Santri Famiglia

Santri Famiglia
Sudah Menikah


__ADS_3

Wanita berusia enam puluh tahunan berjalan mendekati mereka. Aeneas dan yang lainnya pun menoleh ke sumber suara. Wanita itu berambut putih dan beriris mata biru. Wajah dan perawakannya nampak lebih muda dari usianya. Penampilannya seperti ibu-ibu sosialita yang kekinian.


Dengan geram dia mendekati kerumunan lalu menjewer telinga Aeneas.


Wanita itu menggerutu, "Bambino cattivo! È cresciuto ma è ancora infantile. Alla richiesta di sposarsi, è scappato via, è timido!"


(Dasar Anak Bandel! Sudah gede tapi masih saja kekanakan. Disuruh nikah malah kabur. Malu-maluin saja!)


Wanita itu menyeret Aeneas ke sofa. Dia berniat melakukan pembicaraan serius dengan putranya yang dianggap seperti anak kecil. Dia sudah tidak tahan dengan sikap Aeneas. Lusinan gadis cantik ditolak oleh putra tunggal keluarga Gafrillo itu ketika coba ia perkenalkan padanya.


Terakhir dia merencanakan pertemuan Aeneas dengan beberapa gadis pilihan lainnya. Namun, pertemuan yang telah diatur itu mendadak dibatalkan semua secara sepihak oleh Aeneas. Kemudian, pria itu mendadak hilang tanpa kabar.


Dia harus mengancam satu per satu asisten pribadi Aeneas untuk mengetahui keberadaannya. Barulah ia tahu bila Aeneas sedang bersama Kelana tetapi tidak ada dari mereka yang berani memberitahukan tempat keberadaan Aeneas. Hari itu juga dia langsung menghubungi Kelana. Tidak peduli waktu masih menunjukkan dini hari.


Ya, dialah wanita yang menelepon Kelana ketika masih di sekitar Monas. Dialah Asia—ibu biologis Aeneas. Wanita yang telah melahirkan Aeneas tiga puluh enam tahun silam.


Aeneas tidak berani melawan atau pun protes kepada ibunya. Dia hanya bisa mengikuti kemana sang Ibu menyeretnya. Baginya, ibu adalah keberadaan yang harus dihargai dan dijunjung tinggi martabatnya.


Aeneas mencoba menjelaskan, "Non sono scappato."


(Aku tidak kabur)


Asia dengan tegas memerintah, "Sedere!"


(Duduk!)


Setelah membuat Aeneas duduk, Asia duduk di seberang Aeneas. Kemudian, dia memanggil wanita yang sebelumnya memeluk Aeneas. Dia menyuruh gadis dua puluh dua tahun itu untuk duduk di sebelahnya.


"Cosa non è scappato? Hai lasciato all'improvviso l'Italia. Il telefono non era raggiungibile. È così che si chiama non scappare?"


(Apanya yang tidak kabur? Kau tiba-tiba meninggalkan Italia tanpa pemberitahuan. Ponsel tidak bisa dihubungi. Itu yang kau sebut tidak kabur?)


"Ma davvero non sono scappato."

__ADS_1


(Tapi aku benar-benar tidak kabur.)


"Non voglio più sentire le tue scuse. Hai ignorato il mio avvertimento. Questo significa che non puoi più discutere con me. In ogni caso devi sposare Ilda!"


(Aku tidak mau dengar alasanmu lagi. Kau sudah mengabaikan peringatanku. Itu artinya kau tidak bisa lagi membantahku. Mau tidak mau kau harus menikah dengan Ilda!)


Wanita yang duduk di sebelah ibu Aeneas adalah Matilda Roselini. Gadis yang menyukai Aeneas sejak kecil. Tidak peduli dengan usia mereka yang terpaut jauh.


Dia sering berusaha menggoda Aeneas ketika pria itu pulang ke rumah ibunya. Dia juga mendekati Asia dengan harapan wanita itu bisa memperlancar keinginannya terwujud. Sebab, Matilda tahu bahwa lelaki yang sulit dia taklukkan itu sangat menghormati ibunya.


"Forse l'amore tra noi non è ancora sbocciato. Ma sono sicuro che l'amore crescerà da solo dopo che ci saremo sposati."


(Mungkin cinta di antara kita belum bersemi sekarang. Tetapi aku yakin cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya setelah menikah nanti.)


"Scusa. Ma non posso sposarti."


(Maaf, tapi aku tidak bisa menikah denganmu, Ilda.)


"E allora? Non sono abbastanza bella?"


"Sei così bella ma non potrò mai amarti."


(Kau sangat cantik tapi aku tidak akan pernah bisa mencintaimu.)


"Basta, Aeneas! Non farle più del male! La mia decisione è presa. Devi sposarla! Ilda è l'ultima ragazza che tua madre ha scelto per te."


(Cukup, Aeneas! Jangan sakiti perasaannya lagi! Keputusanku sudah bulat. Kau harus menikah dengannya! Ilda adalah gadis terakhir pilihan ibu untukmu.)


"Non posso avere più di una moglie. Sono sposato. Non sono andato a scappare. Ma a portare a casa mia moglie ei miei figli."


(Aku tidak bisa memiliki lebih dari satu istri. Aku sudah menikah. Aku pergi bukan untuk kabur. Tetapi untuk membawa anak dan istriku pulang.)


"Questa deve essere solo una tua invenzione per evitare questo matchmaking, giusto?"

__ADS_1


(Ini pasti hanya karanganmu unmuk menghindari perjodohan ini, kan?)


"Non sto mentendo. Mi sono sposato undici anni fa. Se vuoi che mi sposi, sposerò la stessa donna. Ti ho anche dato i nipoti che vuoi. Ne farò altri dopo se vuoi più nipoti ."


(Aku tidak bohong. Aku sudah menikah sebelas tahun yang lalu. Bila ibu ingin aku menikah maka aku akan menikahi wanita yang sama. Aku juga sudah memberikan cucu yang ibu inginkan. Nanti akan kubuatkan lagi bila ibu ingin lebih banyak cucu.)


Matilda seperti disambar halilintar. Padahal selama ini dia selalu mendengar keluh kesah Asia tentang Aeneas yang lebih memilih mencari anak untuk diadopsi daripada menikah. Dia pikir bila menjalin hubungan baik dengan Asia maka cita-citanya untuk menikah dengan Aeneas akan terlaksana. Namun, pernyataan Aeneas hari ini membuat hatinya hancur.


Asia pun tercengang dengan pernyataan Aeneas. Putranya yang selama ini menolak untuk menikah mendadak berkata bahwa dirinya sudah beristri dan menjadi seorang ayah. Terlebih lagi dia tidak tahu kapan pernikahan itu terjadi. Tentunya ini sulit dipercaya Asia. Wanita itu malah menganggap ada yang salah dengan otak Aeneas.


"Aeneas, hai la febbre o forse il mal d'aereo? Sei stato irremovibile nel non volerti sposare. Perché sembri desideroso di farmi un nipote adesso?"


(Aeneas, apa kau sedang demam atau mabuk pesawat? Selama ini kau bersikukuh untuk tidak menikah. Kenapa sekarang malah seperti terlihat semangat untuk membuatkan ku cucu?)


"Non ho la febbre. Né ho il mal d'aereo. Dico sul serio. Quanti nipoti vuoi? Ora ne ho uno.)


(Aku tidak demam. Tidak pula mabuk pesawat. Aku sungguh-sungguh. Ibu ingin cucu berapa? Sekarang sudah ada satu.)


"Se fossi stato normale avrei risposto alle undici. Ma oggi mi sembra che tu sia fuori di testa. Scusa, Aeneas! È perché mamma insiste sempre a farti incastrare che sei così. Forse dovremmo portati da uno psichiatra prima che sia troppo tardi."


(Andaikan kau normal, pasti kujawab kalau aku ingin sebelas. Tetapi sepertinya kau hari ini kurang waras. Maafkan ibu, Aeneas! Gara-gara ibu selalu memaksa menjodohkanmu, kau jadi seperti ini. Mungkin kita harus segera membawamu ke psikiater sebelum terlambat.)


"Sono ancora sano di mente, Mama. Sono venuto con mia moglie e i miei figli. Mio figlio è molto simile a me. Sono sicuro che ti piacerà. Avresti dovuto prima prestargli attenzione."


(Aku masih waras, ibu. Tadi aku datang bersama anak dan istriku. Putraku sangat mirip denganku. Aku yakin ibu akan menyukainya. Seharusnya tadi ibu perhatikan dulu dia.)


Asia mulai memandang anaknya menjadi menyedihkan. Dia tahu seberapa keras perjuangan Aeneas untuk meraih kesuksesan dan bertahan hidup di luar sana. Dulu Italia menjadi tempat yang sangat berbahaya baginya.


Namun, sepuluh tahun terakhir, Aeneas telah berhasil merubah seluruh wilayah Eropa menjadi tempat aman dan nyaman baginya. Asia pikir sudah saatnya Aeneas berumah tangga karena dia tidak lagi harus berhadapan dengan malaikat maut setiap saat. Apalagi usianya sudah mendekati kepala empat.


Siapa sangka tuntutan Asia untuk membuat Aeneas berkeluarga malah menjadi beban mental baru bagi pria itu. Asia berpikir bahwa Aeneas mulai berhalusinasi memiliki seorang istri dan anak. Asia merasa bersalah. Asia hanya bisa mengiyakan kalimat Aeneas dan berpura-pura menerimanya dengan harapan kewarasannya akan kembali lalu otaknya bekerja normal.


Asia berkata, "Va bene, va bene. Sono così curioso di conoscere la donna che può cambiare il figlio di questa mama. Sei davvero ancora sano di mente, vero?"

__ADS_1


(Oke-oke. Ibu jadi penasaran dengan wanita yang bisa merubah anak ibu ini. Kau benar-benar masih waras, kan?)


__ADS_2