Santri Famiglia

Santri Famiglia
Perompak Udara


__ADS_3

Abrizar buru-buru melepas headset dan mematikan ponsel. Ia mengerahkan semua kepada Sanubari, lalu berbisik, "Simpan ini untukku!"


"Eh? Kakak tidak dengar tadi?"


"Akan kubiarkan mereka mengambil semua, tetapi tidak ponsel ini. Aku yakin mereka tidak akan menggeledah mu bila kita berpura-pura menurut. Masukkan ini ke tas di balik bajumu, matikan juga ponselmu! Apapun yang terjadi, jangan keluarkan tas itu sampai kita terbebas dari sini! Lakukan dan jangan banyak tanya! Mereka mulai bergerak."


Suara Abrizar lirih, tetapi terdengar sangat otoriter. Sanubari sampai tidak berani melawan. Sejujurnya, ia takut liontin yang dipakai akan meledak karena telah diam-diam menyembunyikan sesuatu. Dia tidak punya pilihan lain. Mau tak mau Sanubari harus mengikuti arahan Abrizar supaya rencana mereka berhasil.


Ia menyerahkan paspor kepada Abrizar, lalu berpura-pura tidur dengan pose yang diinginkan Abrizar. Ini untuk mengelabui mereka.


Tidak lama kemudian, beberapa orang datang. Dua orang mengangkut mayat menjauh, sedangkan dua sisanya membersihkan noda darah. Perlahan, aroma anyir pun menghilang, berganti dengan harum yang menyegarkan.


Pramugari yang mengumpulkan barang-barang saku penumpang pun akhirnya mencapai kursi Abrizar dan Sanubari. Abrizar menyerahkan tasnya kepada wanita itu. Sang pramugari segera mengosongkan isi tas dan dompet Abrizar, menyisakan dua paspor, dua kartu identitas, dan selembar uang sepuluh ribu Yen.


"Mana yang lain?" tanya pramugari itu yang ternyata bisa berbahasa Indonesia.


"Ada di tas." Abrizar menunjuk ke atas.


"Oh," pramugari mengikuti arah yang ditunjuk lalu kembali menatap Abrizar, "bangunkan wanita di sebelahku!"


"Hah, matilah aku!" batin Samubari ketar-ketir.


Hatinya was-was, takut wanita itu mengetahui sandiwaranya. Tubuh Sanubari bergetar tak terkontrol hingga tidak berani bernapas. Saking paniknya, sampai-sampai mendadak kebelet.


Sedangkan Abrizar masih bisa menjawab dengan tenang, "Barang-barangnya ada padaku. Dia sengaja kusuruh tidur karena tidak tahan dengan mayat sebelah."


Pramugari mengamati Sanubari dari ujung ke ujung. Dari yang tampak mata, Sanubari memang tidak terlihat membawa sesuatu. Ia pun membiarkannya.


"Hm, baiklah. Sedikit hadiah untuk kalian supaya tidak kelaparan. Selamat beristirahat!"


Pramugari mendorong troli ke kursi berikutnya. Ia percaya begitu saja perkataan Abrizar karena menemukan dua paspor di tas lelaki itu.

__ADS_1


Sanubari mati-matian menahan rasa ingin buang kecil. Sampai suara pramugari terdengar agak jauh, barulah ia berani mengatakannya kepada Abrizar, "Kak ABRI, antar aku ke kamar mandi! Aku ingin pis."


*****


Di bandara internasional Verona.


Damiyan menepi di salah satu pojok ruang tunggu. Headset dan kacamata terpasang. Sembari menanti jam keberangkatan, ia mengendalikan animatronik nyamuk untuk menjelajahi pesawat. Semenjak Sanubari memasuki bandara, telinga Damiyan sudah siaga. Terlebih lagi saat mengetahui pesawat Sanubari dibajak, headset tidak sedetik pun terlepas dari telinga.


Ia tidak berada di dekat Sanubari. Hanya memantau dari kejauhan yang bisa Damian perbuat demi menjamin keamanan Sanubari. Ia baru akan melapor kepada Aeneas jika keadaan menjadi tak terkendali


Mudah bagi Aeneas mengirimkan beberapa jet tempur untuk menyelamatkan Sanubari atas sana. Namun, Damiyan merasa keadaan tidak sepenting itu. Jadi, ia lebih memilih untuk mengobservasi dan memastikan Sanubari tidak bertindak bodoh. Itu yang terpenting.


Beberapa kali Damiyan menggeleng dan berdecak. Ruang paling belakang hingga tengah selesai ia periksa. Nyamuk terus bergerak maju hingga berhenti di kabin kelas satu. Layar ponsel menampilkan beberapa pria dan seorang wanita duduk di mini bar. Mereka menikmati minuman dan bercengkrama.


"Omae wa hontou ni ichiban hen na dorobou da, Mikki!"


(Kau benar-benar perampok paling aneh, Mikki.)


Satu-satunya wanita di sana pun menimpali, "Sou Yo! Sekai Ichi hen Na Micchan!"


(Benar loh! Micchan teraneh sedunia!"


Wanita itu tertawa seperti orang yang sedang mabuk berat. Tiga botol gin kosong berderet di depannya dan dia masih memegang satu botol lagi.


Sementara pria yang dipanggil Mikki atau Micchan hanya meminum teh susu dingin melalui sedotan. Ia juga terlihat sedikit berbeda dibandingkan yang lain, memakai topeng hitam legam dengan bulan sabit bersilang emas.


"Haaa, nanda omaetachi! Nan to iuka? Ore ga hentai tte koto ittai no ka?"


(Haaa, apa-apaan kalian ini! Kalian bilang apa sih? Maksudnya, kalian mau bilang kalau aku ini mesum begitu?)


Mikki tampak kesal sampai menggebrak meja. Ia tidak terima dikatai mesum. Segelas teh susu pun langsung tandas dalam sekian detik. Ia langsung meminta tambah.

__ADS_1


"Sial! Aku tidak paham bahasa Jepang!" Damiyan ikut menggebrak meja menonton siaran langsung tersebut.


Padahal dia yakin mereka otak dari perompakan udara tersebut. Di antara semua orang, hanya mereka yang masih bisa bersenang-senang, bergurau lepas. Ditambah lagi, ada yang memakai baju pramugara dan pilot.


Sangat disesalkan, mereka bercakap-cakap dalam bahasa Jepang. Tidak ada informasi yang bisa Damiyan cerna dari dialog mereka. Saat Damiyan merasa percuma menguping pembicaraan mereka, tiba-tiba-tiba terdengar suara wanita di telinganya.


"Mosan mendeteksi Tuan sedang kesulitan. Apakah Anda ingin menyalakan penerjemah layar?"


"Penerjemah layar?" Damiyan tersentak.


Suara yang mendadak muncul membuatnya terkejut. Ia sempat celingukan. Namun, segera sadar kemudian bahwa Mosan adalah nama animatronik nyamuk canggih yang sedang ia kendalikan.


"Penerjemah layar adalah fitur yang bisa menerjemahkan secara otomatis. Sistem akan mengolah audio terekam lalu menyampaikan kepada Tuan dalam bahasa pilihan yang telah Anda tentukan. Fitur ini bisa diaktifkan melalui pengaturan aksesibilitas Mosan atau dengan perintah suara. Cukup katakan 'Penerjemah layar aktif'!"


"Penerjemah layar aktif'!"


"Penerjemah layar aktif'. Semua audio masuk akan diterjemahkan secara otomatis ke dalam bahasa Indonesia."


"BGA memang luar biasa." Damiyan tersenyum lebar.


Ia belum selesai membaca buku manual Mosan. Tidak disangka Mosan dilengkapi kecerdasan buatan secanggih ini. Ia sangat beruntung bisa mendapatkan alat sehebat ini secara gratis. Sanubari benar-benar pembawa anumerah baginya.


Iya yakin harga Mosan pasti sangat mahal. Fiturnya saja sudah cukup mengatakan berapa harganya. Padahal Damiyan sengaja memilih alat kecil ketika Aeneas menawarinya untuk memilih sesuka hati apa pun yang diinginkan. Asalkan alat tersebut berguna untuk melindungi Sanubari, Aeneas tidak keberatan Damiyan mengambil sebanyak-banyaknya.


Semua peralatan juga bisa dimiliki Damiyan selamanya tanpa mengembalikannya. Dengan mempertimbangkan kepraktisan mobilitas, Damiyan mengambil benda-benda kecil. Yang ternyata jauh lebih bagus dari ekspektasi.


"Hoki besar, uwauw!"


Damiyan kembali fokus mendengarkan percakapan orang-orang yang ia curigai sebagai perompak udara. Ia tidak jadi menerbangkan Mosan ke tujuan berikutnya. Mode penerbangan Mosan pun telah ia rubah ke senyap sejak memutuskan untuk berkeliling. Tidak ada lagi dengungan khas nyamuk. Ia bisa lebih leluasa menggerakkan Mosan.


Sistem penerjemah layar Mosan benar-benar berjalan sangat baik. Ia kini bisa memahami isi percakapan mereka.

__ADS_1


__ADS_2