Santri Famiglia

Santri Famiglia
Ujian


__ADS_3

Sanubari sangat gugup, sampai-sampai dia lupa seluruh bahasa Jepang yang dikuasai. Tak satu pun kata muncul di otak, kecuali kata ganti orang. Padahal sebelumnya dia sangat fasih dalam percakapan, meskipun yang dipakainya hanya bahasa informal.


Alih-alih menjawab dengan bahasa Jepang, Sanubari malah membalas menggunakan bahasa Indonesia, "Aku ... aku ingin bergabung dengan Onyoudan."


Pria penindas itu mengerutkan dahi. Dia tidak mengerti ucapan Sanubari. Meskipun demikian, dia tetap menghampiri Sanubari, mendorongnya sedikit menjauh dari pintu, lalu merangkulnya. Pria itu tertawa.


Pintu tertutup. Sanubari benar-benar terkurung di tempat ini yang sedang dalam situasi tidak menyenangkan. Mendadak nyali Sanubari menciut. Dia tertunduk sambil memegang tali tas.


Lelaki yang ditindas terdiam. Dia memegang pisau tanpa melakukan apa pun. Tampaknya perhatiannya juga teralihkan pada Sanubari yang baru datang. Sementara yang lain sudah memperhatikan Sanubari dari tadi. Hanya saja, tidak ada yang berani mendekat karena senior mereka sedang melakukan hukuman.


Iris mata hijau Sanubari cukup menyita perhatian semua orang. Sudah cukup mengatakan bahwa Sanubari bukanlah orang Jepang.


Pria penindas itu kembali memperhatikan pria yang duduk di lantai. Dia sekali lagi menyuruh pria itu untuk segera melakukan hukumannya.

__ADS_1


Pria yang duduk pun meletakkan tangan kanannya di lantai. Pisau di tangan kiri terangkat. Perlahan, mata pisau makin mendekati telapak tangan yang terentang.


Sanubari spontan melihat karena penasaran. Dia jadi ikut ketakutan. Pikirannya berkecamuk. "Apa? Apa yang akan dia lakukan? Apa dia akan memotong jari atau menusuk telapak tangan?"


Mana pun pilihannya sama saja. Sama-sama menyakitkan. Sanubari ngeri membayangkannya. Ia menggelengkan kepala, tak ingin itu terjadi padanya. Detik itu juga, Sanubari ingin kabur dari tempat itu.


Akan tetapi, pria penindas merangkulnya sangat erat. Sanubari tidak bisa diam-diam kabur. Ketegangan telah menjalar ke seluruh tulang hingga menyebabkannya hanya bisa bergerak kaku.


Pria yang duduk itu berteriak. Pisau mulai diayunkan. Sanubari memalingkan pandangan, tak ingin melihat proses berdarah itu. Satu ayunan mantap menghantam lantai. Sanubari bisa mendengarnya. Sebuah bagian tubuh terlepas dari tempatnya.


"Tidak ada darah?" pikir Sanubari merasa aneh. Mau tak mau dia harus melihatnya untuk mengobati rasa penasaran.


"Aniki, kore d ini no kana?" Dia bertanya apakah potongan tersebuy cukup untuk menebus kesalahannya.

__ADS_1


Pria penindas di sebelah Sanubari melihat sepotong kuku di telapak tangan pria itu. Dia mengangguk lalu menyuruhnya pergi setelah memberi peringatan tegas. Pria itu pun mengembalikan pisau lalu berpamitan.


"Syukurlah cuma kuku.," Batin Sanubari menghela napas lega.


Dia sudah berpikir yang aneh-aneh. Faktanya kenyataan tak seburuk imajinasinya. Keberaniannya mulai muncul kembali.


Tiba-tiba, pria yang tadi dianggap penindas oleh Sanubari memperkenalkan diri. Namanya Miyajima Okayama—salah satu ketua di Nagoya. Dia tersenyum sangat ramah. Lelaki itu juga meminta maaf atas kejadian yang kurang sedap dipandang barusan.


Sanubari sampai melongo. Bisa-bisanya Okayama bersikap beringas sekaligus lembut di waktu yang bersamaan. Sanubari tidak mengerti mengapa diperlakukan sebaik ini.


Dia pun menyampaikan keinginannya untuk masuk Onyoudan. Sanubari pun dialihkan ke wanita resepsionis.


Resepsionis itu mengatakan, "Uchi no dantai no membaa ni naru tame ni nouryoku shiken wo ukeranakereba narimasen."

__ADS_1


"Nouryoku shiken?" ulang Sanubari tidak percaya.


Dia baru tahu jika untuk menjadi anggota Yakuza harus melalui ujian. Seperti anak sekolah saja.


__ADS_2