
Sang Juara merasakan angin berdesir di sekitar dirinya saat dia melaju dengan kecepatan tinggi,berbelok di sudut setiap tikungan dengan presisi yang mengagumkan. Matanya fokus pada lintasan yang meliuk-liuk di depannya, dan tubuhnya merasakan getaran mesin motor yang kuat di bawahnya. Dia tahu dia harus tetap fokus, meskipun perlombaan ini mungkin terdengar konyol bagi sebagian orang.
Sementara itu, Sanubari berusaha keras mengejar ketertinggalannya. Dia mengepalkan erat kedua telapak tangan, mata penuh tekad. "Aku tidak akan membiarkan dia memandang rendah pada perlombaan ini," bisiknya pada dirinya sendiri, memompa energi secara perlahan, membiasakan diri dengan peningkatan kecepatan.
Sang Juara, dengan penuh percaya diri, meluncur ke tikungan berikutnya. Dia merasakan gravitasi menarik tubuhnya ke samping, dan dengan gerakan lincah, dia menaklukkan tikungan itu dengan sangat indah. Sebuah senyuman tipis muncul di bibirnya ketika dia mendengar suara ban yang menyentuh aspal, menunjukkan kepiawaiannya dalam mengendalikan motor.
Sang Juara menghadapi tantangan Sanubari dengan senyuman percaya diri di wajahnya. Baginya, ini adalah kesempatan untuk sekali lagi menguji sirkuit sebelum pertandingan sesungguhnya dimulai. Dia merasa yakin dan tidak menganggap perlombaan antara motor dan kaki ini serius. Baginya, pemenangnya sudah pasti jelas bahkan sebelum pertandingan dimulai.
Seiring bertambahnya jarak di antara mereka, benak Sanubari tidak begitu percaya diri. Dia merasa tekanan semakin memuncak seiring dengan keberhasilan Sang Juara mempertahankan keunggulannya. "Aku harus menang!" pikir Sanubari dengan sedikit kecemasan. Meskipun tertinggal jauh, semangatnya masih berkobar.
Sementara itu, Sang Juara terus melaju dengan kecepatan stabil, tetapi tidak mengesampingkan Sanubari sama sekali. Di tengah lintasan yang berliku, dia melambatkan laju, memutuskan untuk memberikan semangat pada lawannya. "Kau masih punya kesempatan, Sanubari! Tunjukkan padaku apa yang bisa kaki lakukan!" serunya ketika Sanubari terlihat dekat, suara terbawa angin seiring deru mesin yang kembali meninggalkan Sanubari.
Sayang, itu hanyalah kedok dari olok-olok. Sang Juara menertawakan Sanubari dalam hati.
Sanubari merasakan dorongan semangat dari kata-kata Sang Juara. Dengan hati yang berkobar, dia mulai memacu kakinya dengan lebih giat. Keringat bercucuran dari wajahnya, bercampur dengan debu lintasan yang terbang di udara. "Aku tidak akan menyerah begitu saja!" ucapnya sambil menambah kecepatan lagi.
Pandangannya lurus, mengikuti setiap gerakan lawannya yang membelah angin dengan kecepatan tinggi. Tiga tahun sudah Sanubari berlatih tanpa henti, berlari menaiki gunung yang curam, menuruni lembah yang dalam, beriringan dengan mobil-mobil pekerja yang berat. Sanubari mendadak teringat akan segala usaha kerasnya selama ini, segala keringat yang meluncur turun di wajahnya, segala langkah yang diambilnya untuk mencapai tingkatan kebugaran tubuh yang sekarang dia miliki.
Dengan kecepatan konstan, langkah kaki Sanubari menjejak dengan mantap. Dia terus berlari, memperhatikan setiap sudut lintasan dengan ketajaman mata yang membingkai wajahnya. Motor lawannya, mesin yang mengaum dengan kekuatan, melaju lebih cepat daripada kendaraan desa yang pernah dilawannya. Namun, Sanubari tidak gentar. Mata Sanubari terbiasa dengan kecepatan. Dalam perkiraan paling kasar sekalipun, dia mampu membandingkan percepatan objek yang tertangkap visinya, menghitung sudut dan kecepatan motor lawannya dengan akurasi yang memukau.
Dalam keheningan lintasan yang hanya dipecah oleh deru mesin dan langkah-langkahnya yang mantap, Sanubari menatap garis finish yang semakin mendekat. Keraguan kembali memenuhi pikirannya, merangkak ke dalam benaknya seperti asap tebal yang sulit untuk dihindari.
"Tapi, apakah aku bisa?" gumamnya pelan, suaranya hampir hilang terbawa angin sepoi-sepoi. Tetapi, dia tidak membiarkan keraguan itu menghentikannya. Kebimbangan tidak boleh menjadi penghambat. Dia mengambil nafas dalam-dalam, merasakan udara segar memasuki paru-parunya, memberinya keberanian.
Mata Sanubari menyala dengan tekad yang membara. Dia tahu, ini saatnya untuk mengeluarkan seluruh kemampuan yang dia miliki. Dalam satu gerakan lincah, dia meningkatkan kecepatan lagi dan lagi, merasakan tenaga di otot-ototnya yang berdenyut-denyut, menantang batas kemampuannya. Dia melepaskan keraguan, membuang jauh-jauh pikiran-pikiran negatif yang hendak menghampirinya.
__ADS_1
"Pokoknya aku harus menang!" pekiknya, suaranya terbawa angin, menciptakan getaran yang memecah kesunyian sirkuit. "Peduli amat motor itu lebih cepat dari mobil bak atau tidak! Harus menang, ya, harus menang!"
Dalam momen ini, semangatnya meluap seperti lava panas yang tak terbendung. Tubuh Sanubari memanas, energi mengalir deras di dalamnya, menggerakkan setiap otot dan serat keberaniannya. Dia merasakan kekuatan yang luar biasa memenuhi dirinya, menghilangkan keraguan dan menggantinya dengan keyakinan yang menggebu.
Dengan langkah-langkah mantap, Sanubari terus maju, mata fokus pada garis finish yang semakin mendekat. Keberanian dan tekadnya membentuk aura kepercayaan diri di sekelilingnya, menciptakan sebuah penampilan yang memukau dan memikat. Dia tahu, saat ini adalah waktunya untuk membuktikan diri, untuk menunjukkan bahwa kekuatan manusia tidak bisa diukur hanya dari mesin yang mereka kendalikan. Sanubari melangkah lebih cepat, siap menanggapi panggilan tantangan lintasan ini dengan penuh semangat.
Di dalam pit lane yang sarat dengan antusiasme dan kekhawatiran, mata Milo membulat terkejut ketika menyaksikan kamera Sanubari yang terus mendekati Sang Juara di layar monitor. Suara motor dan suara langkah kaki berbaur menjadi harmoni misterius yang memenuhi ruangan.
Fang tersenyum duduk di sebelah Milo, senang melihat keheranan di wajah cucunya itu. Mereka berdua, bersama seorang mekanik, memperhatikan pertandingan antara pelari manusia dan pembalap motoGP terkenal.
"Jangan lupa menepati janjimu pada anak itu!" ujar Fang dengan nada geli, menyindir janji Milo untuk memberikan tiket pelesir ke luar negeri kepada Sanubari.
"Apa dia ini sungguh manusia?" tanya Milo, ekspresinya campur aduk oleh kebingungan dan keterkejutan. "Atau jangan-jangan Kakek menipuku? Kakek baru saja membeli AI dan menemuiku hanya untuk menguji kecepatannya?"
Secara kasat mata, Sanubari tampak layaknya manusia normal. Namun, perkembangan IPTEK yang telah ada tidak menutup kemungkinan bahwa Sanubari hanyalah robot dengan kecerdasan buatan. Patutlah bila Milo menyangsikan Samubari hanya manusia biasa.
"Oh, lihatlah!" ejek Fang dengan senyum menggoda. "Kehidupan kota telah membuat otakmu mengalami kemunduran. Kau sungguh harus pindah ke desa bersamaku untuk mempertajam otakmu, Milo!"
Milo mendengus, merasa terganggu oleh sindiran Fang. "Tidak ada hubungannya intelektualitas dengan Sanu yang bisa mengimbangi motor. Balapan ini memang mengesankan, tapi tidak membuatnya menjadi jenius atau sesuatu yang lebih hanya karena pernah tinggal di desa bersama Kakek."
"Jangan meremehkan kehidupan desa!"
Milo mengangkat alisnya, memberi respon tajam terhadap kata-kata Fang. "Justru kehidupan desa lah yang akan membuat kita kurang pengetahuan. Kita membutuhkan akses ke informasi, kebudayaan, dan teknologi yang hanya bisa ditemukan di kota. Bagaimana kita bisa berkembang tanpa itu semua?"
Fang menggeleng-gelengkan kepala dengan tenang, senyumnya tetap melekat di wajahnya. "Sangat disayangkan, orang berpendidikan tinggi sepertimu berpikiran sempit. Bukan tempat yang menentukan seberapa besar pengetahuan seseorang, melainkan kemauan diri. Asal ada kemauan, siapa pun bisa belajar dari mana pun. Yang membedakan hanya tingkat kemudahannya. Meski di kota materi belajar berlimpah, segala dipermudah, seseorang tidak akan memperoleh apa-apa tanpa kemauan dan tekad. Kemudahan justru akan melenakan dan menjadikan manusia mengalami kemunduran bila tidak bisa mengenyahkan ketergantungan terhadapnya."
__ADS_1
"Itu hanya pandangan subjektif kakek yang fanatik pedesaan."
Fang meliriknya, mengangkat alisnya dengan skeptis. "Aku hanya ingin mengatakan padamu bahwa kehidupan kota dan desa memiliki kesempatan yang sama tergantung individu masing-masing. Kau akan segera melihat kekuatan orang desa yang sesungguhnya," katanya dengan tegas. "Sanu bukan hanya sekadar pembalap biasa. Dia memiliki kecerdasan luar biasa untuk membaca lintasan, mengukur risiko, dan mengambil keputusan dengan cepat. Itu semua merupakan bagian dari kecerdasan intelektualnya."
Milo menggelengkan kepala, tertawa terbahak. "Aku masih meragukannya. Dia saja melawan pembalap dengan berlari. Apa yang seperti itu bisa disebut pembalap? Tetap saja, motor tetaplah motor dan otak manusia tetaplah otak manusia. Mereka tidak bisa dibandingkan secara langsung. Meski Sanu memang secerdas yang Kakek bilang, ototnya tidak akan mampu mengimbangi mesin."
Milo merasa di atas angin kala melihat Sanubari tertinggal lagi. Namun, itu tidak berlangsung lama. Mereka berdua kembali sejajar.
Fang tersenyum, menggoda cucunya. "Kau akan kalah bertaruh, Milo. Aku yakin Sanu akan membuktikan bahwa kecerdasan manusia bisa mengimbangi motor, bahkan melebihi ekspektasi kita."
"Rosario hanya sedikit mengalah. Aku yakin dia akan segera memimpin kembali."
"AI, mesin tradisional, elektronik diciptakan manusia. Sungguh bodoh manusia generasi berikutnya bila merasa bisa dikalahkan AI. Setiap manusia dibekali kemampuan berbeda untuk saling melengkapi. AI diciptakan untuk membantu manusia menangani kemampuan yang tidak dimiliki. Secerdas-cerdasnya AI, tetap tidak akan bisa mengalahkan manusia berkemampuan yang mau mengasah keahliannya. Itulah yang dilakukan Sanu. Dia berlatih berlari dan berlari setiap hari hingga bisa mencapai kecepatan itu. Dia bisa sampai sana karena kemampuan dan kemauan memang ada dalam dirinya," jelas Fang dengan penuh keyakinan.
Milo merasa terdiam, terombang-ambing oleh kata-kata Fang yang begitu tajam namun mengandung kebenaran yang sulit untuk disangkal. Sudah beberapa saat, dia mencoba mencerna semua yang telah diungkapkan oleh sang kakek, berusaha menemukan celah untuk memberikan argumen balasan. Namun, tiada balas yang terpikirkan. Sungguh sulit memenangkan pembicaraan dari Fang. Sebab, perkataan kakeknya itu ada benarnya meski separuh jiwanya masih menolak untuk setuju.
Dalam keheningan yang tercipta, Milo merasa seolah diajak untuk merenung. Ia menyadari bahwa kecerdasan manusia memiliki kedalaman yang tak terbatas, sebuah potensi yang bisa terus diasah dan ditingkatkan. Dalam benaknya, ia mulai memahami bahwa meski AI bisa menjadi alat yang hebat, tetapi kemampuan manusia untuk belajar, berkembang, dan bertahan terus ada di dalam diri mereka sendiri.
Dalam ketegangan yang mendalam, mata mereka terus terpaku pada layar monitor. detik-detik terasa berjalan dengan sangat lambat. Cukup lama, Sanubari mampu mempertahankan kecepatannya sehingga mensejajari Sang Juara, meski motor sang juara sedikit lebih unggul dalam hal kecepatan maksimal. Suara motor dan derap keduanya bergemuruh, menggema di dinding-dinding pit lane dan menciptakan dentuman yang menggetarkan hati penonton.
Namun, semua orang yang menyaksikan, termasuk Sang Juara, terkejut ketika mendapati Sanubari dengan kecepatan lari yang mengagumkan berlari tepat di sebelah motor Sang Juara. Dia dengan penuh tekad menarik gas lebih dalam, berharap bisa meninggalkan Sanubari jauh di belakangnya. Namun, Sanubari lagi-lagi menyusul dengan luar biasa. Mereka melaju berdampingan kembali, menciptakan pemandangan yang sangat mengesankan dan menegangkan.
Hingga dua putaran terselesaikan, beberapa meter dari start grid, ledakan menderu melengking dengan kekuatan yang luar biasa. Detik itu, sirkuit yang sebelumnya riuh dengan suara mesin, mendadak menjadi sunyi sepi. Jantung Milo, Fang, dan sang mekanik hampir berhenti berdetak ketika ledakan itu mengguncang sirkuit. Monitor yang mereka perhatikan tiba-tiba menghitam, memantulkan bayangan wajah-wajah cemas di dalamnya.
Sirkuit yang sebelumnya penuh dengan semangat dan antusiasme, kini digelapkan oleh kekhawatiran. Mereka berdua, Sanubari dan Sang Juara, berada dalam keadaan darurat. Raungan mesin dan percakapan penonton yang tadinya menggebu, kini tergantikan oleh hening yang menyelimuti sirkuit, memunculkan ketegangan yang tak terlukiskan
__ADS_1