Santri Famiglia

Santri Famiglia
Langkah Berikutnya


__ADS_3

"Wah, bagaimana Kakak bisa memahami bahasa alien seperti ini? Orang kumur bahkan lebih baik dari ini," celoteh Sanubari.


Laptop Abrizar sangat berisik. Suara pembaca layar sangat cepat. Saking cepatnya, sampai terdengar seperti suara bebek. Tidak satu pun makina yang tertangkap telinga Sanubari.


Abrizar yang biasa bekerja dengan suara pun merasa terganggu. Mudah baginya memahami suara yang dianggap Sanubari bahasa alien. Dia sengaja menaikkan laju ucapan untuk mempercepat pekerjaan.


Abrizar tidak telaten dengan suara pemandu yang lambat. Namun, kehadiran Sanubafi memecah fokusnya. Dia hampir beberapa kali melakukan kesalahan.


Pada akhirnya, Abrizar mengusir, "Keluar dari kamarku! Jangan ganggu aku di sini!"


"Aku akan tetap di sini, menunggu Kak Abri sampai selesai."


"Kubilang, keluar!"


"Tapi, Kakak sudah berjanji akan membicarakannya hari ini."


"Nanti setelah aku menyelesaikan urusanku. Sekarang, keluarlah! Tidak ada tawar menawar!" tegas Abrizar.


Dengan sedikit rasa kecewa, Sanubari keluar dari kamar Abrizar. Dia menuju dapur.


Di sana, Anki dan Hana sedang menyiapkan sarapan. Aroma sedap menguar dari penggorengan yang berisik. Hana menggerakkan spatula, membalik udang-udang bertepung yang mengambang dalam minyak panas. Di sebelah kirinya, beberapa udang berwarna keemasan bertumpuk di pengiris. Sementara di depan peniris, terdapat udang tepung gang belum digoreng.


Di belakang Hana, Anki memakai sarung tangan. Gadis itu menggelung rambutnya sehingga penampilannya terlihat lebih ringkas. Gadis itu menggelar makisu berlapis plastik ke meja. Rumput laut cukup lebar dibeber di atasnya, lalu secentong nasi diratakan sampai menutupi rumput laut.


"Wah, sedang membuat sushi, ya?"


Sanubari mendekat. Dia melihat baskom-baskom berisi alpukat, irisan telur dadar, dan sosis.


"Aku rindu masakan Jepang. Jadi, kami sepakat untuk membuat sushi dan ebi furai untuk menu sarapan pagi ini."


Anki enata telur, alpukat, dan sosis sapi ke atas nasi. Kemudian, dia menggulungnya. Tiga isian itu akhirnya terjebak di tengah lingkaran putih. Lapisan terluar berwarna hijau tua, membuatnya terlihat seperti lemper yang masih dibungkus daun pisang.


"Aku mau ikut bikin juga!"


"Kamu duduk saja! Urusan dapur, biar kami para wanita yang menyelesaikan! Mau kubuatkan minuman hangat?"

__ADS_1


Anki mengangkat kepala, tersenyum pada Sanubari. Hanya sesaat—sampai Sanubari menggeleng. Kemudian, dia kembali memandang Susi yang seperti silinder.


"Tapi, aku ingin membantu."


Sanubari melihat tangan Anki. Tangan kanan itu sekarang sedang memegang pisau, memotong-motong sushi dengan ukuran yang sama.


"Tidak perlu! Kami bisa menangani ini. Kamu santai saja!


Anki meletakkan pisau, mengambil sepotong paling kanan. Dia menyuapkannya pada Sanubari.


"Bagaimana? Apa ada sesuatu yang kurang?" lanjutnya.


Mulut Sanubari penuh, nyaris tidak muat untuk memasukkan sepotong yang cukup lebar. Dia tidak pernah makan alpukat bersama nasi sebelumnya. Dia tidak menyangka, rasa gurih dari sosis, telur, nasi, mayones, saus pedas manis, dan rumput laut akan sangat cocok dipadukan dengan alpukat yang berdaging lembut.


Sanubari mengunyahnya perlahan. Dia sangat menikmati. Kemudian, dia menelannya sebelum menjawab, "Ini enak! Sangat lezat!"


Eiji memperhatikan dari jauh. Dia berdiri di dekat tangga sejak Anki menyuapi Sanubari.


Sembari membuat gulungan baru, Anki terus mengobrol dengan Sanubari. Dia menyuapi Sanubari lagi begitu selesai memotong dan memindahkan ke tempat lain. Sanubari duduk menghadap Anki.


"Ini lebih dari cukup untuk yang lain. Tidak perlu khawatir!"


Eiji bergabung setelahnya. Dia dan Sanubari tetap di sana sampai aktivitas memasak selesai dan waktu sarapan tiba.


Usai sarapan, Sanubari mengajak Abrizar dan Eiji berdiskusi. Ketiganya pergi ke kamar Abrizar. Dari sana, terkuaklah kesalahpahaman Eiji.


Sanubari menjelaskan perselisihan paham ketika mereka berkumpul bertiga.


Eiji sempat tertegun sejenak. Dia tidak menyangka, selama ini, ternyata Sanubari mengajaknya mendirikan sebuah organisasi.


Melihat orang-orang seperti Frosty Sky yang menjadi salah satu anggotanya dan L'eterna Volonta pendukung di belakang layar, Eiji pun tidak menolak. Itu sebuah keberuntungan bagi Sanubari.


Mereka bertiga berkumpul di kamar Abrizar. Selesai meluruskan kesalahpahaman dengan Eiji, Sanubari mengutarakan rencana dalam pikirannya.


"Aku sudah berpikir semalam. Sebagai langkah pertama, kita akan memusnahkan markas utama SM di Korea."

__ADS_1


Tentu, Abrizar tidak serta-merta menyetujui usulan tersebut. Peristiwa buruk yang menimpa mereka di masa pelarian beberapa bulan silam membuat Abrizar mencari tahu informasi tentang apa yang terjadi. Entah itu faktor internal maupun eksternal berupa situasi negara sekitar.


Abrizar menemukan fakta cukup mencengangkan. Dia terus memantau kondisi tersebut. Tidak pernah sekali pun dia melewatkan berita yang ada.


"Itu tindakan yang gegabah. Kita tidak akan melakukan itu."


Sanubari mengernyit heran. Dia tahu bahwa selama ini Abrizar selalu ingin membuat SM bangkrut. Sanubari merasa aneh ketika mendengar penolakan itu.


Dia pun bertanya, "Tapi, bukankah Kakak ingin melakukan itu?"


Eiji mendapat kejutan lain. SM—organisasi rintisan Kim Jong Hyun ternyata menjadi incaran dua rekannya ini. Maka, tidak ada keraguan lagi untuk menjadi bagian dari organisasi yang akan dibentuk. Dia percaya bahwa segala usaha memiliki kesempatan.


Abrizar menjelaskan, "Pertama, konflik antara Cina dan persekutuan Mongolia belum berakhir. Terlalu riskan ke negara yang berbatasan dengan Cina sekarang.


Kedua, kita belum memiliki anggota yang cukup untuk melakukan penyerangan fisik. Fokus kita sekarang adalah mendirikan Markas dan merekrut anggota."


Sanubari tidak terlalu paham apa yang terjadi di luar sana. Akan tetapi, dia cukup nyaman berada di rumah Abrizar. Oleh karena itu, dia berkata, "Kita bisa berkumpul di sini."


"Tidak bisa. Di sini, ada Anki, Hana, dan Hanan. Jika bisa, jangan sampai mereka terlibat! Dunia ini tidak aman untuk mereka."


Abrizar bahkan memikirkan keselamatan Anki. Eiji makin mengagumi Abrizar. Meski memiliki keterbatasan fisik, tetapi dia luar biasa.


"ABRI benar, Sanu! Kita tidak bisa melibatkan orang di sekitar kita untuk membuat organisasi semacam ini. Sebisa mungkin, kita harus merahasiakan identitas dan memisahkan ini dari urusan pribadi. Hal itu untuk menjaga orang-orang berharga bagi kita supaya tidak terseret dalam bahaya."


Pernyataan Eiji mengingatkan Sanubari pada apa yang dilakukan ayahnya. Aeneas menjauhkan adik-adik Sanubari dan sang nenek darinya. Bila dia tidak berpikir baik-baik, mungkin hal semacam itu akan terulang di masa depan.


Sanubari harus memikirkan ini matang-matang. Tentu, dia tidak ingin itu terjadi. Dia ingin menjalani hari-hari normal bersama keluarganya.


"Benar. Kita tidak akan terang-terangan menunjukkan identitas ketika beraksi," tambah Abrizar.


"Aku sendiri tidak pernah menunjukkan identitas ku selama di Onyoudan. Hanya orang-orang dari asosiasi yang tahu identitasku sesengguhnya."


Ucapannya itu mengingatkan Eiji pada keadaan Jepang. Sudah lama, dia tidak menghubungi kakeknya. Entah bagaimana kabar sang kakek sekarang. Eiji tidak pernah mencari tahu tentang berita politik dari negara asalnya.


Sanubari mendadak teringat rumah lamanya. Cita-cita kecil dari masa kanak-kanak terlintas di kepalanya.

__ADS_1


Dia pun memutuskan, "Kalau begitu, mari dirikan markas di kampung halamanku! Ada sesuatu yang ingin kulakukan di sana. Eh, tapi, aku lupa di mana rumahku waktu di Indonesia dulu"


__ADS_2