
Empat jam pelayaran, kapal tiba di pulau Pemba. Mobil diturunkan, kembali melaju dibawah hujan yang masih lebat, melewati hutan dan jalan berkelok.
Di sebuah toko dua puluh empat jam, wanita berjilbab dengan name tag Arja Amora menatap bosan ke luar pintu. Menyangga kepala duduk di belakang kasir, dia menutup mulut yang menguap. Hujan tidak henti-henti sejak kemarin, membuat toko sepi pelanggan.
"Dajar," ucapnya merasa jemu.
Subuh kurang sebentar lagi. Dia hanya terus memperhatikan rintik hujan, berharap rekan sejawat pengganti giliran kerja akan segera datang atau setidaknya ada pembeli yang membuka pintu yang bergeming.
Di tengah kegelapan itulah mobil berbelok. Sorotnya menembus pintu kaca.
"Pelanggan," pikirnya lekas membenahi posisi, siap menyambut siapa pun yang akan masuk.
Mobil berhenti di area parkir toko. Seorang berlari memasuki tempat itu. Arja menyambut dengan senyum terbaik.
"Kami membawa barang bagus. Tiga ekor berbicara," kata pria yang berdiri di depan kasir.
Mata gadis itu melebar. Agaknya, dia akan bisa tutup lebih awal tanpa menunggu giliran jaga hari ini.
"Wah, Miss Petamana pasti akan senang. Akan kubukakan jalan ke basemen. Langsung bawa mereka ke sana!"
"Baiklah."
Pria itu kembali ke mobil. Arja memasang papan libur, mengunci pintu, mematikan penerangan, lalu pergi. Dinding tempat parkir menurun. Sebuah jalan menurun muncul. Dinding kembali seperti semula setelah mobil melewatinya.
Arja sudah menunggu di bawah. Empat pria turun dari mobil.
"Turunkan mereka! Aku akan menjadi petunjuk jalan ke mana kalian harus membawa mereka."
"Tumben tidak ada yang lain," kata seorang pria.
"Mereka akan segera datang. Aku Baru saja menghubungi mereka. Akhir-akhir ini, Miss Petamana agak sensitif. Semua diliburkan. Hanya tinggal beberapa. Sekarang sedang mengurus makhluk merepotkan," jelas Arja.
Tiga pria memanggul tiga barang yang dimaksud. Arja menuntun mereka menyusuri lorong. Mereka memasuki ruangan.
Tiga ranjang telah disiapkan. Ketiganya dibaringkan di sana. Tali dilepas, lalu diganti dengan pengikat yang sudah disediakan.
"Ah, sayang sekali kalau mereka harus dijadikan kelinci percobaan."
Arja geleng-geleng. Andai diperbolehkan, dia ingin menyimpan yang kiri atau kanan.
"Bagus, kan? Aku yakin harga mereka lebih dari yang sebelum-sebelumnya."
"Hanya Miss Petamana yang bisa menentukan." Arja menulis sesuatu di kertas, lalu menyerahkannya pada perwakilan pengantar.
"Ini tanda terima. Tunggu di tempat biasa! Kami akan menghubungi secara virtual untuk menuntaskan administrasi," lanjutnya.
Para pria itu langsung pergi, melewati jalan sama yang telah dibukakan lagi oleh Arja. Gadis itu melihat jam tangan.
__ADS_1
Masih kurang tiga puluh menit sampai waktu subuh. Dia sudah menghubungi Juma, tetapi belum Petamana. Wanita itu pasti masih tidur.
Arja sungkan untuk mengganggu jam tidur wanita itu. Dia mondar-mandir dalam ruangan itu.
Di lorong basemen, seorang pria berjas laboratorium berlari tergesa. Dia mencari ruangan tempat ketiga barang baru disimpan.
"Juma."
Arja menoleh ketika pintu dibuka. Pria plontos melewati pintu. Kepalanya licin, mengkilap ketika terkena sorot lampu.
"Di mana Mana?"
Juma melihat ke seluruh ruangan. Hanya ada tiga pria dan Arja.
"Belum saya hubungi."
"Kenapa tidak langsung dihubungi? Kau saja menghubungiku."
"Saya takut mengganggu jam tidurnya."
"Oke, biar kuhubungi dia. Lakukan pemeriksaan menyeluruh pada mereka! Itu belum dilakukan, kan?" ucap Juma.
Dia keluar ruangan lagi. Para anggota laboratorium yang lain berdatangan. Mereka membantu Arja melakukan pemeriksaan.
Sementara itu, Juma menelepon seseorang—ketua PEnelitian yang menggagas eksperimen ini. Wanita itu sedang bergumul dengan selimut. Akan tetapi, terpaksa bangun cepat-cepat setelah mendapat kabar dari Juma.
Dia selalu antusias bila berkaitan dengan penelitian. Akhir-akhir ini, mereka tidak memiliki cukup objek untuk menerapkan hasil penelitian. Tentu, dia senang ketika sumber daya itu datang. Terlebih lagi, ada tiga sekaligus.
Begitu tiba di tempat, dia langsung menuju ruangan yang dimaksud. Juma duduk di sana, membaca laporan yang diterima.
"Yang paling kiri, matanya tidak berfungsi. Kakinya digigit binatang buas, tapi sudah disuntikkan antiinfeksi. Yang tengah normal. Yang paling kanan ...."
Wanita itu menyela, "Ini memuaskan."
"Kau tidak ingin membaca laporan tentang mereka dulu?"
Juma mengangkat kepala. Wanita itu telah memegang papan dada dengan tumpukan kertas kosong.
"Kau saja yang membacakan untukku! Aku tidak sabar untuk mengeksekusi mereka."
Dia tersenyum. Pandangannya beralih-alih antara kertas dan ketiga pria.
Juma berdiri. Dia berjalan dari ranjang ke ranjang.
"Jadi, potong kepala, kaki atau tangan?"
Juma mengamati tiga raga yang dibaringkan berjajar. Kaki dan tangan mereka diikat ke ranjang. Ketiganya tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Andaikan terbangun, mereka mungkin akan merasa ngeri mendengar perkataan pria plontos yang tanpa beban. Pria itu berkata seperti hendak memotong ayam sambil melihat mereka.
Seorang wanita dengan rambut digelung berdiri di sampingnya. Dia mencorat-coret kertas di papan dada. Merasa tidak puas, dia membalik kertas, menggambar sketsa baru—sketsa tentang tiga pria yang memakai kaos putih bergambar nanas.
Dia melirik dari kiri ke kanan. Pandangannya berhenti lama pada pria yang paling kanan itu.
Kemudian, dia menjawab, "Jangan yang paling kanan. Sangat disayangkan kalau harta berharga seperti dia tersia-siakan karena ini tidak berjalan lancar."
Pria plontos berjalan ke ranjang paling kanan. Mereka memakai kaos lengan pendek. Jadi, terlihat jelas tangan-tangan mereka.
"Tapi, lihatlah! Di antara mereka, anak ini yang tangannya tampak hancur."
"Jangan berlebihan, Juma! Dia hanya memiliki banyak plester dan lebam. Itu saja. Itu mungkin hanya luka gores."
Pria plontos yang dipanggil Juma membuka salah satu plester pelan-pelan. Dia mengamati luka itu.
"Memang hanya kecil, tetapi belum kering. Oh, lihatlah! Astaga! Darahnya mengalir."
"Pasang kembali plesternya! Pasang!"
Wanita itu melotot. Dia bisa melihat darah itu menetes ke ranjang. Padahal, hanya seperti goresan tipis, tetapi darah yang keluar terus bertambah banyak.
"Terlanjur Kubuang."
"Ambil yang baru kalau begitu!"
"Anak ini mungkin mengalami masalah pembekuan darah!"
Juma melihatnya sesaat,lalu pergi mencari perlengkapan medis. Wanita itu mendekati ranjang paling kanan. Dia mengamati dengan seksama.
Tak seberapa lama, Juma kembali membawa set perawatan dasar lengkap. Dia membersihkan luka itu, lalu menutupnya dengan kasa setelah mengoleskan salep yang membantu supaya luka lekas menutup. Namun, belum juga Juma pindah dari tempatnya, kasa sudah merah. Dia mengernyit.
"Kondisi anak ini sepertinya parah. Aku sudah mengobati dan menutup lukanya, tapi apa? Pendarahannya tidak mau berhenti."
"Kau saja yang kurang becus. Sebelum kau lepas plesternya, dia Sama sekali tidak apa-apa," olok wanita itu.
"Sepertinya, kita perlu menciptakan sesuatu yang bisa menghentikan pendarahan seperti ini, Nona Petamana Mwiny," seloroh Juma, "Seperti plester-plester ajaib ini misalnya."
Juma sudah mengganti bebatan, tetapi darah tetap merembes, tidak bisa menekan pendarahan seperti plester yang tadi dicabutnya. Padahal, plester itu tampak seperti plester medis biasa.
"Kita sudah menciptakan yang lebih dari itu. Kita akan menerapkan serum itu padanya," kata Petamana tersenyum lebar.
"Hei, apa itu sudah dipastikan aman? Bukankah dua objek meninggal gara-gara itu? Katanya, kau menyayangkan pemuda ini?"
"Itu lebih aman daripada pencangkokan. Aku sudah memperbaiki dan mengembangkannya."
Petamana berjalan lebih dalam, menuju tempat tabung-tabung serum disimpan. Dia kembali dengan suntikan yang terisi penuh."
__ADS_1