Santri Famiglia

Santri Famiglia
Tangan Emas


__ADS_3

Canda dan satu ilmuwan berlari terburu-buru ke kamar Sanubari. Keringat sampai bercucuran. Dari jendela pada pintu, keduanya tahu sesuatu tidak beres sedang berlangsung dalam ruangan.


Dokter memegang alat kejut yang diterapkan pada Sanubari. Itu membuat Canda dilanda kecemasan. Jika jantung itu berhenti berdetak, sia-sia sudah upaya mereka. Tanpa mengetuk, mereka membuka pintu kamar begitu saja. Kondisi sudah sangat genting.


Canda dengan jeli memperhatikan ruangan. Dia butuh sesuatu untuk memasukkan formula di tangannya ke tubuh Sanubari. Pandangannya terhenti pada sebuah meja di dekat perawat. Dia lekas menyambar sebuah suntikan baru yang berjajar rapi dengan obat-obatan lain. Dengan tergesa, dia memindahkan cairan ke tabung suntikan.


Malaikat maut terasa bersama mereka dalam ruangan itu. Begitu dekat, sampai semua orang merasa sesak. Pekerjaan mereka sedang ditinjau langsung oleh malaikat maut. Bila mereka gagal, malaikat maut siap menggantikan.


Bunyi pip panjang masih menjadi musik horor ruangan itu. Garis datar belum juga memperlihatkan tanda-tanda akan kembali.


Suasana kian mencekam Dari detik ke detik. Pendingin ruangan pun seolah kehilangan fungsi. Keringat sebesar biji jagung menuruni pelipis semua orang.


Canda meraih tangan Sanubari tanpa mengganggu dokter yang berusaha mengembalikan detak jantung. Dia menyuntikkan cairan itu ke tubuh Sanubari. Dia harap tindakannya belum terlambat.


"Biar kucoba lakukan," pinta Canda setelah meletakkan suntikan.


Dokter yang setengah pasrah itu pun mengalihkan tugasnya pada Canda. Jantungnya berdebar khawatir karena upayanya belum jua membuahkan hasil.


Aeneas terus berdoa dalam hati supaya Sanubari baik-baik saja. Air mata menetes begitu saja ketika menyaksikan sang putra diambang Kematian. Dadanya terasa sesak. Tangan terkepal guna menahan gejolak yang lebih liar.


Namun, di tangan Canda, liuk-liuk kecil pada garis kembali muncul jarang-jarang. Hanya tiga kali tekanan, garis naik turun itu bertambah banyak. Garis-garisnya belum stabil, tetapi Canda meletakkan alatnya. Dia beralih melakukan pijat refleksi pada Sanubari.


Hanya titik-titik tertentu yang dia pijat. Namun, jantung Sanubari berangsur stabil. Bunyi pip panjang berhenti, digantikan bunyi yang lebih teratur.


Dokter yang berada dalam ruangan tercengang. Kekagumannya tergambar jelas di raut mukanya. Dia tersenyum tidak percaya.


Senyuman tipis juga terbit di wajah sosok orang tua tunggal. Aeneas duduk di sebelah ranjang Sanubari. Dia menggenggam tangan muda itu dan menempelkannya pada keninya.

__ADS_1


"Syukurlah."


Suara Aeneas sangat pelan. Masa kritis belum berlalu, tetapi cukup melegakan mengetahui jantung Sanubari berdetak kembali. Itu saja sudah cukup bagi Aeneas saat ini.


"Anu, maaf. Profesor Canda, sebaiknya Anda tetap di sini. Jika sampai terjadi seperti tadi, kami ...."


Dokter memohon. Dia hampir saja mati lemas. Bila yang ditanganinya pasien biasa, reaksinya tidak akan seperti ini. Status pasien yang tidak biasa membuatnya was-was sepanjang waktu. Kesalahan sekecil apa pun mungkin tidak akan termaafkan.


Perawat yang mendampinginya juga ketar-ketir. Dia bergeming. Dia hanya bergerak atas perintah dokter. Andai bisa, dia ingin segera keluar dari ruangan tersebut. Sayangnya, pergantian giliran jaganya masih lama.


"Tidak apa-apa. Jika ada tanda-tanda jantungnya melemah, beri penguat saja! Kondisinya akan berangsur membaik setelah vaksin bekerja," jelas Canda tanpa keraguan.


Jika formula bisa bekerja sesuai hasil penelitian meski dalam tubuh, seharusnya semua akan baik-baik saja. Formula itu hanya akan membunuh sumber penyakit. Mengenai formula itu memiliki efek samping, mampu mengembalikan vitalitas tubuh atau tidak, Canda belum tahu. Masih butuh penelitian lanjutan untuk memastikannya.


"Kakek Canda, saya rasa kami akan lebih tenang bila Anda tetap di sini bersama kami," ucap Kelana ikut menahan Canda.


Dia belum bisa tenang sebelum melakukan uji coba lanjutkan. Semua diracik dalam waktu yang serba tergesa. Canda khawatir akan ada hal kecil yang terlewatkan.


"Penelitian di laboratorium,, biar kami saja yang melanjutkan. Kami akan melakukannya sesuai catatan Anda. Profesor bisa tetap di sini," ucap ilmuwan yang menyertai Canda.


Dia paham betapa gentingnya kondizi di sini. Mereka nyaris saja terlambat.


Canda menatap Sanubari sejenak. Sebenarnya, tidak masalah meninggalkannya pada dokter sekarang. Namun, dia memutuskan menetap setelah mengingat dokter hampir saja gagal mempertahankan nyawa Sanubari.


Dia pun mengatakan, "Baiklah. Bawa ke mari lagi jika kalian berhasil meracik yang lain dan terbukti aman."


Sungguh keterlaluan orang-orang yang sengaja menciptakan penyakit ganas seperti itu. Sanubari yang semula sehat sampai jatuh tidak berdaya.

__ADS_1


Tiba-tiba, Aeneas bertanya, "Apa orang yang menyebabkan Sanu seperti ini sudah tertangkap?"


"Belum, Tuan. Dari data perusahaan, yang membeli dengan nomor seri itu adalah orang Kazakhstan. Dia juga memesan seribu partisi tambahan. Sayangnya, orang tersebut meninggal setelah menerima paket aifka ...."


Penyelidikan terus dilanjutkan. Tim intelijen meretas sistem untuk mengetahui kepada siapa aifka dialihkan. Lagi-lagi, yang mereka temukan adalah data tentang orang meninggal.


Jadi, mereka belum tahu siapa pemilik kontrol induk. Sementara kontrol turunannya telah diberikan kepada banyak orang yang tersebar di beberapa negara. Penyelidikan dikerucutkan pada aifka yang tersebar di Indonesia.


Kelana menyebutkan, "Sekretaris wali kota Blitar—Sasasih Ayunda. Juru kunci kuburan—Wongso. Konselor capres nomor dua—Ajidaya Sakabumi ...."


Mereka semua memegang kendali untuk wilayah Indonesia berbeda daerah. Latar belakang masing-masing pun diselidiki. Tidak ada di antara mereka yang tampak pernah berhubungan dengan Sanum maupun Sanubari, kecuali Wongso.


Wongso adalah ayah Aldin—teman sekelas Sanubari semasa sekolah. Aifka yang diberikan Eiji dikendalikan olehnya.


"Setiap aifka disi data warga. Jadi, kami belum tahu pasti apakah Wongso sengaja memasukkan data tuan muda atau namanya memang sudah terdaftar karena tuan muda warga asli sana."


Kelana agak ragu untuk langsung mengeksekusi perorangan. Kasus ini tampak abu-abu. Entah mengapa dia merasa masalah tidak akan selesai begitu saja bila induknya tidak ditemukan.


"Aku tidak peduli dia bergerak sendiri atau suruhan. Yang penting, habisi semua! Jika dia memang bekerja untuk orang lain, paksa untuk mengaku! Rampas juga semua partisi itu dari mereka!" titah Aeneas dingin.


Dia sangat murka dengan kejadian ini. Sangat ironis. Putranya terluka karena teknologi besutan perusahaan Aeneas sendiri.


Canda sejujurnya tidak setuju dengan keputusan Aeneas. Akan tetapi, dia paham betapa putus asanya Aeneas sekarang. Orang-orang itu berusaha melukai keluarganya. Dia hanya ingin melakukan pembalasan.


Andai ada seseorang melakukan hal serupa pada Zunta, Canda mungkin juga akan bertindak seperti Aeneas. Dia tidak bisa ikut campur lebih dalam pada urusannya. Tugasnya di sini hanya membantu kesembuhan Sanubari. Dia tidak akan terlalu memikirkan hal lain.


"Kami sedang mengusahakannya, tapi untuk merampas aifka, kami tidak bisa. Animatronik-animatronik itu mendadak lenyap. Teknisi kita tidak bisa menemukan jejaknya. Di Indonesia sekarang juga sedang terjadi kegemparan lain."

__ADS_1


__ADS_2