Santri Famiglia

Santri Famiglia
Undangan


__ADS_3

"Tapi, tuan muda akan sering ke mari selama kalian ada di sini. Jadi, perusahaan tidak bisa lagi mempertahankan kalian lebih lama," tegas Dantae.


Renji dan Eiji sedikit kesal. Mereka dipecat gara-gara Sanubari.


Eiji mencoba menegosiasi, "Bukankah lebih baik melarang Sanu untuk ke mari?"


Renji mengangguk. Dia memberikan pernyataan pendukung, "Benar. Bila alasan pemberhentian kami adalah Sanu, kami rasa itu bisa dijadikan alternatif. Dengan begitu, kami bisa tetap bekerja di sini."


Namun, Dantae menggeleng. Dia berkata, "Keputusan perusahaan sudah bulat. Terima kasih atas kontribusinya selama ini. Kalian boleh pulang. Oh, iya! Jangan lupa cek email! Ada undangan makan malam yang wajib kalian hadiri."


Itu adalah akhir diskusi mereka. Senyuman Dantae mengantarkan kepergian ketiganya.


Eiji, Sai, dan Renji langsung berkemas. Dengan mengendarai mobil pinjaman dari Aljunaedi, mereka pulang. Muka Eiji kusut. Dia tidak tahu harus melamar pekerjaan ke mana lagi setelah ini. Eiji sama sekali tidak ada rencana.


Sai mengemudikan mobil dengan tenang. Dia tidak terlalu menghiraukan pemecatan ini. Baginya, semua pekerjaan itu sama saja. Yang penting, dirinya bisa makan untuk menyambung hidup. Itu sudah cukup.


Di kursi tengah, Renji membuka amplopnya. Dia menghitung gepokan uang yang ada.


"Wow, fantastis! Lima puluh ribu euro. Ini bahkan lima kali lipat dari gaji bulanan kita."


Dia buru-buru menyimpannya kembali, lalu membuka ponsel. Kejutan lain menyusul.


"Gila! Bos Gafrillo benar-benar royal. Siapa yang akan mentransfer dua juta euro kepada pegawai yang dipecatnya? Aku bahkan tidak mendapatkan pesangon tambahan saat mengundurkan diri dari perusahaan lamaku."


Uang setara kurang lebih tiga puluh miliar rupiah atau tiga ratus juta Yen itu sangat banyak. Normalnya, perusahan legal hanya akan memberikan gaji sekitar ratusan ribu Yen saja per bulan. Dia baru mendapat gaji pokok dua juta Yen per bulan ketika bergabung dengan Onyoudan.


Bekerja di BGa hanya beberapa bulan lebih menguntungkan daripada tempat kerja lamanya. Tidak terbayang seberapa tinggi kenaikan gajinya, andai dia menjadi pegawai tetap lebih lama. Renji menyayangkan hal itu tidak akan pernah terjadi. Dia menghela napas.


Masing-masing sibuk dengan pikirannya. Tidak terkecuali Sanubari yang berguling-guling di kasurnya. Selepas keluar dari rumah sakit, dia dikurung di rumah.


Reste dan Bio selalu membuntuti ke mana pun dia pergi, tidak membiarkannya melewati gerbang di halaman depan. Menurut Sanubari, Aeneas benar-benar keterlaluan. Dia hanya mendapat sedikit luka lecet dan itu sudah sembuh, tetapi Aeneas tidak mengizinkannya bermain ke luar dengan dalih ini itu.

__ADS_1


Dia berulang kali menekan tombol daya ponsel, menatapnya tanpa melakukan apa pun sampai layar menggelap kembali. Dia bingung.


"Bagaimana caraku mengatakan pada Anki? Tidak mungkin terang-terangan bilang begitu saja, kan?"


Sanubari benar-benar pusing. Dia duduk dengan cepat, lalu mendesah keras. Dia tahu, Anki tidak suka Eiji bekerja di organisasi seperti Onyoudan. Gadis itu pasti akan langsung menolak bila Sanubari jujur.


Saat dia sedang dilema, seseorang memanggilnya, "Sanu!"


Dia menoleh. Itu Kelana. Pria itu baru saja melewati gawang pintu. Dia berjalan mendekati Sanubari.


"Mau jalan-jalan denganku?"


Kelana duduk di sebelah Sanubari, tersenyum ramah padanya. Namun, Sanubari melengos.


"Memangnya boleh?"


"Tentu boleh. Kaupasti suntuk hanya Di rumah saja, kan? Ayo!"


Sanubari menerima ajakan Kelana. Akhirnya, dia bisa bebas juga. Sebenarnya, Kelana sedikit khawatir dengan ini.


Sementara kala itu, Canda berkata, "Lihat saja reaksinya bagaimana!"


Setelah kecelakaan itu, Aeneas dan Kelana sepakat untuk mengajari Sanubari menyetir. Aeneas tidak ingin Sanubari tumbuh menjadi pria yang tidak bisa apa-apa. Begitu banyak peristiwa kurang mengenakkan yang membuat putra sulung Aeneas itu tidak bisa belajar dengan benar.


Dia benar-benar mencemaskan perkembangan Sanubari. Meski Canda sudah menerapinya, baik Aeneas maupun Kelana takut masih ada sisa-sisa trauma dalam diri Sanubari.


Kelana dan Sanubari terus berjalan, sampai ke halaman depan. Sebuah Alfa Romeo Quadrifoglio generasi terbaru terparkir di sana. Kelana membuka pintu.


"Naiklah!" perintahnya.


Dia memperhatikan Sanubari yang terbengong. Sanubari menatap setir berlogo daun Semanggi. Dia kemudian beralih menatap Kelana.

__ADS_1


"Aku naik ke situ?"


"Iya, aku akan mengajarimu menyetir."


Kelana masih mengamati ekspresi Sanubari dengan was-was. Perlahan, sudut-sudut bibir Sanubari tertarik. Pemuda itu bersorak. Tanpa menunda, dia langsung masuk, mengenakan sabuk pengaman. Kelana menyerahkan kunci pada Sanubari.


Dia mengembuskan napas lega. Sanubari tampak baik-baik saja. Kelana menuju kursi seberang. Dia duduk, menjelaskan semua fungsi fitur pelan-pelan. Dengan perlahan, mobil keluar dari kediaman Gafrillo.


Sanubari mengemudi dengan sangat kaku. Dari luar, mobilnya melaju sangat lambat, terlihat seperti kendaraan hendak mogok atau kehabisan bensin. Lajunya benar-benar lambat, sampai seorang kakek yang sedang jogging bisa menyalipnya.


Berbanding terbalik dengan waktu yang bergulir cepat layaknya roda-roda yang berputar di jalur antar kota. Salah satunya membawa tiga penumpang, menuju sebuah hotel elite.


Ketiga pria itu memakai setelan jas rapi. Rambut punsampai klimis. Pertemuan ini membuat mereka harus berpenampilan sebaik mungkin.


Meskipun mereka sudah dipecat, pencitraan tetaplah penting. Mereka tidak ingin meninggalkan kesan buruk. Siapa tahu, suatu saat mereka akan berurusan dengan orang besar ini lagi atau dia berubah pikiran tiba-tiba dan membatalkan pemecatan.


Pukul enam malam, mobil tiba di area parkir tempat yang dituju. Mereka bersama-sama memasuki gedung, menunjukkan undangan digital pada resepsionis.


Resepsionis itu menelepon selama beberapa saat. Setelahnya, seorang pegawai hotel membimbing mereka, menaiki elevator, menuju lantai teratas.


Berjalan beberapa langkah, mereka tiba di sebuah ruangan yang dijaga dua pria. Kedua penjaga itu membukakan pintu setelah mereka mengkonfirmasi identitas.


Ruangan kaca cukup luas terekspos ketika pintu terbuka. Mereka disuguhi panorama kota malam begitu masuk. Atap yang terbuat dari kaca pun membuat mereka bisa melihat bintang gemintang yang bertaburan di sekitar bulan. Yang lebih mengejutkan adalah, Abrizar ada di ruangan itu. Duduk sendirian di salah satu kursi.


Lelaki tuna netra itu berpenampilan santai—hanya dengan jumper hitam, jin hitam, dan sepatu sport. Kontras sekali dengan penampilan mereka.


"ABRI, kau di sini juga?"


Dia berjalan ke sebelah Abrizar, menepuk bahu pria difabel tersebut. Dari suaranya, Abrizar tahu, pria di sisi kanannya adalah Renji. Dua pasang kaki lagi mendekat. Salah satunya berhenti di sisi kiri Abrizar, sedangkan yang lain berjarak satu kursi dari kanannya. Lebih tepatnya di sebelah Renji.


"Kenapa kau juga ada di sini? Apa bos besar mengundangmu juga?"

__ADS_1


Tanpa melihat, Abrizar tahu pertanyaan kali ini datang dari Eiji. Kakak Anki itu duduk di sebelah Renji. Dia menampilkan sorot mata heran atas kehadiran Abrizar. Pasalnya, Abrizar bukan mantan karyawan BGA seperti mereka. Bagaimana mungkin orang ini juga ada di sini, berkumpul dengan mereka?


Tanpa memberi kesempatan Abrizar untuk menjawab, Renji menimpali, "Seharusnya kaubilang-bilang. Jadi, kita bisa berangkat bersama-sama. Tidak perlu pergi duluan seperti ini."


__ADS_2