
"Onyoudan." Kelana menghela napas berat.
Sanubari memang bukan anaknya. Namun, kelakuan remaja itu cukup membuat Kelana memijat pelipis. Beberapa tahun ini dia sudah dipusingkan dengan pencarian Sanubari. Sekembalinya dari penculikan, anak itu malah membuat semakin khawatir.
"Dasar! Kenapa dia itu suka sekali menghampiri masalah sih?" gerutu Kelana geleng-geleng kepala.
Tidak menunggu lama, Kelana bergegas meninggalkan meja kerjanya lalu menuju ruangan Aeneas. Dalam sekali ketuk dan salam, Aeneas langsung mempersilakannya masuk. Kelana pun membuka pintu lalu berdiri di hadapan Aeneas.
"Duduklah!" titah Aeneas.
Kelana menuruti perintah Aeneas lalu berkata, "Tuan, tuan muda Sanu akan pergi ke Jepang hari ini. Haruskah saya menyuruh Damiyan untuk menghentikannya atau membiarkannya?"
"Bukankah aku sudah pernah bilang untuk membebaskan dia melakukan apa pun sesuka hatinya?"
"Masalahnya Tuan, dia ke Jepang untuk mendatangi markas Onyoudan. Bisa-bisa nyawa tuan muda Sanu dalam bahaya jika kita biarkan."
"Biarkan saja dia!"
"Tetapi Tuan ...."
"Aku yakin dia akan baik-baik saja selama Damiyan bersamanya. Biarlah dia menikmati kebebasannya! Aku tidak ingin dia semakin menjauh karena terlalu dikekang," terdengar nada kesedihan dalam ucapan Aeneas yang menganjur napas sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya, "mungkin kau benar, Lan. Dia hanya butuh waktu untuk melupakan dan menerima segalanya. Mungkin ini adalah caranya untuk itu. Kuharap dia akan segera kembali padaku setelah ini."
"Mengerti. Kalau begitu, saya permisi dulu!" pamit Kelana.
Aeneas membiarkan lelaki itu pergi. Ia tahu bahwa Kelana tidak memiliki banyak waktu. Mengajaknya berbicara lebih lama hanya akan menghambat tindakan Kelana. Bisa-bisa putra sulungnya benar-benar dalam bahaya jika terlambat.
*****
Sanubari duduk di tempat favoritnya—kursi dekat jendela. Perlahan, roda pesawat mulai bergerak, menyusuri jalur aspal untuk bersiap tinggal landas. Beberapa saat kemudian, badan pesawat terasa mulai terangkat dari permukaan. Pandangan Sanubari tidak sedikit pun terlepas dari proses tinggal landas. Pemandangan di luar memang gulita tanpa kehadiran sang ratu malam. Namun, iluminasi cahaya dari bandara mampu menghipnotis mata sang remaja untuk diam dalam apresiasi kekaguman. Sangat estetis.
__ADS_1
Pesawat semakin tebang tinggi dan menjauh, hingga keindahan daratan tidak lagi terlihat, menyisakan kegelapan total. Bunyi troli terdengar mendekat, berhenti tepat di sebelah kursi Abrizar.
Seorang pramugari bersuara manis dengan ramahnya menyapa, "Excusee me, Sir!"
(Permisii, Tuan!"
Sanubari menoleh. Pramugari cantik itu tersenyum, di hadapannya tertumpuk makanan, terdapat pula beberapa botol minuman beraneka jenis.
"We have French course and Japanese course. Which one would you like to have?" tawar pramugari tersebut dalam bahasa Inggris yang artinya 'kami memiliki menu masakan Perancis dan Jepang. Mana yang Anda inginkan?'.
Abrizar meraba bagian depannya, membuka meja portabel lalu menjawab, "Franch, please!"
(Makanan Perancis saja!)
"Here yourr meal, Sir!" pramugari meletakkan senampan paket lengkap makanan Perancis lalu menawarkan kembali, "We have wine, Apple jus, orange juice, coffee, and tea. Which one do you want, Sir?"
"Apple juice."
(Jus apel."
Pramugari menuangkan jus apel ke gelas lalu meletakkan minuman tersebut ke nampan Abrizar. Ia juga meletakkan sebuah kotak kecil di meja Abrizar sembari mengatakan, "We have a little present fof you, Sir. Make sure to wear this before enjoying your meal! Today is special flight. There Will be a mini game related to this present. You only can claim the prize if you wear this before the game begins. Hope you like our present!"
(Kami memiliki hadiah kecil untuk Anda, Tuan. Pastikan untuk memakainya sebelum menikmati hidangan Anda! Hari ini adalah penerbangan spesial. Akan ada game kecil berkaitan dengan hadiah ini. Anda hanya bisa mengambil hadiahnya jika memaKai ini sebelum permainan dimulai. Semoga Anda berkenan dengan hadiah kami.)
Abrizar tidak membalas, padahal banyak penumpang lain yang antusias. Beberapa di antara mereka bahkan mengorek tentang apa yang akan mereka dapat dengan mengikuti permainan. Sebagian tergiur dengan hadiah yang ditawarkan, dan tanpa pikir panjang lagi langsung memakainya. Ada pula yang menyukai desain elegan berkesan mahal dari liontin yang diberikan, sehingga dengan suka rela memakai karena menyukainya.
Abrizar bisa mendengar percakapan itu dari penumpang belakangnya sebelum sang pramugari mencapai kursinya. Abrizar juga bisa mendengar penjelasan serupa dari pramugari dan penumpang lain di lajur yang berbeda. Sebesar apa pun hadiah yang ditawarkan, Abrizar sama sekali tidak tertarik. Ia lebih tertarik dengan suara sang pramugari. Suara yang tidak asing, tetapi ia lupa siapa.
Selanjutnya, pramugari tersebut menawarkan kepada Sanubari. Sanubari memilih menu yang sama dengan Abrizar. Tujuannya adalah ke Jepang. Ia bisa menjajal masakan Jepang sepuasnya di tempat tujuan jika mau. Jadi, Sanubari merasa tidak perlu memilih menu Jepang sekarang.
__ADS_1
Hal pertama yang dilakukan Sanubari setelah makanan di hadapannya adalah membuka hadiah pemberian pramugari. Dari kotak putih kecil itu, Sanubari mendapati sebuah liontin mewah. Hatinya semakin ingin menangis saja.
"Tadi sudah dipanggil madam, harus menirukan suara perempuan. Sekarang, dikasih kalung perempuan pula. Gini amat nasibku," gerutu Sanubari merasa terzalimi, "aku tidak mau pakai ini!"
Ia letakkan kembali liontin tersebut pada tempatnya dengan kasar, mendengus kesal. Kemudian, ia menoleh pada Abrizar yang mulai menyantap makanannya. Hadiahnya tidak tersentuh sama sekali.
"Kalau Kak Abri dapat apa, ya?" celetuk Sanubari yang langsung menyambar milik Abrizar.
Mata Sanubari berbinar ketika kotak tersebut terbuka. "Ini keren!"
Sebuah jam tangan hitam tertata rapi. Jam tangan dengan desain bergaya steampunk itu nampak unik dan maskulin. Sanubari berpikir bahwa lebih baik mendapatkan jam tangan daripada kalung. Andaikan dirinya tidak perlu menyamar, jam tangan serupa pasti sudah di tangan.
"Kakak enggak mau pakai?" Sanubari memandangi jam tersebut dan Abrizar secara bergantian.
Abrizar menggeleng, mulutnya sibuk mengunyah olahan bebek ala Perancis—confit de canard. Dia memiliki alasannya tersendiri untuk tidak memedulikan hadiah yang menurutnya mencurigakan. Sementara itu, Sanubari malah terlihat senang melihat reaksi Abrizar.
"Kalau begitu, buat aku saja, ya!" pinta Sanubari sembari tersenyum di balik cadar merah muda pastel.
Lekas Abrizar menelan makanannya lalu berpesan, "Kusarankan untuk tidak memakai benda-benda itu."
"Kenapa? Kakak tidak ikhlas aku mengambilnya?" Sanubari nampak kecewa.
"Dasar masih kekanak-kanakan!" batin Abrizar menghela napas.
Berikutnya, Abrizar mencondongkan tubuhnya pada Sanubari. Dengan berbisik, ia berkata, "Apa kau tidak merasa semua ini aneh? Untuk apa maskapai memberikan hadiah pada semua penumpang yang totalnya mungkin lebih dari seratus?"
"Bukankah tadi sudah dijelaskan sama pramugari? Karena ini adalah penerbangan spesial."
"Jangan mudah percaya omongan manis seseorang! Kau tahu leci? Manis, tetapi bisa beracun dan mematikan."
__ADS_1