butuh waktu penyesuaian untuk mengurangi rasa lemas gara-gara kelaparan.
"Terima kasih."
"Jadi, kalian mengkhianati organisasi sendiri?" simpul Yato yang dibuat pusing dengan kerumitan ini.
"Daripada memikirkan itu, sebaiknya kita segera ke rumah sakit. Ini tidak bisa dicabut sembarangan." Sai memperhatikan pedang yang menembus perut Mahiru.
Sai sudah berpikir matang-matang sebelum melakukan semua. Sejak adanya misi lapangan yang tidak seharusnya dilakukan, sejak Anki dikabarkan hilang, lalu Eiji pergi.
Dia sama sekali tidak tenang setelah kepergian Eiji. Pikirannya terus berspekulasi liar. Keliaran itu makin diperkuat ketika dia mendengar celotehan Renji waktu itu.
"Payah, menyebalkan! Hanya mengerjakan hal remeh-temeh sepertih ini saja sampai memanggil kita. Memangnya, apa yang bisa dilakukan montir-montir di sini, hah?" keluh Renji ketika disuruh melakukan perawatan pada beberapa jet tempur.
Sai satu ruangan dengannya, sehingga bisa mendengar gerutuan lantang Renji. Saking kesalnya, kecepatan kerja Renji bahkan meningkat. Bersama Sai, dia menyelesaikan semuanya dalam setengah hari. Termasuk memperbaiki elektronik lain dan sistem perusahaan.
Berbeda dengan Renji yang berapi-api, Sai tetap setenang gunung diterpa angin. Kendati demikian, ada hal yang mengganjal pikirannya.
Dia pun bertanya, "Ren Senpai, jika kau seekor kucing yang dipungut seorang pejabat ...."
"Hei-hei, apa maksudmu menyamakan ku dengan kucing, hah?" Renji tersinggung.
__ADS_1
Ketika itu, mereka sedang duduk di sebuah ruangan, menunggu ketua tertinggi cabang Hokkaido setelah pekerjaan selesai. Mereka harus memberikan laporan langsung sekaligus berpamitan sebelum kembali ke Nagoya.
Sai berpikir, mungkin itu waktu yang tepat untuk mengeluarkan ganjalannya. Dia harus mengambil keputusan segera dan bertindak cepat. Dia sangat yakin sesuatu sedang terjadi.
"Dengarkan dulu ceritaku sampai selesai!" pinta Sai masih dengan ketenangan yang sama.
"Wah, sejak kapan kau hobi mendongeng? Ini sebuah kemajuan yang bagus!" Renji malah bertepuk tangan dan tergelak.
Sulit memang mengajak Renji serius. Namun, Sai memilih untuk tidak menanggapi. Dia langsung melanjutkan analoginya.
"Majikanmu memperlakukanmu dengan sangat baik. Segala kebutuhan dipenuhinya. Tidak kurang suatu apa pun. Kemudian, ketika kau jalan-jalan dan bertemu dua kucing kelaparan Tak bertuan, kau ajaklah mereka ke rumah majikanmu yang sudah seperti rumahmu sendiri."
"Ah, kau ingin membuat cerita tentang peternakan kucing? Bagus-bagus." Renji mencoba mengapresiasi, walau itu terdengar kekanakan.
Selaan dari Renji sama sekali tidak mengganggu Sai. Pria pendiam itu tetap bisa melanjutkan kisahnya dengan lancar, "Majikanmu memperlakukan kucing bawaanmu dengan sangat baik pula. Kalian bertiga hidup bahagia. Tak lama kemudian, kau melahirkan."
"Sudah kuduga, pasti peternakan kucing." Renji manggut-manggut merasa cerita Sai mudah ditebak. Namun, kemudian, dia murka. "Eh, tunggu dulu! Apa tadi katamu? Sialan kau Sai? Kau pikir aku ini betina, apa?"
Sai hanya memberi jeda sejenak ketika Renji berbicara. Kemudian, dia lekas menyambung ceritanya sebelum Renji berbicara lebih banyak, "Kau melahirkan anak kucing yang sangat imut. Bulunya sangat lembut, seputih milikmu."
"Hentikan cerita bodohmu! Menggelikan!" Renji meninju lengan Sai, tetapi Sai tetap mengabaikannya.
"Majikanmu tertarik dengan anak kucing yang kau lahirkan. Akan tetapi, majikanmu menjual anakmu itu di kemudian hari. Apa yang akan kau lakukan? Mencakar majikanmu yang sangat baik? Meninggalkan rumah bak surga itu? Atau ....,"
"Mana kutahu. Aku bukan seekor kucing." Renji mengangkat bahunya, seakan enggan memikirkan jawaban.
"Atau begini saja, kucing putih itu berniat mengambil kembali anaknya, walau harus kehilangan surganya. Dua kucing bawaannya mengetahui itu. Si Hitam memutuskan untuk mengikuti kucing putih. Si Hitam tidak keberatan meninggalkan rumah nyamannya. Bahkan, jika dia harus memakan majikan kucing putih, itu akan dilakukannya demi kucing putih."
"Kenapa dari peternakan kucing bahagia, jadi kanibal begini?" Dahi Renji kian berkerut-kerut. Ceritanya makin lama, makin aneh.
__ADS_1
"Bagaimanapun, kucing putih itu adalah yang membawa kemewahan padamu. Andaikan kau kucing jingga yang dibawanya bersama kucing hitam, apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan berpikiran sama dengan kucing hitam? Ataukah kau akan menetap di rumah itu, menikmati kemewahan, dan mengabaikan dua kucing yang telah pergi?"