
"Anak-anak, waktunya pulang!" ucap Kelana setelah selesai berbicara dengan Sanum.
Dengan kompak kembar menjawab, "Iya, Pa!"
"Sampai jumpa lagi, Sanu!" pamit Kumbara.
Embara memeluk Sanubari lalu berkata, "Bye, Sanu!"
Selesai berpamitan, keluarga Kelana meninggalkan rumah Sanubari. Jarak rumah mereka tidak terlalu jauh. Hanya sekitar sepuluh menit dengan mobil.
"Kau tadi sengaja mengalah dari Sanubari. Iya 'kan, Kumnbara?" celetuk Kelana yang sedang menyetir.
"Kok Papa tahu? Jangan-jangan Papa punya ilmu pembaca hati, ya?" tukas Kumbara.
Kelana selalu saja serba tahu seolah dia bisa menerawang pikiran seseorang. Baik Kumbara maupun Embara sama sekali tidak bisa membohongi ayahnya. Sekalinya berbohong, mereka langsung ketahuan.
"Mana ada yang seperti itu? Papa hanya mengamati kalian saja. Apa yang kalian pikirkan sekarang saja papa tidak tahu. Papa hanya bisa mengira-ngiranya," papar Kelana.
Dia sama sekali tidak memiliki ilmu ajaib yang dimaksud putranya. Kelana hanya pernah belajar tentang psikologi manusia. Maka dari itu dia bisa memahami kondisi mental seseorang.
Sebagai seorang konselor, Kelana memang dituntut harus bisa memahami perasaan kliennya, masuk ke dunia mereka serta merefleksikan kondisi mereka pada dirinya sendiri. Dengan memosisikan diri layaknya orang yang dia tangani maka Kelana bisa menyelami perasaan orang tersebut lebih dalam. Bertahun-tahun dia menjalani profesinya. Tentu itu tetaplah tidak mudah bagi Kelana sampai sekarang.
"Papa harus mewariskan kemampuan itu kepadaku," kata Kumbara.
"Aku juga mau kalau bisa membaca pikiran," sahut Embara.
"Kau ini perempuan, Em. Tidak butuh yang begituan. Aku yang lebih berhak menerimanya," kata Kumbara.
"Laki-laki dan perempuan itu sama saja. Aku juga anak papa. Jadi, aku juga berhak mewarisi apa pun yang dimiliki papa," sungut Embara tidak mau kalah.
"Sudah-sudah! Masih kecil kok memperebutkan warisan? Kalian ini saudara. Yang akur dong!" lerai Kelana.
Embara dan Kumbara mendengus. Mereka saling membuang muka, menatap jalanan dengan perasaan masing-masing.
"Jika kalian belajar peka dengan keadaan sekitar maka kalian pasti juga bisa memahami perasaan orang lain. Sama saudara sendiri saja belum bisa peka, pakai belagu mau seperti papa. Orang terdekat bisa dijadikan objek untuk melatih kepekaan. Mulailah memahami satu sama lain. Sekarang, ayo berdamai!" nasihat Kelana.
Embara dan Kumbara saling meminta maaf. Mereka sama-sama berniat untuk melakukan saran sang Ayah, memahami perasaan saudara untuk mengasah ketajaman kepekaan. Walaupun di luar mereka terlihat akur tetapi dalam hati keduanya bersaing. Kedua anak itu berlomba untuk saling mengungguli.
__ADS_1
"Kumbara!" panggil Kelana.
"Iya?"
"Kuharap kau tidak akan pernah mengalah lagi dari Sanu."
"Tapi, kasihan Sanu sampai terpuruk begitu gara-gara tidak bisa bermain anggar."
"Rasa kasihanmu tidak akan membuatnya berkembang. Kau tidak ingin Sanu kalah dalam pertandingan, bukan?"
"Tentu aku ingin Sanu menang. Dengan begitu aku akan menjadi pelatih terhebat. Lebih hebat daripada juara olimpiade." Kumnbara tertawa membayangkan hal tersebut terwujud.
Begitulah Kelana memberi pengertian kepada putranya supaya tidak sakit hati. Jika tidak maka Kumbara mungkin saja akan merasa iri kepada Sanubari. Sanubari yang tidak bisa apa-apa bisa menjadi peserta olimpiade. Sedangkan dirinya yang lebih mahir malah tidak boleh ikut serta.
Terlebih lagi Sanubari bisa mendapatkan tiket menuju olimpiade tanpa mengikuti pertandingan kualifikasi. Jelas Kumbara akan sangat cemburu bila sampai mengetahui kenyataan tersebut. Oleh karena itu, Kelana memberikan pengertian untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.
Kumbara adalah anak yang berbakat dalam anggar. Namun, statusnya yang berkewarganegaraan ganda tidak memenuhi syarat untuk maju dalam kompetisi Internasional tahun ini. Untuk menjaga hubungan bilateral, anak-anak tidak diperkenankan mewakili salah satu negara.
"Kalau begitu kau harus menghadapinya dengan serius. Dia harus belajar mengalahkanmu untuk bisa memenangkan pertandingan. Kuharap mulai sekarang dan seterusnya kau tidak akan pernah dengan sengaja mengalah lagi."
Semenjak hari itu Kumbara selalu menghadapi Sanubari sepenuh hati. Kemampuan Sanubari pun meningkat tetapi dia tetap tidak bisa mencetak poin sama sekali. Hari demi hari berlalu. Sanubari tetap gagal menembus pertahanan Kumbara.
Selama berlatih, Sanubari merasa Kumbara semakin kuat. Dia berpikir bahwa dia harus menambah porsi latihannya jika ingin mengalahkan Kumbara. Diam-diam Sanubari melatih gerakannya sendiri ketika keluarga Kelana sudah pulang.
Dua Minggu menjelang hari pertandingan, mereka melakukan simulasi seperti pada olimpiade sungguhan. Sampai hari terakhir latihan, Sanubari masih belum bisa membuat poin. Dia merasa satu poin yang pernah dia peroleh sebelumnya hanyalah keberuntungan sesaat.
Kekhawatiran kembali melanda hati Sanubari. Namun, Sanubari harus tetap bisa tenang. Setiap hari dia semakin berlama-lama mengamati pohon singkongnya untuk mengusir stress. Terkadang Kumbara dan Embara harus menyusul Sanubari ke rumah kaca.
*****
Sabtu, 15 Januari, Milan, Italia.
Sorak Sorai penonton bergemuruh dalam arena pertandingan. Suasana gedung begitu bising. Setiap orang bersemangat mendukung atlet perwakilan negara masing-masing.
Biasanya anggar dipertandingkan dalam olimpiade musim panas. Namun, pada tahun ini anggar dilaksanakan baik pada musim panas maupun dingin. Di tahun ini pula dua puluh empat nomor dipertandingkan.
Dua puluh empat nomor itu adalah foil putra/putri perorangan/tim, degen putra/putri perorangan/tim, sabel putra/putri perorangan/tim. Masing-masing kategori dibagi menjadi tiga kelas.
__ADS_1
Tiga kelas tersebut adalah pemula, junior dan senior. Tingkat pemula untuk anak berusia tujuh tahun ke atas, junior untuk yang berusia tiga belas tahun ke atas dan senior untuk usia tujuh belas tahun ke atas. Khusus untuk sabel hanya boleh diikuti pemain anggar senior. Sedangkan kelas pemula hanya boleh mengikuti foil.
Sanubari mengikuti nomor pertandingan foil tunggal untuk pemula. Kini dia sedang berbaris bersama atlet pemula lainnya. Dalam perlombaan ini, ada lima ratus atlet yang mewakili tiga puluh negara. Sementara dalam foil tunggal pemula ada empat puluh atlet yang mewakili tiga puluh negara.
Pembawa acara membuka acara, memperkenalkan perwakilan negara satu persatu. Hingga akhirnya nama Sanubari dari Indonesia dipanggil. Dia pun memasuki arena, memberi hormat kepada semuanya sama seperti yang lain lalu menunggu giliran main.
Sanubari menyaksikan jalannya pertandingan dengan gelisah. Semua anak nampak luar biasa. Dibandingkan dengan mereka, Sanubari merasa tidak ada apa-apanya.
Jantungnya mulai berdetak tidak karuan ketika namanya dipanggil. Pelindung dada telah terpasang, pun dengan peralatan elektronik pendeteksi poin. Jaket pelindung, sarung tangan pelindung, celana dan sepatu pun terpasang nyaman. Dia bisa bergerak leluasa tetapi tidak bisa mengusir rasa tidak nyaman.
Berulang kali Sanubari berjalan ke tengah loper sambil menghela napas panjang. Masker di tangan kiri dan pedang di tangan kanan. Mereka saling memberi hormat, lalu dilanjutkan memberi hormat kepada wasit, juri dan penonton. Barulah masker pelindung wajah dipakai.
"En garde!"
(Bersedia!)
Wasit memberi aba-aba. Masing-masing atlet mematangkan kuda-kudanya. Telinga pun mereka pasang baik-baik supaya tidak kecolongan. Dengan jantung berdebar mereka menanti wasit melanjutkan aba-aba.
"Prete!"
(Siap!)
Jantung Sanubari semakin bergemuruh kala mendengar kata itu. Ini adalah debut pertamanya. Dia sangat grogi tetapi harus bisa menguasai dirinya.
"Allez!"
(Mulai!)
Aba-aba terakhir itu akhirnya terdengar juga. Segalanya terjadi begitu cepat. Belum sempat Sanubari bergerak, ujung pedang telah menusuk dada kirinya.
"Hah?" Sanubari terkejut.
———©———
Catatan Penulis :
Episode ini sangat sulit ditulis.
__ADS_1