
Ketegangan membayangi Eiji. Ketinggian air meningkat dengan sangat cepat. Dia berharap Sai dan Renji bisa tiba tepat waktu.
Genangan telah mencapai bahu Sanubari. Remaja itu mendongak cukup lama. Otaknya sedang meninbang-nimbang keputusan.
"Jika aku melubangi tembok di sana, tekanan air mungkin akan mempersulit kami. Belum lagi, di luar sepertinya ada binatang air. Aku tidak tahu apakah mereka berbahaya atau tidak. Jalan paling aman adalah lewat atas. Tidak ada siapa pun di sana."
Seperenungan kemudian, Sanubari menurunkan dagu. Dia menatap Kouhei.
"Oyogeru?" tanya Sanubari memastikan apakah pria di hadapannya bisa berenang atau tidak.
"Un." Kouhei mengangguk.
"Yoshi, kimatta zo!" Sanubari tersenyum di balik maskernya.
Dia telah mengambil keputusan. Sanubari menekan-nekan tombol pada benda yang menyerupai telepon seluler. Bagian lain yang Sanubari tinggalkan di ruangan peti senjata sebelumnya merespons.
Layar balok pipih tersebut berada di sekitar tempat Sanubari dikurung saat dia mengirimkan sinyal. Benda tersebut mengumpulkan silet-silet yang dilepaskan untuk menaklukkan musuh.
Pergerakannya sangat cepat, namun hati-hati. Sensor makhluk hidup bekerja amat baik. Benda itu merayap ke atap, dinding, lantai hanya untuk menghindari kontak dengan para Yakuza.
Setelah berhasil mengumpulkan semua amunisi dan menerima sinyal komando, benda yang hanya seukuran layar ponsel lipat tersebut melesat ke titik koordinat yang dikirimkan Sanubari.
Air memenuhi ruangan seutuhnya. Sanubari melepaskan pakaian atasnya. Digunakannya baju tersebut sebagai pengganti selendang untuk menggendong koper. Sepatu pun turut dilepas dan diikat pada koper.
Sanubari mendongak sembari menyentuh langit-langit. Silet dari luar saling tertaut memanjang, terhubung dengan silet Sanubari yang juga dipanjangkan. Rangkaian silet membentuk pemotong ubin.
Sanubari menggerakkannya hingga membentuk persegi. Dia menjatuhkan bagian yang terpotong. Benda tersebut tenggelam. Sanubari naik terlebih dahulu setelah memasukkan kembali silet-silet. Dia mengambil setengah bagian dari baksilnya, menyimpan, lalu membantu Kouhei naik.
"Pintar juga bocah itu," gumam Eiji dalam hati.
Dia langsung membuatkan rute baru untuk Sanubari. Lelaki itu juga menghubungi Dua rekan lainnya, "Sai, Ren, kembali ke mobil sekarang juga! Jangan sampai mereka mengikuti kalian! Tuan muda berhasil dikeluarkan. Kuharap kalian bisa sampai ke sini kurang dari lima menit."
"Sialan kau, Ei—"
Kalimat Renji terpotong sebelum sempat menyelesaikannya karena Eiji menyela,"Sudah kubilang berulang kali, jangan memanggil namaku saat menjalankan misi! Kau sama saja dengan anak baru itu."
__ADS_1
"Dia selalu saja memberikan tenggat waktu yang tidak masuk akal!" Renji mendengus frustasi.
Berkelit di dunia nyata tak semudah menghilangkan jejak dari dunia Maya. Akan tetapi, Eiji memperlakukannya dengan setara. Renji yang sudah lama bekerja bersama Eiji pun tetap kelimpungan dalam kondisi seperti ini.
"Mustahil pergi tanpa diikuti." Renji mengintip dari balik tembok.
Tiba-tiba bunyi ledakan terdengar. Semua orang menjerit sebelum kehilangan kesadaran. Di belokan antara persembunyian para anggota Meiwa dan Renji, seorang pria berjalan santai dengan senapan serbu di tangan kanan sambil melempar-lempar ke atas geranat di tangan kiri. Sekali lagi, lelaki itu melempar geranat yang telah dibuka pemicunya ke gang sembari berlari ke seberang menghindari tembakan.
"Sai! Kenapa dia selalu bisa sesantai itu?" Renji berdecih.
Renji lekas menyusul Sai. Dia berhati-hati ketika mencapai persimpangan lorong. Masih ada anggota Meiwa yang berdiri. Renji menembak sisanya, lalu berlari.
Mereka berpapasan dengan Sanubari dan Kouhei. Di mobil, Eiji menyalakan mesin ketika melihat tiga titik kian mendekat di layar GPS mobil.
Posisi kursi telah dikembalikan seperti semula. Laptop pun sudah dimatikan. Langit masih gelap. Namun, semburat jingga mulai terlihat di ufuk timur.
Mobil langsung melaju dengan kecepatan tinggi begitu keempat orang itu masuk kemobil.
*****
Kouhei berjalan di tengah barisan tersebut tanpa berkata, diikuti rombongan Eiji di belakangnya. Mereka memasuki rumah atas ajakan Kouhei. Seorang kepala pelayan pun menyambut mereka.
Sebuah ucapan selamat datang dilontarkan oleh kepala pelayan untuk sang tuan muda. "Okaerinasai, Waka!"
Seorang pelayan wanita menimpali, "Tuan Muda, mari saya bantu mengeringkan rambut Anda."
Wanita itu membawa handuk. Eiji sudah menyampaikan bagaimana kondisi Kouhei sebelum meninggalkan dermaga. Oleh karena itu, para pelayan bisa memberikan servis yang tepat.
Kouhei mengambil handuk dari tangan pelayan tersebut. "Tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri."
"Baju ganti dan air hangat juga sudah kami siapkan."
Sementara itu, kepala pelayan mengalihkan perhatian pada rombongan di belakang Kouhei. "Eiji sama tachi wa kochira e douzo! Tuan Ando ingin berbicara dengan kalian."
Kepala pelayan itu menyuruh mereka untuk mengikutinya. Keempat orang itu pun melewati Kouhei.
__ADS_1
"Aku ikut mereka saja." Kepala Kouhei mengikuti pergerakan mereka.
"Tetapi Tuan Muda, baju Anda basah!"
"Biarlah!"
"Setidaknya gantilah baju terlebih dahulu!"
"Nanti saja!" Kouhei berjalan meninggalkan dua pelayan wanita yang ingin melayaninya.
"Apa aku sedang bermimpi? Mengapa orang-orang Jepang ini bahasanya campur aduk?" pikir Sanubari kebingungan.
Sanubari sudah memakai kaosnya sendiri yang kering. Sedangkan celana basahnya belum diganti. Tangan kanan menenteng koper yang dililit dengan pakaian. Sepatu yang menggantung pun belum dilepas
Kepala pelayan tersebut menggiring mereka ke sebuah ruangan menghadap ke taman. Bulir-bulir air terus menetes sepanjang jalan.
Sai, Renji, Eiji, dan Sanubari di atas tatami. Kepala pelayan tersebut kemudian berpamitan sejenak. Sanubari menatap ke depan. Di belakang Kouhei duduk terdapat lukisan gulung kastil, sakura, dan burung dengan sapuan kuas khas Jepang. Ada pula dua kaligrafi yang mengapit lukisan. Sanubari memandang kosong ke sana. Dia masih seperti setengah sadar. Dirinya sendiri tidak yakin.
"Kemarikan kopernya!" Eiji menggeser koper ke arahnya sendiri.
Dia melepaskan pakaian dan sepatu yang masih terikat. Kelakuan Sanubari benar-benar membuatnya geleng-geleng. Bisa-bisanya dia membawa koper tanpa melepas sesuatu yang diikatkan sebelumnya.
"Oi, Eiji! Mengapa kau merekrut bocah tidak tahu sopan santun seperti dia? Apakah standar Onyoudan sekarang sudah menurun?" Kouhei menunjuk Sanubari.
"Bahasa Jepangnya memang buruk, tetapi nilai fisik dan IT-nya sangat tinggi. Dia juga fasih berbahasa Indonesia. Jadi, kuputuskan untuk mencobanya."
"Oh, jadi dia anak baru?"
"Benar. Mohon maaf sudah membuat Tuan Muda basah seperti itu! Tapi tanpanya, kami mungkin tidak terpikirkan cara seperti itu untuk menyelematkan Tuan Muda!" Eiji tertunduk.
"Mengapa semua orang Jepang berbicara bahasa Indonesia? Apakah bahasa nasional orang Jepang sudah ganti? Mana ada sedikit bahasa Jepang yang diselipkan dalam bahasa Indonesia pula," celetuk Sanubari tanpa sadar.
Dia butuh kejelasan. Peristiwa ini mendadak samar bagi Sanubari. Dibangunkan dini hari dalam kondisi masih mengantuk, melakukan misi menegangkan, lalu berakhir di sini. Di sini, bersama orang-orang Jepang berbahasa Indonesia. Keganjilan yang patut dianggap sebagai bunga tidur belaka. Begitulah ISi kepala remaja itu.
"Tentu tidak. Bahasa kami tetap bahasa Jepang. Bahasa Indonesia itu seperti bahasa internasional," jawab Eiji.
__ADS_1
"Kalau kata otousan ...." Belum sempat Kouhei menyelesaikan kalimatnya, sebuah tendangan mengenai kepalanya.