Santri Famiglia

Santri Famiglia
Penyelidikan Sirkuit


__ADS_3

Sirkuit MotoGP terhampar sunyi di bawah sinar matahari terik. Aspal merekah menunjukkan bekas ledakan. Di tengah sirkuit, sebuah kawah terbentuk, meninggalkan bekas bakar yang gelap di permukaannya.


"Temukan korban terluka segera!" teriak seorang paramedis, suaranya terdengar lantang di tengah keheningan sirkuit. Para paramedis berhambur ke segala arah, matanya waspada mencari tahu siapa yang membutuhkan pertolongan.


Kendati siang benderang memberikan pencahayaan lebih dari cukup di sekitarlintasan balap, meskipun mereka mencari dengan tekun, tak seorang pun paramedis bisa menemukan tanda-tanda korban. Orang itu seolah lenyap tanpa jejak, meninggalkan misteri di tengah sirkuit yang mulai melapuk di mana-mana.


Di tengah kesibukan itu, sebuah mobil lain memasuki lintasan, parkir asal-asalan di dekat TKP. Tiga penumpangnya turun. Dua pria dan satu perempuan. Mereka berpencar, menyidik tempat itu.


Jun yang terakhir turun, mencium bau yang menyengat. Ia menyeringai, mencoba menahan reaksi terhadap aroma yang tak sedap. "Bau apaini?" tanyanya, seraya menutupkan jari telunjuk ke lubang hidungnya. "Busuk sekali. Apa ada yang membakar bangkai tikus di sekitar sini?"


Sementara itu, angin sepoi membawa aroma yang semakin tajam. Tidak ada sampah di sana. Akan tetapi, baunya lebih buruk dari tempat pembuangan akhir. Jun tidak mengerti apa yang menyebabkan udara seburuk ini.


Sejauh mata memandang, Jun hanya bisa melihat kerumunan petugas medis yang berlarian di sekitar tempat kejadian, gadis yang berdiri diam dengan mata penuh kekhawatiran, serta rekannya, Jae Hyun, yang berlutut di rerumputan dengan tangan terulur ke arah sesuatu. Tempat itu hanya menyisakan bekas kecelakaan yang sulit ditebak, dengan serpihan-sepihan logam berserakan di sekitar mereka.


Tiba-tiba, gadis yang memakai rok selutut menoleh dengan mata berkaca-kaca, lalu berlari sambil berteriak, "Jae Hyun, jangan sentuh!" Suaranya penuh kepanikan, menciptakan gelombang getaran di udara.


Gadis berambut sepundak itu menghampiri pemuda yang berlutut. Dia tergelincir di atas rerumputan yang licin. Kendati demikian, kakinya meluncur ke arah Jae Hyun, dan kaki kanannya berhasil menendang pergelangan tangan pria itu.


Serpihan-serpihan logam terjatuh dari tangan sang pemuda. Aksi tegas si gadis itu membuat Jun terperangah.


"Hei, ada apa ini? Kenapa kau( menyerang rekanmu sendiri, Em?" tanya Jun, mencoba memahami situasi yang semakin membingungkan.


"Aku menyelamatkannya," jawab Em dengan tatapan tajam. "Dia hampir menyentuh zat beracun ini." Dengan cepat, dia menunjuk ke arah serpihan logam yang memancarkan cahaya aneh.


"Menyelamatkan?" Jun mengernyitkan dahi, mencoba menghubungkan benang merah dalam kejadian ini. "Sejak kapan menendang rekan itu disebut penyelamatan?"


"Terlambat sedikit saja, tangannya bisa meleleh. Aku mencium samar-samar ada bau asam sangat kuat dengan kadar yang sangat tinggi di sini," jelas Em sambil mengusap keringat di dahinya. Kecemasan tergambar jelas di wajahnya, mencerminkan ketegangan di udara.


Jae Hyun terbelalak ketika dia melihat tangannya. Sarung tangan yang seharusnya kuat dan tahan lama, sekarang terlihat berlubang seperti rerumputan tua yang telah menua ratusan tahun, rapuh dan hampir tidak bisa digunakan lagi.

__ADS_1


"Asam?" tanya Jun dengan suara hati-hati, mencoba mencerna situasi yang semakin suram ini.


"Um." Embara mengangguk serius. "Kita tidak bisa mengambil sampel tanpa alat khusus. Udara di sekitar sini juga akan meracuni kita bila terlalu lama berada di sini."


Embara memandang ke bawah, matanya menangkap bekas terbakar di sebagian rerumputan. Beberapa titik di jalan aspal juga tampak menggembur, menciptakan gambaran yang mengejutkan dan mengusik hatinya.


"Reaksi ini terlalu cepat untuk peristiwa yang baru terjadi," batin Embara, matanya mencari petunjuk di sekitarnya, mencoba memahami apa yang mungkin terjadi.


"Jadi, ada yang menyebarkan racun di sini?" Suara Jun terdengar serak karena hidungnya ditekan. Dia tidak tahan dengan bau yang menyengat, mengingatkan mereka pada bahaya yang mengintai di udara di sekitar.


Ketegangan menggantung di udara. Dalam keheningan, mereka tahu bahwa mereka harus bertindak cepat sebelum bahaya yang tidak terlihat itu mengambil korban lainnya.


Jae Hyun melepaskan sarung tangannya dengan gerakan hati-hati, memperlakukan benda itu seolah-olah itu adalah potongan kaca yang tajam. Dia memasukkannya ke dalam tas pinggangnya dengan cermat, matanya tetap waspada terhadap sekitarnya.


"Jae, mau ke mana?" tanya Jun, berlari kecil menyusul Jae Hyun yang berjalan dengan langkah mantap namun diam.


"Mencari pelapor dan saksi," jawab Jae Hyun tanpa melihat ke arah Jun. Kepalanya dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab, dan dia merasa tekadnya semakin kuat untuk mengungkapkan kebenaran di balik kejadian misterius ini.


"Sepertinya, kita perlu menghubungi tim alkemis. Mereka yang tahu cara menangani TKP dengan aman," tambah Embara, bergabung dengan mereka.


"Kau ingin memanggil orang-orang gila yang terobsesi dengan keabadian itu?" ujar Jun, mencoba meredakan ketegangan dengan candaan. Namun, tatapan tajam Embara menunjukkan bahwa dia tak bercanda.


Embara merengut, dan dengan cepat, dia menendang pinggang Jun. "Menghina mereka sama saja dengan menghinaku. Kau lupa aku berasal dari mana, hah?" ujarnya dengan suara tajam, mempertahankan harga dirinya.


"Ampun, Nona Barbar!" seru Jun, tersungkur di tanah. Saat hendak bangkit, dia kembali tersungkur karena Embara dengan lihainya menginjak punggungnya.


"Apa katamu?" Embara menginjak lebih kuat.


"Adik Manis, seharusnya kau memanggilku kakak dan bersikap lebih sopan pada yang lebih tua."

__ADS_1


"Dasar pria gila hormat!" Embara mengeraskan injakan lagi, sementara tangannya mengeluarkan ponsel. Dia harus segera menghubungi seseorang.


"Ini namanya mengajarimu etika, bukan gila hormat."


Embara tertawa sinis. "Jae Hyun saja tidak keberatan hanya aku panggil nama."


"Dia memang tidak sevokal aku. Tapi, dia pasti senang dan diam-diam mengharapkan kalau kau akan memanggilnya oppa." Jun terkekeh.


"Kembali saja ke rahim ibumu sana!"


"Anggota alkimia sungguh liar. Uh!"


"Bersyukurlah, kau hanya bertemu denganku, Jun! Jika tidak, kau mungkin sudah benar-benar diubah menjadi janin kembali. Mereka hanya kumpulan orang terlalu jenius yang tidak bisa mengatasi kejeniusannya sendiri. Aku satu-satunya yang paling normal di sana."


"Apanya yang paling normal? Paling brutal, iya. Sukanya menindas lelaki," gumam Jun sangat pelan.


Embara mengangkat kaki, memisahkan diri karena teleponnya sudah terhubung. Selagi Embara menjelaskan kondisi TKP pada lawan bicara, Jun kembali berjalan ke arah yang dituju Jae Hyun.


Di sana, Jae Hyun telah bersama seorang pria muda dan tua. Dia memulai sesi interogasinya. Mereka juga menyerahkan hasil rekaman pada Jae Hyun.


Namun, rekaman tersebut tidak memberikan petunjuk berarti. Jun langsung mengekstraks frame demi frame. Tiada keanehan yang terlihat, kecuali manusia yang mampu menyaingi motor balap.


Pada detik-detik terjadinya ledakan, kamera kepala Sanubari menangkap percikan darah sebelum mati total.


"Ini aneh sekali. Andaipun peledak dipasang pada bodi motor, itu tidak akan menghancurkan jasad sampai binasa sama sekali." Dahi Jun kian berkerut, mencoba membayangkan detil kejadian tragis itu, tetapi sulit untuk menggambarkannya dengan jelas.


"Tidak ada bom pada motor itu." Suara tegas penyahut memecah keheningan. Semua orang menoleh pada suara itu. Itu adalah suara Franky, mekanik handal dari tim mereka. Di belakangnya, Sanubari berjalan dengan seragam yang sama, menyaksikan kejadian dengan penuh perhatian.


"Ini mekanik tim kami, Franky. Dia tahu luar dalam kendaraan yang dipakai pembalap kami," jelas Milo sambil menepuk pundak Franky, memperkenalkan mekaniknya.

__ADS_1


"Aku yang melakukan perawatan pada motor itu," ujar Franky dengan suara mantap, memberikan keyakinan pada kata-katanya.


Di saat yang bersamaan, Sanubari tiba-tiba berteriak, "Hyun Jo!" Matanya membelalak lebar ketika mengenali salah satu pria yang baru hadir. Sanubari ingat wajah itu, wajah sosok yang pernah dia temui dalam kejadian yang tidak terduga beberapa tahun silam. Pria itu sempat Sanubari kira ingin mencoba bunuh diri. Namun, berakhir menantangnya berenang di kanal Dotonbori.


__ADS_2