
Nyamuk terbang senyap dari kepala Sanubari, berputar-putar sebelum akhirnya menempel pada atap ambulans. Mata kecilnya merekam segala kejadian dalam mobil. Rekaman tersebut diteruskan ke sebuah benda pipih, hingga pria yang duduk di depan layar kecil itu pun bisa mendengar pembicaraan mereka.
Damiyan berkonsentrasi menyetir sambil memahami isi percakapan. Dia memarkir mobil di halaman parkir rumah sakit. Setelah mengunci mobil dan keluar, dia mematikan mode video dan mengeluarkan aplikasi Mosan dari ponsel.
Damiyan berlari sambil memegang ponsel. Tak lupa, dia mengembalikan nyamuk ke kepala Sanubari sebelum melakukan semua itu. Dia masih bisa mendengar diskusi dua orang asing, sampai Eiji menyebut nama Nagoya. Saat itu, dia sudah dekat dengan posisi ambulans. Damiyan menempelkan ponsel matinya ke telinga.
Dia sengaja melantangkan suara ketika berhenti di depan pintu belakang ambulans. Dia berpura-pura sedang menelepon seseorang, padahal aslinya tengah bermonolog.
Kemudian, dia berpura-pura mengakhiri panggilan, lalu menyimpan ponsel ke saku jaket. Saat dia hendak melangkah pergi, Sanubari menyapanya.
"Kak Dami, kok ada di sini?"
"Oh, hei, Sanu! Jepang ini sempit, ya? Kita bertemu lagi di sini." Begitu Damiyan menoleh, Sanubari telah berdiri, pintu belakang ambulans terbuka. Tiga orang lain turun bergantian di belakang Sanubari.
"Bukannya Kakak mau jalan-jalan, ya? Kok malah ada di rumah sakit? Kesasar, ya?"
Pertanyaan itu sudah diprediksi Damiyan. Karangan jawaban pun lolos dari bibir Damiyan dengan sangat lancar.
"Ah, itu saudaraku menyusul. Tetapi, kereta yang ditumpanginya diserang orang gila. Gerbong dibakar, beberapa orang ditikam. Saudaraku menjadi salah satu korban penusukan itu. Sekarang, dia dirawat di rumah sakit. Dia memintaku segera datang karena ketakutan. Kupikir, dia dirawat di sini. Jadi, aku buru-buru ke sini. Ternyata, dia di Nagoya."
"Turut prihatin atas berita itu."
"Kau sendiri, kenapa ada di rumah sakit?"
"Aku menumpang mobil ambulans untuk kembali ke Nagoya, tetapi mobilnya berhenti di sini. Anu, itu, Um, kalau Kak Dami mau kembali ke Nagoya, bolehkah aku dan teman-teman menumpang?"
Sanubari cengengesan. Sungkan tidak sungkan, dia harus meminta bantuan pria ini. Hanya itu cara kembali yang paling aman menurut pemikiran Sanubari.
"Tentu saja. Lagipula, kita searah. Ayo!"
Mendengar itu, Sanubari pun berterima kasih. Dia memperkenalkan Anki dan Eiji. Baru kali ini Damiyan melihat Anki dari sangat dekat. Gadis itu benar-benar cantik.
__ADS_1
Rambut lurusnya tidak kusut, meski tidak disisir. Wajahnya pun tetap terlihat rupawan dan segar tanpa riasan. Hanya saja, matanya tampak sembab karena terlalu banyak menangis. Namun, itu tak mengurangi keelokan parasnya.
Damiyan memang pernah satu kereta dengan gadis itu ketika mengikuti Sanubari. Akan tetapi, dia tak memiliki kesempatan untuk mengamatinya sejelas ini.
"Sangat halus," batin Damiyan merasakan telapak tangan Anki saat bersalaman, "cemberut pun tetap terlihat manis. Astaga! Apa yang kupikirkan?"
Saat Sanubari hendak memperkenalkan orang asing yang tidak diketahui namanya, pria berkacamata bernama Nikki itu berkata, "Kalian pergi saja! Seperti yang kubilang sebelumnya, kita berpisah di sini."
Mereka pun benar-benar berpencar tanpa sempat berkenalan. Sungguh perkenalan yang sangat singkat. Tanpa menunggu lama, rombongan Sanubari langsung bertolak ke Nagoya.
Anki dan Eiji duduk di kursi tengah. Sementara Sanubari di depan menemani Damiyan.
"Jadi, kalian mau ke mana? Katakan saja! Akan kuantar sampai tujuan."
"Kami bisa turun di rumah sakit yang Kakak tuju."
"Jangan sungkan! Katakan saja! Aku akan ke rumah sakit setelah mengantar kalian," paksa Damiyan.
Bagaimana mungkin dia mengajak Sanubari ke rumah sakit, bisa-bisa kebohongannya terbongkar bila Sanubari mendadak ingin menjenguk sejenak sebelum itu. Untuk mengantisipasi itu, Damiyan harus bisa membujuk Sanubari mengatakan tempat tujuannya.
"Atau kau ingin kuantar ke masjid yang kemarin?" Damiyan sangat berharap Sanubari akan menjawab iya.
Namun, alih-alih memberi balasan, Sanubari malah melempar pertanyaan pada pria di belakangnya. "Bagaimana, Kak Eiji?"
Eiji pun tak langsung menjawab. Apakah pulang ke rumah itu aman, Eiji meragu akan hal ini. Di rumah kakeknya atau kuil pun Eiji tidak yakin aman.
Tiada tempat aman di Jepang bagi dia dan adiknya. Seluruh Jepang adalah wilayah kekuasaan Onyoudan. Melarikan diri ke mana pun akan sama saja selama belum keluar dari Jepang.
Dia dan adiknya harus pergi jauh dari negara ini jika ingin bebas dari bayang-bayang Onyoudan. Namun, ada banyak hal yang harus dipersiapkan sebelum melakukan itu.
"Ke tempatmu saja, Sanu," putusnya kemudian.
__ADS_1
"Oke, berarti kita langsung ke Honjin." Damiyan tersenyum penuh kemenangan.
Sementara itu di Honjin, masjid tampak sepi seperti biasa. Hanya ada satu orang di dalamnya. Orang itu sedang bersimpuh di atas sajadah dengan tangan menengadah.
"Ya Allah, lancarkanlah urusan Sanubari. Lindungi Dia, Anki, dan Eiji! Jangan biarkan tangan-tangan jahat itu melukai mereka dan mengambil Anki ...," doa pria tuna netra itu dalam hati.
Sebagai seorang kakak yang juga memiliki adik perempuan, Abrizar tidak bisa membiarkan Anki jatuh ke tangan Kim Jong Hyun. Dia tidak tega membayangkan Anki berakhir sebagai tambang emas lelaki itu. Dia tahu bagaimana hancurnya perasaan Eiji bila itu benar-benar terjadi.
Dari tindakan yang Eiji lakukan, Abrizar tahu bahwa Eiji adalah sosok kakak yang penyayang. Dia merasa Eiji tidak jauh berbeda dengan dirinya sendiri. Dia menolong Anki pun bukan karena ingin memanfaatkan Eiji, meskipun merekrut lelaki itu merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi Sanubari untuk bekerjasama dengannya.
Abriszar tulus. Dia ingin menyelamatkan Anki sebagai sesama muslim. Insiden ini sungguh membuat Abrizar geram. Angkara murka tersulut begitu saja ketika dia mengetahui dalang dari semua ini adalah Kim Jong Hyun.
Dia tidak habis pikir, mengapa SM bisa bangkit secepat itu. Padahal, dia baru saja menguras harta orang itu serta mereka yang dinaunginya. Rasa-rasanya, Abrizar ingin segera memusnahkan SM
Sayangnya, Abrizar tidak memiliki kekuatan untuk itu. Keinginannya itu mungkin baru bisa terwujud bila Sanubari berhasil menjadikan Eiji sebagai sekutu dan organisasi mereka terbentuk.
Diam-diam, Abrizar berharap itu bisa terjadi suatu saat. Tampaknya, dia telah terpengaruh cita-cita naif Sanubari. Dia berpikir, tidak ada salahnya mengikuti keinginan anak itu.
Bila Sanubari memang perantara yang dikirim padanya untuk menegakkan kebenaran, mungkin hari untuk menyingkirkan organisasi terkutuk itu akan segera tiba. Abrizar tidak sabar mendengar itu terjadi.
Entah mengapa, memikirkan tentang Kim Jong Hyun selalu membuat dendam kesumat Abrizar bergelora begitu saja. Gara-gara lelaki itu, Abrizar sempat terpisah dari ibunya. Gara-gara lelaki itu, adik Abrizar hilang. Sampai detik ini, Abrizar tidak tahu bagaimana nasib bayi yang telah lama hilang tersebut.
Mengingat semua itu membuat kepala Abrizar dipenuhi kegelapan. Lelaki itu lekas beristighfar. Dia menurunkan tangan dan melanjutkan zikirnya.
Ponsel tergeletak di kanan atas sajadah. Sengaja diletakkan dekat dengannya supaya mudah dijangkau bila Sanubari menelepon. Sedangkan laptop tertutup dalam mode hibernasi di sudut ruangan.
Menjelang Zuhur, area depan masjid tampak ramai. Dua pria dan seorang perempuan berdiri, mengantar kepergian sebuah mobil.
"Assalamualaikum!" Sapaan itu sontak membuat ketiganya menoleh.
Betapa terkejutnya salah satu dari tiga orang itu ketika melihat empat orang lain yang baru saja datang. Dia mengenali seorang yang berjalan bersandingan dengan gadis berjilbab.
__ADS_1
"Eiji, Anki! Wah, kebetulan sekali bertemu kalian di sini." Pria Jepang itu tersenyum sumringah.
Jantung Eiji seketika terpompa lebih cepat. Dia terbeliak. Akamizu Kouhei—putra Akamizu Shima sama sekali bukan orang yang dia harapkan kehadirannya saat ini.