Santri Famiglia

Santri Famiglia
Menyusul


__ADS_3

[Kak Eiji, tolong!]


Terdengar bunyi gedebuk, disusul derap langkah. Jeritan Isak tangis itu memilukan.


[Aku sudah berbaik hati melepaskanmu, tapi kau malah menendang dan memukulku.]


Suara lelaki itu terdengar arogan. Tak ada lagi bunyi seperti kejar-kejaran. Namun, berikutnya, terdengar bunyi berdebum dan gemerincing.


[Kak Eiji ....]


Suara sang gadis terdengar melemah. Perlahan, menjadi gumaman seperti dibekap. Tiba-tiba, suara-suara berisik itu menghilang.


Suara itu terdengar sangat jelas. Itu adalah Anki. Gadis itu menjerit, tampak sekali sedang ketakutan. Sementara suara pria yang bersama gadis itu, Sanubari tidak mengenalinya.


"Kakak bersama Anki? Siapa pria itu? Apa yang terjadi?" Sanubari spontan memberondongi Abrizar dengan pertanyaan.


Kualitas suaranya sangat jernih, seolah-olah Abrizar dan Anki memang sedang dalam satu ruangan. Sama sekali tidak terdengar seperti rekaman.


"Tidak, Sanu. Aku juga tidak tahu siapa dia. Ini kudapat setelah meretas ponsel Eiji. Eiji ternyata memasang penyadap pada Anki."


"Penyadap?"


"Ya, karenanya, aku tahu di mana Anki."


"Di mana dia?" sela Sanubari tak sabar.


Sai dan Renji diam. Mereka membiarkan Sanubari menerima panggilan dengan tenang. Meskipun Renji banyak bicara, tetapi dia tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam.


"Di mana Anki?" desak Sanubari lagi.


Mendengar Anki memanggil-manggil nama kakaknya, rasanya Sanubari tidak bisa abai. Dia ingin membantu Eiji. Meski Eiji melarangnya, dia tetap ingin pergi. Dia bisa bilang kepada Anki bahwa dirinya pergi atas kemauannya sendiri supaya Eiji tidak terlibat.


Seharusnya, dia berkata seperti itu pada Eiji tadi. Sanubari menyesali keterlambatan pemikirannya.


"Abe no Harukas, Osaka," jawab Abrizar dari seberang.


"Aku tahu di mana itu. Aku akan pergi!" seru Sanubari berapi-api.


"Tunggu, Sanu! Sebelum ke Osaka, temui aku di masjid Honjin! Ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu. Mungkin akan berguna."

__ADS_1


Bukan tanpa alasan, dia mengatakan itu. Hasil penyelidikannya membuatya berpikir keras. Jika dia tidak bisa masuk, maka belum tentu Eiji bisa.


Abrizar berhasil meretas seluruh elektronika gedung Abe no Harukas dengan teknik eroper—peretasan tanpa jaringan internet. Dia membobol sistem keamanan airgap tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Kemampuannya memanfaatkan gelombang memang luar biasa. Bahkan, jarak ribuan kilometer tak menjadi masalah baginya.


Setelah mendapatkan posisi Anki, Abrizar mempelajari seluruh sistem keamanan gedung dari lantai terbawah hingga teratas. Namun, ada dua kamar yang gagal dia masuki. Salah satunya adalah tempat Anki berada.


Tidak bisa masuk sekarang, bukan berarti Abrizar tidak bisa menghancurkan sistem keamanannya. Dia hanya butuh perantara yang lebih kuat untuk melanjutkan aksinya.


"Aku mengerti," pungkas Sanubari tidak ingin membuang waktu lagi.


Dia bergegas menutup telepon dan berganti pakaian. Dia tidak akan tahan berlama-lama Di luar hanya dengan jinbei. Kemeja berlapis jas dan sarung saja masih membuatnya menggigil, apalagi hanya selapis pakaian setipis jinbei.


"Apa kau baru saja berbicara dengan Eiji?" tanya Renji yang memperhatikan Sanubari.


Sang remaja tampak terburu-buru. Raut mukanya juga sangat serius. Remaja itu menggeleng.


"Kak Ren, Kak Sai, aku akan pergi sekarang. Maaf, aku tidak bisa membantu kalian." Sanubari merangkapkan kaos yang dibelikan Sai ke dalam kemeja supaya lebih hangat.


"Memangnya, kau mau ke mana? Kita di sini untuk bekerja, bukan main-main."


"Aku akan menyusul kak Eiji. Anki dalam bahaya."


Sanubari mengubah tujuannya dari stasiun terdekat ke bandara. Hasilnya, sama sekali tidak ada transportasi umum. Berlari pun mustahil. Akan butuh seharian lebih jika dia melakukan itu.


"Bagaimana aku bisa kembali ke Nagoya sekarang juga?"


Sanubari berdiri putus asa di depan penginapan. Dia menemui jalan buntu. Namun kemudian, Sanubari ingat bahwa Eiji berhasil pergi dari Hokkaido. Dia pun kembali menelepon Abrizar untuk menanyakan dari stasiun mana Eiji pergi.


Tak lama berselang, telepon tersambung. Sanubari langsung berbicara, "Kak Abri, stasiun mana yang didatangi kak Eiji? Mungkin hanya itu yang masih beroperasi."


"Dia tidak pergi ke stasiun mana pun, Sanu. Ah, lupakan saja itu! Buka saja aplikasi petamu! Aku akan membukakan jalan untukmu."


Pengalaman tinggal di Jepang selama berminggu-minggu membuat Abrizar sedikitnya mengerti sistem operasional transportasi Jepang. Dia tahu, Sanubari akan kesulitan menemukan kendaraan semalam ini. Maka dari itu, Abrizar melacak posisi Sanubari, lalu meretas sistem operasional kereta.


Sebenarnya, pesawat adalah pilihan paling cepat. Namun, Sanubari bukanlah pilot. Sementara dirinya sendiri hanyalah seorang tuna netra. Tidak mungkin dia menerbangkan pesawat dengan kontrol jarak jauh.


Itu terlalu berisiko. Abrizar tidak ingin membahayakan nyawa Sanubari. Satu-satunya yang aman adalah melalui jalur darat, meski waktu tempuhnya lebih lama.


"Oke!"

__ADS_1


Tanpa memutuskan sambungan, Sanubari membuka map. Dia mengambil headphone, memasang ke telinga, lalu menghubungkan panggilan ke headphone secara nirkabel.


Sanubari berlari mengikuti rute yang tiba-tiba muncul dengan sendirinya. Tidak ada jam keberangkatan yang tertera. Sanubari mengernyit.


"Kak Abri, tadi aku juga melihat rute transportasi ini. Shinkansen baru akan berangkat sekitar pukul enam."


"Spesial untukmu, kereta akan langsung berangkat begitu kau masuk gerbong."


"Hah, apa kita akan mencuri kereta? Tidak-tidak! Aku tak ingin jadi pencuri. Lagi pula, aku tak bisa mengemudikan kereta."


"Bukan kau yang akan mengemudi. Kereta itu akan berjalan dengan sendirinya. Kita hanya meminjam sebentar. Akan segera kukembalikan setelah Kau sampai," jelas Abrizar sambil mengotak-atik laptop.


Dia merangkai jalur kereta satu arah, memblokir persimpangan, dan menghindari jalan buntu supaya tidak menabrak kereta yang sedang parkir. Garis hijau pada monitor bergerak tambah panjang, hingga mencapai titik terakhir.


[Pemetaan selesai. Rute bebas hambatan siap digunakan. Titik awal ... titik akhir stasiun Tokyo]


Sementara itu, Sanubari terus berlari, memasuki stasiun. Abrizar mengatakan padanya untuk tidak menggunakan kartu transportasi. Tidak seperti biasanya, gerbang tiket tidak berbunyi begitu melewatinya.


Djia menaiki kereta bawah tanah menuju stasiun yang lebih besar. Tak ada waktu untuk bersantai. Sanubari kembali berlari begitu kereta berhenti. Naik turun tangga mencari peron berikutnya sesuai rute yang diberikan Abrizar.


"Peron empat, Hokuto."


Sanubari mendongak, membaca papan penunjuk arah untuk menemukan posisi yang dituju. Stasiun benar-benar sunyi. Sanubari menjadi satu-satunya penumpang gelap malam itu.


Titik putih pada layar ponselnya berubah menjadi biru begitu menaiki kereta yang tepat. Dua setengah jam, Sanubari harus duduk dalam gerbong yang kosong. Setibanya di Shinhokudate, perjalanan Sanubari tak semulus sebelumnya.


Dia berjumpa dengan seorang petugas keamanan ketika mencari letak peron sebelas. Dia harus membuat petugas itu pingsan terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan. Pukul setengah empat pagi, Sanubari berhasil masuk gerbong kereta berikutnya.


Hayabusa melaju tanpa awak, memasuki terowongan Seikan. Mestinya menderu jauh di dasar perairan Selat Sugaru Keluar Dari terowongan, Suara Abrizar kembali terdengar.


"Sampai di Tokyo, kau harus ke Nagoya naik Shinkansen dengan cara normal. Karena kau akan tiba ketika perkeretaan sudah beroperasi, akan ada kegemparan lebih besar jika kita tetap memakai cara ini," ungkapnya sambil memastikan tidak ada yang salah.


Dia seperti sedang bermain game kereta. Dia harus berhati-hati supaya Sanubari tidak tertangkap. Selesai memeriksa kelancaran, Abrizar membuka jendela lain, memutuskan sambungan telepon Sanubari.


"Kenapa masih tidak bergerak? Ini sudah empat jam lebih," gumam Abrizar mengernyit, "apa yang terjadi padanya?"


[Seratus meter lautan lepas dari pantai Nishikinohama.]


...Begitulah yang diucapkan laptop Abrizar saat dia sekali lagi memeriksa detail posisi Eiji. Abrizar menggerakkan jemarinya ke atas papan ketik. Dia harus memeriksa lebih rinci lagi untuk memastikan sesuatu....

__ADS_1


__ADS_2