Santri Famiglia

Santri Famiglia
Beraksi


__ADS_3

"Singkirkan benda tajam kalian! Aku tak ingin Anak Setan ini mati gara-gara kecerobohan kalian," kata Aldin tersenyum senang.


Harapannya akan segera terwujud. Sanubari akan segera merasakan penderitaan yang dialaminya selama ini. Hanya itu keinginannya. Dia sama sekali tidak menginginkan kematian Sanubari. Sebab, kematian hanya akan membebaskan penderitaan menurut Aldin.


Golok disingkirkan dari leher Sanubari. Dua orang mengapitnya. Mereka menahan Sanubari supaya tidak bisa melawan.


"Kita berjumpa lagi, Sanu? Masih ingat dengan ini?"


Aldin membuka lipatan pimes. Benda pipih itu tampak tajam dan berkilat.


Sanubari agak pangling melihat pemuda sebaya berpenutup sebelah mata di hadapannya. Kemudian, dia teringat peristiwa yang membuatnya putus sekolah untuk pertama kali, sebuah kecelakaan di kebun belakang sekolah.


"Aldin?"


Satu nama itu keluar dari mulut Sanubari. Dia merasa Dejavu. Adegan seperti ini menjadi makanan harian baginya waktu masih kecil.


"Kau harus merasakan apa yang kurasakan beberapa tahun yang lalu! Siap merasakannya?" Aldin menyeringai.


"Tidak bisakah kita berdamai saja? Itu Sudah berlalu. Lagi pula, kecelakaan waktu itu karena ketidaksengajaan."


Sanubari menatap awas pada benda tajam di tangan Aldin. Jika benda itu sampai dihunuskan padanya, maka dia akan menghindar. Sanubari sama sekali tidak memiliki keharusan untuk berpasrah pada orang yang berniat melukainya. Toh, apa yang menimpa Aldin tempo dulu bukan sepenuhnya salahnya. Jadi, Sanubari merasa tidak perlu bertanggung jawab atas apa pun.


"Berdamai katamu?" Aldin tergelak, "Mungkin, mungkin saja bila satu matamu itu hilang."


Tepat saat itu, sebongkah batu sebesar kepalan tangan menghantam pelipis Aldin. Dia mengerang. Darah mengalir.


"Minggir, Tuan-tuan! Kami mau lewat. Jangan seenaknya bergerombol di jalan!"


Semua orang menoleh pada pria yang berbicara. Itu Renji. Dia melempar-lempar batu dari tangan kiri ke kanan, lalu ke atas, dan kembali ke tangan seperti badut yang memainkan tiga bola. Sai dan Abrizar menyertai.


Sanubari memberontak. Dia merampas pimes dari Aldin. Dittendangnya musuh masa kecil itu.


Bentrok tidak terelakkan. Renji melempar tiga batu yang tersisa pada dua pria yang mencekal Sanubari dan pria pemegang pistol. Senjata api terjatuh. Pria itu mengerang, memegangi pergelangan tangan yang ngilu tertimpuk batu.


Mereka mengangkat senjata. Sai dengan cekatan merampas satu demi satu, lalu melemparkan ke dalam gerbang. Sementara Abrizar memukul mereka sampai pingsan.


Aldin melawan Sanubari. Setiap pukulan yang dilayangkan olehnya berhasil dihindari. Kemudian, Sanubari mengunci pergerakan Aldin dari belakang. Dipelintirnya tangan Aldin.


Menyaksikan rekannya dikalahkan satu persatu, Aldin terkejut. Menang jumlah lima kali lipat lebih nyatanya tidak membuatnya menang. Tiga pria asing dan objek rundungannya semasa sekolah dasar berdiri tanpa luka barang segores pun.

__ADS_1


"Mari perbaiki hubungan kita! Tidak bisakah kita berteman normal? Sungguh, aku tidak ingin melukaimu," ujar Sanubari.


"Untuk apa aku harus berteman dengan anak setan sepertimu?"


Aldin tersenyum kecut. Ada rasa gentar merebak dalam dada mengetahui kondisi telah berbalik.


"Itu hanya kesalahpahaman. Aku bukan anak setan. Aku punya ayah, dan ayahku seorang manusia."


"Mau kubantu menghajarnya, Sanu?" Renji meninjukan kepalan tangan ke telapak tangan kiri.


"Tidak perlu. Ini teman lama." Sanubari menggeleng.


Renji mengangkat sebelah alis. "Teman macam apa yang hendak membunuh temannya sendiri?"


Sanubari melepaskan Aldin. Namun, dia tetap siaga.


Aldin lari lintang pukang tanpa sepatah kata. Dia marah, kesal karena Sanubari selalu lebih baik darinya sejak saat itu. Aldin menoleh.


Sanubari tidak mengejar. Dia hanya menatap kepergiannya sampai berbelok ke tikungan. Rekan-rekan Aldin dibiarkan bergelimpangan.


Renji dan yang lain tidak Sudi membuang tenaga u tuk memindahkan mereka. Dia juga melarang Sanubari untuk melakukannya.


"Biarkan saja mereka pergi dengan sendirinya! Jika masih berotak, aku yakin mereka cukup tahu diri untuk tidak merusuh lagi setelah sadar nanti," begitu katanya.


Siang itu, mobil dibiarkan tetap di luar. Mereka berjalan kaki memasuki area Perumahan. Sementara malam harinya, tepatnya setelah isya, Abrizar, Renji, dan Sanubari bersiap.


Dengan mengandalkan ingatan masa kecil, Sanubari memandu Renji menuju rumah juru kunci kuburan. Renji yang menyetir mobil. Plat mobil telah diganti sebelum berangkat. Mereka akan bernegosiasi dengan pimpinan tertinggi penyedia jasa penguburan jenazah.


"Mentang-mentang dekat dengan King, dia seenaknya bertingkah tidak sopan pada yang lebih tua. Kalau saja aku naik pangkat, sudah kucites itu Jin songong, terus kumasukkin botol biar jadi Jin botol, kata Wongso pongah.


Dibuangnya satu kartu ditangan, lalu diambilnya satu kartu bergambar hati yang dibuang pemain lain. Anak buah yang duduk di sekitarnya maupun berdiri bermain bilyard, atau melakukan hal lain tertawa.


Ruangan kedap suara itu ramai. Lokasinya yang tepat di sebelah kuburan nyatanya tidak membuat mereka gentar untuk berkunjung. Tidak jarang, mereka nongkrong sampai tengah malam atau bahkan menginap hingga pagi.


"Setuju dengan Bos! Jin sok berkuasa itu harus diajari sopan santun."


"Jika perlu, Bos sekalian yang menggantikan posisi King."


,"Pakai dukun saja, Bos!"

__ADS_1


"Benar. Pelet dia supaya manut sama Bos."


Mereka tergelak, terus menjadikan Jin sebagai bahan candaan. Itu hal yang tidak berani mereka lakukan bila di depan orangnya langsung. Begitulah salah satu cara Wongso memperbaiki suasana hati.


Kehadiran Jin selalu membuatnya tertekan. Suka atau tidak, dia harus bersikap hormat dan merendah di hadapan Jin bila ingin aman. Namun, ketika orangnya tidak ada di depan mata, Wongso tidak segan menjelek-jelekkannya.


Hingga akhirnya, bel ppintu dibunyikan. Wongso menyuruh salah satu anak buahnya untuk membukakan pintu.


Saat pintu dibuka, satu pria itu langsung terpental bersimbah darah. Bunyi gedebuk yang keras membuat semua orang terperanjat. Sontak, mereka melihat pada raga yang menggelepar meregang nyawa.


Seorang pria berjalan perlahan dari balik pintu. Dua pedang di tangannya telah keluar dari sarung. Seketika, mereka tercekat. Orang yang mereka gunjingkan hadir di tengah-tengah mereka.


Orang-orang itu langsung meletakkan semua benda di tangan masing-masing. Mereka berlutut. Sementara yang masih sanggup bersuara menyerukan sambutan.


"Selamat datang, Ketua Jin!"


Yang disambut tersenyum miring. "Terima kasih atas salam terakhir kalian."


Mereka kebingungan. Jjantung mereka berdebar was-was.


Wongso memberanikan diri untuk berdiri, bertanya, "Apa maksudnya itu, Ketua Jin? Kenapa Ketua datang-datang membunuh salah satu dari kami? Apakah anak itu berulah tanpa sepengetahuan kita?"


Kedua telapak tangannya mendadak basah. Kegugupan tiada taraf menyergap batin semua insan. Mereka tidak ingin berada di tempat itu, tetapi terlalu ciut nyali untuk meminta izin keluar ruangan.


"Ini adalah malam terakhir kalian. Silakan berbicara sepuasnya selagi suara kalian belum dibungkam untuk selamanya!"


Seketika setelah mendengar balasan dari Jin, sentakan keras seolah baru terjadi pada jantung mereka. Orang-orang itu mengangkat kepala, menatap Jin yang sengaja memberi kelonggaran waktu.


"Tapi, apa salah kami?" gagap Wongso bertanya, lututnya lemas dicekam kengerian.


Cahaya remang kekuningan menerangi senyum Jin. Itu menambah kehororan pemandangan di depan mata mereka. Kepala Jin tertoleh perlahan, menatap pada Wongso.


"Waktu kalian sudah habis. Kekuasaan di sini akan diserahkan pada orang lain. Dan kau Wongso, akan kuberi kesempatan Kau menonton acara pengiriman arwah ini. Kau orang terakhir yang akan kuantar. Bersabarlah menunggu giliranmu!"


Jin menunjuk Wongso dengan bilah pedang. Jelas, itu bukanlah tawaran bagus. Wongso hanya memiliki sedikit waktu tambahan untuk menghirup oksigen.


Senyum yang seharusnya membawa kebahagiaan, kini menyebarkan ketakutan ketika yang melakukannya adalah Jin. Para anak buah Wongso sekonyong-konyong bersujud. Mereka memohon ampunan pada manusia yang akan segera menjadi malaikat maut.


Satu sabetan kencang terayun, satu pria berhenti bernapas. Darah mengalir dari lehernya dalam posisi sujud. Wongso terbelalak menyaksikannya.

__ADS_1


"Jaga! Jangan sampai ada yang kabur!" Jin mengulurkan pedang pada Bas yang mengikuti.


Pria itu menerima satu pedang Jin. Dia berdiri di sebelah pintu.


__ADS_2