
"Jika kamu butuh teman untuk bercerita, aku ada di simni." Sosok kecil terbentuk di depan Sanubari.
Sosok itu tersenyum cerah. Sepasang mata hijaunya berbinar segar. Dia berjongkok, mengulurkan tangan kanan kecilnya pada Sanubari yang berbaring berdarah-darah.
Sanubari mengangkat kepala. Pemandangan di hadapannya tidak lagi berkabut. Sawah membentang dengan rumput gajah menjulang tinggi, serupa pagar di pinggiran jalan. Belalang hijau terbang, melompat dari satu daun kedaun lain.
Bocah laki-laki yang mengulurkan tangan belum beranjak. Lengkungan manis di air mukanya pun belum memudar.
"Cerita apa yang siap kamu bagikan?"
Itu dirinya sendiri, dirinya yang masih kanak-kanak, satu-satunya tempat berbagi kisah yang paling bisa Sanubari percaya. Sanubari menyambut uluran tangan itu.
Saat tangan keduanya bersentuhan, rantai yang menyeret Sanubari pecah berkeping-keping. Darah menguap bagai partikel cahaya yang terbang ke angkasa.
Luka Sanubari menutup dengan sendirinya. Tiada lagi perut yang terburai. Tiada lagi pakaian yang koyak. Kegelapan sepenuhnya ditelan terang. Jelmaan-jelmaan orang yang telah tiada pun sirna, menyisakan dua Sanubari berbeda masa.
"Kamu harus berhenti memikirkan sesuatu secara berlebihan! Itu tidak baik untuk kesehatanmu." Sanubari kecil melepaskan genggamannya dari Sanubari remaja.
Dia mengedap-endap ke dekat gerombolan rumput gajah. Tangannya bergerak lambat, perlahan demi perlahan didekatkan pada makhluk hijau kecil yang hinggap di juntaian daun memanjang.
"Ah, masak aku seperti itu? Aku tidak sedang memikirkan apa pun kok," sangkal Sanubari menaikkan sebelah alis.
Dia memperhatikan gerak-gerik Sanubari kecil. Ibu jari dan telunjuk dalam pose siap mencapit terus mendekat dan mendekat, sampai dua jari itu berhasil menjepit seekor belalang hijau.
Sanubari kecil bersorak, melompat-lompat, tertawa riang. Sanubari remaja tersenyum. Itu kebahagiaan sederhana yang sempat terlupakan.
"Benarkah? Kalau begitu, kenapa kamu ada di sini?" Sanubari kecil berbalik badan, sorot matanya menembus pikiran Sanubari remaja.
Semilir angin menggoyangkan rambut Sanubari. Mereka saling bertatapan. Sanubari remaja berusaha memahami pola pikir Sanubari jkecil.
Namun, dia tidak bisa. Dia pernah menjadi Sanubari kecil, tetapi lupa bagaimana bersikap layaknya Sanubari kecil di sebagian besar waktu. Yang dia ingat hanyalah kecemasan demi kecemasan.
Sebagai pengalihan, Sanubari remaja berputar. Dia melepaskan pandangan ke bentangan sawah di sekitarnya. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan Sanubari kecil.
"Bebaskanlah pikiranmu, hadapi, akui, dan jangan berpaling lagi! Penerimaan adalah kebebasan sesungguhnya." Sanubari kecil tersenyum.
Dia melepaskan belalang dari tangannya. Serangga itu terbang. Suara belalang bersahut-sahutan, terdengar menenangkan. Sangat damai. Sampai-sampai, Sanubari seakan-akan dibelai dan dininabobokkan oleh alam.
__ADS_1
Kantuk yang lama menghilang, kehadirannya mulai dirasa Sanubari remaja. Otot-otot tubuhnya kian rileks. Puncaknya ketika seekor belalang hinggap di hidungnya. Saat itulah pandangannya mengabur.
"Teman." Sanubari tersenyum menatap belalang itu. Satu kedipan kemudian, segalanya menggelap.
Ketika tersadar kembali, dia telah berada di sebuah kamar. Terdengar tawa anak kecil dalam ruangan sepi itu. Sanubari duduk. Seorang anak kecil melompat-lompat di ranjangnya. Sanubari mengedipkan mata. Anak itu tidak hilang.
"Kamu masih ada di sini, Um," Sanubari menggosok bawah hidungnya. Dia bingung. Mustahil dia memanggil dirinya sendiri dengan nama yang sama. Itu akan ambigu.
Sanubari kecil menjatuhkan diri, berbaring di dekat Sanubari remaja. "Aku akan tetap di sini selama kamu belum membebaskan dirimu sendiri."
"Apa maksudmu, Junior?" Akhirnya, Sanubari memutuskan untuk memanggil Sanubari kecil seperti itu.
Spontan, Junior berdiri di hadapan Sanubari. Dia memaksa kelopak mata Sanubari untuk terbuka lebar dengan kedua tangannya. "Buka matamu baik-baik! Di sini tidak ada siapa pun."
"Ada, aku dan kamu. Kamu Junior."
Junior terdiam sejenak sebelum menjawab, "Aku adalah kamu. Bagaimana bisa kamu memanggil dirimu sendiri sebagai Junior? Apa kamu ingin ganti nama?"
Sanubari menggeleng. Dia menjauhkan tangan Junior dari wajahnya. "Aku Sanubari. Selamanya, tidak akan pernah berubah. Akan rancu bila ada dua Sanubari dipanggil sama, kan?"
"Oke, aku mengalah." Sanubari kecil melompat dari ranjang, "Ngomong-ngomong, apa kamu tidak bosan seharian di kamar? Ayo keluar!"
"Tuan Muda, mau ke mana!"
"Waaa!" Sanubari tersentak ketika ada dua belalang raksasa menghadangnya.
Sanubari tidak mengidentifikasi mereka sebagai musuh. Hanya saja dia agak bingung.
"Tuan Muda, apa Tuan Muda sudah sembuh?" Salah satu dari mereka bertanya sambil terus memandangnya.
"A–anu apa ada ke–keberadaan tidak terlihat yang kalian panggil tuan muda?" Sanubari merinding. Bisa melihat belalang raksasa yang bisa berbicara itu keren, tetapi jika sampai ada makhluk tidak kasat mata disini, itu tidak jadi keren.
"Apa yang Anda katakan? Anda adalah Tuan Muda kami. Jelas sekali Anda terlihat seperti kami. Mana mungkin Anda makhluk tidak kasat mata." Salah satu dari belalang menepuk pundak Sanubari.
Mereka tertawa. Sanubari pikir dunia ini cukup unik. Dia belum pernah berbicara dengan belalang sebelumnya. Jadi, dia kurang paham dengan bahasa yang berlaku di kalangan belalang.
"Jadi, tuan muda itu sebutan teman di dunia belalang, ya?" asumsi Sanubari setelah mendengar mereka.
__ADS_1
Dua belalang raksasa berseragam hitam itu saling pandang, sebelum akhirnya menjawab, "Ya, Tuan Muda adalah teman kami."
Mereka berdua kebingungan. Sementara Sanubari mengangguk-angguk.
"Kalau begitu, kalian harus memanggilku Sanu supaya jelas dan tidak salah paham. Lalu, siapa nama kalian? Maaf, mungkin aku lupa." Sanubari tertawa canggung.
"Oreste Sbertoli." Satu belalang memperkenalkan diri terlebih dahulu.
Nama yang cukup sulit diingat hanya dalam sekilas dengar bagi Sanubari. Namun, dia mencoba menyimpan awalan namanya dalam memori.
"Fabio Balaso." Belalang kedua menyebutkan namanya yang terdengar lebih familiar dan mudah.
"Untuk lebih mudah mengingat, aku akan memanggil kalian Reste dan Bio." Sanubari melihat masih ada satu lagi belalang raksasa yang berdiri bersandar di dinding.
Dia melewati Oreste dan Fabio. Sanubari mengajak berkenalan belalang bermasker dengan kacamata hitam itu, tetapi tidak ada respons. Belalang yang satu itu sangat tertutup, setertutup penampilannya.
Sanubari pun menentukan panggilannya sendiri. Dia tersenyum padanya, lalu berlari menuruni anak tangga. Ketiga belalang raksasa itu mengikutinya dari belakang.
Dia mencari-cari Junior yang pergi entah ke mana. Samar-samar, terdengar suara ramai di belakang. Sanubari mengikuti sumber suara itu.
"Banyak sekali bibit singkongnya, Paman?" tanya belalang kecil sambil menjilat lolipop.
"Biar bisa dipanen setiap hari." Belalang bercelana pendek berdiri memperhatikan halaman yang mulai penuh.
Belalang mandor tampak sedang menelepon tidak jauh dari mereka. Usai berbincang melalui gawai, dia berbalik badan dan berlari kecil mendekati belalang bercelana pendek.
"Masih ada satu truk lagi yang akan datang, tetapi halaman belakang sudah tidak cukup. Bagaimana ini, Tuan?" Satu belalang yang mengawasi pekerjaan melapor pada belalang dengan celana selutut berkaos biru.
"Letakkan saja di halaman depan! Atur saja bagaimana supaya tidak mengganggu!"
Sanubari terkagum-kagum dengan pemandangan di hadapannya. Para belalang hilir mudik. Mereka membawa ber-polybag-polybag bibit singkong dan batang-batang yang belum dipotong. Semua itu ditata dan ditumpuk di luar rumah kaca yang masih kosong.
"Anu, bolehkah aku ikut menanamnya nanti? Aku suka menanam singkong." Sanubari meraih tangan belalang bercelana pendek.
Semua belalang menoleh. Sanubari tersenyum lebar. Melihat itu, belalang kecil langsung memeluknya.
"Sanu, Sanu sudah sembuh?" Belalang perempuan itu mengeratkan dekapannya pada Sanubari.
__ADS_1
"Syukurlah, demammu sudah turun." Belalang bercelana pendek meletakkan telapak tangan ke dahi Sanubari.
Sanubari kebingungan dengan perlakuan mereka. Dia pun bertanya, "Kalian ini sebenarnya siapa? Kenapa memperlakukanku seperti orang sakit?"