Santri Famiglia

Santri Famiglia
Kapal Kargo Lain


__ADS_3

Malam sangat gulita. Bulan dan bintang pun entah sejak kapan tiada menampakkan diri. Perahu motor cepat terus melaju membelah lautan. Tidak menjadi masalah ke mana tujuannya. Yang penting, mereka bisa terjauh kan dari kapal kargo terlebih dahulu.


Penglihatan Sai teramat terbatas. Dia berkonsentrasi penuh untuk melihat jauh ke depan. Itu dilakukan supaya sekochi mereka tidak mendadak menabrak benda asing di tengah lautan. Jika tidak berhati-hati, perahu mereka bisa saja karam atau bahkan meledak karena tubrukan.


Sementara Sanubari yang tidak bermasalah dengan kegelapan, malah duduk santai sambil mencemil biskuit ransum. Sejak kecil, penglihatan malam Sanubari memang di atas orang normal. Dan setelah insiden malpraktik di Pemba, visi malamnya meningkat drastis dari hari ke hari. Sanubari bisa melihat objek dalam kegelapan sejelas melihat di siang hari.


"Kak Sai, di depan ada kapal lain. Turunkan kecepatan!" kata Sanubari cemas.


Sai sendiri tidak melihat apa-apa kecuali kegelapan. Jarak kapal itu masih sangat jauh. Namun, tidak bagi Sanubari. Sedangkan Sai agak meragukan keterangan Sanubari.


"Kau tidak berhalusinasi, kan?"


"Serius! Di depan sana memang ada kapal. Masak Kak Sai enggak lihat?" tegas Sanubari.


Sai memelankan laju, mengaktifkan kemudi otomatis dengan kecepatan stabil. Dia memeriksa ke belakang. Jaraknya dengan kapal kargo sudah cukup jauh. Sai kembali duduk ke tempatnya. Dia menyalakan GPS, hendak mencari rute pulau berpenghuni terdekat.


Akan tetapi, malang tak dapat di tolak. Deburan kencang terdengar. Air laut muncrat seperti baru ada benda berat nan besar terjatuh ke lautan. Sekoci mereka terombang-ambing. Sanubari menjerit-jerit.


"Mereka membidik lagi! Waaa! Datang! Itu datang!"


Sanubari panik bukan kepalang. Sesuatu baru saja dimuntahkan dari Laras berkaliber sekepala manusia.


Sai bergegas membelokkan haluan dengan tajam. Sulit dipercaya, perkataan Sanubari sungguh benar. Lautan di belakang mereka sekonyong-konyong meledak.


"Datang lagi! Maju lebih cepat, Kak Sai! Cepat! Cepat!"


Sanubari tak henti-hentinya berteriak heboh. Kepalanya tertoleh ke kanan, mengawasi laras yang terus mengikuti mereka. Jantungnya teratapan.


Andai Sai mendebatnya, sekoci mereka mungkin sudah binasa, lalu Sanubari dan Sai tinggal bangkai yang terlupakan di lautan lepas. Namun, Sai memiliki refleks bagus dalam mengambil tindakan. Peristiwa sebelumnya tidak membuat Sai mempertanyakan perkataan Sanubari.

__ADS_1


Tindakan jauh lebih baik daripada mempersoalkan kebenaran. Begitu prinsip Sai. Selagi ada fakta yang bisa dijadikan untuk menarik kesimpulan, dia tidak akan menghiraukan perkataan orang lain. Tindakan itu pula yang membuat mereka selamat dari kejaran misil raksasa. Hal inilah yang melandasi keputusan Eiji untuk memasangkan Sai dan Sanubari.


Tembakan masih terus dihujamkan. Sanubari semakin was-was setiap kali bola-bola meriam itu nyaris menyerempet perahu mereka. Biskuitnya tercecer akibat manuver yang dilakukan Sai. Perahu melaju stabil dengan kecepatan tinggi. Kendati demikian, Sanubari memeluk kursi erat-erat, takut terjerembab kalau Sai melakukan manuver tajam lagi.


Sementara itu di geladak kapal kargo berbendera BGA Italia, seorang pria bertopeng menggeplak kepala pria bertopeng lain. Pria yang dikeplak itu mengaduh, lalu memegangi kepala belakang.


Sedangkan si pemukul berkata, "Payah! Kau membuang-buang sumber penghasilan kita!"


"Senjata ini sangat bagus, Mikki! Aku tidak tahan untuk mencobanya. Lihatlah! Jendela bidik ini bahkan bisa melihat target dalam kegelapan dengan sangat jernih dan akurat."


Pria itu terkekeh. Dia mengelus-elus permukaan senjatanya. Sensasi dingin menjalar dari ujung jarinya. Itu terasa menyenangkan baginya.


Senjata itu ditemukannya ketika menggeledah muatan kapal. Dia mengangkutnya ke geladak. Awalnya, dia hanya ingin coba-coba. Namun, kemudian, dia melihat titik cahaya kecil yang terus mendekat. Yang tidak lain, itu adalah sekoci Sai dan Sanubari.


Dia melapor pada Mikki. Sekoci itu pun menjadi target percobaannya.


Mikki bersedekap. Dia berdiri melihat cahaya kecil yang terus bergerak di kejauhan.


"Itu karena lautan terus bergoyang dan target kita terus bergerak."


"Jangan banyak alasan! Akui saja kepayahanmu dan berhenti membuang-buang sumber daya!" Mikki menekan sebuah tombol pada benda pipih yang dipegangnya, "Kalian semua, kejar kapal patroli! Jangan sampai lolos!"


Di belakang Mikki, seorang perempuan bertopeng berdecak. "Malang sekali polisi laut yang patroli malam ini. Mereka harus berpapasan dengan kita."


"Nenek Lava, sebaiknya kau turut turun tangan menangkap mereka!" kata Mikki.


"Aku ini perempuan. Seharusnya kaulah sebagai pria yang bergerak."


"Justru karena Nenek Lava ini perempuan, maka aku sebagai gentleman mempersilakan Nenek. Lady's first!"

__ADS_1


Mikki tersenyum di balik topeng. Dia menggerakkan tangan, melakukan gestur seperti seorang pria bangsawan Eropa yang memberikan penghormatan pada wanita.


"Konsep 'lady's first' tidak digunakan seperti itu, Micchan." Lavatera mendengkus.


"Hei, tidakkah kalian berpikir ini aneh? Ini laut bebas, kan? Angkatan laut biasanya hanya patroli di sekitar zona ekonomi ekslusif, kan?" sela pria yang tadi dikeplak Mikki.


Mereka memandang ke lautan. Empat perahu motor cepat telah melaju, berkejaran dengan sekoci curian Sai dan Sanubari. Sai dan Sanbari cukup beruntung. Sekoci mereka dilengkapi dengan mesin yang mumpuni.


Sai bisa berkelit ke sana kemari untuk menghindari pepetan pengejar. Posisi mereka sungguh sulit. Mesin perahu asing itu bisa mengimbanginya. Satu bahkan menyalip dan menghadang di depan. Sai menyerong kan arah perahu. Dia dan Sanubari berhasil lolos.


Namun, mereka tetap mengejar. Kiri dan kanan perahu mereka diapit perahu motor cepat lain.


Samudra malam ini cukup tenang. Akan tetapi, perahu-perahu bermotor menciptakan ombak-ombak dan riak yang saling bertabrakan. Deru mesin meramaikan perairan malam yang sepi.


Para pengendara perahu asing menyuruh Sai berhenti. Namun, Sai tidak mau. Mereka saja menembak perahunya tanpa alasan jelas. Sambutan tidak bersahabat itu membuat Sai menyimpulkan lebih baik kabur dari mereka.


Sayang, upaya Sai untuk meninggalkan mereka gagal. Perahu mereka jauh lebih cepat. Dia dan Sanubari lagi-lagi sudah dikepung dari empat arah.


Orang-orang asing mengeluarkan senjata. Mereka menembaki perahu Sai. Akibatnya, kaca retak, tetapi tidak sampai pecah.


Sai mengatupkan bibir rapat. Dia dan Sanubari berada dalam kondisi yang tidak menguntungkan. Mereka tidak memiliki senjata untuk melakukan perlawanan.


"Menyerahlah baik-baik, maka kami tidak akan melukaimu!" seru si pengendara perahu asing.


Dengan banyak pertimbangan, Sai mengerem laju. Dia memutuskan untuk menyambut tawaran itu. Perahu mereka berhenti. Beberapa orang lekas menyerbu sekoci Sai dan Sanubari. Senjata ditodongkan pada keduanya.


Betapa terkejutnya Sanubari ketika melihat topeng mereka. Lambang di topeng hitam polos itu pernah dilihatnya. Saat di pesawat menuju ke Jepang, saat pulang dari rumah Anki, Sanubari yakin itu lambang yang sama. Bulan sabit merah bersilang emas yang terlukis di dahi topeng itu tidak pernah Sanubari lupakan.


Andai Sanubari memegang ponsel, pastilah dia bisa membandingkan lambang di topeng di hadapan dengan foto di galeri. Walau dia telah bertukar ponsel dengan Kim Hyun Jo, seluruh file di ponsel lamanya entah bagaimana bisa berada di ponsel Hyun Jo yang telah menjadi miliknya.

__ADS_1


__ADS_2