
Abrizar bisa merasakan sentuhan dingin tangan Sanubari yang bergetar. Dia menyadari ada yang salah dari suara pemuda enam tahun dibawahnya ini. Suaranya goyah, disertai isakan samar yang tertahan.
Sejenak, Abrizar terdiam. Lalu, menjauhkan tangannya dengan perlahan. Dia mengernyit mendengar racauan Sanubari. Walau Abrizar belum tahu apa yang dilakukan Sanubari selama menghilang, tetapi dia tahu yang baru saja didengarnya bukanlah hal baik.
Lelaki itu duduk di pinggir ranjang. Dengan tenang dan lembut, dia berkata, "Katakanlah! Katakan semua yang terjadi!"
Sanubari tidak menjawab. Dia menutup mata dengan lengannya. Digigitnya bibir bawah sambil terisak. Perasaan berdosa terus menghantuinya.
Dia mungkin bisa bersikap biasa pada satu waktu. Bahkan, tersenyum dan tertawa untuk meyakinkan diri bahwa dia baik-baik saja. Namun, rasa bersalah itu terkadang hadir lebih kuat, mendorongnya sampai titik terlemah, menciptakan kegelisahan tak berujung yang menggerogoti mentalnya.
Entah dalam alam mimpi maupun nyata, tetap saja itu memberikan tekanan yang merapuhhkan batinnya. Reseptor beta saraf optik Sanubari terstimulasi akibat bunga mimpi yang baru saja menginvasi alam bawah sadarnya, hingga meningkatkan kontraksi Jantungnya.
Memori yang tidak diinginkan itu menelannya, mencabik-cabik jiwanya dengan sangat menyakitkan. Dia tidak ingin mengingatnya. Dia tidak ingin dikejar-kejar ketakutan.
Abrizar masih menunggu jawaban Sanubari. Karena tak kunjung tiba, dia kembali berucap, "Sanu, aku tidak bisa membantu mencarikan solusi jika kau hanya diam. Katakan sejujurnya padaku, ada apa!"
Sanubari tetap mengunci rapat bibirnya. Angannya kembali pada peristiwa dini hari tadi. Sebuah raga terbujur kaku di lantai, dan Sanubari belum sempat memastikan orang itu masih hidup atau mati. Namun, luka pada dada kemungkinan besar akan merenggut nyawa orang tersebut. Sanubari sadar akan hal itu.
Dia takut mengungkapkan kebenaran pada orang lain. Itu adalah aib yang memalukan. Aib yang mengantarkan keresahan dalam diri Sanubari.
"Aku tidak akan menghakimimu atas apa yang kau perbuat. Aku bukan hakim dunia. Bukan pula hakim akhirat."
Mendengar itu, Sanubari kian gemetar ketakutan. Hidup dalam penjara saja sudah membuatnya was-was, apalagi membayangkan dosa yang harus dipikul sampai akhirat. Ibunya pernah bilang, dosa akan membuat seseorang menjadi manusia termiskin di akhirat.
Percakapan di masa kecil itu masih terpatri jelas dalam ingatan Sanubari. Dia tidak ingin mengalami kesengsaraan dan dikucilkan lagi seperti dahulu kala. Sanubari tidak ingin tersiksa di neraka.
"Setiap orang pernah melakukan kesalahan. Aku pun juga. Terkadang, rasa bersalah itu membuat kita merasa takut dan dilanda kecemasan berlebihan. Kecemasan berlebihan itu perbuatan setan. Setan akan membuat kita gelisah terus menerus hingga melupakan Tuhan kita jika dituruti." Abrizar terus berbicara.
Tanpa kata, Sanubari menyimaknya. Dia memindahkan lengan dari kepalanya. Sanubari mulai menatap Abrizar yang memunggunginya.
"Penyesalan atas dosa itu wajib. Tapi, perlu kita ingat bahwa Tuhan itu Maha Pengampun. Allah akan memaafkan hamba-Nya yang bersungguh-sungguh bertobat. Yakinlah ampunan itu pasti ada! Dengan begitu, hatimu pasti akan lebih tenang," lanjut Abrizar.
__ADS_1
Sedikitnya, dia mengerti sumber kerisauan Sanubari. Dia bisa menyimpulkan dengan menelaah informasi dari Anki dan racauan Sanubari. Oleh karena itu, dia mengatakan semua ini.
Itu adalah apa yang ingin Sanubari dengar, sesuatu yang bisa melepaskannya dari jerat keburukan. Detak jantung Sanubari berangsur menjadi normal. Dia tidak lagi seperti orang panik.
Sanubari bangkit. Dengan sangat pelan, dia mengaku, "Mungkin aku telah membunuh seseorang. Mungkin juga tidak."
"Jadi, selain minum minuman keras, kau juga membunuh?"
Sanubari terkesiap. Spontan, dia menoleh pada Abrizar, "Bagaimana Kakak tahu?"
"Anki yang memberi tahuku."
"Anki?" Sanubari sedikit terkejut mendengar nama itu disebut.
"Ya, Eiji membawamu pulang setelah kau pingsan. Sekarang kau berada di kamar Eiji," ujar Abrizar dengan tenang.
"Ah!" Sanubari menyembunyikan muka di balik kaki yang tertekuk. Dia sangat malu. Belum apa-apa, citranya sudah jatuh. Dia merasa harga dirinya anjlok.
"Mandilah dulu! Mari kita salat bersama! Setelah itu, kita lanjutkan pembicaraan ini."
"Masih lebih baik daripada tidak beribadah sama sekali. Mandilah! Bukankah mandi bisa membersihkan kotoran?"
"Maksudku, aku banyak dosa." Sanubari malu mengakui ini, tetapi tetap dia katakan. Dia takut ibadahnya tidak diterima, sehingga membuatnya enggan untuk melakukan.
"Wudu dan ibadah akan membersihkan dosamu. Sekarang, ayo mandi dulu! Kurasa Anki sudah menunggu. Kita bisa melewatkan Maghrib jika terus mengobrol," ucap Abrizar yang kemudian menarik lengan Sanubari.
Mereka turun untuk mencari Anki. Di bawah, Anki menyambut mereka dengan senyuman. Gadis itu langsung menghampiri Sanubari.
"Ini baju ganti dan handuk. Pakai juga sikat gigi ini. Pasta gigi, sabun, dan samponya ada di kamar mandi." Anki menyerahkan benda-benda itu pada Sanubari.
"Kamar mandinya?"
__ADS_1
"Oh, ayo sini!" Anki menuntun Sanubari ke kamar mandi.
Begitu masuk ke kamar mandi, Anki menunjuk sebuah keranjang. "Baju kotornya masukkan sini saja!" kemudian, dia menunjuk palangan alumunium dan lanjut berkata, "handuk dan baju ganti bisa kamu letakkan di sini."
Sanubari melihat setiap tempat yang ditunjuk Anki. Gadis itu melangkah lebih dalam. Dia menggeser pintu kaca buram.
"Mandinya di sini," tambah gadis itu lagi yang kemudian berjalan keluar, "jangan lupa kunci pintunya saat mandi!"
Sanubari mengangguk, lalu mengunci pintu terluar. Dia terkesima. Tidak disangka, Anki tetap tersenyum padanya meskipun tahu apa yang terjadi.
Sanubari memperhatikan sikat gigi baru pemberian Anki sejenak. Hatinya terasa adem. Kemudian, dia berbalik badan, menggantung handuk, dan meletakkan pakaian pada keranjang gantung.
Sanubari mandi dengan cepat. Betapa terkejutnya dia saat mendapati ****** ***** pria di tengah tumpukan pakaian yang diberikan Anki. Dia merentangkan ****** ***** abu-abu dengan mata lebar, lalu beralih memegang kepala.
"Dia bahkan memberiku ****** *****. Ini memalukan! Sangat memalukan! Mamak memang pernah menyiapkan semacam ini untukku, tapi disiapkan oleh perempuan lain rasanya ...," wajah Sanubari memerah, sampai tanpa sadar dia membenturkan kening ke dinding dan berteriak, "Argh!"
Seketika itu, derap langkah terdengar mendekat. Pintu terluar diketuk-ketuk. Abrizar dan Anki memanggil-manggil namanya.
"Sanu, ada apa?" tanya Abrizar yang terdengar panik.
"Apa kau baik-baik saja, Sanu?" timpal Anki yang tidak kalah panik.
Keduanya mengkhawatirkan Sanubari setelah mengetahui apa yang dialami remaja itu. Anki khawatir Sanubari terjatuh karena masih mabuk. Sementara Abrizar takut Sanubari mendadak depresi dan berusaha melukai dirinya sendiri.
"Sanu, Jawab! Jika tidak, aku akan mendobrak pintunya!" teriak Abrizar dari luar.
Salah satu dari mereka menggerak-gerakkan gagang pintu dan mendorong. Namun, pintu tidak bisa dibuka.
"Bagaimana ini? Pintunya benar-benar terkunci. Bagaimana kalau dia sampai pingsan di ofuro dan tenggelam?" gumam Anki. Dari intonasinya, gadis itu terdengar sangat cemas.
———©———
__ADS_1
Catatan :
Ofuro : bak mandi