
"Jadi, pohon raksasa itu benar-benar pintu penghubung dunia lain?" tanya Sanubari.
Dua kendaraan bermesin muncul dari dalam batang tampak ajaib di matanya. Keduanya berhenti lama. Kemudian, bergerak ketika Fanon berlari ke arah mereka.
"Tidak ada dunia lain di sana. Itu pasti hanya semacam rumah pohon," jawab Abrizar.
Dia hanya mengira-ngira berdasarkan penyelidikan tentang Fanon. Fanon Sangkara—seorang arsitek yang berulang kali meraih penghargaan dengan konsep alam dalam arsitektur.
Hari sebelumnya, Abrizar juga sudah memastikan. Ketika menempelkan telinga ke kulit batang, dia bisa mendengar aktivitas dalam pohon raksasa tersebut. Jadi, Abrizar bisa menerka bahwa mungkin saja ada ruang cukup luas dalam batang.
"Kalian di sini saja! Jangan ikut-ikutan Fanon!"
Tendei menoleh sebentar setelah mendengar Sanubari. Mobil jip telah berjalan, berhenti saat berpapasan dengan Fanon. Tronton mengikuti di belakang. Kulit pohon menutup kembali.
Semua tampak alami. Tidak ada garis atau sesuatu yang menunjukkan di sana ada pintu geser raksasa. Kulitnya menyatu dengan sempurna.
"Pak Kora kenal orang-orang dari dimensi lain? Wah, eh, tapi, kenapa kami tidak boleh ikut menyambut lebih awal seperti Pak Kora?"
"Mereka manusia seperti kita, Sanu. Tidak ada yang namanya manusia dari dimensi lain," ucap Abrizar.
"Pokoknya, jangan mendekat bila mereka tidak mendekat," kata Tendei yang masih sibuk memotong-motong daging.
"Pintunya menghilang."
Perhatian Sanubari masih tertuju pada batang pohon raksasa. Fanon tampak bercengkrama dengan penumpang jip, lalu duduk di belakang bersama yang lain.
Mobil melaju kembali, berhenti di dekat mereka. Fanon melompat.
"Tendei, tinggalkan daging-daging itu dan antar mereka! Setelah berkata seperti itu, Fanon menatap Sanubari, Fukai, dan Abrizar, "Maaf, bukannya mengusir. Tapi, Tendei ini memang orang yang kita tunggu untuk mengantar kalian."
Fanon tersenyum seramah mungkin. Dia ingin rombongan Sanubari pergi sesegera mungkin. Itu untuk menghindari mereka bertanya lebih banyak tentang orang-orang yang baru datang atau pohon raksasa.
"Kenapa terburu-buru? Kita bisa pergi setelah aku menyelesaikan ini," jawab santai Tendei.
__ADS_1
"Loh, bukannya Pak Kora juga akan ikut kami?" tanya Sanubari.
Teringat jelas betapa menggebunya Fanon ketika membicarakan jalan keluar di hari sebelumnya. Dia pikir Fanon yang akan mengantar langsung. Sementara seseorang yang mereka tunggu hanya untuk menemani.
"Untuk sekarang, aku tidak bisa, Sanu. Masih banyak yang harus kuurus. Pembuatan resep itu dan lain hal. Bukankah kau juga harus fokus menjalani masa pemulihan dulu? Jadi, semakin cepat kalian keluar dari hutan ini, semakin baik pula itu."
"Kalau memang terburu-buru, kenapa tidak naik heli saja?"
"Tidak ada heli di sini, Tendei."
"Kalau begitu, pakai mobil itu!"
Tendei sesaat menunjuk jip dengan pisau. Abrizar menyimak percakapan mereka. Dari gelagatnya, ada sesuatu yang ingin Fanon sembunyikan."
Didengar dari interaksinya dengan Fanon, Tendei dan Sanubari sepertinya sebelas/dua belas. Abrizar merasa seperti itu. Tendei seolah menggiring Fanon untuk mengungkapkan apa yang ingin dia sembunyikan.
"Tapi, Pak Kora sudah berjanji untuk bergabung dengan kami."
"Aku ingat itu. Aku akan menyusul kalian setelah urusanku selesai. Jangan khawatir tentang itu!" Fanon tersenyum, menepuk bahu Sanubari, lalu lanjut berkata, "Ayo ambil barang-barang kalian! Aku juga ada sedikit souvenir untuk kalian."
"Oke-oke!"
Tendei terdengar sangat terpaksa. Dia sebenarnya enggan meninggalkan kesenangannya. Dia menatap singa yang belum tersentuh, mencuci tangan, lalu berdiri.
"Kalian, jangan sentuh singa itu! Singa itu milikku. Kalau bongo ini boleh. Habiskan saja! Aku bisa berburu lagi."
"Kami di sini hanya untuk panen," kata Sison mewakili semua.
"Seharusnya kalian yang mengantar mereka. Benda berkaki donat itu pasti bisa mencapai area luar lebih cepat, kan?"
Mendengar protes Tendei, perhatian semua orang tertuju padanya yang melihat ke jip yang terparkir. Sison melirik mobil dan Tendei secara bergantian. Dia juga memperhatikan tiga orang asing yang sudah masuk rumah.
Kemudian, Sison berbisik, "Orang asing tidak boleh mengetahui markas, juga jalan itu. Aku sendiri tidak tahu mengapa Fanon melepaskan mereka tanpa tindakan setelah menyaksikan ini."
__ADS_1
Sison tidak mengalihkan pandangan dari rumah Fanon. Rumah tersebut sungguh terlihat seperti gelondongan kayu patah berongga yang tergeletak di tanah. Di dekatnya, ada pula batu raksasa. Batu tersebut merupakan gudang sekaligus garasi. Pintunya pun tampak menyatu dengan baik, membuatnya terlihat seperti batu sungguhan.
Siapa pun yang melihatnya pasti akan menganggap Fanon maniak alam. Alih-alih membuat bangunan megah bak istana seperti rumah pada umumnya, Fanon malah membuat tempat tinggal itu serupa kayu terbengkalai.
Rombongan Sanubari memperoleh kiwano dan sepotong batang sepanjang setengah lengan dengan diameter selebar pohon kelapa. Sanubari membopong gelondongan itu. Sementara buah kiwano dimasukkan ke ransel Abrizar.
Fanon menatap kepergian empat orang itu. Beberapa meter kemudian, Sanubari berbalik badan.
Dia berteriak, "Pak Kora, aku akan segera ke mari lagi!"
"Dia akan membuat markas kita ketahuan. Seharusnya, kita cuci otak mereka sebelum dilepaskan," kata Sison berdiri di sebelah Fanon.
Mereka semua menyaksikan kepergian Sanubari dan kawan-kawan. Sanubari tersenyum, lalu berbalik badan lagi. Dia berlari kecil menyusul yang lain.
"Apa lycaon kita kehilangan keganasannya, atau populasinya menurun? Kenapa sampai ada orang bisa mencapai area ini?" Afra berkacak pinggang.
"Sepertinya kita perlu menambah beberapa lycaon lagi, binatang buas lain, dan yang tak kalah penting—meningkatkan kegarangan mereka," sahut Abravo.
"Tambahkan macan tutul! Terakhir kulihat, populasi mereka paling sedikit!" tambah Afra.
"Lebih keren harimau putih. Mereka seperti penjaga sesungguhnya," timpal Abravo mengangkat kedua tangan, meraung, mencakar-cakar menirukan binatang yang dimaksud.
"Daripada menambahkan hewan yang malas-malasan di siang hari, lebih baik melepas liarkan yang mau aktif di siang hari," kata Sison.
"Bukankah dia bisa melatih mereka menjadi diurnal?" tanya Abravo.
"Mengubah kebiasaan memang sulit. Tapi, berdasarkan data sensus terakhir, total nokturnal, diurnal, dan krepuskular yang tersebar di sekitar sini masing-masing kurang lebih dua ratus lima puluh ekor setiap spesies. Mereka tersebar merata di perbatasan. Mungkin bertambah lagi bila sudah ada yang berkembang biak. Seharusnya, mereka sudah cukup. Hutan akan semakin sesak bila kita menambahkan beberapa ekor lagi," ujar Sasin.
Mereka memang sengaja menyebar binatang sebagai penjaga bergilir alami. Nokturnal yang akan berpatroli di malam hari, diurnal yang aktif di siang hari, dan krepuskular yang menguatkan giliran jaga di senja serta pagi hari.
Namun, ada pula spesies yang dikembangkan di luar kebiasaan. Jadi, sebagian yang semula nokturnal pun bisa aktif baik di siang maupun malam. Melalui Serangkaian penelitian dan percobaan genetik, semua itu bisa diwujudkan.
"Sepertinya Anda lupa satu hal, Sir Sasin. Semua binatang buas yang dilepasliarkan adalah pejantan. Mana mungkin mereka bisa berkembang biak." Afra memukul lengan Sasin.
__ADS_1
"Mereka datang dari arah yang ada bongonya. Periksa kawasan itu nanti! Apakah ada penurunan populasi di sana? Periksa juga kawassan lain! Satu lagi, pastikan kita memiliki penjinaknya jika meningkatkan kegilaan mereka! Jika tidak, mungkin mereka akan menjadi senjata makan tuan suatu saat," tutur Fanon serius.
"Jangan khawatir! Dia juga sudah melatih mereka untuk membiarkan siapa pun yang beraroma seperti kiwano," balas Sison.