
"Fix, kita akan memakai jalur diplomasi untuk menyelesaikan masalah ini."
Ulekan diketuk. Sambal tempe Sanubari telah selesai diremukkan, siap dieksekusi lidah. Begitupun pemilu tentang cara membersihkan desa. Tinggal masalah waktu kapan eksekusi itu dilaksanakan.
"Tidak perlu sampai membuat cacat karena tenaga mereka bisa kita manfaatkan."
"Untuk menjual singkong goreng," sahut Sanubari memotong Abrizar.
Dia tersenyum membawa sambal ijo tempe ke tengah mereka. Sai langsung bangkit mengambil piring dan sendok.
"Itu bisa juga. Sebagian bisa dipekerjakan untuk menggarap sawahmu, Sanu. Tapi, itu saja tidak cukup bila memang banyak preman pengangguran. Tidak mungkin kita semua menanggung hidup mereka setelah menyuruh berhenti, kan? Maka dari itu, kita juga harus menawarkan solusi," lanjut Abrizar.
Saidan Sanubari hilir mudik di tengah diskusi. Mereka bolak-balik membawa sepanci nasi, setoples besar kerupuk, gelas, air, dan urap.
"Penghasilan mereka untuk mengurus pemakaman saja sudah besar. Ratusan juta untuk satu mayat. Mana mau mereka beralih profesi dengan penghasilan belum pasti?" sanggah Renji, mendahului mencentong nasi.
"Justru penghasilan mereka saat inilah yang tidak pasti. Orang meninggal tidak selalu ada setiap tahun. Setelah dibagi-bagi, hasil perasan pun pasti kecil," balas Abrizar.
"Itu gampang. Cukup bunuh satu atau dua, maka uang pun datang," ucap Renji.
"Tidak selamanya itu bisa diterapkan. Pasti ada peraturan yang membatasinya. Jika tidak, mereka pada akhirnya pasti akan saling membunuh di antara mereka sendiri demi uang."
Arbumen Abrizar terdengar masuk akal. Memang seperti itulah kenyataan yang sedang berlangsung. Seperti berita yang sedang disiarkan di televisi, seorang pengusaha makanan sengaja memakai bahan berbahaya dan tidak layak konsumsi demi meningkatkan keuntungan pribadi. Meski tahu dampak negatifnya, itu tetap mereka lakukan. Manusia tidak ubahnya agen kepunahan bagi spesiesnya sendiri.
Siaran itu digunakan untuk menentang Abrizar oleh Renji. Dia berkata, "Mereka saja tidak ragu meracuni sesama manusia. Kau dengar itu, kan? Ah, benar juga! Mereka bahkan pernah hampir membunuh Sanu. Apa kau yakin teorimu itu tidak salah, Bri?"
"Kurasa, jika ada cara lain untuk mendapat keuntungan lebih, mereka pasti tidak akan sembarangan membunuh. Jika pembunuhan terus dilakukan sementara polisi tidak bertindak, negara ini lambat laun pasti akan kacau."
"Eiji benar. Mereka pasti memiliki perencanaan matang atas semuanya. Untuk membelokkan semua ke arah yang lebih baik, lapangan pekerjaan baru perlu diciptakan. Kita bisa membangun industri. Untuk ini, kita perlu berdiskusi dengan Fanon."
Baru saja namanya selesai disebut, Fanon muncul. Dia menyampaikan pesan. Sanubari menyuruh teman-temannya makan terlebih dahulu tanpa menunggunya.
Fanon kembali ke pekerjaan, sedangkan Sanubari berjalan menuju portal. Dia tidak punya hgambaran untuk apa dirinya dipanggil. Seingatnya, dia tidak pernah memiliki kenalan seorang polisi, apalagi dia baru kembali ke Indonesia. Yang diketahuinya pun masih sebatas warga kampung halaman selain keluarga Abrizar di kota lain.
Sanubari bertanya-tanya sepanjang jalan. Capung terbang melintas. Namun, Sanubari menghindar. Dia bahkan mendadak ke tengah jalan, menjauhi tanaman di pinggir jalan. Fakta yang Eiji sampaikan tentang kejadian waktu itu membuat Sanubari enggan mendekati binatang itu.
__ADS_1
Di depannya, dinding memblokir jalan. Dia harus berbelok melewati kebun untuk sampai ke portal. Dua orang polisi berdiri di seberang portal. Penjaga membuka kunci, membiarkan Sanubari lewat.
Sanubari menarik napas dalam-dalam, menata pikiran setenang mungkin, lalu berkata, "Ada apa Pak Polisi mencari saya?"
"Anda Sanubari?"
"Iya."
Sanubari memandang mereka penuh tanda tanya. Tidak bisa dipungkiri, dia gugup.
"Saudara Sanubari, kami ke sini membawa surat penangkapan atas pelanggaran hukum pengalih fungsian lahan tanpa izin yang Anda lakukan. Harap ikut kami ke kantor polisi dengan patuh!"
Polisi menunjukkan surat tersebut pada Sanubari. Mereka memborgol, menggiringnya ke mobil polisi.
Sanubari syok. Dia hanya bisa menurut tanpa kata. Dia sama sekali tidak mengerti hukum. Sanubari bahkan baru tahu ada undang-undang semacam itu. Sementara yang mereka tuduhkan itu benar. Sanubari telah membuka lahan kebun untuk kuburan. Jadi, dia tidak bisa melakukan pembelaan diri.
Kepala Sanubari sungguh kosong. Dia tidak tahu harus berbuat apa.
Mobil meninggalkan jalan kampung. Penjaga portal melihatnya sampai menghilang di tikungan. Sejenak, dia terdiam. Namun, kemudian, dia berpikir tidak baik membiarkkan kejadian itu tanpa melapor.
Percakapan mereka terhenti karena panggilan masuk dari penjaga. Fanon membiarkannya mengangkat telepon.
"Sanubari dibawa polisi, Pak," jawab penjaga itu.
"Memangnya kenapa sampai dibawa polisi?"
"Kurang tahu. Tapi katanya karena pengalihfungsian lahan begitu. Entah jelasnya bagaimana."
Sementara itu di rumah, Abrizar dan yang lain melanjutkan makan. Meskipun menunya sederhana, tetapi mereka sangat lahap. Andai tidak ingat Sanubari belum kembali, sambal tempenya mungkin sudah mereka gasak habis.
"Dia lama sekali. Ngapain aja sih?"
Renji hendak menciduk sambal tempe lagi. Namun, Eiji menampar tangan Renji.
"Itu jatah Sanu!"
__ADS_1
"Aku akan menyusulnya setelah mencuci piring," kataSai datar.
Dia sudah selesai makan. Pun yang lain. Sai berinisiatif mengambil semua piring kotor. Saat dia melangkah ke dapur, Fanon berlari memasuki rumah.
"Sanu ditangkap polisi!" serunya.
Semua orang langsung menoleh pada Fanon yang masih berdiri. Baru hari ke dua mereka menginjakkan kaki di desa, tetapi sebuah kejadian sudah menghampiri mereka. Padahal, mereka belum berbuat apa-apa.
"Kenapa ditangkap? Apa jangan-jangan ternyata selama ini dia buronan negara?" tanya Renji.
Eiji berpikir itu tidak mungkin. Dia pernah menyaksikan betapa ketakutannya Sanubari ketika tanpa sengaja melukai orang lain. Jelas, Sanubari bukanlah orang yang bisa berbuat kriminal dengan ringan di matanya.
Fanon menceritakan ulang yang didengarnya dari mandor. Seketika, Eiji teringat peristiwa hari sebelumnya.
,"Mungkinkah preman-preman kemarin melaporkan Sanu ke polisi?"
"Maksudmu polisi berkomplot dengan mereka untuk mempidanakan hal sepele seperti kuburan?" tanya Renji.
"Mungkin saja," jawab Eiji tidak yakin.
"Wah, sepertinya, kita harus membobol kepolisian untuk membebaskan Sanu," cetus Renji menyeringai.
"Tidak, Ren! Kita harus menempuh jalur hukum untuk membebaskannya. Dalam tahap ini, tidak akan menguntungkan bila Sanu sungguh berstatus buronan pemerintah. Kita tidak akan bisa bebas bergerak."
"Abri benar. Masih terlalu dini untuk bertentangan dengan pemerintah secara terbuka sekarang." Fanon mengangguk setuju pada Abrizar.
Fanon sendiri selalu bersinggungan dengan pemerintah, tetapi tidak pernah mengungkap jati diri pada mereka. Menurutnya, identitas tetap harus dirahasiakan.
"Pertama, kita harus menemui Sanu, mencari tahu apa yang terjadi, lalu mempelajari hukum negara ini untuk menemukan celah pembebasan jika diperlukan," tutur Abrizar.
"Atau menyewa pengacara bila memang serius," tambah Fanon.
"Meminta bantuan kepada yang paham hukum memang lebih baik," timpal Eiji mengangguk. Belajar dadakan tentang hukum pasti akan memakan waktu.
Namun, mereka tidak tahu harus mencari pengacara ke mana bila itu memang harus dilakukan. Kepercayaan tidak bisa mereka berikan begitu saja, sekalipun mereka merupakan orang yang bekerja di bidang hukum yang konon mengedepankan asas kebenaran.
__ADS_1