Santri Famiglia

Santri Famiglia
Nama


__ADS_3

"Ah, aku lupa kalau tidak membawa apa-apa ketika dibawa polisi. Kak Eiji, boleh pinjam uang? Nanti kuganti setelah sampai rumah."


Sanubari tertawa canggung, merasa malu dengan diri sendiri. Dia terlanjur mengatakan ingin mentraktir, tapi sama sekali tidak memegang uang. Jin lekas menyela.


"Biar aku saja yang membayar semua. Anggap ini sebagai traktiran reuni kita, Sanu."


Jin tersenyum. Dia beranjak terlebih dahulu menuju kasir. Setelah menyelesaikan pembayaran, dia mengajak Sanubari satu mobil lagi. Sanubari hendak ikut mobil yang disopiri Eiji, tetapi Jin memaksa.


"Sanu, apa gadis tadi juga anggotamu?" tanya Jin.


"Petahana teman Pak Kora. Dia ...."


"Bagaimana dengan yang namanya Anki tadi?"


"Anki bagian dari kami. Dia yang mengelola kedai singkong kami."


"Dia sudah punya pacar atau suami?"


Jin merasa konyol berusaha mengorek informasi semacam itu. Akan tetapi, dia perlu kejelasan.


"Kurasa belum. Aku tidak pernah melihatnya dekat dengan siapa pun kecuali kami. Apalagi, Kak Eiji lebih sering membuatnya berada di rumah."


"Eiji itu siapanya Anki?"


"Kakaknya. Memangnya kenapa?"


"Aku berpikir untuk menerima tawaranmu tadi. Jadi, ada baiknya bila aku mengenal anggota yang lain, kan?" dalih Jin.


"Sungguh? Kakak mau jadi anggotaku?"


"Ya." Jin mengangguk.


Bas melirik Jin yang tersenyum santai. Dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi harus ditahan. Sanubari masih bersama mereka, mengorasikan kebahagiaan sepanjang jalan.


Setelah Sanubari diturunkan, barulah Bas berbicara, "Jin, apa kau berniat mengkhianati Famiglia?"


"Aku tidak bilang akan keluar, kan? Kenapa berkesimpulan seperti itu?"


"Tapi, kau bilang setuju bergabung dengan Bocah Toilet itu."


Mendengar penuturan rekannya itu, Jin tertawa terbahak. "Anggap saja itu seperti kita bekerja di sebuah perusahaan sebagai karyawan orang lain, tapi itu tidak mengubah status kita sebagai bagian dari Famiglia pusat! Bukankah selama ini begitu?"

__ADS_1


Bas membenarkan perkataan Jin. Bas sendiri berprofesi sebagai sopir muatan antarkota saat tidak menjalankan misi bersama Jin.


Malam harinya, Sanubari dan kawan-kawan berkumpul di tempat biasa. Para pria itu duduk melingkar.


"Kita akan beraksi setiap malam memakai kostum ini." Eiji mengangkat topeng elastis.


"Wah, yang ini tidak ada matanya." Sanubari mengambil topeng lain. Topengnya hitam polos tanpa corak.


"Itu untuk ABRI. Berhubung dia berjalan tanpa mata, jadi kupikir dengan atau tanpa lensa sama saja. Selain itu, kita bisa hemat bahan dengan meniadakan lensa," jelas Eiji.


Sejak Sanubari dipenjara, dia mulai membeli berbagai material dan perlengkapan elektronik. Eiji tidak mau lagi menyia-nyiakan waktu. Dia sudah terlalu santai beberapa bulan terakhir.


Jadi, dia memulai apa yang dia bisa. Rumah itu sudah seperti bengkel sekarang. Kabel, obeng, dan peralatan lain tertumpuk di sudut-sudut ruangan.


Setiap hari dia bekerja menciptakan ini/itu. Sai dan Renji ikut bergerak melihat Eiji bekerja. Hasilnya, mereka sukses membuat kostum untuk setiap anggota inti.


"Meski bukan kualitas terbaik, tapi ini cukup untuk menahan peluru," tambah Eiji.


"Untuk memudahkan komunikasi, kita juga perlu nama samaran untuk menyembunyikan identitas," sahut Abrizar.


"Berbicara soal identitas, kita perlu menamai kelompok ini, bukan?" timpal Fanon.


Dia ikut memperhatikan satu demi satu topeng dan kostum. Mereka memiliki warna lensa berbeda. Motif pada kostum pun berbeda.


Dia membayangkan adegan Di mana pencuri unik selalu meninggalkan kartu identitas khas untum mempermainkan kepolisian. Itu gagasan bagus menurutnya, menunjukkan keberanian.


"Bukan itu poinnya, Sanu," kata Eiji.


"Jadi, apa nama kita?" sela Renji.


Mereka diam sesaat. Meskipun begitu, hanya Sanubari yang benar-benar memikirkan nama.


"Aku Sagon."


Selesai memberi nama pada diri sendiri. Sanubari menatap Eiji. Dia memikirkan keahlian Eiji sebagai mekatronika, lalu mencari kata yang pengucapannya hampir mirip.


Maka, tercetuslah nama, "Kak Eiji, Moka."


Selanjutnya, dia menoleh pada Abrizar. Saat mengingat Abrizar sebagai peretas serba bisa yang suka mencuri, tetapi tidak pernah menggunakannya untuk kepentingan pribadi, kata 'klepto' muncul dalam benak Sanubari. Dan satu kata yang mendekati pengucapannya adalah, "Kak Abri, Klepon."


Beralih pada Renji—seorang mantan pilot yang masuk Yakuza. Maka, Sanubari menyematkan panggilan, "Kak Ren, Cilot."

__ADS_1


Berikutnya, Sanubari menunjuk Sai si ahli senjata. Saat bekerja di BGA, Sai bisa menciptakan berbagai jenis peledak dan senjata api. Entah mengapa, satu kata yang terpikir oleh Sanubari adalah, "Kak Sai, Bakwan."


Yang terakhir, Fanon. Dia adalah ahli ekonomi sekaligus arsitek yang akan memutar roda finansial organisasi. Bisa dibilang perannya seperti tulang punggung keluarga. Untuk itu, Sanubari memilihkan nama, "Pak Kora, Sumsum."


Jin tidak ikut perkumpulan, tetapi Sanubari sudah menyiapkan nama untuknya. Sementara Juma, Fukai, Petamana, dan Petahana tidak dia pikirkan. Mereka belum secara resmi menyatakan bergabung. Sedangkan Anki tidak diberi nama lapangan karena gadis itu tidak akan pernah dilibatkan dalam misi lapangan.


"Hei, kenapa kau seenaknya memberi nama aneh pada kami? Apa pula itu Cilot?" tanya Renji.


"Tidak aneh kok. Itu semua nama makanan. Cilot itu makanan terbuat dari tepung. Pengucapannya mirip keahlian Kak Ren sebagai pilot, kan? Jadi, kurasa itu cocok untuk Kak Ren." Sanubari menyengir.


"Aku malas memikirkan nama. Jadi, aku ikut saja apa keputusan kalian," ucap Abrizar.


"Moka tidak buruk. Bisa kuterima," kata Eiji mengangguk.


"Apa kau memberiku nama itu karena aku ini sumsum tulang belakang kalian?" terka Fanon.


"Kurang lebih seperti itu. Pak Kora akan menjadi tonggak ekonomi kita. Meski aku membayangkan bubur sumsum waktu memberii nama," kekeh Sanubari.


Sai tidak berkomentar. Toh, itu hanya nama panggilan. Apa pun itu, dia tidak keberatan.


", Lalu, apa nama kelompok kita?" tanya Eiji.


"Santri Famiglia. Keluarga yang saling belajar dari sesama anggota dan akan membawa kebaikan pada keluarga lain. Ayo kita tunjukkan siapa Santri Famiglia itu sesungguhnya!" ujar Sanubari.


"Jangan bilang kalau itu singkatan dari pohon Sanubari!" celetuk Renji.


"Sanubari's Tree?" ucap Sai.


"Pohon Sanubari—pohon hati. Tidak buruk juga. Hati adalah perlambang pangkal segala perasaan. Kita akan menjadi pohon yang menebarkan benih perasaan pada dunia, menjerat mereka yang busuk, lalu menanamkan benih lain untuk mengharumkannya.


"Namun, tidak menutup kemungkinan kita akan menebarkan bunga busuk pula. Karena itu, kita harus berhati-hati dalam membesarkan pohon ini," respons Abrizar.


Sanubari sama sekali tidak berpikir sejauh itu. Dia hanya teringat percakapannya dengan Muktar di sel. Siapa duga, teman-temannya bisa memaknai sedalam itu, lebih dari yang diharapkan.


"Sesuatu yang busuk bisa menjadi pupuk dan memberikan manfaat baik bila diolah dengan benar. Mengubah kebusukan menjadi kebaikan. Itu filosofi yang bagus," imbuh Fanon. Dia merasa mengerti apa yang dimaksud Abrizar.


"Tapi, tidakkah kalian pikir itu seperti Sanu mengusulkan namanya sendiri?" protes Renji.


"Tidak juga. Sanubari itu memang sinonim dari jantung hati. Kalaupun benar Sanu memikirkan dirinya sendiri saat menamai kelompok ini, itu tidak masalah. Bukankah karena dia kita semua berkumpul di sini? Karena dia pula yang mendirikan kelompok ini?" balas Abrizar.


"Nama yang bagus. Aku tidak keberatan," ucap Fanon.

__ADS_1


Sai dan Eiji setuju. Renji yang tidak punya pendukung pun ikut setuju akhirnya.


"Padahal, sungguh aku tidak memikirkan semua itu," batin Sanubari tersenyum, membiarkan mereka memaknai seenaknya.


__ADS_2