Santri Famiglia

Santri Famiglia
Utang


__ADS_3

Berulang kali, Damiyan meminta Aeneas untuk menjadi gurunya. Namun, Aeneas hanya menjawab, "Belajarlah pada Kakek Fang,!"


Setelahnya, pria itu kembali seperti batu, mengabaikan apa pun perkataan Damiyan, sama sekali tidak bisa diajak komunikasi, berbeda sekali dengan Sanubari. Sangat mudah membangun obrolan dengan anak itu. Pemuda tiga tahun di bawah Damiyan itu sangat interaktif.


Perbedaan itu membuat Damiyan mempertanyakan status Sanubari sebagai putra kandung Aeneas. Kalau bukan karena wajah mereka yang sangat mirip, Damiyan mungkin tidak akan pernah mengakui Sanubari memiliki hubungan darah dengan Aeneas.


"Payah!"


Damiyan menertawakan Sanubari yang berada di balik kaca. Di dalam sana, Sanubari berteriak-teriak, berlarian ke sana kemari, menghindari bola-bola tenis yang menyerang membabi buta.


"Pukul bola nya! Jangan lari, apalagi menggunakan tubuhmu untuk menghadang bola!" Fang memarahinya dengan pelantang.


"Siapa juga yang menghadang bola dengan badan,? Bola-bola itu terlalu cepat. Keluarkan aku dari sini, Kek!" Seberapa keras pun Sanubari berusaha melarikan diri, bola-bola tidak bisa dia hindari.


Saat dia mengayunkan tongkat pun bola lain terburu menimpuknya sebelum sempat menghindar. Tubuhnya terasa ngilu. Entah berapa bola yang mengenai tubuhnya, bola-bola masih saja ditembakkan dari lawan arah. Sanubari sempat tergelincir bola juga, tapi tembakan tetap tidak dihentikan ketika terjatuh.


"Ayunkan pemukulmu, Sanu! Ayunkan!" Fang terus berteriak.


"Aku tidak mau menjadi atlet kasti!" Sanubari balas berteriak. Ketika mulutnya terbuka lebar, sebuah bola menghantam mulut. Giginya ngilu terantuk bola. Sanubari refleks berjongkok, membiarkan punggungnya tertimpuk-timpuk bola. Dianggapnya itu sebagai pijatan.


Damiyan terpingkal-pingkal. Dia menikmati tontonan menyenangkan itu sambil makan keripik kentang. Dia kembali teringat aksi heroik Aeneas kala itu.


Andai Sanubari yang ada di sana pada masa itu, pastilah dia sudah wafat. Kecepatan bola-bola tenis tersebut bahkan tidak sebanding dengan laju peluru.


Setelah peristiwa itu, mereka kembali ke rumah Fang. Vladimir, kedua orang tua Damiyan, Aeneas, dan Kelana pergi ke tempat lain, sedangkan Damiyan dititipkan pada Fang lagi. Saat itulah, Damiyan menjalani latihan serupa dengan Sanubari. Aeneas juga pernah memberi contoh. Hanya sekali, tapi Damiyan mengingatnya dengan jelas. Ayah Sanubari itu melibas habis semua bola yang datang padanya. Tiada satu pun pukulannya yang meleset. Bola yang menimpuk tubuh pun tidak ada. Itu kecepatan luar biasa yang dikagumi Damiyan.


Sembari menyaksikan demo dari Aeneas, Damiyan bertanya pada Kelana tentang tindakan Aeneas di sarang Labucona. Saat itu, Kelana menjawab, "Tuan Gafrillo mengetesmu dan pedang itu kebetulan ada di sana sebagai hadiah atas keberhasilanmu."


"Tes apa? Dia saja seperti orang yang tidak peduli."

__ADS_1


"Seperti itulah Tuan Gafrillo. Kurasa, beliau melihat sesuatu darimu. Jadi, beliau sengaja membiarkan beberapa lawan lolos dari jangkauannya. Coba saja kau tetap diam seperti perintahnya, pedang itu tidak akan beliau serahkan padamu."


Sejak hari itu, Damiyan paham. Setiap kali dia memperoleh hadiah besar dari Aeneas langsung, dia pasti telah menyelesaikan ujian yang diberikan Aeneas tanpa sepengetahuannya. Itu terjadi beberapa kali sepanjang karirnya. Aeneas memang menolak menjadi guru, tapi sesekali memberikan tantangan takterduga sebagai gantinya.


Hadiah pertama dari Aeneas masih Damiyan simpan. Pedang yang diberikan Aeneas waktu itu sungguh tajam. Damiyan sudah berulang kali menggunakannya, tapi ketajamannya sama sekali tidak berkurang meski tidak pernah diasah.


Selama mendampingi Sanubari, dia belum pernah menggunakannya. Untuk alasan kepraktisan, Damiyan meninggalkan pedang itu bersama sebuah animatronik. Ketika butuh, Damiyan hanya perlu memanggilnya.


"Ini bukan latihan untuk menjadi pemain kasti, Sanu! Berdirilah!" seru Fang yang berbalas lemparan pemukul.


Kayu itu menghantam kaca. Andai tidak ada kaca penghalang, pemukul itu pasti sudah mengenai muka Fang. Sanubari berdiri dengan wajah masam.


"Keluarkan aku dari sini!"


Sanubari tidak menghiraukan bola-bola yang memukul-mukul tubuh belakangnya. Dia menatap sengit pada Fang yang berdiri di seberang kaca dan Damiyan yang enak-enakan bersantai, menyayangkan pemukulnya tidak bisa memecahkan kaca.


Fang membuang napas keras, begitu keras hingga suaranya terdengar Damiyan. Pria tua itu mengambil remot, lalu menekan beberapa tombol. Tembakan bola tenis berhenti total. Bola-bola menggelinding dengan sendirinya menuju tempat penyimpanan. Pintu bergeser terbuka.


"Pekerjaan macam apa ini?" protes Sanubari dengan napas terengah. Dia menaikkan goggles. Tanpa benda itu, mata Sanubari mungkin sudah bengkak atau mungkin penglihatannya mengabur gara-gara berulang kali tertimpuk bola.


"Ini bukan pekerjaan." Fang duduk di sebelah Damiyan.


"Apa?" Sanubari melotot, kesal merasa dipermainkan, "dengan utangku yang begitu banyak, teganya Kakek menyia-nyiakan waktuku! Aku harus kerja, Kek! Kerja mengumpulkan uang."


"Ini sama berharganya dengan bekerja untuk mencari uang."


"Apanya yang berharga? Ini bukan pekerjaan. Kakek tidak akan menggajiku dari penyiksaan ini, kan?" Sanubari kesal sekesal-kesalnya. Pulang dari sawah, dia pikir Fang akan mengajaknya mengerjakan pekerjaan lain. Bukannya pekerjaan yang diperolehnya, Sanubari malah dibawa ke ruang olahraga bawah tanah.


"Akan kuanggap utangmu tinggal 50% bila kau berhasil memukul semua bola, dan mungkin lunas bila kau menyelesaikan tantanganku yang lain. Bagaimana? Masih mau melakukannya?" Fang tersenyum.

__ADS_1


Sanubari tergiur dengan tawaran itu. Namun, mengingat betapa sulitnya memukul dua bola berturut-turut tanpa tertimpuk, dia cemberut. "Tapi, itu mustahil. Berikanlah tantangan yang lebih masuk akal!"


"Tidak ada yang mustahil. Ayahmu saja bisa menyempurnakan penguasaannya dalam tujuh hari."


"Ayah? Kakek kenal ayahku?" Mata Sanubari melebar.


Damiyan menyenggol kaki Fang. Dia sudah bilang untuk berpura-pura tidak tahu tentang Sanubari, tapi si kakek malah keceplosan. Damiyan berhenti mengunyah, sementara Fang tersenyum canggung.


"Itu ... wajahmu ... wajahmu mengingatkanku pada seseorang. Jadi, kupikir kau pasti ada hubungan dengannya. Dari usiamu, kutebak kau pasti anaknya. Namanya Gafrillo. Lengkapnya, Aeneas Baldovino Gafrillo. Dulu, dia pernah menjadi muridku."


"Papa Aeneas memang papaku." Sanubari manggut-manggut. Dia mendadak tersenyum sumringah. "Jadi, Kakek Fang mengenal papa?"


"Ya."


"Teleponkan dia untukku! Papa punya banyak uang. Dia pernah membelikanku pesawat. Jadi, pasti perkara mudah baginya untuk mlunasi semua utangku di sini, lalu membelikan tiket pulang." Sanubari cengengesan. Dia menatap penuh harap pada Fang. Dengan begini, dia tidak perlu lagi repot-repot bekerja.


"Itu sudah lama sekali, Sanu. Waktu dia masih muda. Sekarang, aku tidak punya kontaknya. Jadi, maaf, aku tidak bisa menghubungkannya denganmu."


"Alasan bagus, Kakek!" batin Damiyan.


Damiyan sudah berulang kali membaca biografi Sanubari yang dibuat Kelana. Dia juga sudah berdiskusi dengan konselor andalan Aeneas itu.


"Tuan Muda Sanu tipikal yang mudah bosan dengan pelajaran bila merasa pelajaran itu tidak ada gunanya untuk tujuannya. Dia juga suka kabur-kaburan. Jadi, berikan dia tujuan dan alasan supaya mau menetap, jauhkan dari tujuan lain dan pengetahuan yang akan mendistraksi keputusannya! Saat dia memiliki tujuan lain atau tahu cara pergi dari suatu tempat, bisa jadi dia akan melupakan pelatihan yang kau rencanakan padanya, lalu diam-diam kabur. Dulu, dia pernah tinggal lama dengan Kakek Canda karena merasa berutang budi pada penolongnya. Kau juga tahu sendiri, bukan? Dia pun mau tinggal lama bersama Abrizar karena memiliki tujuan yang dirasanya bisa tercapai hanya bila bersama pria tuna netra itu."


Untuk itu, Damiyan merekayasa utang Sanubari. Sekali saja Fang salah menjawab, Damiyan paham Sanubari akan benar-benar pergi. Dalam hati, Damiyan mengancam Fang. "Awas saja Kakek kalau Sanu sampai kabur gara-gara mulut pikunmu!"


"Kalau begitu, pinjami saja aku uang! Kakek 'kan kenal papa. Kalau takut aku menipu, Kakek bisa mendatangi papa."


"Aku tidak tahu di mana dia tinggal. Sudah lama, kami tidak berkomunikasi. Lagipula, kau ini laki-laki. Jadilah lelaki sejati dan penuhi tanggung jawabmu! Jangan seenaknya melempar tanggung jawab pada orang lain! Mengandalkan kekayaan orang tua sama sekali bukan sikap pria sejati. Dasar pemalas! Kau sama sekali tidak layak disebut pria, disebut perempuan pun tidak pantas. Kau bahkan lebih buruk dari perempuan. Selalu saja merengek minta pinjaman hanya demi memudahkan hidupmu."

__ADS_1


Hati Sanubari terprovokasi perkataan Fang itu. Kedua tangannya terkepal erat. Air mukanya mengeras.


"Aku pasti akan melunasi semua utangku dengan tanganku sendiri!" Nada bicara Sanubari meninggi. Dia pergi dengan kaki mengentak-entak. Derapnya terdengar keras. Telinganya panas mendengar cemoohan Fang. Kakek tua itu sungguh bermulut pedas, sangat pedas sampai Sanubari terbakar semburan mulutnya.


__ADS_2