
Malam semakin larut. Pegawai dan pengunjung yang masih tertahan di gedung Blitos dipulangkan. Dengan catatan mereka mengisi data pribadi dan diserahkan kepada polisi yang berjaga di pintu keluar. Hal ini dilakukan untuk kepentingan penyelidikan. Pihak kepolisian mengantisipasi andaikata perkiraan mereka meleset.
Lantai enam ke bawah telah sepi, menyisakan lantai tujuh yang masih menampakkan tanda-tanda kehidupan. Penghuni lantai tujuh sengaja belum diperbolehkan pulang karena besar kemungkinan pelaku tindak kriminal masih berada di sekitar sana.
Para penyidik sedang berjibaku dengan otak masing-masing, saling bertukar pendapat untuk mempertimbangkan segala kemungkinan yang ada. Mereka mengemban tugas berat. Penentuan tersangka tidak boleh dilakukan asal-asalan. Sebab, ini menyangkut hak asasi manusia yang harus dijunjung tinggi.
Kasus segar seharusnya tidak lebih sulit daripada kasus yang terpendam selama bertahun-tahun. Namun, kondisi barang bukti yang tidak biasa membuat mereka kesulitan menentukan arah berikutnya dari hasil penyelidikan.
"Hantu pembunuh?" kata Jin menghela napas ketika mendengar diskusi para penyidik, "tidak ada yang namanya hantu membunuh manusia. Yang ada, manusia itu sendirilah yang menjadi hantu sesungguhnya bagi manusia lainnya."
Jin duduk bersedekap menyandarkan punggung pada kursi bioskop dengan kaki kanan dia tumpangkan ke paha kiri. Sanubari duduk di sebelah Jin sambil menirukan gayanya. Mereka berdua duduk tidak jauh dari tim investigasi, menguping pembicaraan para petugas kepolisian.
"Ha-ha-hantu? Di sini ada hantu?" Nyali Sanubari mendadak menciut. Keberanian yang baru saja ia bangun mendadak runtuh kembali hanya karena satu kata—hantu.
Melirik pada bocah di sebelahnya, jiwa jahil Jin tergoda. Ia tidak bisa melewatkan kesempatan untuk mengerjai Sanubari. Padahal keadaan sedang genting tetapi ide tidak berguna itu malah muncul di otaknya.
Bukan Jin namanya bila ia tidak merealisasikan inspirasi yang dengan suka rela melintas. Pemuda itu pun menyondongkan badan pada Sanubari. Dia mulai menakut-nakutinya.
"Ya, di sini ada hantu. Hantu wanita yang terbunuh tadi duduk di sebelahmu. Dia menatapmu dengan leher yang terus mengeluarkan darah," bisik Jin tepat di sebelah telinga Sanubari.
Intonasi bicaranya dibuat-buat, mendramatisasi kalimat dengan penekanan pada setiap kata. Sanubari menutup telinganya. Ia tidak mau lagi mendengar sugesti Jin yang membuatnya semakin gelisah.
"Wanita itu berkata padamu, bersihkan ... bersihkan bajuku!" goda Jin dengan suara yang semakin direndahkan hingga agak mendesah, "ow, lihatlah! Tangannya menjulur. Dia hendak menyentuhmu."
"UWAAAAAAAA!" Sontak saja Sanubari terlonjak dan melompat ke pangkuan Jin. Dia memeluk Jin dengan ketakutan.
Jin tertawa terbahak-bahak. Di ruangan terang dan banyak orang, Sanubari ternyata tetap bisa ketakutan. Gara-gara teriakan Sanubari, para polisi menoleh padanya. Jin segera minta maaf lalu menghibur Sanubari.
"Tidak ada yang namanya hantu di sini."
"Ti-tidak ada?"
__ADS_1
"Ya, aku hanya membohongimu."
"Kak Penculik Baik Hati Jahat!"
"Hey-hey, apa ada orang baik hati yang bisa dibilang jahat?"
"Ng ...." Sanubari berpikir. Otaknya sedang memproses apa itu yang namanya baik tetapi jahat.
"Katanya mau jadi anak berani tapi begitu saja takut. Dasar Cemen!"
"Masalahnya ini hantu. Kalau hantu aku tidak bisa ...."
"Ya ya ya bilang saja kalau kau ini masih menjadi penakut," ejek Jin.
Mereka berdua pun berdebat. Sementara itu, para penyidik telah mengambil keputusan. Di antara semua kemungkinan yang mustahil, para polisi memilih keputusan yang menurut mereka mendekati benar. Mereka membereskan barang masing-masing, mengamankan barang bukti lalu mendekati Sanum.
"Saudari Sanum, Anda kami tahan karena dugaan pembunuhan berencana terhadap korban bernama Dara," ucap seorang penyidik yang kemudian memborgol Sanum.
Aeneas tidak tahu ucapan mereka tetapi ia terkejut dengan tindakan tiba-tiba orang berseragam polisi tersebut. Tangan Sanum diborgol, jelas itu kondisi yang tidak sedang baik-baik saja. Aeneas menoleh kebingungan pada Kelana, hendak meminta penjelasan. Namun pria Indonesia itu malah berteriak dalam bahasa asing bagi Aeneas.
"Semua bukti mengarah padanya. Jika Anda ingin memberi kesaksian, sebaiknya ikut kami ke kantor polisi untuk proses yang lebih lanjut," respon polisi tersebut.
"Pembunuhan berencana? Bagaimana mungkin kalian bisa menjatuhkan tuduhan tersebut kepada Nyonya Sanum? Sementara nyonya Sanum dan korban saja tidak saling mengenal?" Kelana masih terus mencoba menyampaikan pembelaannya.
"Orang yang tidak saling mengenal pun tetap bisa melakukan pembunuhan berencana. Bisa saja 'kan seseorang membayar jasanya untuk menghilangkan nyawa korban?"
Sanubari melihat ibunya dibawa keluar. Dia pun juga bingung kenapa para polisi itu tiba-tiba mengawal dan membawa ibunya pergi. Terlalu banyak kosa kata baru yang ia dengar hari ini. Ia tidak bisa mencerna semuanya dengan baik sekaligus.
"Kenapa mamak dibawa pak polisi?"
"Sepertinya mereka mengira ibumu yang membuat wanita tadi meninggal. Makanya mereka mau membawanya ke kantor polisi."
__ADS_1
Mendengar itu, Sanubari langsung mengejar ibunya. Mereka sampai di lobi resepsionis dimana tiket nonton bioskop dijual. Semua orang ikut keluar dari studio tiga.
Tinggallah Jin seorang yang masih di ruangan. Ia mengedarkan pandangan ke langit-langit sebelum akhirnya menyusul Sanubari.
"Sudah kuduga," gumam Jin tersenyum penuh arti.
"Mamak!" teriak Sanubari sambil berlari menghampiri ibunya. Ia memeluk sang Ibu yang digiring keluar, "Pak Polisi lepaskan mamakku! Mamak bukan orang jahat!"
"Adik Kecil, mama Adik ini melakukan kesalahan. Dia harus dihukum dulu untuk mempertanggungjawabkan kesalahannya. Nanti boleh pulang kok kalau sudah menjalani hukuman." Seorang polisi berusaha menenangkan Sanubari meskipun ia tidak yakin dengan jawabannya. Sebab, bukan dirinya yang menentukan hukuman.
Hukuman terberat bagi seorang pembunuh adalah hukuman mati. Jika cukup beruntung, mungkin saja Sanum hanya akan mendapatkan hukuman penjara seumur hidup, dua puluh tahun atau lebih singkat. Semua itu akan diketahui setelah putusan hakim keluar. Tentunya setelah melalui rangkaian proses sidang.
"Tunggu dulu! Kumohon berhenti! Kalian tidak bisa membawa bibi Sanum dengan barang bukti yang tak jelas," seru Jin dengan suara lantang.
Ia berusaha menerobos barisan manusia yang berjubal.Dengan tertangkapnya Sanum, semua orang diizinkan pulang. Tentunya dengan prosedur yang sama seperti pada pengunjung di lantai enam ke bawah. Semua karyawan dan pengunjung hari ini harus didata untuk berjaga-jaga.
Namun, banyak pengunjung yang masih enggan keluar karena tidak mau rugi. Sebagian dari mereka berpikir untuk meminta pengembalian uang atau ganti rugi setara karena acara nonton terganggu akibat insiden sebelumnya.
Seruan Jin berhasil menarik perhatian semua orang. Tidak terkecuali para polisi. Mereka semua berhenti di depan tempat penjualan tiket.
Salah seorang dari polisi menoleh pada Jin. "Apa maksudmu, Anak Muda? Jelas wanita ini berada di samping korban ketika pembunuhan terjadi dan tidak ada orang lain yang mendekat. Memangnya siapa lagi pelakunya kalau bukan dia?"
———©———
Catatan Penulis :
Cukup sulit rupanya membuat cerita realistis karena penulis harus mempelajari banyak hal baru. Tentunya supaya cerita bisa sedekat mungkin dengan kenyataan.
Tidak akan ada hantu di sini. Berhubung ini bukanlah cerita horor. Hehe.
Simak detektif Jin mengungkap trik pembunuhan besok!
__ADS_1
Jangan lupa tulis komentar ya, Kawan!
Follow Instagram @chonurv juga bila mau!