Santri Famiglia

Santri Famiglia
Lanjut atau Tidak


__ADS_3

Kouhei mendekati Eiji tanpa rasa curiga sedikit pun. Namun, siapa sangka, keramahannya akan disambut dengan aksi tidak terduga oleh pria andalan Onyoudan itu.


Dengan sigap, Eiji menarik tangan kanan Kouhei ke belakang pinggang. Lelaki itu juga memegang tangan kiri Kouhei. Posisi Eiji saat ini berada di belakang Kouhei.


"Hei, apa-apaan ini? Baru juga bertemu, kenapa sudah main pertahanan saja?" protes Kouhei yang tidak bisa melepaskan diri.


"Kau ke mari dengan siapa?" Nada dingin Eiji menuntut jawaban.


Kepala Eiji tertoleh ke kanan dan kiri, memindai jalanan beraspal. Dia khawatir masih ada orang-orang Onyoudan lainnya. Jika Kouhei hanya sendiri, mungkin tidak akan berbahaya.


Akan tetapi, akan berbeda bila Kouhei datang bersama pasukannya. Apalagi, Jika Kouhei ternyata datang atas suruhan Shima. Meskipun Kouhei sering membuat masalah dalam organisasi, tetap saja dia bagian dari Onyoudan. Eiji tidak bisa mengabaikan fakta tersebut.


Anki yang tidak mengerti pun menghardik, "Kakak hentikan!"


Eiji melirik adiknya. Dia bisa menebak, gadis itu belum tahu keterlibatan Shima dalam kasus penculikannya. Sehingga, dia bisa maklum atas reaksi Anki itu.


Namun, Eiji memilih untuk tidak menanggapi. Dia masih menuntut balasan dari bibir Kouhei. "Cepat jawab! Kau datang dengan siapa?"


"Gadis berjilbab mendekati pria berpeci di sana. Dia berbisik, "Abi, ada apa ini?"


Adalah Hana, putri Mohammad. Gadis belia yang baru lulus dari sekolah menengah atas. Di sebelahnya, berdirilah Hananta—saudara kembarnya.


"Abi juga tidak tahu." Mohammad hanya menggeleng sambil mengangkat bahu.


"Anki, bantu aku! Kakakmu ini sepertinya sedang mabuk," rengek Kouhei.


Hananta yang masih belum mengatakan apa-apa pun memilih untuk angkat bicara. "Anu, maaf sebelumnya. Kak Kou datang bersama kami."


Eiji pun beralih memperhatikan tiga orang asing. "Siapa kalian?"


"Kakak, itu guruku—abi Mohammad." Jawaban datang dari bibir Anki.


Gadis itu tertunduk malu. Dia merasa penampilannya sama sekali tidak pantas untuk dilihat. Hanya baju tidur tanpa alas kaki, tidak sepatutnya dia pergi ke masjid dengan penampilan seperti itu.


Kali ini, giliran Eiji yang kebingungan. Hanya dirinya sendiri yang tidak mengenal orang-orang asing ini di antara mereka.

__ADS_1


Sanubari bergeming. Dia tidak tahu harus berbicara apa dalam kekacauan ini. Ditambah lagi, kepalanya berdenyut-denyut.


"Jika ada masalah, sebaiknya selesaikan di dalam. Mari masuk!" Membuka pintu masjid, Mohammad mengundang mereka dengan senyuman hangat.


Lelaki itu kemudian menoleh pada putrinya dan berkata, "Hana, ambilkan pakaian bersih untuk Anki!"


"Baik, Abi!" Hana mengangguk patuh.


"Aku ikut! Kurasa, aku butuh baju bersih untuk salat," ucap Sanubari.


"Bagaimana kalau Kak Anki ikut pulang sekalian? Nanti sekalian mandi di rumah. Setelah itu, kita kembali ke sini untuk jamaah," usul Hana.


Anki menoleh pada kakaknya. Lelaki itu memberikan anggukan kepala. Selama ada Sanubari di sisi Anki, Eiji yakin adiknya akan baik-baik saja.


Namun, keberadaan Kouhei menyadarkannya akan hal terburuk. "Tunggu dulu! Apa di luar sana ada anggota Onyoudan?"


"Tidak ada. Aku hanya datang bersama keluarga Hana. Mereka semua sudah kuusir sejak dari restoran."


Setelah mendengar itu, Eiji pun mengizinkan mereka pergi. Mohammad juga bisa merasa tenang dengan Sanubari di sisi putrinya. Dia pun melepas kepergian mereka.


Eiji ingat Sanubari pernah bertanya bagaimana caranya meminta perlindungan dari Onyoudan. Dia baru tahu bahwa permohonan tersebut ternyata untuk sebuah keluarga muslim. Namun, itu sudah beberapa saat yang lalu.


"Bukankah kontraknya seharusnya sudah berakhir?" selidik Eiji. Dia tahu, gaji pertama dan bonus Sanubari tidak akan cukup untuk menyewa jasa Onyoudan.


"Hana adalah temanku. Bukan masalah besar memperpanjang kontrak tanpa biaya tambahan sedikit pun. Aku rela menjadi penjaganya seumur hidup." Jawaban itu terdengar sangat lancar. Bahkan, tersirat kebanggaan di setiap katanya.


"Saya sangat berterima kasih. Tuan Kou telah berulang kali melindungi putri saya. Jika bukan berkat Anda, mungkin Meiwa sudah membawa Hana.


"Sudah seharusnya aku melakukan itu." Kouhei tertawa bersamaan dengan dikumandangkannya azan.


"Mohon diam sejenak sampai lantunan ini berakhir," pinta Mohammad dengan sopan.


Mereka pun mengunci mulut masing-masing. Eiji menghela napas lega karena pertemuannya dengan Kouhei rupanya memang kebetulan. Namun, dia belum bisa menentukan apakah Kouhei akan berpihak padanya atau malah menjadi bumerang.


"Sepertinya Kouhei belum tahu tentang kejadian ini. Semoga saja ini benar." Itulah kesimpulan Eiji dalam benaknya setelah mendengar semua penjelasan tersebut.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Sanubari dan yang lainnya kembali. Eiji langsung keluar dari ruangan itu. Betapa panglingnya lelaki itu ketika melihat adiknya berpenampilan berbeda.


"Kak Eiji, aku beribadah dulu dengan mereka. Tunggu aku!"


Eiji hanya bisa memberikan anggukan tanpa sepatah kata. Sejak kecil, Anki memang selalu pantas memakai baju model apa pun. Lelaki itu tidak pernah berpikir bahwa penampilan adiknya bisa lebih baik lagi dari biasanya.


Kerudung yang menjuntai hingga setengah badan menutup sempurna rambut panjang Anki. Telapak tangan gadis itu pun tenggelam dalam gamis tosca yang menyembunyikan lekuk tubuhnya hingga ke mata kaki. Itu penampilan Anki terparipurna di mata Eiji. Adiknya itu benar-benar terlihat seperti boneka dari timur tengah.


Satu menit berlalu sejak semua orang-orang naik ke atas, tetapi terasa lama bagi Eiji. Karena penasaran, dia pun memutuskan untuk menyusul. Kouhei membuntutinya.


Sesampainya di atas, dia menyaksikan dua sosok memakai terusan putih di belakang barisan pria berpakaian biasa. Mereka melakukan gerakan berulang yang cukup aneh untuk disebut ibadah menurut Eiji.


"Ah, aku baru tahu kalau senam itu disebut ibadah," komentar Kouhei.


"Diam!" sergah Eiji setengah berbisik.


Di antara barisan tersebut, seorang lelaki bergerak lebih lambat dari yang lain. Dari bajunya, Eiji tahu itu Sanubari. Pada takbir di rakaat terakhir, Sanubari tumbang sebelum sempat menyedekapkan tangan.


Bunyi gedebuk keras memecahkan konsentrasi setiap insan. Anki yang berada di belakangnya menjadi gelisah.


"Bagaimana ini? Haruskah aku membatalkan salatku ataukah tetap kulanjutkan saja?" hati Anki berkata demikian sementara pikirannya masih berusaha meneruskan bacaan salat.


Dia benar-benar bimbang. Kurang sedikit lagi ibadahnya selesai. Tanggung rasanya bila dia harus membatalkannya. Sementara sisi lain hatinya merasa tidak enak membiarkan Sanubari tersungkur.


"Sanu!" seru Eiji yang langsung berlari ke arah Sanubari. Lelaki itu duduk di sebelahnya, membalik badan sang remaja yang tengkurep.


Mendengar keributan di belakangnya, Mohammad pun mempercepat bacaan. Kekhusyukan mereka menguap terpapar kecemasan.


Di tempat lain, Shima, Jong Hyun, dan seorang pimpinan tim pengejar berkumpul. Ketua tim itu melapor, "Kami kehilangan jejak."


"Dasar Lambat! Mereka pasti kembali ke Nagoya! Kenapa tidak langsung memblokir seluruh jalur ke sana?" Shima memarahi anak buahhnya.


"Untuk itu, kami membutuhkan izin Anda."


"Itu hanya akan membuang-buang banyak waktu. Kenapa tidak langsung menyambut mereka di tempat tujuannya saja?" Jong Hyun memberikan solusi yang menurutnya lebih efisien. Dia tidak bisa membiarkan buruannya lolos gara-gara bawahan yang kurang cerdas.

__ADS_1


__ADS_2