Santri Famiglia

Santri Famiglia
Berpencar


__ADS_3

[Mamonaku, shuuten Shin Osaka desu. Toukaidosen to chikatetsusen wa onorikae desu. Kyou mo Shinkansen wo goriyou kudasaimashite arigatou gozaimashita.]


'Sebentar lagi akan tiba di pemberhentian terakhir—stasiun Shin Osaka. Bagi yang ingin menggunakan jalur Toukaido dan kereta bawah tanah bisa transit di sini. Terima kasih telah menggunakan Shinkansen hari ini.'


Satu denting diikuti suara berdesis seiring tergesernya pintu. Para penumpang dengan tertib meninggalkan gerbong.


Hanya dalam empat puluh delapan menit, Kereta peluru telah sampai di Kansai. Tepat pukul tujuh lebih sembilan menit pagi, ular besi yang mengangkut ratusan penumpang tersebut berhenti di stasiun Shin Osaka.


"Apa stasiun-stasiun besar selalu memusingkan seperti ini?" Netra hijau itu jelalatan ke sana-sini. Dia kebingungan. Terlalu luas dan banyak Arah yang bisa dituju tanpa tahu jalan-jalan tersebut akan berakhir di mana.


Ingatannya prakecelakaan agak rancu. Dia tidak tahu apakah dirinya pernah pergi ke tempat-tempat ramai seperti ini. Hanya ada sepotong-sepotong memori yang terkadang berkelebat.


Lima tahun dirinya hidup di pegunungan terpencil. Tentunya mendadak pindah ke kota besar membuat pemilik iris hijau itu kultur syok. Sejak menuju Italia, sampai ke Jepang, kegagapan Sanubari terhadap kota besar belum juga berakhir.


"Jangan bilang kalau kau mabuk Shinkansen?" Renji merangkul Sanubari.


"Aku tidak ...." Pemuda itu mengelak.

__ADS_1


"Tidak perlu malu seperti itu. Aku tahu kau ini lemah terhadap kendaraan. Bukankah waktu itu kau juga pingsan saat Eiji menyetir?" Renji menepuk-nepuk bahu Sanubari, berlagak sok perhatian. Padahal, dia hanya senang menjahili Sanubari.


Keempat pria itu berjalan cepat menuju peron satu, menaiki Midosuji Line menuju stasiun selanjutnya. Menjelang dua puluh menit pertama, pengumuman akan segera tiba di stasiun Umeda dikumandangkan.


"Sepertinya kita harus berpisah di sini," celetuk Eiji.


"Keretanya masih jalan," balas Sanubari.


"Kita turun di Umeda," timpal Sai dengan nada datar.


"Perhatikan itu!" Renji menunjuk ke atas pintu.


Sanubari mengikuti arah yang ditunjuk. Dia mengernyit. Terlalu banyak garis yang tak dimengertinya.


"Aku dan Eiji harus turun di stasiun Tenoji. Masih ada enam stasiun lagi yang harus kami lewati setelah stasiun Umeda."


Tepat saat Renji mengakhiri kalimatnya, kereta berhenti. Sanubari dan Sai berpamitan. Pintu kereta pun menutup kembali.

__ADS_1


"Apa tidak masalah menyerahkan si Yang itu pada mereka berdua? Renji berbisik.


"Setidaknya, Sai lebih baik darimu. Dia sendiri bisa mengatasinya."


"Hei-hei! Ada apa dengan kalimat itu? Aku merasa terhina," protes Renji tidak terima.


Andaikan mereka tidak sedang dalam kereta, mungkin Renji sudah menghajar pria yang duduk di sebelahnya. Namun, itu hanya sebatas andai-andai. Renji tidak cukup berani untuk mewujudkannya. Menurutnya, Eiji itu menyeramkan. Bisa-bisa dirinya berakhir sebagai gelandangan sepanjang sisa hidupnya bila berani mengusik ketuanya ini.


Enam menit berlalu begitu cepat. Lagi, mereka harus berjalan kaki, melewati jembatan gantung yang cukup luas. Mobil pun bisa lewat andaikan diperbolehkan. Besi-besi panjang tersusun artistik di sayap kanan dan kiri.


Menengok ke sisi kiri, tulisan Abe no Harukas tercetak timbul di gedung maha besar. Tanda bahwa kedua pria itu tidak salah jalan. Tinggal beberapa meter lagi mereka memasuki area gedung.


"Selamat pagi, Tuan Shiragami!" sapa seorang wanita berpenampilan kantoran ketika Eiji dan Renji tiba di area hotel.


"Selamat pagi!" Eiji tersenyum profesional.


"Saya sudah menunggu kedatangan Anda. Perkenalkan, saya Satsuki Moriyama—perwakilan tuan Shima," wanita itu menyerahkan kartu nama pada Eiji, "kebetulan tuan Shima sedang sibuk dengan urusan kementerian. Jadi, saya diutus untuk menyampaikan bagian mana saja yang harus diperbaiki. Mari ikut saya!"

__ADS_1


__ADS_2