Santri Famiglia

Santri Famiglia
Finansial


__ADS_3

"Pikirkan itu sendiri! Kau bisa mendiskusikannya dengan Sai," tegas Abrizar.


Dia tidak ingin terlalu memanjakan Sanubari. Usia Sanubari hampir genap dua puluh tahun, tetapi sisi kekanakannya masih dominan. Meskipun Sanubari bisa sesekali mengatakan hal bijak, Abrizar tetap merasa perlu mengarahkannya supaya bisa menjadi pribadi yang matang baik secara mental maupun fisik.


Jika itu tidak dia lakukan, tujuannya mungkin akan terhenti di tengah jalan. Demi tujuan itu, demi memenangkan taruhan dari Gafrillo, dia akan melakukan apa pun. Setidaknya, dia dan Sanubari satu visi. Keadaan itu lebih memudahkannya untuk mengontrol kondisi sekehendak hati.


"Baiklah."


Sanubari menghela napas lesu. Alasannya jelas karena otaknya buntu. Dia tidak tahu bagaimana caranya membuat seseorang mengakui perbuatan dengan suka rela.


"Maaf, saya jadi merepotkan kalian," kata Akbar sungkan.


Mengetahui diri masih hidup merupakan anugerah terbesar bagi Akbar. Dia tidak pernah menyangka akan bertemu orang tulus seperti mereka. Terlebih lagi, mereka memberikan lebih banyak bantuan tanpa diminta.


"Tidak masalah! Sama sekali tidak masalah," ucap Sanubari.


Kalimat itu terdengar diucapkan tanpa beban di telinga Akbar. Belum pernah sebelumnya, Akbar bertemu seseorang yang memberikan rasa kekerabatan di awal pertemuan. Kesannya terhadap kelompok Sanubari begitu baik.


"Rapat selesai. Waktunya kembali ke urusan masing-masing," ucap Abrizar.


"Jadi, Mas Akbar punya rencana apa setelah ini? Bagaimana dengan orang tua mas?" tanya Sanubari.


Akbar tertunduk muram. Teringat hari-hari terakhir sebelum eksekusi. Hanya spiritualis yang menemaninya, memberikan petuah-petuah yang sudah Akbar pahami sejak lama.


"Mereka mungkin kecewa dan menganggap saya sudah tiada. Mereka tidak pernah menjenguk selama saya dipenjara."


"Itu hanya kesalah pahaman. Kami bisa mengantar andai Mas Muktar ingin bertemu," kata Sanubari.


Sai ingin mengajak Sanubari berdiskusi. Akan tetapi, Abrizar menyela.


"Akan lebih baik bila Akbar tidak menemui mereka untuk sementara waktu. Setidaknya, sampai kasus ini selesai."


"Ah, benar juga. Aku tidak keberatan Mas Akbar tetap di sini. Bagaimana dengan pekerjaan? Apa keahlian Mas Akbar? Aku bisa mengajari cara membuat olahan singkong enak. Jadi, Mas bisa jualan keliling atau menjaga cabang kiosku yang akan segera dibuka. Atau Mas mau bekerja sesuai keahlian? Aku bisa memodali."


Sanubari sangat mantap mengatakannya. Masalah ekonomi yang sering mereka singgung membuatnya spontan membahas itu, mengesampingkan kebuntuannya sejenak.


Roda ekonomi terus berputar. Banyak uang telah Sanubari gelontorkan untuk membeli ini/itu dan pembangunan. Entah berapa yang masih tersisa dalam tabungan Sanubari.


Tanpa Sanubari sadari, setiap pengeluarannya selalu dipantau. Kelana mencetak riwayat transaksi, lalu menyerahkan salinanya pada Aeneas di Italia.


"Tuan Muda sangat boros. Meski dia tidak menghambur-hamburkannya untuk berfoya-foya, tapi saya rasa tidak perlu melakukan pembangunan besar-besaran dalam sekali jalan seperti itu. Properti yang Anda siapkan untuknya saja sudah cukup banyak, tapi berlagak menolak dan memilih membangun properti sendiri," lapornya.


Aeneas membaca dokumen dari Kelana. Isi rekening Sanubari sungguh terkuras, nyaris tak bersisa.


"Biarkan saja! Yang penting dia tidak berulah dan menghabiskan uang untuk hal sia-sia."

__ADS_1


"Anda terlalu lunak terhadap tuan muda, Tuan Aeneas."


"Apa yang bisa kulakukan untuk mengganti kebersamaan kami selain ini?" Aeneas tersenyum.


Namun, Kelana tahu itu hanya kamuflase dari kegetiran. Aeneas memiliki keluarga, tetapi hidupnya tidak berbeda dengan bujang. Dia sendiri, jauh dari keluarga.


"Anda bisa menemuinya. Urusan di sini, biarlah Dantae yang memegang."


"Keberadaanku akan lebih membahayakannya bila orang-orang yang mengincarku mengikuti atau bahkan mengetahui kedekatanku dengannya. Dia bisa dimanfaatkan."


Terbayang musibah yang menimpa UKA. Kemudian, Sanubari yang bertahun-tahun dalam penculikan. Pengejaran demi pengejaran yang dilakukannya selalu berujung kegagalan. Sanubari selalu telah lebih dahulu berpindah sampai jejaknya tidak terlacak.


Tidak berhenti di sana. Sanum pada akhirnya menjadi korban. Putra bungsunya nyaris terbunuh. Sanubari bahkan sempat koma setelah kembali bersamanya beberapa waktu.


Pemilik tunggal aifka yang meracuni Sanubari bahkan masih terus diselidiki sampai sekarang. Kepemilikannya terus berpindah. Dan setiap jejak baru terlacak, yang mereka temukan tidak lebih dari nisan atau orang yang dinyatakan hilang dalam kecelakaan.


"Saya mengerti itu."


"Apa kau sudah mentransfer padanya?"


"Sudah, Tuan."


"Pastikan dia tidak pernah kekurangan! Meski berjauhan, aku ingin hidupnya terjamin dan berkecukupan. Tidak seperti masa kecilnya yang selalu kekurangan."


Sanubari pun tidak pernah tahu ada dana lain yang masuk selain dari kafe singkong yang beroperasi. Yang dia tahu hanya memakai dan memakai. Kendati demikian, dia sadar bahwa sesuatu yang terus-terusan dipakai akan habis juga.


Seperti uang saku lima ratus rupiah yang selalu raib sebelum sempat dipergunakannya di masa lampau, tabungannya pun pasti bisa kosong. Kekosongan berarti ketidakberdayaan. Ketidakberdayaan bisa menimbulkan kelaparan dan kesengsaraan. Sanubari tidak ingin seperti itu lagi. Oleh sebab itu, dia selalu memikirkan bagaimana meningkatkan pemasukan. Dia tidak pernah menyangkal setiap kali Abrizar membahas pentingnya pondasi finansial.


"Saya pernah bekerja sampingan sebagai penjahit di konfeksi, tapi saya bisa bekerja apa pun," ujar Akbar.


Cita-citanya menjadi PNS lebur sudah. Kasus ini menghancurkan segalanya. Dengan identitas baru, artinya dia tidak mempunyai ijazah sebagai modal untuk melamar pekerjaan. Akbar hanya bisa mengandalkan keahlian untuk bekerja.


"Konfeksi, apa itu konfeksi?" tanya Sanubari.


"Semacam industri pembuatan pakaian."


"Wah, keren! Bisa bikin pakaian sendiri. Bagus-bagus! Kapan pun Mas ingin mulai,.bilang saja, oke? Kita bisa menyiapkannya bersama."


Sanubari semakin jauh dari topik penyelidikan. Sai tidak tahan lagi. Dia pun menyela.


"Anu, maaf, kurasa kami butuh data tentang para korban dan orang-orang yang terlibat. Itu mungkin akan sangat membantu dalam mengarahkan penyelidikan dan memudahkan mengenali mereka."


"Ngomong-ngomong soal data, sepertinya kita perlu membeli printer untuk mencetak dokumen dan kartu identitas baru."


"Kirimkan saja ke emailku dan Sanu. Nanti kami pelajari."

__ADS_1


"Jadi, apa yang akan kita lakukan, Kak Sai?"


Sanubari baru saja memfokuskan perhatian pada kasus Akbar kembali ketika Anki datang. Adik Eiji itu mengajak mereka jalan-jalan. Akan tetapi, ajakannya berujung pada penolakan. Mayoritas dari mereka berdalih sedang sibuk.


"Aku harus menjaga Petahana yang sedang mengawasi Petamana. Bagaimana kalau Petamana melakukan percobaan yang membahayakan mereka?" Begitu penolakan dari Fukai.


"Maaf, Anki. Ada kasus yang harus kupelajari," begitu dalih Sai.


Sementara Abrizar beralasan, "Ada pesanan dari klien yang harus segera kuselesaikan."


Kemudian, Eiji menjawab, "Kau lihat sendiri, kan? Pekerjaanku banyak."


"Anki, kenapa tidak mengajak aku saja?" Renji menunjuk diri sendiri sambil tersenyum.


"Kau harus membantuku. Jangan seenaknya Lari dari tanggung jawab!" tegur Eiji. Diseretnya kembali Renji.


Anki merengut. Para pria selalu saja memenuhi jadwal mereka dengan pekerjaan dan pekerjaan. Masa lengang mereka telah berakhir sejak rumah baru Sanubari mulai dibangun.


Anki mencoba memaklumi. Bagaimanapun, mereka tidak bisa bersantai selamanya. Untuk hidup, mereka butuh makan. Dan untuk memperoleh makanan, mereka memerlukan pekerjaan yang menghasilkan. Pemasukan dari kafe mungkin tidak cukup untuk menopang ekonomi mereka bersama.


Jadi, Anki tidak memaksa. Dia harus bersabar. Suatu saat, ketika segalanya telah tertata, mereka mungkin akan memiliki lebih banyak waktu luang untuk diri sendiri. Kendati demikian, Anki masih suka geregetan ketika menyaksikan mereka terlalu tenggelam dalam pekerjaan sampai lupa merawat diri.


Karena belum mengenal baik Juma dan Akbar, Anki tidak mengajak mereka. Harapannya tinggal Sanubari seorang. Anki pikir satu orang saja cukup. Yang penting, ada orang yang menemaninya.


"Sanu, kamu menganggur, kan? Temani aku, ya?" Anki tersenyum padanya.


"Bisa saja. Memangnya kapan kamu maunya?"


"Akhir pekan ini.."


"Sip. Bisa diatur." Sanubari mengacungkan jempol pada Anki.


Hari itu, Sai membuat perlengkapan mata-mata. Sanubari hanya menonton, lalu memainkannya setelah jadi. Keesokan paginya, mereka pergi ke rumah salah satu korban.


Mereka berdiri cukup lama di depan pintu. Akan tetapi, pintu tetap tertutup. Mereka pun melanjutkan perjalanan ke rumah berikutnya.


"Pergi! Jangan pernah datang lagi! Jangan ingatkan anak saya pada traumanya! Gara-gara kalian, dia semakin murung. Pergi sana!"


Pengusiran ketus semacam itu mereka peroleh tidak hanya sekali. Sai dan Sanubari hanya bisa sepakat untuk mencari rumah lain. Namun, pada akhirnya, ada juga sebuah rumah yang menerima kedatangan mereka dengan pintu terbuka.


"Kami mahasiswa jurusan kriminologi dari Akademi Polisi Nusantara. Kami ingin mengangkat kasus ini untuk memenuhi tugas akhir semester. Kami harap Bapak dan Ibu berkenan bekerja sama," begitu aku Sai.


Semalaman dia memikirkan pendekatan yang tepat. Dia bahkan mempelajari secara singkat tentang kepolisian dan melatih bahasa sopan.


Sanubari diam duduk di sebelah Sai. Dia mengikuti alur yang telah dipersiapkan Sai.

__ADS_1


__ADS_2