
Rumah sakit Tokyo, 2 Mei.
Dua aparat kepolisian yang mengantar Sanubari duduk di depan ruang UGD. Mereka berdiskusi tentang hasil penyelidikan. Seorang menatap pintu ruang rawat. Sementara yang satu lagi berbicara sambil menggeledah tas di tangan.
"Kou ni nattara, kare wo tsukamu koto ga dekimasen. Bideo wa kare ga kyakusha ni deiri suru koto dake o shimeshimashita. Kare wa tebukuro o hamete imasen. Unten-shitsu ni wa shimon ga mattaku arimasen."
Salah satu dari mereka berkata bahwa Sanubari tidak bisa ditangkap. Tidak ada bukti yang cukup untuk mendakwanya. Rekaman video pengawas pun hanya memperlihatkan Sanubari yang keluar masuk gerbong penumpang.
"Kontorōrusentā kara no chōsa kekka wa dōdesu ka?" Inspektur menanyakan bagaimana hasil penyelidikan dari pusat kontrol, berpikir barang kali bisa dijadikan bukti.
"Jiken tōji, heya ni wa dare mo inakatta. Chūō seigyo shisutemu mo mondainai yōdesu. Shinkansen wa jiriki de ugoite iru yōdatta."
Kereta tersebut seolah-olah bergerak sendiri tanpa awak. Hasil laporan dari pusat kontrol pun tidak ada orang yang mengendalikan dari sana pada waktu kejadian.
"Shinkansen wa yūrei ni yotte ugokasa rete iru to iitaidesu ka?" Inspektur itu seolah ingin mengkonfirmasi maksud rekannya yang sepertinya mempercayai bahwa kereta peluru tersebut digerakkan hantu.
Dengan ragu, rekannya itu menjawab, "Sou miemashita ga ...."
"Aiu koto wake nai ndeshou?" Inspektur tersebut tetap membantah bahwa hal semacam itu bisa terjadi.
"Shikashi, jissai wa sōdesu. Ressha o jiriki de ugokasu koto ga dekiru enjin no fusoku wa arimasen."
Namun, fakta yang tertangkap dalam pengamatan mereka memang demikian. Tidak ada kerusakan mesin yang bisa membuat kereta bisa bergerak sendiri.
"Soredewa, sono seinen ga ekiin o nagutta koto ni tsuite dō setsumei shimasu ka?" Inspektur masih saja menuntut penjelasan logis atas kasus pemukulan yang dilakukan Sanubari terhadap petugas stasiun.
"Tabun sore wa tada no genkakudeshita. Netsu ga dete muyūbyō ni natte irukara kamo shiremasen ...."
Dugaan pertamanya, Sanubari hanya berhalusinasi jika apa yang dikatakan petugas stasiun itu benar. Bisa jadi Sanubari mengalami somnabulisme.
"Muyuybyou?" Somnabulisme menjadi istilah baru yang diketahui sang inspektur.
"Ne Nagara, aruki Toka, nan Toka yatteru to iu koto desu." Rekan satu timnya pun menjelaskan bahwa somnabulisme adalah penyakit berjalan atau beraktivitas sambil tidur.
Melihat kondisi Sanubari saat ini, bisa jadi apa yang dikatakan petugas stasiun pada pihak kepolisian itu ada benarnya. Bisa jadi Sanubari mengalami gangguan mental, atau mungkin itu efek samping demam yang dideritanya.
Dia ikut mengangkat tubuh Sanubari saat hendak dipindahkan ke mobil. Sehingga, dia bisa memperkirakan bahwa Sanubari sedang demam, meskipun dokter belum berkata apa-apa. Polisi itu bisa merasakan suhu tubuh Sanubari yang sangat tinggi.
"Sono Ue, kare wa Onyoudan no menbādesu. Kono soshō o hōtei ni mochikomu no wa muzukashī desu ne," tambahnya merasa ini sulit dibawa ke ranah hukum.
Alasan lain mereka tidak bisa menangkap Sanubari adalah karena anak itu anggota dari Onyoudan. Dia menemukan kartu anggota Sanubari saat menggeledahnya.
__ADS_1
Inspektur membenarkan pendapat itu. Sepertinya, mereka tidak memiliki pilihan selain melepaskan Sanubari dan menutup kasus. Toh, tidak ada satu pun pihak yang dirugikan.
Di ruangan UGD, dokter melakukan serangkaian pemeriksaan pada Sanubari. Petugas medis itu juga mengambil sampel darah untuk uji lab. Setelah menyuntikkan cairan, dokter tersebut keluar. Inspektur memerintahkan pada petugas medis untuk memindah Sanubari ke ruang naratama jika memang diperlukan rawat inap.
Sanubari tak sadarkan diri sampai sore menjelang. Ketika dia membuka mata, kepalanya pun masih agak pening.
"Konnnichiwa! Go kigen wa ika ga deshou KA?"
Suara seorang perawat perempuan tiba-tiba terdengar. Bahasanya sangat sopan, menanyakan bagaimana keadaan Sanubari. Yang tentunya tidak bisa dipahami remaja itu. Ilmunya belum mencapai level itu.
"Boku no mono wa ...." Tanpa menjawab, Sanubari malah berbalik menanyakan barang-barangnya.
"Kaban toka desu ne? Eeto, chotto matte!"
Perawat itu dengan sabar menanggapi Sanubari, mencari barang-barang yang dimaksud seperti tas dan lainnya. Selagi memeriksa ruangan, dia menyuruh Sanubari menunggu.
Sanubari berusaha duduk. Dia tampak bingung. Entah sejak kapan, dirinya berada di atas ranjang. Ruangan ini lebih luas dari ruang petugas stasiun sebelumnya. Gorden tersibak seperempat ketika dia menoleh ke kanan.
Ketika dia kembali meluruskan kepala, televisi cukup lebar terpajang rata dengan dinding. Tak jauh dari televisi juga ada almari. Jas hitam tergantung di sana. Seketika itu juga, Sanubari memeriksa pakaiannya. Hanya kemeja yang dua kancing teratasnya telah dibuka. Artinya, jas yang tergantung itu miliknya. Sofa dan meja pun tertata rapi di salah satu sisi ranjang.
"Koko ni arimasu Yo!"
Sanubari masih tampak linglung. Kendati demikian, kesadarannya menyuruhnya untuk segera pergidari sana. Dia harus segera bertemu Abrizar, Eiji, dan Anki.
Tanpa mengelap peluh yang entah sejak kapan bercucuran, Sanubari menyibak selimut. Dia turun dari ranjang, memakai jas dan sepatu,lalu memeriksa barang-barangnya. Setelah yakin tidak ada yang tertinggal, Sanubari keluar. Dia mendongak begitu melewati pintu.
"VIP?" Dahi Sanubari mengerut.
Remaja itu memijat pelipis yang peningnya kembali kambuh. Dengan sedikit terhuyung, dia meninggalkan ruangan itu.
"Apa penangkapan tadi hanya halusinasiku?" batin Sanubari yang saat ini dalam fase tidak bisa membedakan antara kenyataan dan alam bawah sadar.
Ingatannya benar-benar rancu. Tiada batas jelas antara fakta dan bukan. Sanubari mencoba bersikap masa bodoh dengan kondisinya itu. Yang terpenting sekarang adalah keluar.
Berjam-jam Sanubari berjalan melewati lorong bak labirin, naik-turun elevator. Namun, dia tak kunjung menemukan pintu keluar. Dia tersesat dalam gedung.
"Ah, kenapa tempat ini sangat rumit?" Sanubari berjongkok sambil memegangi kepala. "Pada siapa aku harus bertanya?"
Ke mana pun Sanubari menoleh, tidak satu pun manusia bisa dia temukan. Lantai tempatnya berpijak sekarang sangat sepi.
"Tahu begini, seharusnya aku tadi menunggu suster itu kembali."
__ADS_1
Sanubari sedikit menyesali keputusannya. Ingin rasanya dia melompat dari jendela andai menemukan. Sayangnya, hanya tembok yang dari tadi Sanubari lihat. Dia sama sekali tak memiliki bayangan berada di lantai berapa. Sampai akhirnya, ponsel Sanubari bergetar.
Sanubari mengambil ponselnya. Nama Abrizar terpampang dilayar. Dia lekas menekan Tombol hijau.
"Sanu, ada apa? Kenapa kau di rumah sakit?"
Sanubari tersentak. "Bagaimana Kakak tahu? Kupikir aku masih di stasiun. Apa Shinkansen tadi berhenti di stasiun rumah sakit?"
,"Tidak, Sanu. Shinkansen tadi kuhentikan di stasiun Tokyo. Seharusnya, kau sudah tiba di Nagoya sejak tadi. Tapi, sampai sekarang kau belum muncul juga. Jadi, aku melacak posisimu melalui ponselmu."
Memikirkan antara stasiun dan rumah sakit membuat denyutan di kepala Sanubari lagi-lagi kambuh. Dia berusaha untuk tidak terlalu memedulikannya. Kalimat dari Abrizar pun tidak dia simak baik-baik. Yang jelas, dia senang mendengar suara lelaki itu saat ini.
Sanubari seperti mendengar malaikat penolong dari seberang. "Kak Abri, aku tersesat di gedung ini. Bantu aku mencari jalan keluar!"
"Dasar kau ini! Kok bisa-bisanya nyasar di rumah sakit. Sebenarnya, apa yang kau lakukan, hah?"
"Aku juga tidak tahu." Sanubari terkekeh. "Yang penting, bantu aku keluar dari sini!"
"Oke, sedang kuusahakan. Buka saja aplikasi petamu! Pengiriman navigasi sedang berlangsung."
"Baiklah."
Sanubari mengikuti instruksi Abrizar. Petunjuk arah itu telah sampai padanya. Sanubari berdiri, berjalan mengikuti garis biru yang tergambar di layar.
Ketika berhasil keluar, langit telah berwarna jingga. Sanubari berlari menuju stasiun, bertanya di mana dia bisa membeli tiket Shinkansen. Dia pun di arahkan ke stasiun besar.
Sanubari bergerak cepat. Sayang, usahanya berbuah tangan kosong. Dia sempat memohon-mohon. Tetap saja tiket tidak didapatkannya. Bus pun tidak ada yang berangkat.
Sanubari bertolak ke bandara. Hasilnya, sama saja. Semua penerbangan lokal dihentikan. Kecuali, penerbangan ke Kyushu tanpa transit.
Kebuntuan ini membuat Sanubari mendesah kesal. Letih, lesu, lelah terasa lebih berat dari biasanya. Mungkin karena kondisi tubuhnya yang memang kurang prima. Acap kali pandangannya berkunang-kunang, membuatnya nyaris limbung beberapa kali.
Namun, Sanubari tetap memaksa tubuhnya untuk bergerak, meski sesekali dia harus duduk di tengah jalan untuk sejenak memperoleh keseimbangan kembali. Tak masalah bila orang-orang akan menganggapnya aneh. Mereka hanyalah orang asing yang sambil lalu.
Tekadnya sudah bulat. Dia tidak akan berhenti sampai tujuannya tercapai, sampai mendengar kabar baik dari Eiji dan Anki.
Sanubari tidak memiliki cukup tenaga untuk bergerak lagi. Dari pagi sampai malam, perutnya Belum diisi. Dia pun memasuki sebuah restoran, lalu memesan sesuatu.
Saat hendak menghubungi ABRIzar, tiba-tiba seseorang menghampirinya. Orang itu bertanya, "Boleh duduk di sini?"
Sanubari mendongak. Pria muda berambut putih tersenyum, iris birunya menatap ramah padanya.
__ADS_1