
"Anki wa Koko ni Inai."
Kebohongan Eiji itu membuat sang pendeta paham. Pasti ada sesuatu yang terjadi sehingga kakak satu adik itu sengaja menyembunyikan keberadaan Anki.
Tindakan Eiji itu membuat pria yang tampaknya seorang Yakuza itu membentak geram, "Usotsuku na!"
Dia tidak mempercayai pernyataan Eiji begitu saja. Bagaimanapun, orang-orang kuil ini ada hubungannya dengan gadis itu. Bisa jadi mereka bersekongkol. Dia dan rekan-rekannya tidak akan pergi sebelum berhasil memeriksa semua tempat.
Rekan Yakuza itu pun menimpali, "Nan toshite mo, kanojo o sagashitsuzukeru. Jama shinaide!"
Abrizar yang tidak paham isi percakapan pun hanya diam. Para Yakuza itu belum melakukan serangan. Jadi, Abrizar sendiri tidak yakin harus berbuat apa.
Akhirnya, dia pun bertanya pada pria di sebelahnya, "Anu, Pak Dokter, apa yang dibicarakan orang-orang itu? Kenapa kita berhenti di sini?"
Sang dokter pun menjelaskan, "Mereka memaksa untuk mencari Anki, meskipun Eiji Kun sudah bilang bahwa Anki tidak ada di sini,"
"Anak buah Kim Jong Hyun kah?" Tanpa dijawab pun, Abrizar merasa tahu jawaban atas pertanyaannya sendiri itu.
"Ini gawat!" batinnya didesak kegentingan.
"Kim siapa?" Belum juga mendapat balasan, perhatian sang dokter teralihkan pada sebuah panggilan dari pria bercelana komprang di depannya..
"Maaf, Dokter!"
"Iya."
"Bisakah Anda menggantikan saya membopong pemuda ini?" Mahiru menoleh pada orang di belakangnya.
"Tentu."
"Maaf, sepertinya aku tidak bisa mengantar. Ada tamu yang harus kurus," kata pendeta itu sembari berganti posisi dengan dokter.
"Titip Sanu. Akan kujaga Anki di sini." Begitulah keputusan Abrizar setelah mempertimbangkan segalanya.
Dirinya dan Sanubari sudah susah payah merebut Anki dari Jong Hyun. Tidak akan dia biarkan perjuangan Sanubari sia-sia. Walaupun Abrizar sendiri juga kurang tidur, tetapi kesehatannya jauh lebih baik dari Sanubari sekarang. Jika hanya dua puluh orang, Abrizar merasa mampu menghadapi mereka. Lagipula, ada pendeta yang sepertinya bisa membantu.
__ADS_1
"Kau?" Eiji menoleh pada Abrizar. Dia memberikan tatapan tidak yakin. Tatapannya memindai dari kepala hingga tongkat pembantu itu.
"Kau bisa mempercayaiku tentang ini. Jangan hanya terpaku dengan apa yang tampak di matamu."
"Kudaranai."
Malas mendengarkan percakapan asing yang tidak berguna, dua Yakuza pun melewati mereka begitu saja. Mereka harus segera mencari gadis itu sebelum dia pergi dari tempat ini.
"Futari tomo, motto fukaku iku no wa kinshi desu!" Mahiru mencekal bahu keduanya.
Namun, mereka mengabaikan larangan itu. Keduanya mengedipkan bahu seraya mengempaskan tangan Mahiru.
Protes atas gangguan yang diterima, salah satu dari mereka pun membentak, "Jama suru na tte itta ndarou!"
"Koko wwa anatatachi no Uchi ja nai node, ikutsuka no mana o shimeshitara ...." Mahiru memberikan petuah dengan senyuman ramah kepada mereka yang seenaknya menyelonong, seolah tempat ini adalah kediaman pribadi mereka.
Kedua Yakuza itu malah tertawa. Mereka menertawakan basa-basi Mahiru. Mereka tidak butuh tata Krama. Yang mereka butuhkan hanyalah Anki. Mereka makin yakin bahwa Anki disembunyikan di sekitar kuil.
"Kumohon, selamatkan Sanu!" Abrizar memelas pada Eiji yang tak kunjung bergerak, lalu berbalik badan untuk bergabung dengan Mahiru.
"Eiji Kun!"
"Ada kakekmu di sini. Jika mereka berniat buruk pada Anki, kakekmu pasti akan melindunginya."
Satu dorongan dari dokter itu menggerakkan kaki Eiji. Mereka bergegas meninggalkan kuil. Bagaimanapun juga, Sanubari pernah berjasa dalam kehidupan Eiji. Andaikan Sanubari tidak datang, mungkin Eiji tidak akan pernah bisa membawa pulang Anki.
Dia harus mengesampingkan egonya. Ada banyak orang di kuil. Anki sama sekali tidak kekurangan penjaga. Yang harus diprioritaskannya sekarang adalh Sanubari.
Yakuza tersebar di mana-mana. Mereka berpencar di area kuil yang tak seberapa luas sebelum akhirnya terpancing berkumpul menuju sumber keributan. Sebagian menetap di pintu keluar, berjaga bila ada yang lewat. Di tengah huru-hara itu, seorang Yakuza memperhatikan Eiji dan sang dokter yang berjalan tak acuh sambil membawa seseorang.
"Aitsura ...."
Namun, yang lain menegurnya, "Itteoite! Sagashimono ja nai zo."
Eiji dan dokter itu pun dibiarkan pergi tanpa gangguan. Sebab, perintah yang diberikan pada mereka hanya untuk mencari seorang gadis. Tidak ada gunanya mereka mengejar tiga pria.
__ADS_1
Bunyi gedebak-gedebuk membuat Anki tersentak. Sebenarnya, dia sudah mendengar keributan sejak tadi. Namun, Isak tangisnya sedikit menyamarkan kegaduhan, sebelum kericuhan itu kian berisik.
"Apa yang terjadi di luar?" tanyanya seraya mengusap bekas air mata.
"Jangan keluar! Sepertinya ada hal tidak baik terjadi di luar." Raiden mengusap kepala Anki dengan lembut.
Letupan-letupan senjata api kemudian bergaung nyaring, membuat mata Belo Anki terbuka selebar-lebarnya. Jantungnya terpancing untuk meningkatkan debaran. Kedua telapak tangannya seketika mendingin dan bergetar.
"Sanu." Suaranya sangat pelan, tetapi masih bisa didengar kakeknya.
Raiden menduga itu mungkin saja nama pemuda yang sedang pingsan. Dia memang pernah bertemu dengan Abrizar dan Sanubari. Namun, lelaki tua itu baru berkenalan dengan Abrizar di malam hilangnya Anki.
Dia baru melihat Sanubari lagi hari ini. Raiden juga ingat bagaimana cucunya ini memohon kepada dokter untuk mengobati pemuda itu. Raiden bisa melihat kecemasan tergurat pada wajah manis bak boneka oriental itu.
Gadis itu bahkan mulai melangkah ke arah pintu yang masih terbuka. Namun, Raiden mencegahnya.
"Jangan ke mana-mana!" Raiden menarik Anki mundur dan buru-buru menutup pintu.
"Tapi, Kakek, aku ...." Anki berlari kecil mendekati kakeknya.
Raiden dengan segera berbalik badan dan membungkam mulut Anki dengan tangan kanannya. Sementara telunjuk kiri teracung di depan bibirnya sendiri.
Dia mendesis, memberi kode untuk diam, lalu berbisik, "Pelankan suaramu."
Anki mengedipkan mata, mengangguk pelan, pasrah begitu saja ketika Raiden menggandengnya ke tengah ruangan kembali. Dia memang mengkhawatirkan keadaan Sanubari dan yang lain di luar. Akan tetapi, di saat yang bersamaan, dia juga takut bila ada orang jahat di luar. Raiden mendudukkannya kembali.
Anki bersimpuh. Kepalanya celingak-celinguk membuncah. Bangunan ini tampak ringkih, bisa didobrak dari mana saja kapan pun.
Raiden bisa memahami kekhawatiran Anki. Walau tidak tahu apa yang terjadi di luar, dia bisa menerka kemungkinan ada yang ingin menculik Anki. Ini bukan pertama kalinya kasus seperti ini terjadi. Raiden memandang prihatin pada cucunya.
Dahulu, Raiden dituntut untuk bisa bergerak dengan cepat supaya bisa menyelamatkan kedua cucunya. Pembangkangan Eiji kemudian membawa ketenangan dalam kehidupan mereka. Dalam artian, penculikan berhenti.
Kendati demikian, Raiden tidak pernah bisa tenang. Pasalnya, cara yang dilakukan Eiji untuk memperoleh kedamaian adalah bergabung dengan Onyoudan.
Raiden duduk di hadapan Anki, memegang tangan gadis itu yang kehilangan kehangatan. Tangan itu sedingin es.
__ADS_1
"Tenanglah! Ada Kakek di sini. Mahiru di luar pasti juga tidak akan membiarkan mereka sampai ke sini bila orang-orang itu memang berniat buruk."
Bunyi tembakan terus menggelegar, diselingi gesekan dua logam yang membuat telinga berdenging tidak nyaman. Anki tidak bisa mendengar suara Abrizar maupun kakaknya. Dia hanya mendengar teriakan-teriakan kasar dan ucapan ingin membunuh dari orang-orang tak dikenal.