
Lantai tiga puluh sembilan Abe no Harukas, 2 Mei.
Eiji didorong masuk hingga terjungkal. Sebelum sempat berdiri Kenbali, pintu secepat kilat ditutup dengan kasar, menciptakan debuman. Kunci otomatis pun menyala ketika pintu merapat.
"Apakah kami perlu menjaga pintu ini?" tanya salah satu di antara bawahan Shima.
"Tanpa kalian jaga pun dia tidak akan bisa kabur dari sini." Shima berbalik badan, meninggalkan kamar itu.
Para bawahan mengikutinya. Tampaknya, ada di antara mereka yang mengenali Eiji. Orang itu menatap pintu sebelum menyusul dan bertanya, "Tuan Shima, apakah tidak apa-apa memperlakukan tuan Shiragami seperti itu? Bukankah dia ...."
"Biarkan saja dia merenungkan kesalahannya dan menenangkan diri terlebih dahulu. Nanti aku akan bicara dengannya." Shima melangkah cepat.
Dia sengaja melakukan itu karena tidak ingin berhadapan dengan Eiji. Dalam kondisi seperti itu, kenekadan Eiji akan berakibat fatal padanya bila bertindak gegabah. Pria itu hanya mencari aman dan tidak ingin membahayakan dirinya sendiri.
Mereka mengawal Shima sampai ruangannya. Kemudian, mereka diizinkan pergi.
"Menurutmu, apa yang dilakukan tuan Kim pada gadis itu? Bukankah dia cukup sering mengunjunginya selama di sini?"
"Entahlah. Yang jelas, dia akan membawanya ke Korea akhir goldenweek kini."
"Hei, bagaimana kau tahu?"
"Kapan itu?"
"Bocoran informasi dari ketua. Beberapa di antara kita mungkin akan diminta untuk mengawal tanggal lima ini."
"Ah, sayang sekali. Padahal, adik tuan Shiragami itu sangat cantik."
"Kau benar. Aku juga ingin memiliki kesempatan bersamanya. Tapi, sayang sekali, selama di Nagoya, senior Shiragami membuat kita tidak bisa menyentuhnya."
"Wah, enak sekali kalian yang bertugas di Nagoya, setiap hari bisa melihat gadis cantik bak dewi itu."
Segerombolan pria itu terus berjalan sambil memperbincangkan Anki. Tanpa mereka sadari, satu di antara mereka mengamati kinerja tiap ruangan. Perekam menyala di saku jasnya. Satu itu kemudian memisahkan diri. Tidak ada gunanya lagi dia berada di antara mereka. Pembicaraan itu pun tidak penting baginya.
__ADS_1
Memasuki jam malam, satu demi satu fasilitas dimatikan. Pengunjung meninggalkan area-area wisata dan perbelanjaan hingga tak bersisa. Area-area tertentu pun telah menggelap.
Eskalator berhenti bergerak. Tak terkecuali elevator ketika melewati tengah malam. Lampu koridor di lantai tiga puluh delapan padam. Pun dengan kamera pengawas di beberapa titik.
Dalam kegelapan itu, seorang pria berjalan dengan bantuan lensa khusus. Dia berhenti di depan sebuah kamar. Di sana, dia menyalakan suara.
[Buka pintu!]
Sistem keamanan pintu menyala, merespons suara itu. Terpampang tulisan dalam gelap pada daun pintu. Kalimat itu berbunyi, 'Konfirmasikan ulang suara!'
[Buka pintu.[
Tulisan pada pintu berganti. Kali ini berbunyi, 'Sintesis suara ditolak. Sistem mendeteksi suara sebagai rekaman. Gunakan suara asli Anda jika ingin membuka akses!'
"Sial! Tidak kusangka sistemnya secerdas ini. Padahal, suara yang kuambil sangat jernih. Kakak, kau benar-benar menyulitkanku. Bahkan, ketika semua listrik padam, sistem sialan ini masih menyala," gerutu pria itu dalam hati.
Dia seakan menjumpai jalan buntu. Dia tidak ingin memasang alat bantu pada pintu yang akan membuatnya berakhir seperti Eiji siang sebelumnya. Dia berdiri penuh pertimbangan selama beberapa saat.
Tiba-tiba, tulisan baru muncul, 'Apakah Anda sedang bermasalah dengan suara? Ingin melanjutkan dengan pemindaian wajah dan opsi akses lainnya?'
Sayang, respons yang diterima tidak sesuai harapan. Kalimat berikutnya setelah pemindaian aktif memberi tahukan padanya, "Kontur wajah salah. Retina tidak sesuai.'
"Sial! Apa lagi yang salah?" batinnya melotot.
Ingin rasanya dia melepaskan kekesalan yang terakumulasi pada kepalan tangan. Namun, dia harus menahannya
Lensa yang dipakainya disertai fitur yang mampu menyesuaikan dengan pola retina yang diperlukan—sistem pendeteksi otomatis yang mampu meretas pemindai biologis buatan mana pun. Selama ini, dia tidak pernah gagal membobol pemindai retina dengan alat itu—sebuah kacamata yang dicurinya dari Eiji. Siapa sangka, ciptaan Eiji itu tidak bekerja pada ciptaan Eiji lainnya.
"Ah, tidak salah dia dijuluki Master Mekatronika Tanpa Celah. Dia bisa menciptakan peretasnya. Dia juga bisa menciptakan antiretasnya."
Dia benar-benar berada di titik buntu. Jalan terakhir yang terpikirkan olehnya bila semua rencana gagal sepertinya harus dia coba sekarang juga. Dia mengeluarkan ponsel. Dengan benda pipih itu, dia melakukan pemadaman total. Berharap itu akan berpengaruh pada sistem keamanan di hadapannya.
Sebenarnya, ini adalah cara yang paling ingin dia hindari. Karena dengan melakukannya, aksinya akan cepat disadari pihak lain. Sebelum itu terjadi, dia harus segera menuntaskan rencananya.
__ADS_1
Awalnya, dia mengira pemadaman lokal saja cukup. Kenyataan bahwa sistem masih menyala membuktikan ada kemungkinan sumber listriknya berasal dari sirkuit yang berbeda.
Dari luar, gedung yang semula masih menampakkan titik-titik cahaya di beberapa tempat, kini terlihat gelap gulita. Petugas keamanan yang berada di posnya pun bertanya-tanya.
"Doushita no?"
"Teiden kana?" Seorang layi mengira ini sebagai pemadaman listrik alami yang diterapkan pemerintah. Tiada kecurigaan sedikit pun yang terlintas dalam pikiran.
"Aru wake nai ndarou? Mezurashii na." Sebaliknya, rekannya malah menganggap fenomena langka ini mustahil terjadi. Pasalnya, tidak ada pemberitahuan apa pun perihal ini.
"Kakunij shitekuru."
Salah satu dari mereka pun pergi, memutuskan untuk memeriksa apa yang terjadi di pusat energi. Tepat saat itu, satpam lain menimpali.
"Ayashikunai no? Kono teiden Mae ni, sanjuu hachi KAI ni denki ga kireta to iu tsuuchi wo uketa zo."
Satpam itu berpikir bahwa ini mencurigakan. Dia baru saja menerima pemberitahuan listrik di lantai tiga puluh delapan padam sebelum pemadaman total terjadi. Sungguh kebetulan yang aneh bila keduanya dikaitkan.
Salah satu dari mereka pun memutuskan untuk naik ke lantai tiga puluh delapan. Dia berlari melalui tangga darurat dengan menbawa senter. Lelaki itu tiba di tujuan ketika lampu telah menyala kembali. Napasnya tersengal, tetapi dia tetap berkeliling. Saat berbelok di tikungan, dia melihat seorang pria berdiri di depan kamar khusus. Pria itu menoleh padanya.
"Tuan Kim? Kenapa tengah malam seperti ini masih di luar?" tanyanya sembari mendekat.
Kim Jong Hyun adalah tamu kehormatan. Semua pegawai diwajibkan mengenalinya untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.
"Oh, aku hanya memeriksa kamarku yang lain karena pemadaman tadi. Sepertinya, ada yang mencoba memasukinya." Pria itu tersenyum.
"Mohon maaf atas ketidak nyamanannya." Satpam itu membungkuk hormat.
"Tidak apa-apa. Sepertinya, ruangan ini baik-baik saja. Aku akan kembali tidur." Dia menguap sambil menutup mulut, lalu melangkah menjauhi pintu.
"Anda tidak ingin masuk ke kamar itu?" Sang satpam menunjuk KAmar dengan tulisan yang belum menghilang.
"Aku ingin sendirian," singkatnya sembari membatin, " ah, sial! Make up realistis pun bahkan bisa ketahuan palsunya."
__ADS_1
Dia terus berjalan. Saat dia telah benar-benar sendiri, lelaki itu bergumam sangat lirih, hingga tak ada siapa pun yang bisa mendengar. Kecuali, dirinya sendiri dan seseorang yang terhubung dengan transmisi berbentuk kancing baju di kerah kemejanya.
"Kemampuan meriasmu masih belum bisa menipu mata kecerdasan buatan, Lavatera."