Santri Famiglia

Santri Famiglia
Apresiasi


__ADS_3

Kelana dan Sanubari menjaga Sanum. Sementara Aeneas dan Jin kembali ke hotel. Mereka melakukan pembicaraan yang tidak seharusnya diketahui Sanubari.


Jin menceritakan awal mula peristiwa penculikan sampai akhirnya dia berhasil merebut Sanubari kembali. Jin cukup tegang berhadapan langsung dengan Aeneas. Selama ini dia hanya bisa melihat Aeneas dari jauh tanpa bisa berinteraksi secara langsung.


Menjadi pemandu di kota Blitar sampai ke Jakarta merupakan pengalaman pertama Jin berinteraksi langsung dengan Aeneas. Sedangkan sekarang merupakan pengalaman pertama Jin berbicara empat mata dengan Aeneas. Jin mengepalkan kedua telapak tangannya. Ia bersikap setenang mungkin untuk menyembunyikan kegugupan. Dia seperti tersangka yang diinterogasi polisi.


Setelah mendengar penjelasan Jin, Aeneas bertanya, "So, where are those kidnappers now?"


(Jadi, dimana para penculik itu sekarang?)


"They brought them to a ceritain place. If you want it, we will take them to the police station to process the case and throw them into prison."


(Mereka dibawa ke suatu tempat. Jika Anda mau maka kami akan membawa mereka ke kantor polisi untuk memproses kasus ini dan menjebloskan mereka ke dalam penjara.)


Haidar memanglah perwira tinggi dalam kepolisian. Namun, tidak semua pasukan yang dibawanya tadi merupakan polisi asli. Para petugas yang meringkus para penculik tadi adalah polisi gadungan.


Tidak semua kasus bisa diserahkan kepada kepolisian. Seperti kasus penculikan hari ini. Sebab, Sanubari bukanlah anak biasa.


Haidar merupakan aparat yang cukup jeli. Dia bisa membedakan mana kasus yang harus melibatkan kepolisian dan tidak. Jin tidak perlu menjelaskan panjang lebar dalam kondisi darurat seperti tadi. Haidar juga orang yang cepat tanggap sehingga Jin memutuskan untuk meminta bantuan Haidar.


Orang-orang yang meminjam seragam polisi tidak membawa para penculik ke kantor polisi. Atas perintah Haidar, mereka dibawa ke sebuah rumah kosong. Haidar juga telah memberitahukannya kepada Jin. Dia menunggu perintah baru dari Jin untuk menindak lanjuti kasus ini.


Mendengar penjelasan Jin, Aeneas kembali berkata, "I'll be the one who execute them by my self."


(Aku sendiri yang akan mengeksekusi mereka.)


"Do you want me to bring you there right now?"


(Apakah Anda ingin saya bawa ke sana sekarang juga?)


"Nah, I wanna be by Sanum side for now. Maybe after she gets out of hospital."


(Tidak, untuk sekarang aku ingin berada di sisi Sanum. Mungkin nanti setelah dia keluar dari rumah sakit.)


"Alright."


(Baiklah.)


"Thanks for safing my son."


(Terimakasih sudah menyelamatkan putraku.)


*****

__ADS_1


Di rumah sakit.


Mamak kok enggak bangun-bangun ya, Paman?" Sanubari memandang Sanum dengan raut muka sedih.


"Nanti juga pasti bangun. Sebaiknya kau tidur dulu kalau sudah mengantuk."


"Aku mau jaga mamak." Sanubari masih enggan beranjak dari tempatnya.


Tiba-tiba panggilan video masuk ke ponsel Kelana. Sebuah panggilan dari Asia. Kelana berbicara sebentar lalu memberikan ponsel kepada Sanubari.


"Miss you so much, Sanu! Where are you, Honey?"


(Aku sangat merindukanmu Sanu! Dimana kau, Sayang?)


Sanubari menjawab, "Miss you too, Nonna! I'm in a hospital right now."


(Aku juga merindukanmu, Nenek! Aku sekarang berada di rumah sakit.)


"Oh, what's going on?"


(Apa yang terjadi?)


"Uncle Kelana said that little baby in mama's stomuch is sick. So, mama is hospitalized because of it."


"Aw, hope she will get better soon. Give this phone to your papa, Honey! I want to talk with him.)


(Aw, kuharap dia akan segera membaik. Berikan ponsel ini kepada papamu, Sayang! Aku ingin bicara dengannya.)


"Papa is not here. He is out."


(Papa tidak di sini. Dia sedang keluar.)


"Give it back to Kelana then!"


(Kembalikan ponsel ini kepada Kelana kalau begitu!)


"Nenek ingin bicara dengan Paman," kata Sanubari mengembalikan ponsel kepada Kelana.


"Tuan Aeneas, maaf bila setelah ini Anda dimarahi nyonya besar lagi. Putra Anda terlalu jujur," batin Kelana ketika menerima telepon.


Mereka beralih berbincang dengan bahasa Italia. Mereka berbicara terlalu cepat. Sanubari tidak mengerti isi pembicaraan mereka. Tepat setelah telepon ditutup, Aeneas dan Jin datang.


"Bocah, ayahmu memintaku untuk membawamu pulang. Kau mau pulang sekarang atau nanti?" ucap Jin.

__ADS_1


"Aku ingin tetap di sini."


"Di sini tidak ada kasur. Kau bisa tidur di kasur kalau ikut aku pulang."


"Aku ingin menemani mamak."


"Sudah ada paman Kelana dan ayahmu di sini. Sebaiknya kau pulang bersamaku lalu tidur. Jika tidak maka selamanya kau tidak akan pernah bisa tumbuh tinggi. Kau mau?"


"Ja-jangan dong!"


"Makanya ikut aku pulang. Besok kuantar lagi kemari."


"Oke."


Sebenarnya Sanubari masih merasa berat meninggalkan ibunya. Namun, akhirnya dia ikut juga dengan Jin. Tidak ada yang bisa dia lakukan di sini sebagai anak kecil.


*****


Sebuah tim penyelidikan dibentuk sehari kemudian. Penyelidikan intens dimulai. Sidik jari pelaku yang menempel di nampan disimpan sebagai barang bukti


Ada beberapa sidik jari di sana selain milik Sanum. Semua pegawai hotel diperiksa. Rekaman kamera pengawas juga diperiksa untuk mencocokkan data. Namun, hasil menyatakan bahwa para pegawai tidak bersalah. Sidik jari dan suara para pegawai pria juga tidak ada yang mirip dengan pelaku.


Penyelidikan diperluas. Kecurigaan jatuh kepada pengantar makanan yang sepertinya berpura-pura sebagai pegawai hotel. Mereka mengikuti jejak pelaku dengan melihat semua kamera pengawas yang terpasang di hotel, jalan, toko dan sebagainya.


Penyelidikan ini tidak mudah karena terduga pelaku tetap memakai masker. Meskipun sudah keluar dari hotel. Pelaku juga berkali-kali naik turun angkutan umum. Tim penyelidik harus ekstra jeli mengamati ratusan video supaya tidak kehilangan jejak.


Hari ke tiga penyelidikan, mereka berhasil menemukan keberadaan terduga pelaku. Tim penyelidik menangkap pria itu di bandara. Pria itu hendak meninggalkan Kalimantan.


Tiga pria langsung mendekati terduga pelaku yang hendak memasuki lajur check in. Dua orang mengapit di kiri dan kanan. Satu orang menodongkan pistol ke panggul dari belakang. Pistol ditutupi jaket sehingga tidak ada yang tahu.


"Ikut kami tanpa perlawanan jika tidak ingin peluru menembus perutmu," bisik salah satu dari tim penyelidik.


"Siapa kalian?" tanya pria itu.


"Ikut saja! Tidak usah banyak tanya!"


*****


Di lapangan maha luas di ibu kota Penajam, pukul sepuluh waktu Indonesia timur, acara apresiasi atlet dibuka. Acara dimulai dengan jalan-jalan sehat. Sanubari dan Jin ikut serta dalam acara menyehatkan tersebut.


Sanum sudah sadar. Namun, dia tidak ikut hadir dalam acara karena kondisinya masih lemah. Dia dan Aeneas mengizinkan Sanubari ikut serta. Sebab, ada pasukan Haidar yang menjamin keamanan berlangsungnya acara. Selain itu, ada juga Kelana yang mendampingi Sanubari.


Acara sangat ramai. Tidak hanya para atlet dan veteran saja yang meramaikan. Warga sekitar pun sangat antusias karena ada banyak hadiah kejutan untuk para peserta jalan-jalan sehat. Satu demi satu rangkaian acara dilaksanakan. Hingga akhirnya tiba waktunya pengenalan duo crazy rich.

__ADS_1


[Mari kita sambut maha sultan nusantara—Ethan Kulon Armada!]


__ADS_2