Santri Famiglia

Santri Famiglia
Pengejaran


__ADS_3

Bunyi letupan keras mengejutkan para pelintas yang berhenti sementara. Mereka penasaran, mencari-cari sumber bunyi. Adapun yang mendadak waspada, takut kalau-kalau menjadi korban peluru tersasar.


Tanpa menunggu lampu hijau, mobil kembali melaju, menerobos perempatan jalan yang padat. Karenanya kecelakaan beruntun terjadi. Mobil yang jalurnya dipotong mobil nyelonong itu terpaksa mengerem mendadak. Mobil lain yang tidak siap pun menabrak bumper belakang mobil di depannya. Sementara mobil dari arah lain membanting setir untuk menghindari tabrakan.


Mobil penculik Sanubari berhasil melanjutkan perjalanan dengan mulus. Akan tetapi, tindakan mereka menyeret beberapa pengemudi dalam kecelakaan lalu lintas. Banyak yang geram dengan ulah pengemudi ngawur tersebut.


"Punya SIM enggak sih?"


"Patuhi rambu-rambu lalu lintas woi!"


"Gue sumpahin supaya cepet sowan sama malaikat maut, lu!"


Semua orang mencaci maki mobil yang bahkan tidak peduli dengan mereka. Kemacetan panjang pun terjadi. Peristiwa ini membuat beberapa pengemudi yang berada jauh dari titik kecelakaan bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi.


Sebelum rentetan kecelakaan itu, Jin segera menunduk ketika moncong pistol diarahkan padanya. Dia selamat. Jin mengeluarkan ponsel sejenak lalu cepat-cepat Jin menerobos kondisi lalu lintas yang sudah kacau untuk mengejar kembali penculik Sanubari.


Dia melaju dengan kecepatan maksimum untuk mengejar ketertinggalan. Mobil incarannya menyalip mobil boks. Jin mengambil resiko, dia menyalip mobil boks, melaju di antara mobil boks searah dan truk muatan lawan arah.


Ia berkonsentrasi penuh. Salah sedikit saja bisa-bisa dia masuk ke kolong mobil boks atau truk lalu tergilas roda. Beberapa detik kemudian Jin berhasil keluar dari himpitan dua mobil tersebut.


Namun, mobil penculik tidak terlihat. Ada beberapa mobil lain di depannya. Dengan lincah Jin menyalip satu per satu kendaraan. Akhirnya mobil itu terlihat lagi.


Mobil berbelok. Jauh di depan sepertinya ada polisi yang sedang melakukan operasi lalu lintas. Mobil putar balik melewati Jin. Jin ikut putar balik. Sayang, tidak peduli seberapa jauh pun mobil penculik itu melaju, mereka tetap menjumpai jalan buntu.


"Macam mana nih, Bos? Kenapa dimana sahaja terdapat serbuan polis?" Salah satu penculik mulai panik.


"Teruskan sahaja!"


"Tapi ...."


"Heh, Budak! Awak lebih baik berdiam diri. Awas sekiranya awak berani memberontak! Aku akan tembak kepala awak!" ancam bos penculik.


Mobil pun berhenti. Salah satu polisi menghampiri dan berkata, "Maaf, bisakah kalian keluar sebentar?"


"Kami tak ada bisa," jawab pengemudi itu berpura-pura tenang.


Menurutnya, pertanyaan polisi itu terdengar aneh. Biasanya dalam razia lalu lintas, pengendara akan diminta untuk menunjukkan kelengkapan surat kendaraan dan surat izin mengemudi.

__ADS_1


Ini malah dimintai bisa ular. Mereka mulai berpikir bahwa mungkin saja ada perdagangan bisa ilegal. Maka dari itu ada razia dadakan. Padahal sebelumnya aman-aman saja.


"Turun saja! Ada yang harus kami periksa," kata polisi.


Mereka semua pun turun. Sanubari ikut turun. Para petugas langsung menyergap begitu mereka keluar dari mobil.


"Apa ini?" bentak salah satu dari penculik.


"Kalian ditangkap atas dugaan kasus penculikan," kata polisi.


"Macam mana kalian tahu?"


Para penculik mencoba memberontak. Akan tetapi, mereka tidak bisa. Para petugas menggiring mereka menjauh.


Sanubari yang merasa aman langsung memeluk polisi lalu berkata, "Terimakasih, Pak Polisi!"


"Berterimakasih lah kepada Jin! Kami tidak akan ada di sini jika bukan karena dia."


"Ayo kita pulang, Bocah!" Jin berjalan mendekati Sanubari sambil melepas helm.


"Apakah kalian perlu pengawalan?" tanya polisi itu.


"Tidak, terimakasih. Terimakasih sudah memenuhi panggilanku, Jendral Haidar," ucap Jin.


"Ini sudah menjadi kewajibanku. Tidak biasanya kau meminta bantuan?"


"Awalnya kupikir untuk mengatasinya sendiri tetapi ternyata mereka membawa senjata. Jadi, kupikir lebih baik menghubungi pusat saja. Aku tidak ingin mengambil resiko," jelas Jin.


Keselamatan Sanubari sangat penting. Menghadapi mereka sendirian akan beresiko membahayakan nyawa Sanubari jika terlambat. Oleh sebab itu, Jin memutuskan untuk menghubungi pusat.


Jin terus mengaktifkan pelacak pada ponselnya selama pengejaran. Jin juga membagikannya kepada Haidar supaya perwira polisi itu bisa mengetahui posisinya. Maka dari itu pasukan Haidar bisa memblokir jalan-jalan yang tepat.


"Oh, seperti itu," respons Haidar.


"Maaf, kami harus segera pergi. Bos besar sudah menunggu. Permisi!" pamit Jin.


*****

__ADS_1


Kabar kehamilan Sanum tentunya menjadi berita baru bagi Kelana. Pun dengan Aeneas. Sebelumnya Aeneas tidak tahu sama sekali tentang kehamilan Sanum. Ini berita menggembirakan sekaligus menyedihkan. Aeneas terancam kehilangan calon bayinya. Bukan hanya itu, dia juga terancam kehilangan istri satu-satunya.


"Saya sudah memberikan penguat kandungan untuk mempertahankan kandungannya. Kita lihat saja bagaimana perkembangannya beberapa hari ke depan. Selama itu saya sarankan untuk rawat inap," pungkas dokter.


Kelana menjelaskan semuanya kepada Aeneas. Aeneas keluar dari ruangan dokter dengan geram. Dia berkata, "Scopri chi è stato!"


(Cari tahu siapa pelakunya!)


"Pronto. Riferirò immediatamente il caso alla polizia."


(Siap. Saya akan segera melaporkan kasus ini kepada polisi.)


"Non c'è bisogno di coinvolgere la polizia."


(Tidak perlu melibatkan kepolisian.)


"Ok capisco."


(Baiklah, saya mengerti.)


Mereka berdua berjalan di koridor rumah sakit, hendak ke meja administrasi guna mengurusi persiapan kamar untuk Sanum. Kebetulan mereka bertemu dengan Sanubari dan Jin yang baru saja menaiki tangga. Sanubari langsung berlari memeluk Aeneas sambil berteriak, "Papa!"


Sanubari sama sekali tidak memperhatikan ekspresi gusar sang Ayah. Dia juga belum diberi tahu mengapa mereka ke rumah sakit. Yang dia tahu hanya bahwa ayah dan ibunya berada di rumah sakit.


Tanpa membaca situasi, tanpa bertanya kondisi, bocah itu malah dengan bersemangat bercerita, "Papa, you know? I was kidnapped by some men. They had a gun. I thought that kak Penculik Baik hati died after got shooted. But I was wrong. He is still Alife. He called policemen and safe me like a Hero. It was so scary but I'm glad that I can meet everyone again sound and safely."


(Papa, kau tahu? Tadi aku diculik oleh beberapa laki-laki. Mereka memiliki pistol. Kupikir kak Penculik Baik Hati meninggal setelah tertembak. Tetapi ternyata aku salah. Dia masih hidup. Dia memanggil polisi dan menyelamatkanku seperti pahlawan. Itu tadi sangat menakutkan tetapi aku senang bisa bertemu dengan yang lainnya lagi dalam keadaan baik-baik saja.)


Aeneas memandang Jin. Baru saja istrinya diracun dan sekarang masih kritis. Kemudian, sekarang dia mendapat kabar bahwa putra semata wayangnya baru saja mengalami penculikan.


Tentu Aeneas tidak bisa membiarkan semua ini. Dia mulai merasa tempat ini tidak aman untuk keluarganya. Mungkin setelah ini Aeneas tidak akan pernah mengizinkan Sanum dan Sanubari kembali ke Indonesia.


Jin yang ditatap dengan tajam hanya bisa tertawa canggung sambil berkata, "Sorry for my carelesness."


(Maaf atas kecerobohan saya.)


Jin mengerti arti dari tatapan penuh tekanan tersebut. Sebuah isyarat yang bermakna bahwa Jin dalam keadaan tidak baik-baik saja andaikan dia gagal membawa pulang Sanubari dengan selamat. Beruntung Sanubari bisa dibawa pulang tanpa lecet. Kini Jin siap diinterogasi.

__ADS_1


__ADS_2