
"Jika kamu merasa ini terlalu berat, maka tidurlah! Buang segala beban itu bersama lelahmu dalam lelap!"
Bisikan itu terdengar lembut di telinga Sanubari bersama belaian hangat Di kepalanya. Pemuda itu merasa aneh. Dia tidak pernah melihat Sanum berbahasa Indonesia selama di rumah lama.
Namun demikian, pemuda itu tetap menanggapi dengan pertanyaan, "Mana mungkin tidur bisa membuat seseorang melupakan masalah?"
Raga kecil yang berbaring di atas tikar itu menatap polos. Interaksi itu tampak normal. Namun, suatu pikiran menyadari pemandangan ini tidak realistis.
Itu adalah pikiran Sanubari sendiri. Apakah Sanum pernah berkata seperti itu, apakah dirinya pernah bertanya seperti itu, kapan itu pernah terjadi, Sanubari bertanya-tanya. Pemikiran abstrak tersebut menggiring Sanubari dalam satu kesimpulan.
"Mungkin ini hanya mimpi."
Aneh saja rasanya bila dia sebagai lakon bisa melihat dirinya sendiri secara utuh, layaknya menonton televisi. Kendati demikian, Sanubari merasa ini pernah terjadi. Entah bagaimana pastinya.
Gambaran peristiwa tersebut terus bergerak. Sanum tersenyum, membuat pikiran Sanubari yang berada di luar dua raga anak dan ibu itu menghangat.
"Tentu bisa. Anggaplah masalah itu seperti mimpi yang tak penting, seperti mimpi yang biasanya kau lupakan ketika bangun tidur! Bukankah kau pernah mengalaminya? Seberapa keras pun kau mencoba mengingat, walau kau sangat ingin mengingat, tetapi kau tetap tak bisa mengingatnya."
Senyuman terus merekah, menjadi pengantar tidur yang begitu menenangkan. Bisikan itu kian lembut, mendamaikan jiwa.
"Tidurlah! Lupakanlah!"
Satu kecupan mendarat di kening Sanubari kecil. Kalimat-kalimat sederhana itu berhasil mengakar pada alam bawah sadar Sanubari. Entah bagaimana caranya, Sanubari selalu bisa ceria secara instan setiap bangun tidur seolah hari sebelumnya tidak pernah ada.
Walaupun itu terkadang hanya bersifat sementara dan tidak bekerja pada semua kondisi, tetapi tidur masih menjadi obat mujarab bagi Sanubari sampai sekarang. Suara itu memudar seiring terdengarnya bisikan lain.
"Sanu, kita sudah sampai ke Honjin!"
Sebenarnya, suara itu cukup keras. Namun, kesadaran Sanubari yang masih setengah mengambang membuatnya terdengar seperti bisikan.
"Sanu, bangun!" ulang suara itu. "Ah, sial! Katanya mau menemani ngobrol sepanjang jalan. Malah ditinggal tidur di tengah jalan."
__ADS_1
Pria itu berdecak menggerutu sambil membangunkan Sanubari. Matanya melirik gelisah pada ponsel menyala. Dia telah menolak panggilan itu lebih dari dua puluh kali. Dia tidak bisa mengabaikannya lagi. Sedangkan jika Sanubari masih di sampingnya, maka dia tidak bisa mengangkat panggilan itu.
"Sanu!"
"Apa? Apa?" Sanubari seketika tergeragap. Dia mengerjap-ngerjap. Pemandangan di depannya masih gelap. Hanya ada lampu jalan yang menerangi pada jarak-jarak tertentu.
"Kita tiba di masjid Honjin."
"Benarkah?" Sanubari masih mengerjap, mengusir sisa-sisa kantuk. Mimpi yang disaksikannya pun terlupakan begitu saja. Dia hanya ingat melihat Sanum, tetapi tidak dengan detail dan apa yang dikatakannya.
"Ya," jawabnya sambil menatap layar yang sudah mati.
Namun, tak berselang menit, layar itu kembali menyala, memaparkan nama yang sama. Dia menutup rapat-rapat mulut dan membalik layar ke bawah sambil bertopang lengan pada kemudi.
"Ayo turun!" ajak Sanubari melepas sabuk pengaman.
"Kau saja. Tidurlah di dalam jika masih mengantuk! Aku akan tetap di sini." Dia mencoba tersenyum, meski dalam hati berharap Sanubari segera meninggalkan mobilnya.
Dia pun berkata, "Masjid itu boleh dimasuki siapa pun kok."
"Aku tahu, tetapi masih ada urusan. Masuklah duluan! Mungkin nanti aku akan menyusul bila kau lama."
Sanubari berpikir sejenak sebelum menjawab, "Aku tidak akan lama," selesai menjawab seperti itu, Sanubari bergegas turun.
Dia masih berpikir bahwa lelaki yang memberinya tumpangan mungkin saja sungkan memasuki rumah peribadatan umat muslim tersebut. Sebagaimana yang dikatakannya sebelum berangkat, Sanubari hanya akan mengambil sesuatu dari Abrizar, lalu pergi agar tidak membuatnya menunggu terlalu lama.
Jalanan benar-benar sepi. Suara nyamuk pun tiada terdengar. Tertulis bahasa Jepang yang bermakna 'tutup pukul dua puluh dua nol nol' pada pintu kaca. Sejenak, Sanubari meragu.
Dia keluar dari restoran saja sekitar pukul delapan malam. Dapat dipastikan saat ini sudah pukul sepuluh lebih, meski Sanubari tidak memeriksa ponselnya. Akan tetapi, ketika Sanubari mendorong pegangan pintu, pintu itu terbuka seolah memang sengaja menunggu kedatangannya.
Padahal, pintu itu tak pernah bisa dibuka melewati jam operasionalnya. Sanubari pernah mencoba membukanya ketika pulang larut malam bersama Abrizar. Pemuda itu pun lekas masuk, melepas sepatu, lalu berlari ke lantai dua.
__ADS_1
Abrizar telah duduk di sana dengan laptop menyala. Dia bersandar pada dinding sambil memejamkan mata. Mulutnya bergerak, mengikuti murotal dari ponsel yang diputar dengan olume terkecil. Semua lampu padam. Hanya satu titik yang diterangi pancaran cahaya dari monitor. Di sanalah Abrizar berada.
"Kak Abri pegang kunci masjid? Tumben jam segini enggak dikunci." Sanubari berjalan mendekat sambil menatap jam digital yang menyala merah dalam kegelapan. Pukul nol nol' lebih sebelas seperti dugaannya.
Mendengar suara yang familiar, Abrizar mengakhiri hafalannya. Dia juga mematikan murotalnya.
"Oh, Sanu, akhirnya kau datang juga. Yah, seperti yang kau lihat, aku harus begadang tiga malam ini. Jadi, aku meminjam kunci pada Paman Mohammad."
"Jadi, apa yang ingin Kakak berikan padaku?" Sanubari duduk di sebelah Abrizar.
Abrizar meraba laptop. Dia menekan sesuatu di sisi kanan. Setelah satu bunyi klik terdengar, sesuatu seperti laci kecil mencuat. Lelaki itu mengambil sesuatu dari sana, kemudian menutupnya kembali.
"Ambil ini!"
"Ini seperti nano retas waktu itu." Sanubari mengambil dan mengamatinya.
"Benar. Jangan sampai hilang! Tanpa itu, aku tak akan bisa membantumu membuka pintu."
"Benda ini sangat kecil," Sanubari menggerak-gerakkannya, "bagaimana bila aku tanpa sengaja menghilangkannya saat bergerak?"
"Tempelkan itu pada ponselmu! Aku akan memrogramnya supaya tetap melekat pada ponselmu." Abrizar meraih ponselnya sendiri.
Sanubari melakukan hal yang sama. Dia meletakkan benda itu pada bagian belakang ponsel. Jemarinya bisa merasakan sensasi tertarik ketika mendekatkan keduanya.
"Wah, benar-benar bisa menempel seperti magnet. Sama sekali tidak jatuh." Sanubari mengibas-ngibaskan ponselnya dan benda kecil itu tetap melekat.
"Dengar, Sanu! Mungkin ini akan menjadi peluang emas bila kau berhasil membawa Anki. Eiji akan menanamkan kepercayaannya padamu. Dengan begitu, secara otomatis, dia akan bersedia bergabung denganmu."
Mendengar penjelasan Abrizar itu, Sanubari mengangguk. Makin cepat Eiji berpindah ke pihak mereka, makin bagus pula bagi mereka. Sanubari juga tidak ingin berlama-lama di Onyoudan.
Namun, remaja itu teringat sesuatu—suatu hal yang mengusik pikirannya setelah melakukan perjalanan panjang ini. Dari malam sebelumnya hingga malam berikutnya, waktu yang sangat lambat bagi Sanubari. Oleh karenanya, ada hal yang dia khawatirkan.
__ADS_1
Dia pun bertanya, "Ngomong-ngomong soal kak Eiji, bukankah Kakak bilang dia sudah sampai ke Osaka sejak kemarin malam? Kenapa kita tetap harus melakukan ini? Apakah kak Eiji belum bertemu Anki?"